Posts Tagged ‘jum’atan’

Melandasi Dengan Doa

23 September 2010

Alhamdulillah..! Menjelang Jum’atan tadi anak lanang tiba di rumah dengan selamat pulang dari mendaki Gunung Sumbing. Seorang teman protes keras ketika sebelumnya saya wanti-wanti sambil bercanda: “Jangan sampai bapak nyusul membawa tim SAR”.

“Itu bisa jadi doa!”, katanya gusar.

Saya tidak membantah. Namun ada hal yang tidak saya ceritakan bahwa sebagai ortu saya sudah melandasinya dengan doa yang sangat intens lebih dari sekedar canda yang terucap, sebelum mengijinkan anak lanang mendaki gunung.

Yogyakarta, 17 September 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Tidak Boleh Berbohong Pada Hari Jum’at

10 Agustus 2010

Sebelum jumatan tadi saya sempat eyel-eyelan dengan seorang teman, pasalnya saya tidak terima dibilang telah membohonginya. Sedang yang sebenarnya tidak demikian. Akhirnya kubilang: “Suwerrr..., ini hari Jumat saya tidak akan dan tidak boleh membohongi kamu…!”. Setelah saling diam sesaat, lalu buru-buru kulanjutkan: …”Kalau selain Jumat, boleh…”.

(Note: Ini hanya becanda, dan jangan meniru adegan ini…)

Yogyakarta, 6 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Ketika Tiba-tiba Sensi

2 April 2010

Mendadak pagi ini saya agak sensi. Dialog biasa saja dengan anak lanang tiba-tiba berubah bernada tinggi.

Anak lanang pamit ke rumah temannya, lalu kuingatkan: “Ini Jumat, Le. Jangan keasyikan lalu lupa jumatan”.
Jawab anakku: “Dekat rumah temanku ‘kan ada masjid”.
Entah kenapa jawaban itu membuat darahku naik ke ubun-ubun (untung nggak stroke). “Di depan Kraton itu ada masjid, tapi berapa banyak pengunjung Kraton yang bahkan tidak tahu masjid itu menghadap kemana..!”

Yogyakarta, 2 April 2010
Yusuf Iskandar

Pak Tua Penjual Tapai

13 Maret 2010

Pulang jum’atan ketemu pak tua penjual peuyeum (tapai), menuntun sepeda yang sama tuanya. Lalu saya suruh ke rumah karena saya mau beli. Saya beri uang lebih tidak mau, malah piringku dipenuhi tapai. Ketika ada teman datang, semua tapai itu saya suruh bawa pulang.

Tinggal istriku keheranan: “Jadi untuk apa tadi beli tapai banyak sekali…”.
Kujawab: “Bukan tapainya yang saya beli, tapi waktu milik pak tua itu, untuk saya ajak ngobrol…”

Yogyakarta, 12 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Jumatan Di Tengah Jalan Kehujanan

15 November 2009

Wong ndeso seperti saya ini rada keder juga ternyata menghadapi kepadatan lalu lintas Jakarta. Seperti pengalaman mau menyeberang jalan Mampang Prapatan Raya di teriknya siang Jumat kemarin, susahnya minta ampun. Lalulintas seperti tidak ada selanya. Akhirnya cari barengan. Kalau berjamaah rupanya menjadi lebih diperhatikan orang, termasuk berjamaah untuk menyeberang jalan. Setidak-tidaknya pengendara kendaraan lain menjadi tidak nekat. Tujuan saya memang mau sholat jumatan berjamaah di seberang jalan.

Masjid yang letaknya tepat di pinggir jalan itu rupanya penuh. Setengah jamaah sudah berada di dalam bangunan masjid, setengah lainnya menyebar di trotoar dan di jalan. Padahal, sebagian teras masjidnya sudah dibangun dengan “memakan” trotoar jalan. Maka sebagian Jl. Mampang Prapatan pun digelari tikar dan karpet untuk menampung peserta jumatan yang membludak. Bukan hanya sebagian, setengah lebar jalan malah. Akibatnya lalulintas jadi tersendat karena ada penyempitan jalan.

Hal yang tampaknya sudah lumrah di Jakarta. Saya memang baru pertama kali mengalami yang seperti ini. Selama ini kalau kebetulan jumatan di Jakarta, biasanya di dalam gedung atau kompleks perkantoran, atau di masjid yang lokasinya tidak persis di jalan besar.

Sambil duduk sila di atas gelaran karpet di tengah jalan, saya membayangkan bagaimana kalau jumatan pas hujan deras dan air di jalan mengalir deras pula. Kemana mau pindah?

Ee… lha kok tenan. Belum selesai khotbah, sholat belum dimulai, gerimis tiba-tiba turun. Semakin deras dan titik airnya semakin besar-besar. Jamaah nampak mulai gelisah, sebagian sudah pada berdiri dan bubar menyelamatkan diri mencari tempat aman dari hujan. Ya susah juga, wong di dalam masjidnya sudah penuh.

Untungnya sewaktu sholat dimulai, gerimis hanya berupa titik air kecil-kecil saja, belum berubah menjadi hujan. Untungnya lagi sang khatib yang menyampaikan pesan-pesan khotbah agak pengertian, sehingga khotbahnya tidak berpanjang-panjang. Demikian halnya sang imam pemimpin sholat juga “tahu diri” kalau setengah jamaahnya yang di belakang sedang gelisah bakal kehujanan. Irama gerak sholat pun agak digas lebih cepat dan dengan memilih bacaan surat Qur’an yang tidak terlalu panjang.

Tepat ketika sholat selesai, hujan turun, mak bress….., semakin lebat. Untung sholat sudah selesai. Serta-merta jamaah lari sipat kuping bubar jalan berhamburan bagai anak ayam tidak memperdulikan induknya. Lalulintas terhenti beberapa saat, memberi kesempatan kepada orang-orang yang hendak menyeberang jalan menyelamatkan diri dari hujan. Tak terelakkan kalau kemudian pakaian jadi basah.

***

Agaknya jumatan di tengah jalan sudah menjadi hal biasa di kota besar seperti Jakarta, yang kebetulan letak masjidnya tepat di pinggir jalan besar. Sehingga seminggu sekali jalan raya yang padat lalulintasnya terpaksa dikorbankan, menjadi “three-in-one” (maksudnya berubah dari 3 lajur menjadi tinggal 1 lajur jalan). Apa hendak dikata kalau kemudian jalan yang sudah padat itu menjadi agak macet dan tersendat lalulintasnya. Peristiwa mingguan yang tak terbayangkan sebelumnya oleh orang desa seperti saya yang biasanya jumatan di kampung dalam suasana santai dan tidak kemrungsung.

Kedua belah pihak nampaknya harus saling maklum. Pihak yang jumatan ya mesti hati-hati sholat di pinggir bahkan di tengah jalan. Pihak pengguna jalan juga mesti agak mengalah akibat penyempitan jalan.

Apa ada solusinya yang praktis dan mudah? Rasanya tidak ada. Sebab di satu pihak, sampai kapanpun masjid dan jamaahnya ya tetap ada di situ, bahkan peserta jumatan cenderung semakin banyak seiring semakin padatnya penduduk kota. Di pihak lain, lalulintas ya akan tetap padat seperti itu dan juga kecenderungannya semakin padat.

Peristiwa jumatan di tengah jalan dan sesekali kehujanan, mau diapa-apakan ya tetap terjadi seperti itu. Sampai kapanpun, kecuali kalau kotanya pindah. Maka satu-satunya solusi adalah menghidupkan dan membumikan semangat dan budaya tenggang rasa yang akhir-akhir ini terasa semakin pudar.

Tenggang rasa, kata yang enak diucapkan, manis dijadikan bahan pidato, indah dituliskan, tapi ngudubilah tidak mudah untuk diamalkan. Boro-boro menenggang rasa, menenggang kebutuhan hidup saja seperti diuber setan…. Kalau sudah demikian, tinggal kita ini memilih mau berada di sisi sebelah “mananya” tenggang rasa. It’s your call……

Yogyakarta, 5 April 2008
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(11).  Malam Terakhir Di Parkes

Sore hari sepulang kerja saya menyempatkan untuk mampir dulu ke sebuah tempat menarik di kota Parkes. Nama tempat itu adalah Memorial Hill, yaitu sebuah bukit di tengah kota Parkes di mana di atasnya dibangun sebuah tugu atau monumen kenangan. Kenangan bagi para pejuang Parkes yang tewas di medan tugas di Asia di tahun-tahun sekitar masa Perang Dunia.

Kota Parkes memang mempunyai topografi yang  agak berbukit-bukit, sehingga kalau kita berdiri di puncak permukaan bukit yang di atasnya berdiri tugu kenangan itu akan tampak pemandangan kota Parkes dari ketinggian. Itu sebabnya daerah puncak bukit ini disebut Outlook Memorial Hill. Sebuah tempat yang cocok buat rekreasi, terutama di saat matahari belum tinggi atau sudah agak lengser. Sebab kalau di siang bolong tentu akan terasa panas berada di areal terbuka di atas bukit.

Seperti halnya yang saya lakukan senja tadi. Matahari pas menjelang tenggelam, tampak bulatannya yang bergerak amblas bumi di horizon barat kota Parkes. Berkas cahaya merahnya nampak semakin lama semakin menghilang ditelan cakrawala. Sebenarnya pemandangan yang biasa saja, tapi jarang sekali dapat saya jumpai kalau tidak sedang berada di tempat ketinggian atau di pantai.

***

Malam ini adalah malam terakhir saya di kota Parkes. Atas saran seorang rekan, saya makan malam di sebuah restoran Italia. Begitu disuguhi roti, salad, steak, satu poci teh dan nambah, semuanya bablass. Sampai pelayannya berkomentar : “Sampeyan pasti sedang lapar sekali”. Dan jawaban saya singkat saja : “Nyet….” (memang), sambil agak nyengenges (nyengir).

Wong nyatanya memang saya sedang lapar berat. Tadi siang saya hanya berbekal sebuah apel hijau. Sedangkan makan siang yang disediakan perusahaan sudah terlanjur dikirim ke kantor tambang bawah tanah, sementara saya berada di kantor di luar tambang. Jadi ya hanya sekedar ngemil makanan kecil saja. Untungnya saat di kantor tadi perut terasa biasa-biasa saja, justru rasa lapar berat baru datang saat di restoran tadi.

Besok hari Sabtu pagi saya akan meninggalkan kota Parkes yang telah saya tinggali hampir dua minggu. Yang saya ingat sebenarnya bukan dua minggunya, melainkan dua Jum’at, karena berarti sudah dua kali Jum’at saya tidak ikut sholat Jum’atan. Lha, kemana mau Jum’atan wong di Parkes tidak ada masjid dan tidak ada komunitas muslim. Masjid terdekat tentunya di kota Sydney yang berjarak 365 km atau sekitar empat jam kendaraan darat atau satu jam lewat udara.

Sejauh ini saya belum tahu bagaimana caranya ngakalin kalau tiba saatnya sholat Jum’at tapi sedang berada di tempat yang jauh dari masjid atau komunitas muslim. Setidak-tidaknya cara ngakalin yang dibenarkan menurut syari’ah (hukum agama Islam).

Padahal menurut rencana sebelumnya saya akan berada di Parkes selama enam minggu untuk mengerjakan rencana kerja yang berskala lebih besar. Kalau benar jadi demikian apa ya saya mesti setiap 2-3 kali Jum’at terbang ke Sydney untuk sholat Jum’atan agar lepas dari tiga kali berturut-turut tidak Jum’atan. Wah, mesti ada anggaran tambahan. “Untungnya” akhirnya program enam minggu diperpendek menjaqdi dua minggu saja.

Omong-omong soal Jum’atan (dan yang sebangsa itu) memang kedengarannya kuno karena tidak ada yang pernah membicarakannya, sehingga topik semacam ini “ditinggalkan” orang. Kalau demikian, ya nyuwun sewu… (mohon maaf) biar saya bicarakan sendiri saja.

Parkes, 10 Agustus 2001
Yusuf Iskandar