Posts Tagged ‘kali putih’

Tentang Banjir Lahar Dan Anak Sekolah Desa Sirahan

10 Februari 2011

Berikut ini catatan dari mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, kabupaten Magelang, pada tanggal 4 Pebruari 2011 dalam rangka mencari informasi lebih lengkap tentang kemungkinan untuk memberi bantuan bagi sekolah TK dan SD yang hancur terkena hempasan banjir lahar dingin Merapi. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi semoga menjadi inspirasi…

***

(1)

Hari masih siang sebenarnya ketika saya dan teman-teman tiba di desa Sirahan, kecamatan Salam, Jum’at kemarin. Tapi mendung tampak menggelayut merata hingga ke utara ke arah Merapi. Siluet gunung Merapi sesekali membayang.

Saat kami tiba di Sirahan, beberapa orang yang rencananya mau ketemuan ada yang sudah meninggalkan desa. Mendung tebal dan merata adalah tanda-tanda awal untuk siaga penuh bagi masyarakat di sepanjang aliran kali Putih.

(2)

Beruntung kami masih sempat menjumpai dua orang guru TK. Bu Watik (guru TK Pertiwi) yang bangunan sekolahnya lenyap tanpa bekas dan bu Ida (Kepala TK Ibnu Hajjar) yang setengah bangunan sekolahnya hilang dan kini porak poranda. Keduanya terkena terjangan banjir lahar dingin dua minggu yll. Kedua orang guru TK itu pun sudah siap-siap hendak meninggalkan lokasi.

(3)

Bu Watik kini sibuk mengalihkan kegiatan belajar ke-25 anak didiknya ke sebuah rumah warga, tidak jauh dari lokasi TK Pertiwi semula, tapi posisinya lebih aman. Belajarnya sambil duduk lesehan di atas tikar seperti makan gudeg lesehan Malioboro. Alat peraganya seadanya sebab tak satu lembar buku dan sebatang kapur tulis pun selamat dari hempasan lahar dingin.

(4)

Bu Ida harus kami jemput ke tenda posko di tepi sungai agar bisa ngobrol di tempat yang lebih aman yaitu di selasar masjid Sirahan. Kegiatan belajar ke-119 anak didiknya di TK Ibnu Hajjar kini tersebar di tiga lokasi berjauhan ditangani sembilan orang bu gurunya. Ada yang dekat barak pengungsian, ada yang di desa utaranya dan ada yang di selatan desa yang antar keduanya aksesnya terputus. Ketiga lokasi belajar itu tentu saja dalam kondisi darurat.

(5)

Praktis dari kedua sekolah TK itu tak satu pun perlengkapan belajar yang masih dapat digunakan. Walau satu ruang kelas TK Ibnu Hajjar masih nampak utuh, tapi rupanya isi di dalamnya sudah diambil alih digantikan oleh timbunan pasir. Meja-kursinya entah terpindahkan kemana.

Maka bantuan berupa apapun akan sangat berarti bagi anak-anak, begitu kira-kira kata kedua guru itu. Sarana bermain, diharapkannya. Agar anak-anak tidak hanya berlarian tiap hari.

(6)

Datangnya banjir lahar dingin memang begitu cepat. Lebih-lebih tidak disangka bakal sedahsyat itu sehingga tidak melakukan tindakan penyelamatan apapun.

Menurut bu Ida yang pada malam kejadian itu sedang ada di masjid di dekat TK-nya: “Datangnya kurang dari 30 menit sejak dikabarkan dari lereng Merapi akan datang banjir lahar”. Sedangkan TK Ibnu Hajjar sebenarnya tidak berada dekat aliran sungai Putih, bahkan masih terpisah dengan jalan aspal Gulon-Ngluwar…

(7)

Pada malam terjadinya banjir lahar (16/01/11) sebenarnya bu Ida hendak tidur di sekolah TK-nya karena alasan mengungsi dari rumahnya yang ada di dekat kali Putih. Namun “sayang”, kunci sekolahnya tertinggal di rumahnya. Akhirnya pindah ke masjid dekat sekolah bersama beberapa orang lainnya.

Saat banjir itu benar-benar datang, dalam keremangan malam disaksikannya sendiri bagaimana banjir itu menerjang bangunan sekolahnya hingga roboh dan lenyap.

(8)

Bagi bu Ida dan beberapa orang warga desa Sirahan lainnya yang sempat menyaksikan dahsyatnya hempasan banjir lahar, kejadian malam itu sungguh sebuah mimpi buruk yang tak kan pernah terlupakan dalam hidupnya.

Belum lagi kalau ingat betapa semua orang menjadi panik ketika kemudian banjir itu juga mengepung dan nyambangi mereka hingga masuk ke dalam masjid. Sangat dipahami kalau kemudian ada salah seorang anak murid TK yang trauma setelah melihat kejadian itu.

(9)

Bincang-bincang dengan kedua guru TK menjelang sore di selasar masjid itu hendak dilanjutkan sambil jalan-jalan berkeliling melihat lokasi bencana. Namun tiba-tiba tersebar berita bahwa banjir besar sedang bergerak turun dari lereng Merapi.

Serta-merta semua orang waspada dan sebagian bergegas menjauh dari lokasi atau kembali ke pengungsian. Tak terkecuali kedua ibu guru itu pun segera pamit meninggalkan kami. Ya, kami memang harus memahami situasinya…

(10)

Kami jadi kebingungan sendiri. Antara mau langsung meninggalkan lokasi tapi ingat masih ada rencana ke SD Sirahan I yang hendak dituju dan seorang gurunya sudah dihubungi, sementara aksesnya terputus dan harus jalan memutar agak jauh. Antara ingin menyaksikan datangnya banjir lahar tapi sadar kalau sedang berada di zona bahaya di desa Sirahan.

Akhirnya kami putuskan untuk pulang saja meninggalkan lokasi bencana desa Sirahan.

(11)

Sore setelah meninggalkan desa Sirahan, saya memperoleh berita dari pak Kadus Salakan bahwa banjir lahar memang benar-benar datang dan lumayan besar. Beruntungnya jalur aliran lahar yang sudah ada masih mampu menampung aliran banjir sore itu.

Hanya saja kata pak Kadus: “Areal sawah yang tertimbun pasir semakin luas”. Makin terpuruklah petani yang sawahnya mulai menguning…

(12)

Besarnya banjir lahar sore itu bisa diketahui dari makin terputusnya akses menuju desa Sirahan dari arah utara karena tebalnya endapan pasir. Untuk mencapai SDN Sirahan I menjadi lebih sulit.

Esoknya saya peroleh kabar dari Kepala Sekolahnya, bahwa pasir lahar kmbali sudah memasuki ke ruang-ruang kelas. Maka jelas kini ruang kelas tidak dapat lagi digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Mau dibersihkan seperti sebelumnya, jangan-jangan banjir besar datang lagi…

(13)

Besarnya banjir lahar sore itu kembali memutus jalan raya Jogja-Magelang untuk yang kesekian kalinya. Itu karena luberan aliran lahar dingin di kali Putih kembali meninggalkan timbunan material vulkanik dari gunung Merapi berupa pasir dan batu yang memenuhi jalan. Perlu waktu lama untuk membersihkannya. Kembali lalulintas jalan raya terganggu.

(14)

Pulang dari kawasan bencana lahar dingin desa Sirahan, mampir dulu ke kali Krasak yang juga sedang ramai ditonton orang karena banjir lahar. Kami turun ke bawah jembatan.

Sebenarnya bukan untuk melihat banjir lahar, melainkan makan sore nasi brongkos “Warung Ijo” Bu Padmo. Haha, ini bagian menariknya yang harus dicatat.., nasi brongkos mak nyusss…

Banjir kali Krasak sore ini, lebih dari aliran lahar dingin yang selama ini lewat kali Krasak.

(15)

Pak Katam, Kepsek SDN Sirahan I yang ruang-ruang kelas sekolahnya dikudeta untuk ketiga kalinya oleh banjir lahar dingin Merapi (ruang kelasnya kini terisi pasir) memohon bantuan sepatu dan seragam pramuka untuk 82 orang muridnya. Semua muridnya kini menyebar di pengungsian, ada kelas darurat, juga numpang ke sekolah lain. Akses menuju sekolah ini harus memutar agak jauh karena jalan utama terputus…

(Puji Tuhan walhamdulillah. Seorang sahabat spontan menyatakan niatnya untuk membantu pakaian seragam pramuka. Sebanyak 82 stel seragam pramuka siap diambil. Sungguh membuat saya terharu. Semoga kebaikan itu, insya Allah akan tercatat di buku besar di langit ke tujuh dan memperoleh balasan yang jauh lebih baik. Matur nuwun kami haturkan)

Yogyakarta, 4-7 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Dusun Gempol Tenggelam Oleh Lahar Dingin

30 Januari 2011

Catatan dari mengunjungi dusun Gempol,desa Jumoyo, kecamatan Salam, kabupaten Magelang Jateng) pada tanggal 24 Januari 2011. Sebagian besar rumah warga dusun Gempol tertimbun bahkan tenggelam oleh endapan pasir banjir lahar dingin Merapi yang meluber dari aliran kali Putih.

Aliran lahar dingin di Kali Putih yang terjadi tadi sore (24/01/11)…, tak sebesar minggu lalu yang menghancurkan desa Jumoyo, kecamatan Salam, Magelang (sosok gunung Merapi yang berjarak sekitar 20 km ada di latar belakang).

(1)

Sebagian warga dusun Gempol, desa Jumoyo, kecamatan Salam, kabupaten Magelang, masih tinggal di pengungsian akibat erupsi Merapi November tahun lalu.

Saat minggu lalu mereka pulang untuk menengok rumahnya, malah rumahnya pada hilang. Bukan oleh letusan Merapi, tapi oleh sapuan lahar dingin yang menggelontor dari lereng barat Merapi, yang mbludak tak tertampung oleh kali Putih di seputar jembatan jalan raya Jogja-Magelang.

(2)

Kini lebih 500 jiwa warga dusun Gempol tinggal di pengungsian di lapangan depan Balai Desa Jumoyo. Nyaris semua rumah mereka hancur, tenggelam, bahkan hilang. Ada juga yang setengah tenggelam oleh endapan pasir lahar, dan masih tersisa sekitar 39 rumah yang hanya kotor saja. Tapi praktis dusun Gempol kini ditinggal warganya. Ancaman banjir lahar dingin belum selesai, dan entah sampai kapan ancaman itu berhenti..

(3)

Tempat pengungsian itu berupa tenda-tenda berbentuk dome warna putih. Tenda-tenda itu pindahan dari lokasi lain yang sebelumnya digunakan oleh pengungsi korban letusan Merapi.

Ada puluhan tenda berdiri di lapangan depan Balai Desa. Selain warga dusun Gempol, ada juga pengungsi dari dusun Kadirogo, Kemburan dan Dowakan, yang berjumlah lebih 800 jiwa semuanya dari desa Jumoyo.

(4)

Tenda dome warna putih… Dari kejauhan terlihat seperti perkemahan di padang Arafah. Hanya saja lokasi itu dikelilingi oleh hijau pepohonan. Entah sampai kapan mereka akan mampu bertahan di tempat itu. Sedang menyediakan shelter bagi warga kecamatan Cangkringan yang rumahnya hancur oleh awan panas saja sampai sekarang Pemkab Sleman masih kesulitan. Kini ditambah warga kecamatan Salam

(5)

Rombongan lebih 40 sepeda motor berkonvoi ke Balai Desa Jumoyo. Dari tampilannya, ini rombongan orang-orang desa. Dari sepeda motornya, ini pedagang keliling. Keranjang yang terpasang di sepeda motor itu penuh berisi sayur-mayur. Ada apa gerangan?

Mereka adalah warga Paguyuban Pedagang Keliling Lembah Merbabu. Mereka datang tiba-tiba untuk mengirim bantuan sayur-sayuran ke dapur umum pengungsian korban lahar dingin.

(6)

Mereka bukan tukang sayur yang sedang berjualan di pasar. Mereka adalah warga Paguyuban Pedagang Keliling Lembah Merbabu, kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang. Berkonvoi mereka datang, ingin meringankan beban derita sesama. Rasa empati dan peduli yang kemudian menggerakkan hati dan rasa cinta orang-orang kecil itu terhadap sesama.

Sebuah kepedulian dari orang-orang kecil untuk saudara-saudara yang sama kecilnya. Dari mana datangnya cinta, dari lembah Merbabu turun ke desa Jumoyo…

(7)

Sekian kali saya mengunjungi tempat pengungsian, sekian kali pula saya menyaksikan tumpukan pakaian (bekas, layak pakai, bagus) tertimbun, terhampar, berserakan begitu saja seperti tak terurus. Nampaknya pakaian memang bukan kebutuhan mendesak bagi pengungsi korban bencana, termasuk gunung meletus, banjir lahar, juga gempa.

Pada saat-saat tak berdaya, mereka lebih butuh logistik atau bentuk lain yang lebih nyata bagi keseharian di tempat pengungsian…

(8)

Posko utama pengungsian desa Jumoyo tampak tertangani dengan baik. Bantuan pun berdatangan. Namun fenomena lambatnya penyaluran bantuan oleh “alasan prosedural” sering menghantui. Akibatnya bnyak donatur yang kadang-kadang “skeptis” dengan Posko utama.

Donatur merasa lebih puas kalau dapat langsung menyalurkan bantuan ke lokasi yang biasanya dikelola relawan mandiri. Itu juga alasan saya kemarin sore bersama Kadus Gempol turun langsung ke lokasi.

(9)

Pak Sudiyanto, Kadus (Kepala Dusun) Gempol, desa Jumoyo, galau menyaksikan sebuah rumah warganya tinggal menyisakan daun pintu yang masih berdiri. Selebihnya tertimbun pasir setinggi atap sedang atapnya tersapu aliran lahar dingin. Sebagian rumah lainnya bahkan hilang tak berbekas. Termasuk rumah pak Kadus yang tertimbun pasir setengah tingginya.

(10)

Sore itu langit agak mendung dan gerimis mulai turun. Pak Kadus Sudiyanto begitu semangatnya memboncengkan saya dengan sepeda motornya berkeliling dusun menunjukkan rumah-rumah warganya yang kini hilang.

Ada yang tenggelam oleh endapan lahar dingin menyisakan atapnya, ada juga yang benar-benar tersapu dahsyatnya aliran lahar yang membawa pasir dan batu-batu besar. Dusun yang dulu agak jauh dari kali Putih, kini berubah menjadi jalan baru bagi aliran sungai.

(11)

Rute aliran kali Putih itu membelok sebelum menyeberang jalan raya Jogja-Magelang. Namun rupanya aliran kuat lahar dingin Merapi tidak sabar untuk membelok mengikuti aliran sungai yang sudah ada, melainkan lurus saja menyeberangi sekaligus menggerus badan jalan aspal, menghantam pasar Jumoyo dan dusun Gempol seisinya. Begitu berulang setiap kali banjir lahar dingin datang. Maka jalan raya Jogja-Magelang pun berulang terganggu.

(12)

Sekitar jam empat sore itu tiba-tiba orang-orang yang sedang “berwisata” di sekitar jalan raya desa Jumoyo pada berlarian. Petugas keamanan mengumumkan agar orang-orang menjauh karena lahar dingin segera tiba.

Pak Kadus memberitahu saya bahwa sebentar lagi akan melihat datangnya lahar dingin. Kutanya: “Apa aman?”. Dengan yakin dijawab: “Tidak apa-apa, banjirnya kecil”.

Dengan pesawat HT-nya, pak Kadus dapat memonitor gerakan aliran lahar dari Merapi, seberapa besar dan sudah sampai mana.

(13)

Kami memilih lokasi di tanggul timur, dekat pertigaan antara aliran lama dan baru. Semakin lama para “wisatawan” yang datang semakin banyak. Petugas keamanan tidak melarang karena sudah tahu bahwa banjir sore itu tidak besar.

Ketika banjir lahar akhirnya datang, memang tidak sampai meluber keluar dari aliran sungai yang ada sehingga masih aman bagi masyarakat yang ingin menyaksikan. Walau lalulintas Jogja-Magelang sempat ditutup sebentar sebagai tindakan preventif.

(14)

Menunggu datangnya banjir lahar dingin seperti menunggu datangnya pujaan hati. Kata pak Kadus yang merangkap relawan mandiri: “Kalau sudah dapat info ada banjir lahar di atas (Merapi), terus dimonitor laju kepala banjir sambil deg-degan. Kalau nggak datang-datang seperti ada rasa ‘gelo’ (menyesal), padahal tahu bahwa itu bisa jadi petaka…”.

(15)

Dengan melihat sendiri kondisi dusun Jumoyo yang berantakan dan sebagian lenyap, serta warganya yang ingin pulang tapi tidak ada yang dipulangi.

Maka kesanalah saya berencana menyalurkan bantuan (prioritas sementara logistik/sembako). Setidaknya, langsung ke sasaran, sebagaimana diharapkan pak Kadus Gempol. Seorang warga dusun tetangga (Seloiring) juga berharap bantuan langsung ke lokasi. Uugh, nampak ada nada skeptis jika bantuan dikirim ke Posko utama.

(16)

Dusun Seloiring bertetangga dengan dusun Gempol, masih di desa Jumoyo, hanya terpisah oleh jalan raya Jogja-Magelang. Ketika terjadi banjir besar lahar dingin minggu yll. yang telah melenyapkan sebagian dusun Gempol, warga Seloiring selamat tapi nyaris karena ada di batas limpahan kali Putih.

Namun… (lha ini anehnya masyarakat kita), belum mau disuruh mengungsi karena memang belum terbukti terkena bahaya. Sedang potensi ancaman itu nyata di depan mata. Huuh..!

(17)

Masyarakat Gempol pada umumnya adalah buruh tani dan penambang pasir. Entoch, endapan pasir lahar tidak begitu saja dapat ditambang, walau pasir itu kini menghampar nyaris seperti tak kan habis.

“Wah, jadi rejeki bagi warga”, kataku kepada pak Kadus.

“Paling-paling nanti orang luar yang menikmati, warga ya tetap saja begitu…”, jawab pak Kadus sambil memboncengkan saya menuju mobil.

Terasa ada nada getir di baliknya. Saya pun segera pulang membawa serta kegetiran itu…

Yogyakarta, 25-27 Januari 2011
Yusuf Iskandar