Posts Tagged ‘kecantikan’

Cantik, Seksi Dan Daun Kangkung

2 Desember 2009

Mengawali pagi pada suatu hari dengan perasaan ringan, santai, tanpa beban, penuh dengan aura energi positif menyelimuti. Lalu menuju ke teras belakang rumah, membuka laptop dan mengakses internet memeriksa email-email yang masuk barangkali ada yang perlu direspon segera. Biasa…., sambil ngopi dan ngudut (ah, masih begitu juga kebiasaan buruknya). Dari jauh terdengar suara acara televisi yang sedang ditonton istriku di ruang tengah setelah selesai menyiapkan sarapan pagi.

Kemudian selintas saya mendengar siaran iklan panjang sebuah produk kecantikan. Iklan tentang produk slimming suit. Saya tersenyum sendiri membayangkan display iklannya. Lalu spontan saja muncul keisengan kepada istriku. Sambil membuka-buka Facebook saya bilang padanya : “Tuh, dengerin……”. Maksudnya agar memperhatikan iklan produk kecantikan yang memang sedang ditontonnya. Produk yang pokoknya mampu memperbaiki performance (kayak mesin saja) tampilan dada, pinggang dan pantat dalam waktu singkat (padahal jelas sesuatu yang bakal tertutup kecuali bagi yang ingin membukanya, tapi kok ya ingin diperbaiki juga kinerjanya…)

Saya tidak melihat bagaimana reaksi ekspresi istriku karena memang tidak terlihat dari posisi saya membuka laptop. Sejenak kemudian terdengar suara jawaban istriku dari dalam rumah. Katanya : “Harganya satu setengah juta, mau mbeliin apa?”.

Sambil senyum sendiri saya menjawab : “Kuwi duit kabeh (Itu uang semua)?”.

Jawab istriku cepat : “Ora! Oleh dicampur godong kangkung (Enggak! Bisa dicampur daun kangkung)”. Kebetulan dia memang baru selesai memasak tumis kangkung untuk sarapan.

***

Kecantikan……, yang jamaknya kini diterjemahkan sebagai memiliki paras menawan bak artis yang memiliki bentuk tubuh yang ideal, menarik dan seksi. Begitu mahalnya bagi sebagian orang. Begitu wajarnya bagi sebagian yang lain. Bahkan bagi mereka yang sudah cantik, sudah menarik, sudah seksi pun masih ingin lebih dari yang sudah dimiliknya. Meski semua orang menyadari bahwa semua itu adalah obyek ekonomi berbiaya tinggi, yang bagi sementara kalangan adalah kebutuhan dan bagi kalangan lainnya adalah impian.

Maka gejala alam yang demikian ini dimanfaatkan benar oleh pelaku bisnis yang kreatif dan jeli melihat peluang. Ditambah lagi prospek pasar bahwa semakin banyak saja jumlah orang yang ingin tampil lebih menarik, lebih cantik dan lebih seksi. Ya siapa lagi kalau bukan para wanita yang mendambakan memiliki kecantikan fisik yang bakal mempesona kaum lawan jenisnya (enak sekali jadi lawan jenis ini).

Ya memang tidak ada yang salah dengan semua itu. Kalau pun mau dicari salahnya, itu karena adakalanya para wanita itu lupa bahwa di samping kecantikan fisik ada juga kecantikan non-fisik yang mestinya lebih layak dibiayai. Itulah kecantikan batin yang oleh agama saya sering diejawantahkan menjadi kecantikan akhlak. Padahal yang terakhir itu justru lebih terlihat alami dan abadi, kalis dari rekayasa, dapat dibentuk dan diperbaiki nyaris tanpa biaya. Kalau bisa memang dua-duanya cantik, ya lahirnya, ya batinnya. Tapi kalau tidak bisa, maka pilihan ada di tangan para wanita yang menginginkannya.

Kecantikan fisik berbanding lurus dengan isi dompet. Siapapun yang isi dompetnya tebal, ingin cantik seperti apapun niscaya bisa saja. Dunia ini menyediakan fasilitas yang luar biasa komplitnya, pating sliwer (banyak melintas) di depan mata, kalau hanya ingin tampil cantik mempesona, seksi lekuk tubuhnya, menarik gairah penyaksinya dan mengundang… (mengundang untuk dibiayai, maksudnya).

Padahal yen tak pikir-pikir…, kalau dipikir-pikir (ah, dasar enggak punya kerjaan, sempat-sempatnya urusan beginian kok dipikir…), cantik dan seksi itu kan hanya soal persepsi. Persis seperti kita melihat hantu. Sejak lahir kita sudah dipersepsi oleh alam sekitar kita bahwa wajah manusia itu bermata dua, berhidung satu, bermulut satu dengan gigi kecil-kecil, bertelinga dua , berambut (kecuali yang akhirnya botak), dst, semua dalam ukuran dan komposisi yang dianggap proporsional, seperti yang setiap hari saling melihat dan dilihat. Ketika suatu malam kita bertemu dengan wajah bermata satu, telinganya panjang seperti kelinci, berkepala buesar, giginya lebih besar dari mulutnya…., maka segera kita berteriak ada hantu. Hanya karena melihat ada mahluk yang memiliki wajah dengan ukuran dan komposisi yang dianggap tidak proporsional, yang belum tentu hantu.

Demikian halnya dengan cantik dan seksi. Coba kalau dari dulu dipersepsikan bahwa yang disebut wanita cantik dan seksi itu adalah mahluk yang tampilannya seperti monyet wanita, sapi perempuan atau kadal betina, maka dunia ini akan memiliki sedikit saja wanita cantik dan seksi. Para wanita pun akan berlomba-lomba menyerupai monyet, sapi atau kadal. Mereka yang menyerupai manusia malah dipersepsikan sebagai tidak cantik dan tidak seksi. Para pakar kepribadian dan kecantikan akan mencari penghasilan tambahan dengan menulis buku manual tentang “How to be a Pretty Monkey”, “Performs Like a Sexy Cow”, “10 Secretes Become an Impressive Lizard”, atau yang semacam itu.

Jika cantik itu persepsi, maka sebenarnya sangat mudah untuk menjadi cantik. Manipulasilah dan ubahlah persepsinya setidak-tidaknya persepsi bagi orang yang ingin tampil cantik dan seksi, dan bukan apa yang dipersepsikan (Caranya? Coba nanti saya pikir sambil tidur dulu…. Tapi kayaknya rahasia, deh)

***

Karena itu, memberi perhatian lebih kepada kecantikan batiniah sepertinya menjadi keputusan yang layak dipertimbangkan. Sebab kecantikan batin atau akhlak berbanding lurus dengan isi hati tidak perduli seperti apapun prejengan (profil tampilan) fisiknya. Seperti sapi kah? Seperti monyet kah? Atau malah seperti hantu sekalipun, kecantikan akhlak itu akan tetap abadi dan merakati (mempesona), enak dipandang dan dinikmati sampai tetes air liur yang penghabisan. Luar biasanya, untuk kecantikan batin dan akhlak ini relatif tidak diperlukan biaya tinggi. Juga tidak diperlukan daun kangkung…..

Yogyakarta, 2 Desember 2009
Yusuf Iskandar