Posts Tagged ‘jeda’

Jeda Perang

8 Januari 2009

Ada perkembangan baru dari perang Israel vs. Hamas di Jalur Gaza, yaitu disepakatinya “perubahan jadwal” pada agenda harian perang, untuk tidak perang. Kedua belah pihak yang sedang bertikai sepakat  untuk menambah agenda harian berupa genjatan senjata alias jeda perang selama 3 jam (jam 13 s/d 16 waktu setempat) setiap harinya guna memberi kesempatan bagi misi kemanusiaan.

Dalam bayangan saya, begitu jam 1 teng….., para pejuang di kedua belah pihak akan segera meletakkan senjatanya dan melepas nafas panjang, lalu berhamburan ada yang melakukan upaya pertolongan pada pasukan yang cedera, menata kembali perlengkapan dan persenjataannya, mengatur strategi berikutnya, dsb. Bagi masyarakat sipil segera akan berhamburan menolong korban, menambah perbekalan dan kebutuhan hidup, memperbaiki kerusakan prasarana sebisanya, dsb. Hingga nanti kembali masuk lubang persembunyian menjelang jam 4 teng……., menunggu 21 jam berikutnya untuk kembali bisa menghirup udara segar tak berbau mesiu.

Ikhwal jeda perang ini mengingatkan saya pada peristiwa perang suku di Papua (masyarakat setempat mengucapkannya dengan perang tuku, huruf s dilafalkan t…). Sekali waktu terjadi tawuran antar kampung di wilayah kabupaten Mimika, karena umumnya di tanah Papua beda kampung sudah beda suku, maka sebut saja perang suku.

Pagi hari, usai sarapan (dan sepertinya jarang yang mandi) perang segera dimulai, entah siapa yang mendahului. Tanpa bunyi dar-der-dor dan tanpa suara dentum senjata, melainkan…..teriakan hooooooo….. huuuuuuuuu….. dengan tombak dan panah beracun siap membidik sasaran tembak (meski tidak menggunakan senjata yang ditembakkan….). Aura kemarahan demikian memuncak untuk saling melawan dan memusuhi antar kedua belah pihak yang saling berseteru, yang seringkali dipicu oleh sebab yang sepele.

Namun saat tiba waktunya istirahat ketika kedua belah pihak mulai lelah dan capek, begitu saja tiba-tiba keduan kelompok berhenti berperang. Ketika tiba waktunya makan siang, mereka akan berhenti untuk makan siang dulu. Pun jika tiba waktunya untuk minum kopi (sebut saja coffee break), kedua kelompok yang tadi saling berhadap-hadapan akan serentak berhenti mengambil jeda waktu untuk menjerang air, bikin kopi, merokok, makan pinang, merawat yang cedera, cengengesan, ejek-mengejek….. Lengkingan huuuuuuu….. pun berubah menjadi cekikikan ha-ha-hi-hi…. Perang akan dilanjutkan kembali setelah itu, entah bagaimana aba-abanya.

Saat sore hari tiba, masing-masing pasukan akan balik-kanan-bubar-jalan dan pulang beristirahat agar esok badan kembali segar dan siap perang lagi. Tidak tahu kapan berakhirnya. Namun jika korban jatuh tidak berimbang, amarah untuk membalas dendam akan terus membara, hingga akhirnya pemerintah terpaksa turun tangan mendamaikan mereka.  Sementara di Jalur Gaza nun jauh di sana, entah pemerintah mana yang harus turun tangan. Wong tangan-tangan yang ada semua berada naik menggenggam kepentingannya masing-masing. 

Meski perang suku di Papua terkesan primitif dengan memanfaatkan senjata tradisional seadanya, namun naluri kemanusiaan terbangun secara otomatis (yang mereka sendiri sebenarnya tidak paham benar naluri kemanusiaan itu jenis makanan apa).  Yang mereka tahu adalah bahwa ada kebutuhan manusia (yang sedang berperang) yang tetap harus dipenuhi, lebih penting ketimbang perang itu sendiri. Karena itu perlu ada jeda perang yang tidak harus diatur dengan jam, melainkan sesuai naluri alamiah seiring berjalannya waktu dan hajat kebutuhan manusia pelakunya.

Indah sekali….. (Lho, perang kok indah? Setidak-tidaknya, tidak lebih nggegirisi atau mengerikan, dibanding yang terjadi di Jalur Gaza).

Yogyakarta, 8 Januari 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Perang Tuku

8 Januari 2009

Berikut ini adalah posting tulisan lama :

Kabar seru kembali datang dari kota Timika, di Papua bagian tengah sebelah selatan. Ada perang tuku, maksudnya perang suku (orang angsli Papua biasa melafal huruf ‘s’ dengan ‘t’, dan sebaliknya). Tepatnya keributan antar suku di daerah Kwamki Lama, yang kalau terjadinya di Jakarta biasa disebut tawuran. Akan tetapi karena, keseharian masyarakatnya memang berbusana sangat sederhana; juga mereka tidak biasa menggunakan clurit atau golok melainkan panah dan tombak; juga melibatkan kelompok sekampung (di Papua umumnya beda kampung sudah beda suku), maka kejadian tawuran antar kelompok bisa berubah kesan menjadi perang (antar) suku.

Meskipun judulnya perang suku, namun jangan heran kalau peserta perangnya ada yang pakai safety googgles (kacamata keselamatan), rubber booth (sepatu keselamatan), safety helmet (topi keselamatan), atau kalau cuaca agak mendung ada juga yang pakai rain coat (jas hujan) warna kuning. Darimana lagi kalau bukan “keluaran” Freeport. Maklum, sebagian matarakas (maksudnya, masyarakat) yang berperang adalah karyawan perusahaan tambang PT Freeport Indonesia.

Kalau sudah begini, para supervisor Freeport dibuat kelabakan, anak buahnya pada bolos kerja untuk ikut perang. Setelah perangnya usai, mereka masuk kerja dan melapor kemarin tidak kerja karena ikut perang. Bagi Freeport jadi serba salah, antara mau dianggap mangkir (dan oleh karena itu terkena sangsi dan potong gaji) atau ditolerir saja. Kalau dibiarkan, kejadian sejenis ini sering sekali dan selalu dimanfaatkan oleh mereka yang malas-malas kerja untuk absen, apapun sukunya. Akhirnya, mereka dianggap sebagai cuti tanpa bayar (secara peraturan tidak ada yang dilanggar oleh mereka, namun gajinya dipotong). Dengan kata lain, ketidak hadirannya “diijinkan”. Namun perlu diketahui bahwa “ijin perang” diberikan setelah perang terjadi, dan bukan sebelum perang.

Menangani soal ijin-mengijin ini memang gampang-gampang susah. Orang-orang asli Papua ini sangat lihai mencari alasan untuk tidak masuk kerja. Umumnya orang akan minta ijin kalau ada lelayu, atas saudara dekatnya yang meninggal, misalnya ayah, ibu, mertua, suami, istri, anak, dan kerabat dekat lainnya. Tapi itu saja ternyata tidak cukup bagi orang Papua, saudara jauh, pernah apanya-siapa, tetangga sekampung, bahkan babi piaraannya mati pun akan minta ijin tidak masuk kerja.

Ihwal perang juga aneh. Meskipun semangat kemarahan untuk membalas, melawan, memusuhi sedimikian memuncaknya, namun dijamin pada saat jam istirahat kedua belah pihak akan berhenti dan makan dulu. Demikian pula jika tiba waktunya untuk jeda minum (istilah sekarangnya coffee break), kedua belah pihak akan serentak berhenti dan beristirahat. Kemudian perang akan dimulai lagi setelah itu. Tidak ada gerilya, malam ya istirahat. Namun, jika korban jatuh tidak berimbang, amarah untuk membalas dendam terus membara.

Tentang sebab-musabab perang bisa macam-macam, rasanya tidak berbeda jauh dengan yang biasa menyebabkan tawuran. Lebih-lebih umumnya orang asli Papua hobi minum minuman keras sebagai hasil serapan budaya modern, maka tidak terlalu sulit untuk membuat pemicu. Belum lagi, situasi semacam ini rentan untuk dimanfaatkan oleh kalangan yang sudah agak berpikiran maju, yang dalam bahasa sekarang disebut provokator.

Yusuf Iskandar
(19/04/2004)