Posts Tagged ‘kandidat’

Menikmati Pilpres Sebagai Acara Entertainment

4 Juli 2009

Pesta demokrasi kedua tahun ini segera berlangsung di seluruh pelosok negeri. Pesta itu bernama Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan digelar pada hari Rabu, 8 Juli 2009. Dari sekian puluh juta warga yang berhak hadir di pesta, ada yang menganggapnya penting dan siap melakukan langkah tegap menuju pesta, ada yang biasa-biasa saja lenggang-kangkung, ada yang cuek-bebek ogah-ogahan, ada juga yang “ah, prek…”. Kelompok yang terakhir ini lebih memilih jadi penggemar Michael Jackson melakukan moonwalk di bulan purnama Rabu Pahing, tanggal 15 Rajab 1430H.

Inilah pesta yang ditunggu-tunggu hasilnya oleh sebagian besar rakyat negeri, bahkan termasuk oleh kelompok “ah, prek…”. Yang ditunggu adalah hasilnya, bukan pestanya. Siapa diantara tiga kandidat yang akan menerima mandat rakyat untuk melanjutkan memimpin negeri ini. Mudah-mudahan kata ‘memimpin’ juga diterjemahkan sebagai membangun, memajukan, memakmurkan, mensejahterakan serta mengamankan. Bukan hanya memimpin thok…., setelah itu terserah rakyatnya disuruh bangun dan sejahtera sendiri-sendiri.

***

Capres No. 1 Megawati Soekarnoputri

Capres No. 1 - Megawati Soekarnoputri

Capres No. 2 - Susilo Bambang Yudhoyono

Capres No. 2 - Susilo Bambang Yudhoyono

Capres No. 3 - Muhammad Jusuf Kalla

Capres No. 3 - Muhammad Jusuf Kalla

Sejak acara pra-pesta antara lain kampanye dan debat capres/cawapres, saya mencoba menikmati suasananya, melalui media surat kabar, televisi maupun internet. Adakalanya seru, ada kalanya lucu, ada kalanya menggemaskan, sesekali menjengkelkan. Satu-satunya cara untuk bisa menikmati serangkaian acara pra-pesta itu adalah menjadikannya sebagai sebuah acara entertainment. Dengan begitu saya tidak perlu membuang energi untuk mikir, melainkan nikmati saja, enjoy aja

Ketika yang muncul di permukaan adalah tentang sesuatu yang logis dan masuk akal, saya manggut-manggut. Ketika yang terdengar adalah tentang mimpi, saya menghisap rokok dalam-dalam kemudian saya tiupkan asapnya ke layar televisi. Ketika ada yang lucu, segera saya mengingat lagunya Mbah Surip lalu tertawa bersama anak saya dengan irama serak patah-patah. Enak to…., mantep to….

Acara debat capres (terutama yang terakhir) lebih enak dinikmati. Tidak monoton dan datar seperti debat sebelumnya. Bak sebuah pertunjukan teater, ada pemainnya yang nampak piawai berimprovisasi dan melakukan blocking dengan manis di atas pentas. Ada juga muncul paparan dialog yang begitu runtut, sistematis dan enak didengar dengan mimik meyakinkan. Namun sesekali ada juga yang menyanyikan lagunya Kuburan Band, dari nada kunci C, A minor, D minor, ke G, ke C lagi…, ke C lagi…., ke C lagi…. Semuanya berlangsung wajar, apa adanya (ya memang seperti itulah adanya).

Sungguh saya begitu menikmatinya, membuat saya semakin bisa membaca apa yang ada di pikiran mereka, bagaimana cara mikirnya, serta bagaimana mereka menata, mendudukkan dan berbagi buah pikirannya. Akhirnya dapat mempersempit pilihan saya (meskipun sampai mendekati hari pesta rasanya kok masih enggak sempit-sempit juga, dan itu pun tidak terlalu menjadi soal). Kalaupun saya belum punya pilihan hingga detik terakhir, semoga sekian puluh juta tetangga saya sebangsa dan setanah air sudah menentukan pilihannya secara demokratis. Suka tidak suka dan setuju tidak setuju, negeri ini pasti akan dipimpin oleh seorang presiden, setidak-tidaknya oleh satu di antara ketiga kandidat yang ada.

Saya ingat ketika tahun lalu Barack Obama dan John McCain saling berdebat dan beradu argumen sebagai bagian dari agenda pesta demokrasi Amerika. Masing-masing kandidat menunjukkan kelasnya tanpa perlu merasa saling tidak enak atau tidak sopan, melainkan terbungkus dalam kemasan pesta demokasi. Rakyat Amerika pun tidak merasa bosan duduk di depan televisi mengikuti acara semacam itu, karena mereka menikmatinya sebagai acara entertainment yang mendidik, bernas dan menambah wawasan.

Saya berusaha menikmati acara debat tiga capres Indonesia seperti rakyat Amerika menikmati acara yang sama menjelang pemilihan presidennya. Maka yang melintas di pikiran saya adalah acara entertainment tentang bagaimana tiga selebriti politik negeri ini tampil di depan publik, mempertontonkan kapabilitas, kompetensi dan kelayakannya untuk dipilih.

Kalaupun kemudian masih juga saya merasa sulit untuk memilih, maka saya akan tetap ingin mengikuti pestanya untuk menikmati suasananya. Sebab ini adalah acara entertainment lima tahunan. Teriring doa seperti tulisan di atas pintu tol Bogor dari arah Jakarta : “Kutunggu Campur TanganMu Tuhan Pada 8 Juli 2009”.

Yogyakarta, 4 Juli 2009 (‘Met Ultah Amerika….!)
Yusuf Iskandar

Iklan

Pemilu Amerika 2000 : Para Kandidat Presiden Amerika

7 November 2008

Tadi malam, setiba saya di rumah dari perjalanan ke Phoenix, Arizona, saya sempat melihat di TV, meski terlambat, siaran langsung hari terakhir dari Konvensi Nasional Partai Demokrat. Kandidat presiden Al Gore (yang saat ini adalah Wakilnya Bill Clinton) telah menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat presiden Amerika ke 43 yang akan memulai masa jabatannya awal tahun 2001 nanti. Sehari sebelumnya, Joe Lieberman juga melakukan hal yang sama untuk kandidat wakil presiden dari Partai Demokrat.

Konvensi nasional ini adalah puncak dari tahap pemilihan kandidat presiden dan wakil presiden dari masing-masing partai. Kali ini Partai Demokrat menggelar Konvensi Nasionalnya di gedung Staple Center, Los Angeles, California, di sisi barat dataran Amerika, selama tanggal 11 – 17 Agustus2000.

Seperti sudah diduga sebelumnya, pidato semacam ini sekaligus sebagai ajang kampanye dan penggalangan massa, banyak berisi kata-kata manis dan program-program indah. Dari komentar-komentar yang disampaikan via tilpun ke CNN oleh warga Amerika secara langsung seusai Konvensi malam itu juga, dapat disimak bagaimana warga Amerika mengekspresikannya. Ada yang memujinya sebagai “pidato terbaik yang pernah didengar”, ada yang spontan mengatakan “sebagai simpatisan Partai Republik saya akan beralih memilih Al Gore”, sebaliknya ada pula yang dengan sinis mengatakan : “janji, janji dan janji”. Ternyata pada dasarnya ya sami mawon (sama saja) dengan pidato kampanye di Indonesia.

Dua minggu sebelumnya (tanggal 2 Agustus 2000) ketika saya baru saja tiba di kota Phoneix, lalu menyetel TV di hotel, Dick Cheney sedang menyampaikan pidato penerimaannya untuk dicalonkan sebagai kandidat wakil presiden dari Partai Republik. Esok harinya, giliran George W. Bush (yang saat ini adalah Gubernur negara bagian Texas, dan anak dari George Bush mantan presiden Amerika ke 41), menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat presiden juga dari Partai Republik. Konvensi nasional Partai Republik sendiri sudah diselenggarakan di gedung First Union Center, Philadelphia, Pensylvania, di sisi timur dataran Amerika, pada tanggal 28 Juli hingga 3 Agustus 2000 yang lalu.

Kedua agenda politik Amerika itu memang telah disiarkan melalui media cetak maupun elektronik secara besar-besaran. Setiap harinya stasiun-stasiun TV seperti berlomba menyiarkannya secara langsung dari arena Konvensi, disertai dengan berbagai komentar, analisis, tanya-jawab, peristiwa-peristiwa terkait, dan sampai digunakannya media chatting di internet yang bisa diikuti oleh siapa saja.

Tanpa publikasi yang seheboh Konvensi Partai Republik dan Demokrat, ternyata Partai Reformasi juga menyelenggarakan Konvensi Nasionalnya di kota Long Beach, California, pada tanggal 10-13 Agustus 2000, dengan kandidat presidennya Pattrick J. Buchanan. Ini adalah bagian dari kegiatan partai penggembira yang selalu muncul menyisip sebagai partai independen, selain ada juga Partai Hijau, Partai Sosialis, Partai Konstitusi, Partai Hukum Alam, dan Partai Libertarian. Mereka adalah sekelompok partai gurem yang keberadaannya tidak diabaikan, sekalipun tidak pernah memperoleh jumlah suara yang meyakinkan.

***

Konvensi Nasional semacam ini memang menjadi semacam seremoni formalitas bagi partai-partai untuk mengumumkan kandidatnya masing-masing, baik bagi presiden maupun wakil presiden pasangannya. Selanjutnya, para kandidat ini akan bersafari ke segenap pelosok negeri untuk berkampanye menggalang suara bagi kemenangannya.

Sejauh ini dari hasil berbagai jajak pendapat, George Bush nampaknya masih lebih unggul dibandingkan Al Gore. George Bush diuntungkan dengan adanya dukungan dari sebagian besar gubernur negara bagian yang berasal dari partai yang sama, yaitu para Republikan. Namun masih banyak kemungkinan dapat terjadi, tergantung keberhasilan mereka berkampanye, menjual program, dan terutama menarik simpati dari pendukung tradisional partai lawan agar beralih mendukungnya, dan hal semacam ini sudah jamak terjadi.

Pacuan kandidat presiden dan wakil presiden akan terus berlangsung, hingga hasil akhirnya baru akan diketahui pada tanggal 7 Nopember nanti saat rakyat Amerika menuju ke TPS-TPS (sengaja tidak saya katakan berduyun-duyun, karena kabarnya urusan coblos-menyoblos ini di Amerika tidak segegap-gempita di Indonesia). Saat itu rakyat Amerika akan memencet tombol mesin pemungut suara, dan lalu menunggu hasil perhitungannya secara nasional. Kita lihat saja nanti, siapakah yang akan memimpin negara adikuasa mulai tahun 2001 nanti.

New Orleans, 18 Agustus 2000
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (9)

2 November 2008

New Orleans, 8 Nopember 2000 – 22:30 CST (9 Nopember 2000 – 11:30 WIB)

Program acara di saluran TV CNN hingga malam ini masih dipenuhi dengan berita hasil pemilu kemarin, terutama berkaitan dengan penghitungan ulang kartu suara di negara bagian Florida, lengkap dengan segala macam ulasan, komentar, tanggapan, dsb. Hal yang sama juga mengisi halaman-halaman surat kabar. Rupanya bukan hanya saya sebagai orang luar yang menikmati drama mendebarkan tanpa akhir (meminjam istilah harian USA Today) pacuan presiden tadi malam, bagi publik Amerika pun peristiwa ini cukup menarik untuk dinikmati.

Peristiwa pengumpulan suara yang berlangsung sangat ketat dalam pemilihan presiden kali ini yang bahkan hingga kini belum diketahui hasil akhirnya, kelihatannya memang belum pernah terjadi. Masih perlu waktu untuk menyudahinya, dengan sementara menghasilkan score 260 – 246 untuk keunggulan Al Gore. Menurut catatan harian The Times Picayune, peristiwa yang hampir sama terjadi tahun 1916 dimana Woodrow Wilson mengungguli Charles E. Hughes dengan 277 – 254. Kemudian tahun 1976 ketika Jimmy Carter menang melawan Gerald Ford dengan nilai 297 – 240. Selebihnya pengumpulan angka biasanya diakhiri dengan kemenangan telak (berselisih cukup besar).

Hal yang menarik dari persaingan ketat antara Bush dan Gore kali ini adalah perlu dilakukannya penghitungan ulang jumlah kartu suara di Florida yang justru terjadi saat jatah suara Florida akan menjadi kunci kemenangan bagi para kandidat presiden tersebut. Mengenai hal ini saya sempat penasaran, kenapa mesti dihitung ulang. Setelah tanya sana-sini dan mencari-cari referensi, akhirnya saya menemukan jawaban bahwa ternyata negara bagian Florida memang mempunyai aturan tersendiri mengenai penghitungan hasil akhir pemilu.

Di Florida, penghitungan ulang hasil pemilu akan otomatis dilakukan jika terjadi selisih kartu suara (popular vote) di bawah setengah persen (dalam catatan saya sebelumnya saya tulis satu persen). Seperti yang terjadi tadi malam, dimana Bush mengumpulkan 2.909.135 suara (49%) dan Gore mengumpulkan 2.907.351 suara (49%) dan berselisih hanya 1.784 suara, maka penghitungan ulang suara pun perlu dilakukan secara lebih lengkap dan teliti.

Hal semacam ini tidak terjadi di negara bagian yang lain karena memang tidak memberlakukan aturan yang demikian. Contohnya di negara bagian Wisconsin, selisih suara Bush dan Gore sebenarnya juga kurang dari setengah persen, tapi toh tidak perlu dilakukan penghitungan ulang. Rupanya meskipun ini urusan yang berskala nasional dan demi kepentingan nasional, pemerintah federal Amerika harus tunduk kepada aturan yang berlaku di pemerintah negara bagian Florida.

Hingga malam ini, menurut CNN, penghitungan ulang baru berhasil diselesaikan di 19 kabupaten (county) dari 67 kabupaten yang ada di Florida. Masih akan perlu waktu untuk menyelesaikan keseluruhan penghitungan ulang, belum lagi kalau harus ditambah dengan menghitung kartu suara yang diposkan dari luar negeri. Sementara ini tercatat jumlah suara Bush menjadi 2.909.465 sedangkan suara Gore menjadi 2.907.722. Panitia memperkirakan penghitungan ulang akan selesai hari Kamis sore (Jum’at pagi WIB).

Entah apa yang bakal terjadi besok sore. Akankah penyelesaian penghitungan ulang diperpanjang waktunya, mengingat masih banyak suara dari luar negeri yang mungkin terlambat diterima panitia dan tentunya juga perlu diperhitungkan. Menurut catatan dalam pemilihan presiden tahun 1996 ada sekitar 2.300 suara dari luar negeri. Saya tidak tahu, aturan berbeda apalagi yang akan diberlakukan. Kalau benar demikian, tentu akan semakin mendebarkan menunggu hasilnya, terutama bagi kedua kandidat presiden dan pendukungnya.

Bagi saya yang bukan pengamat politik, saya menikmati tayangan peristiwa kejar-kejaran pengumpulan suara tadi malam lebih sebagai hiburan drama yang mengasyikkan. Dan kelihatannya memang kemasan acara semacam itu yang disajikan CNN. Barangkali karena saking bergairahnya ingin memberikan suguhan acara dan surprise bagi penontonnya, sampai-sampai CNN kebablasan dengan membuat proyeksi atas hasil hitungan sementara di Florida dengan menyebut Bush sebagai pemenangnya.

Belakangan ternyata keliru, setidak-tidaknya angka yang diumumkan CNN bukanlah angka resmi yang dikeluarkan oleh panitia pemilu Florida. Ketika tadi siang iseng-iseng saya tanyakan kepada rekan Amerika saya : “Kok media seperti CNN bisa ceroboh begitu?”. Jawabnya ringan saja : “That’s American Press”

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (11)

2 November 2008

New Orleans, 9 Nopember 2000 – 23:30 CST (10 Nopember 2000 – 12:30 WIB)

Melihat perkembangan penghitungan ulang kartu suara di Florida, bagi penggemar sepakbola barangkali dapat digambarkan sebagai kemelut di depan gawang yang tak berkesudahan. Sementara penghitungan ulang kartu suara di Florida masih belum akan tuntas hingga minggu depan, sementara itu pula muncul berbagai kontroversi diantaranya pemilih di kota Palm Beach yang meminta diadakan pemilihan ulang. Sedangkan publik Amerika lainnya sedang menanti siapa presiden mereka yang baru.

The Associated Press memberikan angka sementara hasil penghitungan ulang di Florida dengan Bush untuk sementara masih unggul tipis terhadap Gore dengan 229 suara. Selisih angka ini diperoleh setelah diselesaikannya penghitungan ulang di 66 kabupaten dari 67 kabupaten yang ada, dan tinggal menyisakan dari kota Palm Beach. Angka ini memang belum resmi karena batas akhir pengumpulan hasil penghitungan ulang dari tiap-tiap kabupaten paling lambat harus diserahkan kepada panitia pemilu pada hari Selasa depan.

Hasil akhir selengkapnya ternyata masih akan menunggu hingga Jum’at pekan depan. Kartu suara yang berasal dari pemilih di luar negeri masih akan ditunggu hingga batas akhir penerimaan tanggal 17 Nopember, atau 10 hari setelah hari pemilu. Melihat ketatnya selisih angka sementara antara kedua kandidat utama presiden ini, maka suara dari pemilih luar negeri tampaknya akan sangat menentukan siapa yang akan menjadi pemenangnya.

Palm Beach, adalah kota wisata di pantai timur Florida. Hingga malam ini para pemilihnya berunjuk rasa menuntut diadakannya pemilihan ulang. Demikian halnya yang terjadi di ibukota negara bagian Florida, Tallahassee. Pasalnya, para pemilih merasa sempat bingung saat harus mencoblos kartu suara sebagai akibat dari rancangan kartu suara yang dianggap membingungkan.

Hal ini berakibat ada sekitar 19.000 kartu suara yang dianggap oleh panitia tidak sah karena terdapat dua coblosan dan ada ribuan suara lagi yang coblosannya mengarah ke Pat Buchanan, kandidat presiden dari Partai Reformasi. Padahal suara-suara itu seharusnya dimaksudkan untuk memilih Al Gore, kandidat Partai Demokrat, demikian pengakuan para pemilih yang ternyata pendukung Al Gore.

Anehnya, Pat Buchanan yang sebenarnya diuntungkan karena memperoleh lonjakan suara hingga 110% dari yang diperkirakannya, malah merasa tidak enak menerima tambahan suara akibat kesalahan pemilih Gore. Dia mengatakan : “saya tidak mau mengambil suara-suara yang bukan ditujukan untuk saya”. Padahal sesungguhnya Pat Buchanan sendiri sangat memerlukan tambahan suara guna memantapkan legitimasi partai guremnya dalam percaturan pemilihan presiden Amerika.

Lha ya sudah kadung (terlanjur) dicoblos……… Ya, tapi barangkali memang begitulah sopan santun berpolitik mereka. Apakah di balik itu ada keinginan terselubung agar bukan Bush yang nantinya jadi presiden, tentu urusan lain. Lha yang ketambahan suara yang bukan haknya saja merasa sungkan, lalu apa namanya kalau, umpamanya lho ini, ada yang merebut (dengan paksa) suara yang bukan haknya……….?

***

Selain kontroversi kartu suara di Pal Beach, muncul pula protes lain dari pihak Gore tentang adanya keterlambatan pengiriman kotak-kotak pemilu ke tempat penghitungan. Sementara pemilih dari masyarakat kulit hitam juga protes karena banyak orang kulit hitam yang mengalami kesulitan untuk memilih dengan alasan kartu suara habis atau TPS sudah ditutup. Hal yang terakhir ini mengingatkan saya pada pemilu di desa-desa di Indonesia pada jaman Orde Baru dulu.

Pihak Bush pun tidak mau kalah, jika pihak Gore mengajukan tuntutan atas kontroversi Palm Beach, maka pihak Bush siap-siap mengajukan tuntutan juga agar di negara bagian Wisconsin dan Iowa juga diadakan penghitungan ulang. Di kedua negara bagian ini selisih suara antar keduanya memang tipis, hanya saja Wisconsin dan Iowa tidak mempunyai undang-undang tentang penghitungan ulang jika selisihnya kurang dari setengah persen.

Pemilu memang hajat nasional Amerika, tetapi pemerintah federal tidak mempunyai hak untuk mengatur penyelenggaraannya di setiap negara bagian. Negara bagianlah yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur tata cara dan teknis-teknis penyelenggaraannya. Oleh karena itu antara tiap-tiap negara bagian bisa berbeda-beda aturan, cara, perlengkapan dan thethek-bengek-nya (segala macam yang terkait).

Pacuan presiden Amerika jadi makin panjang. Penghitungan ulang di kota Palm Beach baru akan dilakukan lagi hari Sabtu dan angka resmi hasil penghitungan total dari 67 kabupaten baru akan dilakukan Selasa depan, sambil menunggu masuknya suara dari luar negeri sampai Jum’at depan. Sementara di luar sana masyarakat pemilih tetap protes atas berbagai kontroversi yang terjadi di Palm Beach.

Entah bagaimana pemerintah Florida akan menyelesaikan hal ini, kita lihat saja nanti. Lebih baik mencari udara segar dulu di akhir pekan ini.

Yusuf Iskandar

Membangunkan Sopir Ngantuk

15 Agustus 2008

Niat ingsun mau menuju bandara Soeta (Soekarno – Hatta) naik taksi lalu meninggal tidur sopirnya. Maka begitu nyingklak taksi, segera mengomando sopirnya : “Ke bandara, pak”, dan lalu duduk santai. Pak sopir yang kelihatan sudah cukup tua, saya taksir umurnya 60an tahun, dengan lincahnya segera masuk ke jalan tol. Siang hari jalan menuju bandara masih relatif sepi, tidak kemruyuk seperti ketika hari beranjak sore. Taksi pun melaju lancar.

Belum lama melaju di jalan tol yang masih belum gegap-gempita, saya perhatikan gerak laju taksinya kok rada mereng-mereng. Injakan gasnya memunculkan bunyi mesin yang tidak konstan. Kendaraan lebih sering berada di atas marka pembagi lajur jalan (bukannya di antara garis putih putus-putus).

Tidak biasanya sopir taksi memilih berada di lajur paling kiri dengan kecepatan sedang-sedang saja (padahal jalanan lagi sepi dan longgar). Gerak-gerik sopirnya terlihat gelisah, kaki kirinya (kaki yang kanan tidak kelihatan) sering digoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Tangan kirinya (tangan yang kanan juga tidak kelihatan) sebentar-sebentar menggaruk kening yang sepertinya tidak gatal dan mengusap belakang kepala yang sepertinya dari tadi tidak ada apa-apanya. Sesekali berdehem, sengaja batuk dan melenguh seperti sapi.

Tidak terlalu sulit untuk menyimpulkan bahwa pak sopir taksi sedang ngantuk berat. “Wah, bahaya, nih”, pikir saya. Terpaksa saya jadi ikut waspada memperhatikan jalanan di depan. Niat untuk tidur di taksi saya batalkan, sebab saya merasa sedang berada dalam situasi unsafe condition. Sekali saja pak sopir mak thekluk….., tersilap sedetik saja karena ngantuknya, maka bahaya mengancam keselamatan taksi dan penumpangnya. Gimana nih? Mau minta berhenti lalu ganti taksi di tengah jalan tol kok ya gimana gitu loh…..

Maka saya putuskan untuk mengajak ngobrol sopirnya. Itulah yang kemudian saya lakukan.

“Pak…”, panggil saya memecah keheningan (sebenarnya ya tidak hening, wong deru kendaraannya cukup bising). “Bapak kelihatannya capek sekali…”, kata saya.

“Iya pak, saya agak kurang tidur”, jawab pak sopir. “Kurang tidur kok agak. Ya tetap saja tidurnya kurang”, kata saya tapi dalam hati.

“Ngantuk ya pak?”, tanya saya lagi berbasa-basi memastikan, karena tujuan saya hanya untuk mengajak bicara (lha wong sudah jelas ngantuk kok ditanya juga….)

Di luar dugaan saya, pak sopirnya malah berkata jujur : “Iya pak, saya sendiri heran. Mungkin cobaan saya, ya…..”, sampai di sini saya masih belum ngerti apa maksud perkataan pak sopir. Lalu, lanjutnya : “Kalau sedang tidak narik penumpang, saya enak saja nyusup-nyusup jalan. Tapi kalau sedang membawa penumpang rasanya sering sekali ngantuk”.

“Waduh, gawat nih”, kata saya dalam hati. Lha, saat itu saya sedang jadi penumpang yang ditarik pak sopir je….. Ini kejujuran yang jelas tidak pada tempatnya. Ini adalah perilaku jujur yang tidak dianjurkan dan tidak terpuji (yang mau memuji ya siapa……). Jujur yang malah bikin takut.

Tiba-tiba saya ingat kalau di dalam saku tas ransel saya ada tersimpan permen “Davos”. Permen “Davos” adalah permen jadul (jaman dulu) yang bungkusnya berwarna biru tua dengan rasa peppermint yang tajam. Rasa pedasnya sangat nyegrak, sehingga sering membuat pengulumnya rada megap-megap. Tapi jangan heran kalau permen pedas ini masih banyak penggemarnya.

Segera saya rogoh saku ransel, saya ambil permennya, saya sobek bungkusnya, lalu saya tawarkan kepada pak sopir. Agak malu-malu tapi mau juga pak sopir menerimanya. Akhirnya saya dan pak sopir kompak mengulum permen “Davos” bersama-sama.

Entah karena kepedasan ngemut permen, entah karena kemudian saya ajak ngobrol, yang jelas kemudian pak sopir sudah tampak lebih sumringah, tidak lagi ngantuk seperti tadi. Tampaknya pak sopir sudah lupa dengan ngantuknya. (Aha… Ini dia. Tips baru untuk menghilangkan ngantuk, yaitu berusahalah untuk melupakan ngantuknya. Cuma cilakaknya, cara termudah untuk melupakan ngantuk, ya tidur….. Huh…!).

Permen pedas cap “Davos” berhasil menjadi pemecah kesuntukan yang dialami pak sopir taksi. Menit-menit berikutnya suasana berubah menjadi obrolan di dalam taksi. Obrolan yang makin asyik aja…. Apalagi kalau topiknya adalah kisah “kepahlawanan”. Maksud saya adalah kisah nostalgia pada jaman “perjuangan” episode kehidupan seseorang.

Bagi pak sopir taksi, kisah itu adalah tentang pekerjaannya sepuluh tahun yang lalu sebelum menjadi sopir taksi. Masa keemasan pak sopir ketika masih menjadi koordinator Satpam di kawasan pertokoan Mangga Dua. Dengan semangat empat-lima, pekerjaan hebatnya yang dulu itu diceritakannya dengan runtut sampai ke detil-detilnya, hingga akhirnya beliau terpaksa lengser keprabon saat terjadi kerusuhan Mei 1998. Dengan getir dituturkannya bahwa beliau akhirnya di-PHK karena saat terjadi kerusuhan rupanya banyak anak buahnya yang terbukti turut menjadi aktivis. Maksudnya, turut aktif menjarah toko-toko yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya.  

***

Ada dua pelajaran tidak terlalu penting tapi nyata. Pertama, tentang membangunkan sopir ngantuk. Kedua, tentang “menjinakkan” orang tua agar suka diajak bicara (tidak semua orang tua suka diajak cerita-cerita, lho…..)..

Untuk yang pertama, siapkanlah permen pedas. Semakin pedas semakin baik, asal bukan permen rasa sambal…. Untuk yang kedua, menggiring pembicaraan ke arah kisah “kepahlawanan”, “perjuangan”, “semangat empat-lima”, atau pokoknya yang sejenis itulah…..

Maka bagi kawan-kawan muda yang sedang mencari calon mertua, ada baiknya melakukan orientasi medan dan studi referensi tentang kisah “kepahlawanan” dari kandidat mertua. Hanya satu hal sebaiknya jangan dilakukan, yaitu ketika tahu sang kandidat mertua sudah ngantuk, janganlah lalu disuruh ngemut permen pedas…..

Yogyakarta, 15 Agustus 2008
Yusuf Iskandar