Posts Tagged ‘kariangau’

Sambil Menyelam Minum Air, Antara Penajam – Kariangau

19 Maret 2008

Tengah hari di bulan lalu, di kapal fery dalam penyeberangan dari Penajam menuju Kariangau, Balikpapan. Duduk di salah satu bilik dek penumpang sambil menonton acara televisi yang terkadang gambarnya jelas terkadang blawur. Nonton TV yang dipaksakan. Sebab di sisi kiri dek ada yang buka counter jualan kaset, CD, VCD dan sebangsanya, dengan alat peraganya adalah (juga) televisi dan sistem tata suara yang disetel dengan volume tak kira-kira. Mendingan kalau sound system-nya baru diperbaiki seperti pentas “Sejati”, Emang bikin bangga….. Lha ini, ngudubilah budek kupingku……! Tapi, ya itulah pilihannya.

Di bilik dek penumpang sebelahnya yang agak luas, penumpangnya tidak terlalu penuh. Di sana sedang diperagakan oleh seorang awak kapal, tentang tata cara penggunaan alat pelampung. Ini dia….! Seingat saya, sebelumnya saya belum pernah menyaksikan peragaan busana baju musim keadaan darurat di air, di atas kapal penyeberangan.

Saya sempatkan untuk mengikuti agenda penting ini. Sebentar saja. Meski sudah berkali-kali saya mengalami ritual semacam ini setiap kali naik pesawat, namun tetap saja agenda ini tidak saya lewatkan. Tujuan saya satu. Bukan ingin tahu bagaimana cara menggunakannya. Sebab saya pikir tidaklah jauh berbeda dengan alat pelampung di pesawat, atau pernah juga terlihat di kolam renang (hasil kreatifitas oknum tidak bertanggugjawab….., maksudnya penumpang pesawat yang minta bonus dengan cara mencuri alat pelampung di pesawat).

Tujuan saya mengikuti agenda ini adalah ingin tahu di mana alat pelampung itu diletakkan. Sehingga kalau-kalau terjadi keadaan darurat di air, tahu mesti bergerak kemana untuk mengambilnya. Pasti tidak di bawah tempat duduk, wong di bawah tempat duduknya bisa untuk brobosan…..

Namun huerannya…. Pertama, meski acara penting sedang berlangsung, suara musik dari tukang jual kaset di dek sebelahnya tetap saja jedag-jedug… bunyinya. Kedua, tidak semua penumpang tertarik untuk mendengarkan penjelasan awak kapal. Malah sebagian penumpang memilih berdiri di pinggir luar sambil melihat pemandangan laut. Padahal mereka pastinya tidak membeli tiket berdiri seperti di kereta api.

Meskipun tidak ada aba-aba “tegakkan sandaran kursi dan kencangkan sabuk pengaman”, mestinya agenda ini tidak ditinggalkan. Bagi awak kapal tentu memerlukan persiapan sungguh-sungguh untuk menyelengarakan acara “baru” semacam ini. Demi keselamatan penumpang. Saya tidak tahu apakah di kapal-kapal penyeberangan yang lain juga ada ritual yang sama. Mestinya tragedi KM Senopati memberi hikmah pelajaran sangat berharga. Terlebih, yang terakhir tragedi tenggelamnya bangkai KM Levina I yang memakan korban wartawan TV dan anggota Puslabfor.

***

Saya memang hanya menyempatkan mengikuti acara penting ini sebentar saja. Kenapa hanya sebentar? Ya karena acaranya memang sebentar. Selebihnya yang lama justru acara ikutannya, dimana forum itu lalu dimanfaatkan sebagai media promosi. Bergantian para SPM (Sales Promotion Man) bak tukang obat menawarkan barang dagangannya. Mendingan kalau SPG kemayu berrok mini…….. Entah barang apa yang ditawarkan, saya tidak lagi tertarik mengikutinya. Lebih baik “terpaksa” nonton televisi bergambar blawur dengan iringan musik jedag-jedug….

Tidak salah juga sebenarnya memanfaatkan forum umum untuk promosi, sepanjang masih dalam koridor “fair play business”. Bagi pelaku bidang pemasaran, ini adalah peluang untuk menjual. Bagi pengusaha kapal, saya tidak tahu apakah ada fee yang diterima dari penjaja dagangannya, atau justru ini usaha sampingannya sang pengusaha kapal. Sekedar memanfaatkan momen opportunity, menangkap peluang bisnis. Seandainya saya jadi pengusaha kapal, sah-sah saja rasanya kalau saya juga buka counter swalayan di atas kapal dan berpromosi kepada para penumpang saya.

Barangkali bak kata pepatah, sambil menyelam minum air. Hanya masalahnya, pengusaha kapal yang menyelam, tapi penumpangnya yang kelhegen (terminum) air…….. 

Yogyakarta, 28 Pebruari 2007
Yusuf Iskandar

Iklan

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda 9

15 Maret 2008

(9).   Menyeberang Ke Balikpapan

Di pelabuhan penyeberangan kota Penajam inilah jalan Trans Kalimantan penggal selatan, atau Jalan Ahmad Yani, atau Jalan Propinsi, atau Jalan Negara, atau Jalan Raya Penajam seolah-olah berujung, yaitu di pelabuhan penyeberangan menuju kota Balikpapan. Selanjutnya dari Balikpapan akan disambung lagi dengan jalan Trans Kalimantan penggal utara sampai terus ke atas entah dimana ujungnya (mudah-mudahan kelak saya akan mempunyai kesempatan untuk melihat ujungnya).

Tiba di pelabuhan penyeberangan, rupanya kami adalah kendaraan pertama yang masuk sejak kapal fery terakhir berangkat. Kami harus membayar biaya penyeberangan Rp 103.000,- untuk satu kendaraan, berapapun isi penumpangnya. Untungnya tidak perlu menunggu terlalu lama. Segera kami diaba-aba untuk masuk ke kapal fery yang akan menyeberangkan kami dari Penajam menuju Kariangau di pinggiran Balikpapan. Kapal fery itu katanya selalu penuh. Pada siang itu saya lihat setidaknya ada sekiar 10 kendaraan segala macam jenis turut menyeberang, masih ditambah puluhan sepeda motor. Kapalnya memang tidak terlalu besar, tidak sebesar kapal fery penyeberangan antara Jawa – Sumatera atau Jawa – Bali.

Angkutan penyeberangan ini termasuk sangat vital sebab inilah cara tercepat untuk menuju Balikpapan dan sebaliknya, termasuk semua aktifitas ekonomi akan menggunakan sarana ini. Kegiatan penyeberangan ini beroperasi 24 jam, karena itu tidak perlu khawatir jam berapapun kita tiba di pelabuhan Penajam. Jika tidak membawa kendaraan sendiri, ada alternatif untuk menyeberang dengan menggunakan speed boat. Waktu tempuh untuk menyeberang dengan speed boat tentu lebih cepat dibanding fery, dengan ongkos per kepala yang lebih mahal.

Hanya perlu waktu satu jam untuk menyeberang, hingga akhirnya saya mendarat di sisi barat daya kota Balikpapan. Satu jam seperti tidak terasa. Sebab sambil beristirahat, bisa sambil menikmati pemandangan alam laut, pelabuhan dan pulau-pulau di sekitarnya. Bisa dipahami, karena ini adalah suasana baru setelah sekian hari melihat daratan yang membosankan.

Namun satu jam bisa jadi menjengkelkan kalau itu adalah perjalanan kembali dari cuti bagi para pekerja pendatang yang besoknya harus bekerja kembali menanti periode cuti berikutnya. Uh, apa boleh buat….     

***

Memasuki kota Balikpapan saya hanya sempat melewati pinggirannya saja, sebab perjalanan akan terus dilanjutkan menuju ke Samarinda. Saya jadi ingat, di kota ini tinggal cukup banyak teman-teman saya. Setidak-tidaknya kota ini sering diceritakan sebagai kota transit bagi banyak pekerja tambang, minyak dan geologi untuk cuti pulang kampung atau kembali ke tempat kerja. Tapi menyadari bahwa saya hanya akan numpang lewat saja di Balikpapan, beberapa teman hanya sempat saya halo-halo, numpang lewat. Mudah-mudahan lain kesempatan punya waktu lebih longgar untuk mengeksplorasi kota ini, yang kabarnya termasuk kota yang biaya hidupnya tergolong ngudubilah tingginya.

Perjalanan menuju kota Samarinda masih sekitar 115 km lagi. Hari sudah sore saat meninggalkan kota Balikpapan. Lalu lintas ke luar kota cukup padat. Juga jalan ini melintasi kawasan penduduk yang tampaknya juga padat. Kendaraan pun sepertinya semua melaju dengan kecepatan tinggi, melintasi jalur Balikpapan – Samarinda yang sangat bagus dan mulus kondisi jalannya. Sebagus berbagai jenis kendaraan yang melintasinya. Barulah ketika melewati sekitar kilometer 12 kondisi jalan mulai tampak kurang padat dan mulai memasuki kawasan yang kurang penduduknya. Pemandangan tampak lebih hijau dan banyak pepohonan.

Senja menjelang, perjalanan memasuki kawasan hutan Bukit Soeharto. Meski sudah rada-rada gelap, namun terkesan bahwa ini adalah tempat yang indah, teduh dengan udara menyegarkan di kala siang. Setidak-tidaknya bisa mengimbangi kota Balikpapan yang panas, padat dan berpolusi. Lokasi Bukit Soeharto pun tidak terlalu jauh dicapai dari Balikpapan, barangkali hanya sekitar 45 menit naik kendaraan agak ngebut.

Perjalanan terus kami lanjutkan menuju ke kota Samarinda, karena sudah kami jadwalkan malam itu untuk menginap di sana. Beberapa teman kuliah yang sejak lepas bangku kuliah dulu tidak pernah ketemu sudah hola-halo saja, kepingin reuni kecil-kecilan. Ya maklum wong sudah 20 tahunan tidak ketemu. Padahal dulu belajarnya sama-sama (itu juga enggak ngerti-ngerti juga). Padahal dulu tinggal sekamar berdua di Patehan Lor, demi menghemat biaya kost.

Yogyakarta, 10 Agustus 2006
Yusuf Iskandar