Posts Tagged ‘joe lieberman’

Pemilu Amerika 2000 : Para Kandidat Presiden Amerika

7 November 2008

Tadi malam, setiba saya di rumah dari perjalanan ke Phoenix, Arizona, saya sempat melihat di TV, meski terlambat, siaran langsung hari terakhir dari Konvensi Nasional Partai Demokrat. Kandidat presiden Al Gore (yang saat ini adalah Wakilnya Bill Clinton) telah menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat presiden Amerika ke 43 yang akan memulai masa jabatannya awal tahun 2001 nanti. Sehari sebelumnya, Joe Lieberman juga melakukan hal yang sama untuk kandidat wakil presiden dari Partai Demokrat.

Konvensi nasional ini adalah puncak dari tahap pemilihan kandidat presiden dan wakil presiden dari masing-masing partai. Kali ini Partai Demokrat menggelar Konvensi Nasionalnya di gedung Staple Center, Los Angeles, California, di sisi barat dataran Amerika, selama tanggal 11 – 17 Agustus2000.

Seperti sudah diduga sebelumnya, pidato semacam ini sekaligus sebagai ajang kampanye dan penggalangan massa, banyak berisi kata-kata manis dan program-program indah. Dari komentar-komentar yang disampaikan via tilpun ke CNN oleh warga Amerika secara langsung seusai Konvensi malam itu juga, dapat disimak bagaimana warga Amerika mengekspresikannya. Ada yang memujinya sebagai “pidato terbaik yang pernah didengar”, ada yang spontan mengatakan “sebagai simpatisan Partai Republik saya akan beralih memilih Al Gore”, sebaliknya ada pula yang dengan sinis mengatakan : “janji, janji dan janji”. Ternyata pada dasarnya ya sami mawon (sama saja) dengan pidato kampanye di Indonesia.

Dua minggu sebelumnya (tanggal 2 Agustus 2000) ketika saya baru saja tiba di kota Phoneix, lalu menyetel TV di hotel, Dick Cheney sedang menyampaikan pidato penerimaannya untuk dicalonkan sebagai kandidat wakil presiden dari Partai Republik. Esok harinya, giliran George W. Bush (yang saat ini adalah Gubernur negara bagian Texas, dan anak dari George Bush mantan presiden Amerika ke 41), menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat presiden juga dari Partai Republik. Konvensi nasional Partai Republik sendiri sudah diselenggarakan di gedung First Union Center, Philadelphia, Pensylvania, di sisi timur dataran Amerika, pada tanggal 28 Juli hingga 3 Agustus 2000 yang lalu.

Kedua agenda politik Amerika itu memang telah disiarkan melalui media cetak maupun elektronik secara besar-besaran. Setiap harinya stasiun-stasiun TV seperti berlomba menyiarkannya secara langsung dari arena Konvensi, disertai dengan berbagai komentar, analisis, tanya-jawab, peristiwa-peristiwa terkait, dan sampai digunakannya media chatting di internet yang bisa diikuti oleh siapa saja.

Tanpa publikasi yang seheboh Konvensi Partai Republik dan Demokrat, ternyata Partai Reformasi juga menyelenggarakan Konvensi Nasionalnya di kota Long Beach, California, pada tanggal 10-13 Agustus 2000, dengan kandidat presidennya Pattrick J. Buchanan. Ini adalah bagian dari kegiatan partai penggembira yang selalu muncul menyisip sebagai partai independen, selain ada juga Partai Hijau, Partai Sosialis, Partai Konstitusi, Partai Hukum Alam, dan Partai Libertarian. Mereka adalah sekelompok partai gurem yang keberadaannya tidak diabaikan, sekalipun tidak pernah memperoleh jumlah suara yang meyakinkan.

***

Konvensi Nasional semacam ini memang menjadi semacam seremoni formalitas bagi partai-partai untuk mengumumkan kandidatnya masing-masing, baik bagi presiden maupun wakil presiden pasangannya. Selanjutnya, para kandidat ini akan bersafari ke segenap pelosok negeri untuk berkampanye menggalang suara bagi kemenangannya.

Sejauh ini dari hasil berbagai jajak pendapat, George Bush nampaknya masih lebih unggul dibandingkan Al Gore. George Bush diuntungkan dengan adanya dukungan dari sebagian besar gubernur negara bagian yang berasal dari partai yang sama, yaitu para Republikan. Namun masih banyak kemungkinan dapat terjadi, tergantung keberhasilan mereka berkampanye, menjual program, dan terutama menarik simpati dari pendukung tradisional partai lawan agar beralih mendukungnya, dan hal semacam ini sudah jamak terjadi.

Pacuan kandidat presiden dan wakil presiden akan terus berlangsung, hingga hasil akhirnya baru akan diketahui pada tanggal 7 Nopember nanti saat rakyat Amerika menuju ke TPS-TPS (sengaja tidak saya katakan berduyun-duyun, karena kabarnya urusan coblos-menyoblos ini di Amerika tidak segegap-gempita di Indonesia). Saat itu rakyat Amerika akan memencet tombol mesin pemungut suara, dan lalu menunggu hasil perhitungannya secara nasional. Kita lihat saja nanti, siapakah yang akan memimpin negara adikuasa mulai tahun 2001 nanti.

New Orleans, 18 Agustus 2000
Yusuf Iskandar

Iklan

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (1)

2 November 2008

New Orleans, 6 Nopember 2000 – 11:00 CST (7 Nopember 2000 – 12:00 WIB)

Hari Selasa besok Amerika punya hajatan Pemilu. Masyarakat Amerika yang mempunyai hak pilih akan menggunakan hak pilihnya melalui mesin-mesin pemungutan suara di berbagai tempat. Di negara bagian (state) Louisiana, tempat-tempat pemungutan suara (TPS) akan mulai dibuka Selasa, 7 Nopember 2000 jam 6:00 pagi (Di Indonesia, Selasa, 7 Nopember 2000, jam 19:00 WIB) hingga ditutup jam 8:00 malam. Namun di beberapa negara bagian lain jam bukanya bervariasi antara jam 6:00 hingga jam 9:00 pagi, demikian halnya jam tutupnya antara jam 6:00 hingga jam 9:00 malam.

Hari Selasa pertama setiap bulan Nopember adalah “Hari Pemilu” di Amerika. Ya Pemilu apa saja : Presiden, anggota Konggres, anggota Senat, Gubernur negara bagian, Kepala Polisi, Kepala-Kepala Departemen, Walikota, Sekwilda, Kepala Kejaksaan, dsb. Tentunya bagi jabatan-jabatan yang pas menjelang berakhir masa jabatannya. Hanya saja tahun ini agak berbeda, sebagaimana setiap empat tahun sekali karena bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan Bill Clinton, yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang baru.

Pada dasarnya besok bukan hari libur nasional, tetapi sekolah-sekolah pada meniadakan kegiatan belajar-mengajar, karena guru-guru dan karyawannya akan meninggalkan sekolah ikut coblosan. Kegiatan perkantoran juga biasanya menghindari agenda-agenda penting di hari itu, karena memberi kesempatan kepada setiap karyawannya yang berhak memilih untuk menuju ke TPS-TPS.

***

Untuk tidak sekedar mengetahui hasilnya saja siapa yang akan jadi pemenang antara pasangan ganda Partai Republik George W. Bush – Dick Cheney melawan pasangan Partai Demokrat Al Gore – Joe Lieberman, ada baiknya kita lihat cara penghitungan suaranya.

Dari jumlah pemilih yang ada di Amerika akan direpresentasikan dengan sejumlah 538 electoral vote (saya tidak tahu apa padanan bahasa Indonesianya yang pas, maka selanjutnya saya sebut saja dengan jatah suara). Ke-538 jatah suara ini tersebar ke seluruh 50 negara bagian yang ada plus ibukota Washington DC. Setiap negara bagian mempunyai jatah suara yang berbeda-beda, tetapi jumlahnya proporsional dengan populasinya dan biasanya juga sama dengan jumlah anggota konggres yang diwakilinya.

Sebagai contoh : negara bagian Montana, Wyoming atau Vermont yang tidak padat penduduknya, hanya mempunyai jatah suara (electoral vote) masing-masing 3 saja. Sebaliknya negara bagian Texas, New York dan California yang padat penduduknya, mempunyai jatah suara (electoral vote) masing-masing 32, 33 dan 54. Sedangkan negara bagian Louisiana dimana saya tinggal, mempunyai jatah suara 9.

Sistem perolehan suara ini umumnya digunakan patokan winner-take-all, artinya siapa kandidat yang menang di sebuah negara bagian (mengantongi jatah suara lebih dari 50%), maka dia berhak memperoleh semua jatah suara dari negara bagian tersebut. Sedangkan yang kalah tidak memperoleh jatah suara. Kecuali negara bagian Nebraska dan Maine yang membagi jatah suaranya berdasarkan distrik perwakilan konggresnya. Lagi-lagi saya tidak tahu pasti kenapa untuk aturan yang bersifat nasional ini, ada juga negara bagian yang ingin mempunyai aturan sendiri. Otonomi dalam berdemokrasi?

Oleh karena itu tidak heran kalau setiap kandidat saling berusaha agar dapat menang di negara bagian yang jatah suaranya banyak, sehingga dengan hanya menang di California misalnya, akan sama artinya dengan menang di beberapa negara bagian sekaligus yang mempunyai jatah suara sedikit.

Dengan demikian, kandidat yang secara nasional dapat mengumpulkan jatah suara (electoral vote) minimal setengah ditambah satu, atau 270 suara, maka dia berhak menjadi pemenangnya. Angka 270 suara adalah jumlah dari pengumpulan jatah suara dari negara-negara bagian yang berhasil dimenanginya.

Meskipun tak seorangpun melihat kemungkinan akan terjadinya hasil seri (269 vs 269), namun jika hal itu terjadi juga, maka pemenangnya akan dipilih oleh perwakilan Kongres dengan setiap perwakilan Kongres mempunyai satu hak suara. 

Dari hitung-hitungan di atas, maka secara teoritis seorang kandidat yang menang di lebih banyak negara bagian belum tentu menjadi pemenang pemilihan jika ternyata dia hanya menang di negara-negara bagian yang jatah suaranya kecil. Sebaliknya seorang kandidat yang menang di lebih sedikit negara bagian tetapi mempunyai jatah suara yang banyak, bisa jadi akan menjadi pemenangnya.

***

Siapa kira-kira yang bakal menjadi pemenangnya? Dari berbagai jajak pendapat hingga hari terakhir ini menunjukkan bahwa persaingan antara George Bush dan Al Gore semakin ketat, meskipun George Bush masih sedikit lebih unggul dalam popularitas. Jajak pendapat gabungan yang dilakukan oleh harian USA Today-CNN-Gallup menunjukkan dalam beberapa hari terakhir ini popularitas George Bush lebih unggul 47%-45% terhadap Al Gore. Padahal beberapa hari sebelumnya popularitas George Bush unggul 48%-43%.

Dari perkiraan angka yang ada hingga hari ini, menurut USA Today, George Bush diperkirakan unggul di sejumlah 26 negara bagian dengan mengumpulkan 224 jatah suara, sedangkan Al Gore unggul di 12 negara bagian dengan 181 jatah suara. Masih ada 12 negara bagian sisanya dengan jatah suara 133 yang mempunyai peluang sama untuk diungguli George Bush maupun Al Gore.

Apakah kira-kira George Bush yang akan jadi pemenangnya? Sejarah membuktikan, pernah terjadi seorang kandidat yang kalah dalam popularitas ternyata berhasil menang dalam pemilihan presiden.

Jadi? Kita lihat saja bagaimana hasilnya besok. Bagi mereka yang berminat, dapat melihat pergerakan angka-angka hasil pemilu ini dari waktu ke waktu melalui beberapa website, diantaranya dengan mengakses ke http://www.usatoday.com atau http://www.cnn.com. Tapi di Indonesia sedang malam hari, ya…. terpaksa baru besoknya bisa melihat hasilnya…..  Mudah-mudahan saya sempat mem-posting hasil pergerakan suaranya.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (5)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 21:30 CST (8 Nopember 2000 – 10:30 WIB)

Al Gore yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Presiden ternyata justru kalah di Tennessee, negara bagian dari mana dia berasal. CNN melaporkan, setelah 39 negara bagian telah menutup TPS dan menghitung suaranya, kini giliran George Bush melejit dengan meraih 217 suara dari 24 negara bagian meninggalkan Al Gore yang masih meraih 172 suara dari 15 negara bagian.

Masih 11 negara bagian lagi yang belum menyelesaikan pemilu dan penghitungan suaranya hingga malam ini. Bush perlu 53 suara lagi untuk mencapai angka kemenangan 270. Akan tetapi Al Gore punya kartu truf dengan keyakinannya untuk menang di negara bagian California yang mempunyai 54 jatah suara, ditambah dengan keyakinannya untuk juga meraih kemenangan di beberapa negara bagian di pantai barat lainnya.

Al Gore dan pasangannya Joe Lieberman serta George Bush dan pasangannya Dick Cheney, saat ini tentu sedang deg-degan dan semakin tegang mengamati perkembangan perolehan suara dari setiap negara bagian yang mulai menghitung hasil pemilu sejak seharian tadi.

Melihat kejar-kejaran angka yang demikian ini, para pemilih di wilayah pantai barat seperti negara bagian California, Oregon dan Washington, serta Alaska dan Hawaii yang baru akan menutup TPS-nya sekitar satu jam lagi tentunya sudah mulai membuat hitungan-hitungan “politis”. Para pemilih di wilayah barat Amerika ini yang seharian sibuk di kantor atau di ladang dan baru saat menjelang penutupan sempat pergi ke TPS-TPS tentu sudah melihat hasil perhitungan suara dari wilayah timur Amerika.

Kepada siapa suara mereka akan diberikan? Kemungkinan pertama mereka akan terus menggunakan hak pilihnya untuk memperkuat posisi jago mereka. Akan tetapi bukan tidak mungkin mereka berubah pikiran jika jago mereka sudah jelas kalah, mereka memilih untuk tidak memilih saja dan pulang ke rumah.

Cara berpikir sederhana ini memang hal yang lumrah saja. Ya seperti yang saya kemukakan sebelumnya, banyak juga masyarakat Amerika ini yang tidak terlalu menganggap penting tentang pemilihan presidennya. Buktinya? Diramalkan hanya 50% saja dari masyarakat yang mempunyai hak pilih akan menggunakan haknya tahun ini.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (22)

2 November 2008

New Orleans, 26 Nopember 2000 – 21:45 CST (27 Nopember 2000 – 10:45 WIB)

George W. Bush malam ini dinyatakan menang di Florida. Minggu malam ini sekitar jam 7:30 waktu Florida (Senin pagi, 7:30 WIB) Sekretaris Negara Bagian Florida, Katherine Harris, yang juga ketua panitia pemilu Florida, mengesahkan jumlah peghitungan akhir suara yang masuk hingga batas akhir waktu yang telah ditentukan yaitu Minggu sore jam 5:00.

Dari hasil penghitungan akhir tersebut, diketahui bahwa Bush unggul atas Gore dengan 537 suara. Disebutkan bahwa Bush berhasil mengumpulkan total 2.912.790 suara sedangkan Gore mengumpulkan 2.912.253 suara. Dengan demikian, Bush dinyatakan sebagai pemenang pemilu untuk wilayah negara bagian Florida dan karenanya berhak atas tambahan 25 jatah suara (electoral vote) dari Florida.

Secara nasional ini berarti Bush meraih total 271 jatah suara, sedangkan Gore meraih 255 jatah suara. Ini berarti Bush berhasil melewati angka kemenangan 270 jatah suara (electoral vote) meskipun hanya dengan margin satu angka. Memang masih ada sisa jatah suara yang belum selesai disahkan yaitu lima dari New Mexico dan tujuh dari Oregon, tetapi keduanya tidak akan berpengaruh terhadap total perolehan masing-masing.

Di Tallahassee, ibukota negara bagian Florida, pengumuman ini spontan disambut teriakan gembira dari para pendukung Bush yang berkerumun di luar ruang sidang kabinet Florida dengan membawa poster-poster layaknya pengunjuk rasa. Dan memang mereka seharian tadi hingga malam ini sedang mengunjukkan rasanya atas dukungannya terhadap George Bush.

Hal yang sama juga terjadi di kota Austin, ibukota negara bagian Texas yang berjarak sekitar 1.390 km di sebelah barat Tallahassee. Para pendukung Bush juga merayakan kemenangan calon presidennya. Di seputar kantor Gubernur Bush di Austin ini bahkan sejak beberapa hari terakhir para pendukung Bush silih berganti berjalan mengelilingi halaman kantor dengan membawa poster bertuliskan Bush-Cheney di atas kertas warna biru. Seperti yang sempat saya lihat ketika hari Sabtu kemarin saya lewat di depan kantor Gubernuran di Austin.

“Ini adalah kemenangan demokrasi Amerika”, demikian kira-kira tegas Katherin Harris mengakhiri sambutan pengesahannya.

Sesaat setelah pengesahan suara di kota Tallahassee yang disiarkan secara langsung oleh berbagai saluran televisi, kandidat wakil presiden Partai Demokrat, Joe Lieberman, menyampaikan sambutannya di kota Washington DC. Sambutan Lieberman yang juga disiarkan secara langsung oleh jaringan televisi, menegaskan bahwa angka yang telah disahkan oleh pemerintah Florida adalah uncomplete and unaccurate. Karena itu Partai Demokrat besok pagi akan akan maju ke pengadilan menentang keputusan di Florida. Atau, initinya adalah pihak Gore tidak puas atas angka hasil penghitungan akhir yang disahkan oleh Sekwilda Florida.

Baru saja beberapa menit lalu, sekitar jam 21:30 waktu Florida (Senin pagi, 9:30 WIB), Bush juga menyampaikan pidatonya. Intinya Bush merasa terhormat dan rendah hati menerima kemenangannya atas pemilu di Florida. Bush juga meminta agar Gore mempertimbangkan kembali niatnya untuk maju ke pengadilan menentang hasil keputusan Florida. Direncanakan besok siang Gore akan menyampaikan pidatonya.

Yang dapat saya catat malam ini adalah bahwa secara resmi George Bush telah dinyatakan sebagai pemenang pemilu Florida, meskipun pihak Gore menyatakan akan menentang keputusan pengesahan tersebut. Kita lihat kelanjutannya besok.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (24)

2 November 2008

New Orleans, 28 Nopember 2000 – 21:15 CST (29 Nopember 2000 – 10:15 WIB)

Hari ini tidak ada breaking news, kecuali kedua kubu saling melempar pernyataan. Sudah lebih 20 hari sejak hari pemilu, kontroversi tentang presiden Amerika masih belum juga tuntas…tas…tas…tas… Meskipun hasil akhir suara Florida sudah disahkan Minggu malam yll.

Bush sedang “kebelet”, tidak sabar lagi ingin boyongan ke Gedung Putih menggantikan Bill Clinton pada 20 Januari 2001 nanti. Gore sedang “gerah”, memperjuangkan adanya banyak suara dari pendukungnya di beberapa kabupaten yang ternyata tidak diakui oleh panitia pemilu Florida saat pengesahan dan juga adanya banyak kartu suara yang tidak terbaca oleh mesin penghitung. Proses peradilan atas tuntutan pihak Gore ini masih berlanjut ke tingkat selanjutnya dan masih akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang

Melihat hasil keputusan pengesahan suara di Florida pada Minggu malam lalu, yang menghasilkan angka kemenangan bagi George Bush, seorang rekan di Indonesia (Mas Henry Lumbantoruan) bertanya : “ada banyak massa nggak yang ke gedung DPR-nya Amrik untuk protes hasil sementara Pemilu itu?”

Ternyata tidak ada massa yang ramai-ramai datang ke gedung DPR untuk protes hasil pemilu, yang ada justru protes dari Al Gore, Joe Lieberman dan kubunya. Itu juga cukup dilakukan dari rumah, tidak perlu memprovokasi teman-temannya lalu ngelabrak di jalanan.

Beberapa hari terakhir menjelang pengesahan suara Florida memang banyak massa berunjuk rasa (bukan protes, melainkan memang sedang mengunjukkan perasaannya), antara lain di sekitar kantor pemilu di Tallahassee (Florida). Pendukung Bush bergerombol membawa poster dan meneriakkan yell-yell, di sebelah lain pendukung Gore juga melakukan hal yang sama. Kedua pihak dipisah oleh polisi, dibatasi dengan police line. Tidak ada PAM-Swakarsa.

Di kediaman George Bush di Austin (Texas), massa berunjuk rasa mendukung Bush sambil membawa poster, berjalan keliling halaman, meneriakkan yell-yell. Kalau ada mobil lewat yang juga pendukung Bush, mobil lalu berjalan perlahan sambil membunyikan klakson tanda mendukung. Ternyata di situ juga ada sekelompok kecil pendukung Gore, yang juga membawa poster. Mereka baik-baik saja, saling cengengesan. Mengekspresikan sikapnya masing-masing, tanpa perlu gelut atau tawuran.

Di kediaman Al Gore di Washington DC, massa berunjuk rasa mendukung Gore juga sambil membawa poster. Ketika diumumkan bahwa Bush yang unggul di Florida, massa pendukung Gore lalu meletakkan posternya dan balik kanan. Padahal sebelumnya saya “mengharapkan” mereka akan membakar ban, merusak mobil, melempari gedung atau menjarah toko. Ternyata “harapan” saya tidak cocok untuk saya gunakan di Amerika. Lha, ternyata kok mereka lebih sareh (mampu mengendalikan emosi) daripada saya.

Saya kira, inilah salah satu buah dari hasil pembangunan masyarakat (dan demokrasi) yang sudah mapan. Karena pihak manapun yang jadi Presiden, tidak akan berdampak besar terhadap sistem kehidupan masyarakatnya. Hanya soal beda figur saja dan skala prioritas pembangunannya. Selebihnya, kehidupan akan berjalan normal kembali.

Tidak ada trauma historis yang hanya menyebabkan ketidakpercayaan dan kecurigaan. Sebab kalau itu yang terjadi, maka bersiap-siaplah untuk mengatasi setiap kemelut dengan kemelut baru. Kalau ternyata hasilnya tidak memuaskan, lalu diberikanlah terapi dengan kemelut baru lagi, yang biasanya juga menghasilkan kemelut lagi. Demikian seterusnya, dan itu yang terjadi dalam kurun 4 tahun terakhir sejarah reformasi bangsa kita.

Pihak yang kalah dalam pemilu Amerika akan kecewa? Pasti. Tidak puas? Jelas. Lalu, berbagai cara legal pun akan ditempuh oleh kedua belah pihak guna melampiaskan kekecewaan dan ketidakpuasannya. Setelah itu? Semua pihak akan menghargai apapun keputusan akhirnya. Kemungkinan akan adanya ketidakpuasan yang berlebihan dan tak terkendali oleh individu, dapat saja terjadi. Insiden-insiden kecil tentu tak terhindarkan. Tetapi ketidakpuasan kolektif yang memicu kerusuhan dan teror, kelihatannya kok tidak terjadi dan itulah yang saya lihat sejauh ini.

Peristiwa pemilihan presiden Amerika tahun ini memang akan menjadi cacatan terburuk dalam sejarah demokrasi Amerika. Namun saya melihat, ini juga akan menjadi catatan sejarah bahwa betapapun rumit dan tegangnya proses pemilu kali ini, diperkirakan akan dapat diselesaikan dengan tetap saling menghormati proses demokrasi, sekalipun berlarut-larut. Hal yang terakhir ini memang menjadi salah satu kebanggaan warga Amerika, setiap kali saya omong-omong dengan rekan Amerika saya.

Kini perkenankan saya bermimpi : Kalau saja……., “semangat tidak gampang ngamuk” yang seperti ini dapat ditiru oleh rekan-rekan muda*) saya di mana saja, dan bukannya malah meniru gaya hidup bebas tak terbatasnya ………- 

Note :
*) Seseorang hingga berumur 40 tahun, menurut KNPI masih disebut pemuda.

Yusuf Iskandar