Posts Tagged ‘kampung’

Tetanggaku Pergi Umroh

7 Juni 2010

Tetangga sebelahku pergi umroh ke tanah suci. Tetangga yang lain pada nitip didoakan ini-itu macam-macam. Aku cuma mengingatkan: “Tolong jangan lupa berdoa agar kita diberi jalan keluar…, benar-benar jalan keluar bagi mobil kita agar tidak terganggu bangunan di pojok kampung itu…”

(Seperti pernah kuceritakan tentang pemilik tanah di pojok kampungku yang akan membangun rumah dan keukeuh tidak perduli kalau bangunan itu bisa mengganggu jalan mobil tetangganya)

Yogyakarta, 28 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Jalan Keluar

31 Januari 2010

Seseorang membangun rumah di pojok gang dan berpotensi menutup akses jalan ke rumahku di kampung. Si pemilik rumah susah sekali diajak rembukan. Saya bilang kepada tetanggaku: “Didongani wae (didoakan sj)”. Salah satu doaku bunyinya begini: “Ya Allah, berilah kami jalan keluar terbaik. Tapi Tuhan, ini benar-benar jalan keluar lho, jalan agar mobilku bisa keluar…”

Yogyakarta, 31 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Kendal Kaline Banjir

15 November 2009

Sewaktu tempat-tempat lain tidak banjir, kota Kendal banjir. Sewaktu tempat-tempat lain kena banjir, Kendal tambah buuuanjir. Begitu karakter kota kelahiran saya, Kendal yang letaknya 30 km di sebelah barat Semarang, yang identik dengan banjir.

Mereka yang dulu sering menjalani rute pantura Semarang – Jakarta, pasti familiar dengan kota ini setiap kali datang musim rendeng (penghujan). Sampai kini pun kota ini tetap menjadi langganan banjir. Bedanya, kalau dulu banjir sering memutus jalan raya seperti yang sekarang terjadi di jalur Pati – Rembang. Kalau sekarang karena jalan raya semakin ditinggikan, tinggal perkampungan di sekitarnya tetap banjir.

Nampaknya sudah jadi tradisi alam, bahwa “berkahnya” Kendal datang bersama datangnya banjir. Siapa tahu?

Banjir kali ini munculnya seperti guyonan, silih berganti banjir-surut-banjir-surut, berulang kali. Baru saja selesai membersihkan latri (istilah lokal untuk tanah laterit atau lumpur) di dalam rumah, ngos-ngosannya belum hilang, lalu datang banjir mengirim lumpur lagi. Dibersihkan lagi, lalu datang lagi. Begitu dalam dua minggu terakhir ini. Kalau lumpur sudah masuk rumah, tinggi se-polok (tumit) atau se-gares (betis) tidak ada bedanya, sama-sama kudu brangkangan ngosek latri (sambil merangkak membersihkan lumpur) di dalam rumah.

Untungnya Pemkab Kendal cepat tanggap, bantuan beras, uang, dapur umum, cepat mengalir dan in-action. Tapi ya selalu saja ada pihak yang kurang puas dan juga yang “nakal”. Nampaknya dimana-mana kok ya begitu. Pihak Pemkab “cepat berbuat sesuatu” rasanya sudah sangat baiklah, tinggal dibutuhkan orang (pejabat) yang mau belajar bagaimana membenahi sistemnya agar semakin baik dalam management penanganan bencana.

(Padahal banjir sudah datang sejak dahulu kala, tapi belajarnya kok enggak selesai-selesai?)

Tadi malam, dari Jakarta saya mampir Kendal. Jalan Semarang – Kendal rusak parah. Pengemudi kendaraan, lebih-lebih sepeda motor di malam hari, perlu ekstra sabar dan hati-hati. Sangat berbahaya. Banyak lubang tidak terlihat. Taksi yang saya tumpangi dari bandara Ahmad Yani Semarang yang biasanya suka ngebut, kali ini sopirnya agak spaneng (stress), menthelengi dalan (melototi jalan), ngiwo-nengen milih dalan (ke kiri-ke kanan memilih jalan bagus), bolak-balik mak jeglak-jegluk….. terjebak lubang.

Sejak kemarin hingga hari ini, hujan seperti tidak berhenti. Cuaca memang membuat malas. Kasihan anak-anak sekolah. Belum lagi mereka yang rumahnya kebanjiran sejak Senin, bahkan sejak akhir minggu lalu dan belum tuntas membersihkannya, pasti sangat direpotkan.

Tinggal “uji nyali”, siapa yang mampu menjadi “pemenang” dalam keterdesakan, kesulitan dan cobaan semacam ini.

Saya ke Kendal bukan dalam rangka mau “banjiran” (istilah lokal yang maksudnya berekreasi banjir bagi mereka yang tidak kebanjian, wong rekreasi kok menikmati banjir…..) melainkan menjenguk orang tua yang sedang sakit. Rumah masa kecil saya sekarang kalau musim banjir mulai sering ikut-ikutan dimasuki air plus lumpur. Padahal dulu kampung saya termasuk daerah bebas banjir.

Memang benar, sungai-sungai semakin dangkal sehingga air cepat meluber kemana-mana seperti lumpur Sidoarjo. Waktu kecil dulu seingat saya permukaan air berada jauh dari permukaan jalan. Kalau ciblon (mandi di sungai) dengan meloncat dari jembatan ke permukaan sungai, serasa seperti sedang meloncat dari papan loncat kolam renang bertaraf internasional. Tapi kini permukaan air sepertinya mudah untuk diraih, juga semakin buthek (keruh).

Keadaan pendangkalan sungai semacam ini sepertinya juga terjadi di berbagai daerah. Semakin tanggul pelindung rumah atau kampung ditinggikan, air pun semakin mencari celah untuk melampauinya. Semakin jalan ditinggikan, air pun semakin leluasa nyambangi rumah dan perkampungan di sekitarnya.

Menyitir lagunya Waljinah :

Kendal kaline wungu, ajar kenal karo aku…..
Kendal kaline banjir, yen ora kenal ora usah dipikir…..

Kendal kaline banjir, yen pingin kenal (Kendal) yo monggo mampir….. ngrewangi ngosek lumpur (membantu membersihkan lumpur) maksudnya.

Salam banjir dari Kendal, 21 Pebruari 2008
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(5).  Fort Marlborough Dan Kawasan Pantai Di Sekitarnya

Menjelang senja, saya tinggalkan danau Dendam Tak Sudah beserta keelokan panoramanya. Sebelum kembali ke hotel, ada baiknya berkeliling melihat kota Bengkulu. Kawasan pantai menjadi pilihan. Di sana ada benteng Fort Marlborough (tapi  tidak ada jalan Malioboro di Bengkulu), tempat bersejarah peninggalan bangsa Inggris yang dibangun tahun 1714. Bukan semata untuk tujuan pertahanan militer benteng ini dibangun, tapi juga sebagai kantor perdagangan dan pemerintahan Inggris. 

Bangunan benteng ini terbukti sangat kokoh. Ketika pada tahun 2000 ribuan rumah dan bangunan di kota Bengkulu luluh-lantak oleh gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter, benteng ini ternyata tetap mbegegeg tanpa kerusakan berarti. Padahal benteng ini tanpa menggunakan konstruksi beton bertulang. Konstruksi bangunannya berupa batu dan bata yang disusun dan direkatkan dengan campuran kapur, pasir dan semen merah. Mirip-mirip konstruksi bangunan di sebagian kawasan Jogja yang belakangan ini roboh oleh gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter.

Daerah pantai di sekitar benteng Marlborough ini ternyata setiap sore ramai dikunjungi orang, terutama para kaum muda dan mudi yang ingin menyaksikan detik-detik matahari terbenam, hari mulai malam, tapi tidak terdengar burung hantu yang suaranya merdu….. nguk-nguk…..nguk-nguk…..

***

Di kawasan pantai di belakang benteng Marlborough itu kini sedang sibuk dengan aktifitas pembangunan. Pemda Bengkulu dengan bangga mengatakan bahwa Bengkulu sebentar lagi akan memiliki fasilitas rekreasi pantai yang disebut Marina Bengkulu. Entah jadinya akan seperti apa, yang terlihat sekarang ini baru kesibukan penggalian dan pengurukan pantai oleh beberapa alat-alat berat. Asal saja tidak malah menjadi dam yang salah-salah menjadi penyebab petaka banjir tak sudah di kota Bengkulu ketika musim hujan datang menjelang. Sudah banyak contoh “gagalnya” perencanaan pembangunan kawasan pantai semacam ini yang solusinya (biasanya) tambal-sulam.

Tidak jauh dari pantai ini adalah kawasan kota kuno yang terkenal dengan sebutan Kampung, kependekan dari Kampung Pecinan. Masih tampak berdiri kokoh, rapi dan terawat, bangunan-bangunan kuno khas rukonya etnis Cina. Saya melihatnya sebagai sebuah aset peninggalan budaya yang perlu dilestarikan. Kalau tidak keburu konangan ditangkap investor dengan jaring rupiahnya untuk disulap menjadi mal.

Tidak jauh dari Kampung adalah gubernuran yang berada di sebuah kompleks kawasan yang luas dan anggun. Mudah-mudahan gubernurnya bukan seorang pecinta alam. Khawatirnya kalau dengan alasan back to nature  agar bisa tinggal di gubernuran sambil menikmati pemandangan alam pantai dan lautnya, lalu bangunan-bangunan kuno yang menghalanginya perlu dibongkar, termasuk kawasan Kampung Pecinan itu.

Masih di seputaran tidak jauh dari pantai, ada tugu Robert Hamilton, dan monumen Thomas Parr yang terletak tepat di depan pasar Barukoto. Kedua tugu itu dibangun untuk mengenang dua orang bekas residen Inggris di Bengkulu yang tidak terlalu populer di jamannya. Jaman ketika Bengkulu masih dikuasai oleh Inggris antara tahun 1685-1825.

*** 

Bengkulu pertama kali ditemukan oleh bangsa londo Inggris pada tahun 1685, disebut dengan Bencoolen. Tahun 1825 gantian londo Belanda menguasai wilayah ini dan menyebutnya Benkoelen. Tahun 1942 londo Jepang sempat numpang sebentar, lalu dikuasai londo Belanda lagi, tempat dimana Soekarno pernah diasingkan dan kecanthol gadis setempat bernama Fatmawati, sebelum akhirnya Bengkulu kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Rumah Soekarno dan Fatmawati sampai kini masih dirawat dan menjadi salah satu tempat tujuan wisata sejarah.

Kota dan propinsi ini sesungguh-sungguhnya kaya dengan sumber alam, termasuk potensi pariwisatanya. Yang paling khas tentunya adanya bunga rafflesia arnoldi. Bunga raksasa ini muncul berpindah-pindah di sekitar kawasan hutan lereng pegunungan Bukit Barisan. Kini bunga rafflesia diabadikan menjadi lambang propinsi termuda, sebelum Timor Timur (yang akhirnya lepas lagi).

Pantai, danau, pegunungan, peninggalan sejarah, adalah sebagian obyek wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Sayangnya kota Bengkulu ini tergolong lambat perkembangannya. Masih miskin industri, bukan jalur strategis lalu lintas perdagangan (meski sebenarnya dulu Inggris pernah menjadikannya sebagai kantor pusat bisnis lada dan rempah-rempah). Potensi pertambangan dan potensi perkebunannya belum mampu mengangkat pertumbuhan ekonominya.

Maka ibarat kota “pensiun”, tidak sibuk oleh hiruknya dan pikuknya aktifitas bisnis sebagaimana kota-kota besar lainnya di pulau Sumatera. Tapi justru karena itu suasana kota ini cukup tenang dan adem ayem. Kini Bengkulu sedang bertekad untuk maju dan berkembang. Setidak-tidaknya kini kota yang suka menyebut dirinya dengan Bengkulu kota Semarak ini mencanangkan dirinya untuk menjadi kota pelajar. Weleh…, sebagai penduduk Jogja, saya merasa kota saya akan mempunyai pesaing baru…

Semoga orang tua-orang tua pelajar di Bengkulu tidak dipusingkan dengan biaya sekolah yang membubung tinggi seperti asap panasnya Merapi atau wedhus gembel. Lepas wedhus-nya, tinggal gembel-nya…..

Yogyakarta, 3 Juli 2006.
Yusuf Iskandar