Posts Tagged ‘jepang’

Ketika Harus Membeli Genset

14 Oktober 2010

Memperbaharui kesaksian pelaku bisnis ritel: “There is no electricity but PLN and gen-set is the substitute..”. Maka pergilah “boss” membeli genset. Tapi bingung ketika ditunjuki ada yang 100% asli Jepang, setengah Cina, sepertiga Cina, seperempat Cina & 100% Cina, tergantung komponennya.

Walau hubungan Jepang-Cina baik-baik saja, tapi soal kualitas dan harga ternyata beda jauh. Sedang genset harus ada, agar uang cepek-nopek tidak lolos ketika PLN moddarr...

Yogyakarta, 7 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(7).  Ada Bunga Sakura Di Kijang

Hari ini hari terakhir di pulau Bintan. Siangnya kami akan menyeberang kembali ke Batam. Sesuai rencana yang telah kami bicarakan malam sebelumnya, baik ketika di “Potong Lembu” maupun di “Sunset Café”, pagi hari kami akan menemui seseorang dan melihat-lihat rencana tempat dan peralatan laboratorium untuk menganalisis mineral bauksit.

Sarapan pagi tentu tidak lupa. Meskipun saya termasuk orang yang tidak biasa sarapan, melainkan cukup hanya dengan secangkir kopi dan sebatang rokok. Di tempat baru ini kebiasaan itu perlu disesuaikan agar tidak kehilangan momen-momen beda dan khas yang ada. Mata tertuju pada kedai di bilangan Batu 10 kawasan Bintan Center, yang memasang tulisan mie lendir. Baru membaca tulisannya saja asosiasi saya sudah macam-macam. Ini mie campur lendir, atau mie berlendir, atau lendir yang dicampurkan ke dalam mie?

Pokoknya dicoba dulu. Perkara nanti tidak enak ya tidak usah dimakan. Untuk menyiasatinya, saya biarkan seorang teman memesannya dulu, saya menyusul pesan kemudian. Ketika saya lihat mie lendir pesanan teman itu kok kelihatannya cukup merangsang lidah, barulah saya memesan satu porsi tambahan. Rupanya memang sejenis mie ayam, tapi kuahnya seperti bumbu sate sambal kacang. Entah benar entah tidak, pokoknya uenak, dan bikin perut mak sek (langsung kenyang) di waktu pagi. Kalaupun deskripsi saya tentang mie lendir ini salah, toh saya tidak kepingin memasaknya sendiri di rumah.

***

Kami kembali menuju kota Kijang karena ada rencana untuk bertemu dengan seseorang. Bolak-balik Tanjung Pinang – Kijang adalah rute yang biasa, karena jaraknya memang tidak terlampau jauh, relatif tidak padat lalu lintasnya dan jalan aspalnya terbilang mulus. Seperti halnya kota-kota lain yang seakan berlomba menonjolkan motto kotanya, Kijangpun memiliki semboyan sendiri, yaitu Kijang “Berseri”. Saya tidak tahu persis apa kepanjangan dari kata “Berseri” ini. Tapi saya tebak pastilah tidak jauh-jauh dari maksud  bersih, sehat, rapi, indah, dan kata-kata lain yang  semacamnya. 

Namun seorang tokoh Lembaga Adat Melayu berseloroh sambil berplesetan masygul, katanya “Berseri” itu kepanjangan dari “berserak sehari-hari”. Maklum tokoh yang cukup disegani ini hatinya gundah wal-gulana melihat kota Kijang sekarang semakin kurang bersih akibat sampah. Warga dan pemerintahnya seolah-olah kurang perduli dengan masalah kebersihan kotanya. Tentunya ini rasa keprihatinan yang bagus. Karena menurut saya, sekotor-kotornya Kijang yang saya lihat, masih terbilang lebih bersih dibandingkan yang terjadi di kota-kota lain di Jawa.

Hal yang paling menarik dari kota ini adalah tumbuhnya satu-satunya pohon bunga sakura di tengah kota. Tidak ada orang yang tahu persis asal bin muasal tanaman khas Jepang ini kenapa dan bagaimana bisa tumbuh di Kijang yang hingga kini tetap bertahan tumbuh kokoh mencapai lebih 10 meter tingginya. Barangkali dulunya tanaman ini dibawa oleh seorang pendatang dari Jepang, waktu jaman penjajahan dulu. Tapi entahlah, tidak ada yang tahu persis kisahnya.

Ketika di negara asalnya Jepang tiba musim bunga dan sakura bermekaran, maka pohon bunga sakura yang di Kijang pun turut berbunga, dengan dominasi warna putih menyelimuti pohon, seolah-olah satu pohon bunga semua tanpa daun. Ini katanya lho….., wong saya juga belum pernah melihatnya dan saat ini juga tidak sedang musim berbunga. Saya percaya karena foto yang ada di kalender menunjukkan penampakan yang seperti itu. 

Seorang teman yang asli penduduk Kijang bercerita, sudah banyak orang yang mencoba menyangkok atau menyetek untuk memperbanyak tanaman ini, namun selama itu pula tidak ada satu pun orang yang berhasil mengembang-biakkannya. Jadilah hingga sekarang, pokok bunga itu menjadi satu-satunya tanaman bunga sakura yang ada di Kijang, bahkan mungkin di Indonesia. Siapa tahu suatu saat nanti pemerintah setempat menghubungi Jaya Suprana karena mau ikut-ikutan latah mendaftarkan tanaman sakura ini ke MURI.

Ini bagian menariknya, agaknya lokasi di bawah pohon bunga sakura ini cocok untuk medan uka-uka. Pasalnya menurut penuturan orang Kijang, di lokasi itu suka muncul kenampakan seorang wanita. Kawasan sekitar tumbuhnya pohon bunga sakura yang berada di sudut Jalan Tenggiri dekat dengan kolam kota ini memang bukan kawasan pemukiman. Maka kalau malam ya terkesan sepi dan gelap. Bumbu-bumbu penyedap cerita semacam inilah yang semakin membuat satu-satunya pohon bunga sakura di kota Kijang ini semakin menarik untuk dinanti-nanti saat akan datangnya musim sakura berbunga.

Ada bunga sakura di Kijang, ada aset yang potensial untuk “dijual” kepada wisatawan, kalau saja sempat terpikirkan…..

Tanjung Pinang, Kepri – 13 April 2006
Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(6).   Jika Harus Mencari Penerbangan Tercepat Dari Tokyo

Saat di depan petugas AA itulah, tiba-tiba muncul ide di pikiran saya, untuk minta tolong kepada kedua orang Jepang itu agar bersedia membantu mencarikan alternatif penerbangan tercepat menuju Jakarta, dengan tanpa harus menginap semalam di Tokyo. Kalau saja saat itu bukan dalam perjalanan emergency, rasanya kesempatan menginap semalam di Tokyo akan menjadi pilihan yang cukup mengasyikkan.

Melihat betapa pedulinya mereka terhadap persoalan saya sebagai pengguna jasa penerbangan AA, pasti mereka mau membantu, pikir saya. Apalagi saya punya alasan kuat bahwa saya sedang dalam perjalanan emergency karena ibu saya meninggal dunia. Tentu saja untuk yang terakhir ini saya sambil berakting macak melas (berlaku seolah perlu dikasihani, dan rasanya memang begitu…..) sedramatis mungkin.

Benar juga, dengan cara yang sangat simpatik mereka mau membantu saya, dan lalu meminta saya untuk menunggu sebentar. Saya begitu yakin dengan kata-kata “sebentar”-nya. Salah seorang dari mereka, seorang gadis Jepang berperawakan gemuk, segera berjalan cepat meninggalkan saya. Benar-benar sebentar, gadis Jepang yang saya lupa membaca label nama di dadanya itu segera kembali, lalu menghidupkan komputer “kuno”-nya yang ternyata masih berfungsi baik, pencet-pencet keyboard, lalu keluar secarik kertas berisi alternatif penerbangan menuju Jakarta. Ini dia yang memang saya harapkan.

Sambil menunggu petugas AA memainkan komputernya, pandangan saya tertuju kepada seorang ibu muda yang tadi sama bingungnya dengan saya. Saya perhatikan si ibu tampak asyik bercakap-cakap dengan petugas penerbangan lain.

Rupanya bukan asyik mengobrol, melainkan karena si ibu muda itu tidak paham bahasa Inggris, hanya bisa bahasa Spanyol. Sedangkan dua orang petugas penerbangan yang juga orang Jepang tidak ngerti bahasa Spanyol. Jadi tampak seru. Yang mengherankan saya, tidak tampak sedikitpun ekspresi panik pada wajah si ibu, malah cengengesan karena setiap kata yang mereka saling ucapkan tidak pernah sambung.

Petugas AA telah selesai dengan komputer “kuno”-nya. Lalu dikatakannya bahwa sudah tidak ada penerbangan langsung ke Jakarta hari itu juga. Wah! Tapi menurutnya ada alternatif, untuk malam itu juga saya bisa terbang ke Singapura dengan Singapore Airlines (SQ) dan akan tiba di sana jam 1:30 dini hari Selasa. Lalu esoknya jam 7:00 pagi saya bisa terbang ke Jakarta. Saran yang bagus, saya pikir lebih baik menghabiskan waktu di Singapura karena penerbangan menuju Jakarta dari Singapura akan lebih banyak pilihan.

Sebagai konsumen pengguna jasa penerbangan AA, saya diperlakukan dengan sangat baik. Padahal setelah itu saya sudah tidak lagi menggunakan jasa mereka, melainkan ganti dengan SQ atau Garuda. Rasanya saya harus mengakuinya, bahwa itulah kelebihan mereka dalam me-manage pelanggannya. Dalam hati saya berprasangka, kok yang demikian itu jarang ada perusahaan jasa di Indonesia yang mau meniru.

Salah seorang petugas yang laki-laki kemudian membawa saya ke counter AA di bagian keberangkatan (saya tidak jadi meminta shore pass untuk keluar bandara melewati imigrasi), dan lalu mempertemukan saya dengan petugas lain di bagian tiket AA. Di bagian ini saya menunggu agak lama.

Rupanya sang petugas sedang bingung, padahal mestinya saya yang bingung. Rupanya dia juga merasa berkepentingan untuk ikut bingung, membantu saya. Rasa turut berkepentingan atas kesulitan yang sedang dihadapi orang lain ini rasanya dijaman kini terasa sangat mahal harganya, di jaman reformasi sekalipun.

Dia bingung karena alternatif pertama penerbangan lanjutan ke Jakarta esok hari dari Singapura adalah dengan Garuda Indonesia (GA), sedangkan tiket GA ternyata tidak bisa dikeluarkan oleh pihak AA di Tokyo, padahal tempat duduknya bisa confirm. Alternatifnya, ada 3 penerbangan SQ pada jam-jam sesudah jadwal GA yang tiketnya bisa dikeluarkan saat itu juga, tapi tempat duduk berstatus stand by. Lalu agak sore ada lagi Thai Airways (TG), yang tempat duduknya OK dan tiket juga bisa langsung dikeluarkan.

Yang membuat dia bingung adalah kenapa tiket GA tidak bisa dikeluarkan di Tokyo saat itu (sebenarnya kalau mau dia tidak perlu bingung, bisa saja dia berlaku cuek dan bilang bahwa hanya tiket SQ yang bisa dikeluarkan, dan toh pasti saya akan percaya juga). Untuk meyakinkan saya, sang petugas tiket AA itu pun meminta saya untuk melongok ke layar komputernya. Dan memang di situ saya lihat ada tulisan “non ticketable“. Sang petugas AA akhirnya menyerahkan keputusan kepada saya, mau ambil tiket yang mana, karena pihak AA hanya bisa melakukan endorsement guna pengalihan tiket dengan harus menyebutkan nama penerbangannya.

Ini membuat saya harus berpikir keras, mengatur strategi agar terhindar dari kesulitan esok harinya di Singapura. Pilihan dengan penerbangan lanjutan apa sebaiknya tiket dikeluarkan. Dalam waktu yang singkat, pikiran saya menguji beberapa kemungkinan yang bisa terjadi atas beberapa alternatif penerbangan lanjutan yang diberikan. Akhirnya saya pilih penerbangan dengan TG.

Pertimbangan saya waktu itu adalah meskipun jadwal TG agak sore tapi tempat duduk OK dan tiket bisa langsung dikeluarkan saat itu juga, sambil berasumsi bahwa di Singapura saya akan melakukan jurus macak melas yang sama seperti tadi untuk mencari peluang berangkat dengan penerbangan lebih awal. Toh sesial-sialnya, saya sudah pegang tiket TG untuk penerbangan sore (belakangan ketika di Singapura saya baru menyadari bahwa pilihan dan strategi saya ini ternyata salah).

Setelah semua tiket sudah dikeluarkan oleh pihak AA, saya langsung check-in untuk penerbangan SQ ke Singapura. Tiba-tiba saya baru ingat, lha bagasi saya bagaimana?. Wong menurut labelnya bagasi tersebut harus saya ambil dulu di Tokyo. Dengan sangat meyakinkan, petugas AA itupun ngayem-ayemi (menenangkan pikiran) saya bahwa soal bagasi saya tidak perlu khawatir. AA akan mengaturnya, dan saya tinggal mengambilnya di Singapura nanti.

Ada perasaan ragu-ragu. Lha bagaimana tidak, wong di labelnya sejak di New Orleans sudah jelas-jelas tertulis bahwa tujuan akhir bagasi itu adalah Tokyo. Sementara lalu lintas penerbangan di Narita sangat sibuk, hari sudah malam lagi. “Wis embuh“, pikir saya. Pokoknya segera berangkat ke Singapura malam itu juga, yang artinya saya berhasil mengurangi waktu tempuh perjalanan dibanding dengan rencana sebelumnya yang harus nginap di Tokyo.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(7).   Jika Ingin Tilpun Dari Tilpun Umum Di Bandara Narita

Saat itu Senin malam, 14 Pebruari 2000, sambil menunggu saat boarding, saya mencari tilpun umum untuk melakukan panggilan internasional menghubungi adik-adik di Kendal sana. Privilege untuk menunggu di VIP lounge sebagai penumpang kelas bisnis saya korbankan.

Saya jumpai beberapa kotak tilpun umum, semuanya sudah diantri oleh calon penilpun. Satu per satu kotak tilpun saya dekati dari samping, di antara antrian orang. Saya baca aturan pakainya dengan teliti, yang ditulis dalam bahasa Jepang dan Inggris. Rupanya ada bermacam-macam perusahaan jasa tilpun, tidak dimonopoli oleh PT Telkom-nya Jepang saja. Ada diantaranya yang dapat dioperasikan menggunakan kartu kredit, tapi hanya Amex yang diterima.

Untuk alasan kemudahan, saya coba antri di belakang kotak tilpun yang menerima Amex. Tiba giliran saya, langsung kartu Amex saya gesekkan, dan saya ikuti instruksi selanjutnya. Tidak mau nyambung, dan tidak ada pesan apa-apa. Saya ulangi lagi, juga gagal. Setelah ketiga kalinya gagal, langsung saya batalkan. Saya merasa tidak enak sama orang lain yang antri di belakang saya.

Saya pindah ke pesawat di kotak sebelah, tapi sebelumnya saya baca aturan mainnya dulu, ternyata harus menggunakan kartu tilpun. Di dekat situ memang ada mesin penjual kartu tilpun, tapi membelinya harus menggunakan uang Jepang. Padahal di sekitar lobby keberangkatan tidak saya jumpai ada tempat penukaran uang.

Terpaksa cari akal, masuk toko souvenir dan cari barang-barang yang layak dibeli setidak-tidaknya tidak akan mubazir, dan yang penting bisa dibayar dengan dollar. Dapatlah piring hias yang ada gambarnya pemandangan kaki Gunung Fuji. Saat membayar, sambil tanya sama kasirnya berapa harga kartu tilpun termurah. Dijawab 1000 yen (saat itu 1 dollar sekitar 105 yen), maka lalu saya bayar souvenir sekalian tukar dollar dengan 1000 yen. Satu langkah untuk tilpun terselesaikan.

Langkah berikutnya adalah membeli kartu tilpun kepada mesin. Benar juga, begitu saya selipkan uang 1000 yen ke dalam mesin, langsung keluar selembar kartu tilpun. Lalu saya kembali menuju kotak tilpun yang tadi, dan antri lagi. Tiba giliran, lalu pencet ini-itu. Lho kok tidak sambung-sambung, dihalo-halo sama mesin penjawab katanya kode aksesnya salah. Perasaan saya sudah benar.

Saya coba tolah-toleh cari bantuan. Saya pilih seorang gadis Jepang yang sedang menunggu giliran di pesawat tilpun sebelah, lalu saya tanya. Cuma dijawab dengan senyum manis. Saya ulangi bertanya lagi, malah senyumnya makin dimanis-maniskan. Lho? Rupanya tidak paham bahasa Inggris. Lalu saya tanya orang yang antri di belakang saya, dijawab bahwa dia juga baru pertama kali akan memakai tilpun. Wah…! Terpaksa amit mundur dulu, memberi kesempatan kepada yang antri di belakang saya.

Belum menyerah saya. Saya coba lagi membaca dengan lebih teliti tata cara melakukan international call. Eh, ketahuan bodohnya. Rupanya mesin penjawab tadi benar, saya telah menggunakan kode akses untuk tilpun interlokal dalam negeri.

Kali ini saya gagal untuk berlaku tidak ndeso sebagaimana yang saya peragakan di pesawat sebelumnya. Maklum, saking banyaknya tulisan tentang “juklak” (petunjuk pelaksanaan) menilpun, yang mana untuk setiap perusahaan tilpun yang kotaknya ada di situ tidak sama aturan mainnya.

Terpaksa kembali ke antrian lagi, dan kali ini berhasil hingga titik pulsa terakhir. Ngomong dengan adik saya jadinya harus cepat-cepat, wong kartunya yang termurah. Pasti jatah pulsanya sedikit, pikir saya. Entah berapa banyak pulsanya, saya lupa memperhatikan. Yang jelas, belum lima menit ….., pembicaraan saya akhiri dan nampaknya memang pas pulsanya habis.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar