Posts Tagged ‘judi’

Bukan Saya

13 Mei 2008

Hari ini akan saya ingat sebagai hari yang agak beda dari biasanya. Ada dua peristiwa biasa tapi memberi hikmah yang tidak biasanya.

Jam delapan pagi saya sudah bergegas meluncur ke rumah seorang teman lama untuk melayat ibu mertuanya yang meninggal kemarin. Sudah agak lama saya tidak berkomunikasi dengan teman saya, yang hampir 29 tahun yll pernah sekamar kost di Yogya. Saya sempatkan untuk melayat ke rumah duka dan mengantar jenazahnya hingga ke pemakaman.

Baru saja tiba di rumah sepulang melayat, ada tilpun dari ibu mertua yang minta diantar ke rumah sakit. Segera bergegas lagi bersama istri menjemput ibu mertua dan mengantarnya ke RSUD Wirosaban, Yogyakarta. Setelah mengurus ini-itu di loket, kemudian tiba di ruang tunggu poliklinik penyakit dalam. Namanya juga ruang tunggu, jadi mestinya ya ruang untuk menunggu. Dan yang namanya menunggu dokter di rumah sakit rakyat jelata, tak terprediksi berapa lamanya. Tingkat kelamaannya akan berbanding lurus dengan tingkat kemanyunan pengantar dan penunggu seperti saya.

Sambil melamun manyun, terkadang duduk terkadang berdiri, sambil tersenyum kecut dalam hati seperti ada yang mengingatkan perjalanan saya beberapa jam sebelumnya pagi tadi. Sebenarnya tidak ada yang salah, dua pekerjaan telah dan sedang saya jalani dengan tanpa beban dan ikhlas (meski agak manyun juga kelamaan menunggu), mengantar jenazah mertua teman dan mengantar mertua sakit.

Tiba-tiba saya seperti sedang disadarkan. Harusnya saya bersyukur telah berkesempatan mengantar jenazah mertua teman ke pemakaman, bukannya saya yang diantar. Harusnya saya bersyukur telah berkesempatan mengantar mertua ke rumah sakit, bukan saya yang diantar.

Seringkali kita berlindung dan merasa nyaman berada di balik kata “bukan saya”. Bukan saya yang digusur, bukan saya yang jadi korban kecelakaan, bukan saya yang terkena bencana, bukan saya yang kesulitan beli minyak, bukan saya yang terpaksa meminta-minta, bukan saya yang di-PHK, bukan saya yang disia-sia Satpol PP, bukan saya yang gagal ujian, bukan saya yang…… , bukan saya…….

Semua berlalu tanpa makna. Begitu saja. Lalu kita pun lupa. Tapi dua pengalaman pagi tadi yang sebenarnya biasa-biasa saja, entah kenapa tiba-tiba menggetarkan hati saya. Bukan saya….., lalu apakah akan tetap begitu saja sambil menunggu tiba kesempatannya (kesempatan kok ditunggu…..), diantar seperti ibu mertua teman saya dan ibu mertua saya?

Padahal yang namanya kesempatan itu sama sekali tidak berbanding lurus atau berbanding terbalik atau berpersamaan matematika dengan waktu, melainkan adalah eksistensi diri kita sendiri. Bak quiz tapi judi di televisi yang direstui petinggi negeri, berbiaya premium tinggi dan dipandu mahluk cantik merak ati : siapa cepat dia dapat…… Begitu juga kesempatan mengantar atau diantar silih berganti tidak mengenal antri.

Yogyakarta, 13 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(4).   Semalam Di Las Vegas

Sekitar jam 6 sore saya sudah memasuki Las Vegas, dan langsung menuju hotel yang berlokasi di Jalan Fremont, yaitu nama sebuah jalan di down-town (pusat kota) Las Vegas. Pukul 19:00 malam (meskipun sebenarnya hari masih terang), saya ajak keluarga jalan kaki menuju ke jalan utama Fremont. Di jalan ini atraksi animasi cahaya dan suara biasa digelar setiap malam.

Media yang digunakan untuk atraksi musik dan grafis yang dikendalikan komputer ini adalah lampu-lampu yang jumlahnya lebih dua juta yang dipasang melengkung sebagai atap yang menutupi jalan Fremont sepanjang 4 blok (kira-kira sepanjang 500 meter). Maka setiap kali atraksi dimainkan, para pengunjung pejalan kaki tinggal berhenti dan menengadahkan kepala ke atas atap, lalu mengikuti atraksi dari ujung ke ujung atap lampu. Tentu saja semua jenis kendaraan dilarang melewati jalan ini, yang memang hanya diperuntukkan khusus untuk para pejalan kaki.

Waktu itu pas malam Minggu, jadi suasana sangat ramai dengan pengunjung. Setiap kali atraksi selesai, para pengunjung yang terkagum-kagum dengan karya teknologi animasi tata lampu dan suara itupun spontan bertepuk tangan meriah. Tapi saya tidak mau ikut bertepuk tangan. Lha siapa yang mau ditepuki, wong atraksi itu sudah dirancang secara otomatis selama 6 menit setiap jamnya. Artinya, banyak atau tidak banyak pengunjung, komputer tetap akan menjalankan programnya untuk mengatraksikan lampu dan musik. Terkadang orang Amerika ini juga aneh. Lha wong lampu kok disoraki.

Menyusuri jalan Fremont malam itu, di antara gemebyar-nya lampu dan bisingnya suara musik di sepanjang pertokoan serasa tidak membosankan. Di sana-sini ada pengamen musik menampilkan kebolehannya. Yang namanya pengamen di situ, lengkap dengan tata suaranya yang serba elektrik dan nangkring di atas mobil bak terbuka sebagai panggungnya, disertai tulisan : “Tidak menerima tip”. Artinya mereka mengamen bukan untuk mencari nafkah.

Saya ingat pada bulan Maret 1996 saya sempat menginap semalam di hotel “Golden Nugget” yang berlokasi di jalan yang sama. Waktu itu Jalan Fremont hanya merupakan sebuah jalan penghubung menuju hotel dan sarana hiburan di sekitarnya. Belum ditutup dengan atap lampu, yang ada hanya mobil yang berseliweran keluar masuk. Kini empat tahun kemudian. saya sekedar lewat di depannya hotel saja, mengenang bahwa dulu saya pernah nginap di situ, dibayarin. Saat ini tentu harga per malamnya terlalu mahal untuk ukuran mbayar dhewe.

Itulah sebagian kecil dari kelebihan Las Vegas, sebagian besar lainnya adalah arena casino dan entertainment. Las Vegas memang identik dengan kota judi, kota yang tidak pernah tidur karena kegiatan perjudian dan hiburan berlangsung tanpa henti. Barangkali karena saking banyaknya fasilitas untuk itu yang menyebar di mana-mana, mulai dari bandara, hotel, restoran, toko, apotik, pompa bensin, supermarket, dsb.- Ini adalah tempat di mana roda kehidupan tidak pernah berhenti untuk urusan kemewahan, hiburan dan impian untuk kaya, dalam berbagai bentuknya.

Penduduk kota Las Vegas itu hanya sekitar 260.000 jiwa, tapi malam itu sepertinya padat orang hilir mudik. Tentu para pendatang, empat orang di antaranya adalah saya dan keluarga. Ribuan lainnya para pendatang dari kota-kota lain, terutama dari wilayah California. Kabarnya orang-orang Indonesia yang tinggal di negara bagian California, antara lain Los Angeles, suka membelanjakan (atau menghamburkan?) uangnya di arena casino di Las Vegas.

Bagi mereka yang punya cadangan uang saku dan bermimpi ingin lebih kaya lagi memang tinggal pilih caranya saja. Mesin slot, blackjack, keno, bingo, poker, baccarat dan rolet siap mengantarkan untuk mewujudkan impian menjadi lebih kaya, kalau menang.

Berjudi di Las Vegas adalah lebih mudah daripada membeli odol, demikian yang ditulis dalam lembar informasi yang saya baca, karena casino tidak mengenal tutup sedangkan toko ada jam-jam tutupnya (mestinya ya tidak lalu diterjemahkan : Kalau begitu, kalau mau beli odol kok tokonya sudah tutup ya uangnya dipakai main casino saja).

***

Tidak terasa malam semakin larut. Anak-anak mulai merasakan perutnya minta diisi setelah mondar-mandir menikmati suasana malam Jalan Fremont, yang dikenal dengan sebutan “Fremont experience“. Bukan kelaparan, hanya ingin makan. Mencari restoran yang suasananya enak (untuk ukuran orang kampungnya Indonesia) ternyata susah. Semua restoran di situ bersembunyi di balik arena casino.

Jelas tidak mungkin kalau saya membawa anak-anak melewati arena casino dulu, baru sampai ke restoran untuk makan. Akhirnya saya putuskan mencari restoran di tempat lain saja. Restoran yang memang benar-benar untuk orang yang mau makan, bukan untuk pemain judi yang kelaparan.

Dengan mengendarai mobil kami lalu melaju ke arah selatan, menyusuri jalan Las Vegas Boulevard, atau yang terkenal dengan sebutan The Strip. Ini adalah jalan utama tempat berbagai hotel mewah dan pusat beraneka hiburan dan atraksi berada, lengkap dengan arena casino-nya. Kami makan di salah satu restoran kecil di jalan itu.

Berbagai billboard dan hiasan animasi lampu di sepanjang jalan itu serasa merubah suasana malam layaknya siang. Saya perhatikan semakin malam semakin ramai saja. Melewati kompleks “Caesar Palace”, lagi-lagi saya ingat empat tahun yang lalu pernah ditraktir makan malam oleh seorang kolega yang tinggal di Las Vegas, di salah satu restoran di kompleks “Caesar Palace”. Berangkat dari hotel naik Limousine sedan panjang warna hitam, yang di dalamnya bisa untuk “main bola”.

Selesai makan, sang kolega mengajak saya dan teman-teman memasuki arena casino. Sebelum masuk, sang kolega tadi nyangoni (membekali uang saku) US$ 100, disertai pesan : “Ini uang, silakan dihabiskan”. Lho? Agaknya dia sudah sangat mafhum, bahwa bagi seorang pemula seperti kami ini pasti tidak akan bisa menang bermain casino.

Awalnya ragu-ragu mau diapakan uang itu, yang jelas pesannya adalah untuk dihabiskan. Tapi piye (bagaimana) caranya? Kalau tidak habis malah susah mempertanggungjawabkannya. Jumlah yang lumayan seandainya di situ ada tukang bakso atau mie goreng. Lalu kami coba main sana dan coba main sini. Eh… benar juga, hanya dalam tempo sekejap (belum sempat tolah-toleh) sudah bablasss … dollar sak-angin-anginnya…..

Ya, namanya juga untuk sekedar entertainment. Dalam hati saya tersenyum, saya mereka-reka pikiran sang kolega  : “Biarlah orang-orang kampung ini sekali-sekali diberi kesempatan, agar kelak bisa cerita sama anak-cucunya bahwa dia pernah main casino di Las Vegas sana …..”

Akhirnya lewat tengah malam kami baru meninggalkan The Strip dan kembali menuju hotel. Sayang, hanya sempat semalam saja di Las Vegas, karena besok mesti melanjutkan perjalanan ke Flagstaff, Arizona.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar