Posts Tagged ‘janti’

Berimprovisasi Di Warung Soto Pak Marto Jogja

21 November 2009

Dalam perjalanan mengantar istri ke tokonya, tiba-tiba beliau mengajak berhenti mampir ke Warung Soto Pak Marto di Jl. Janti Jogja. “Lapar”, katanya singkat. “Sama”, jawab saya juga singkat. Sebelumnya memang sudah beberapa kali kami mampir ke warung soto ini. Lokasinya di jalan utama masuk Jogja dari sisi tenggara, tepatnya di seberang agak ke barat dari balai Jogja Expo Center (JEC), memang cukup strategis. Mudah dicari dan dihampiri.

Siang itu suasana warung agak ramai karena ada rombongan bis besar yang juga berhenti makan siang. Meski bernama warung, tapi tampilannya sebenarnya cukup megah. Barangkali sebutan warung dimaksudkan untuk mengenang masa-masa almarhum Pak Marto merintis usahanya sebagai tukang soto lebih 25 tahun yll. di lokasi itu. Ketika itu penggal ke barat jalan Janti masih menjadi kawasan jin buang anak (hasil hubungan gelap barangkali…) alias ndeso, sepi dan masih berupa jalan desa.

Seputaran tahun 1983 Pak Marto memulai bisnis sotonya. Semakin hari sotonya semakin dikenal dan menjadi jujukan para penyoto (penggemar soto) dari kawasan sekitarnya. Namun sayang, Pak Marto tidak sempat lama menikmati sukses dari hasil kerja kerasnya. Tahun 1995 Pak Marto berpulang, lalu disusul Bu Marto sekitar dua tahun kemudian. Kini bisnis sotonya masih terus berkibar dan dilanjutkan oleh generasi kedua dan ketiganya. Seperti warung soto yang di Jl. Janti itu kini dikelola oleh salah seorang cucunya. Sementara Warung Soto Pak Marto pun semakin merambah membuka cabangnya di berbagai kota.

Rasa sotonya sebenarnya biasa saja. Kalau kategori rasa itu boleh diskala jadi tiga: pertama enak, kedua enak banget, dan ketiga hoenak tenan….., maka soto Pak Marto termasuk enak. Jenis sotonya adalah soto daging sapi, cuma dagingnya kurang full, masih setengah-setengah…… Saya dapat memakluminya kalau alasannya karena harga jualnya yang semangkuk Rp 7.000,-disesuaikan dengan harga beli daging sapi di pasar.

Seperti umumnya warung makan di Jogja, maka selalu ada asesori kecap manis disediakan. Rupanya di warung ini tidak memilih kecap terkenal yang katanya dibuat dari kedelai hitam, melainkan kecap lokal cap Ayam yang kecapnya kental dan lebih terasa manis gulanya ketimbang kedelainya. Meski demikian, kalau lagi berada di sisi tenggara Jogja, warung soto Pak Marto ini bisa jadi pilihan untuk petualangan kuliner soto-menyoto. Nama besar Pak Marto seolah menjadi jaminan para penggemar soto.

***

Di warung itu kami mengambil tempat duduk yang dekat jalan masuk, karena kebetulan tempat itu yang kosong. Sambil menikmati hangatnya sruputan kuah soto yang bening menyegarkan, lalu datang seorang pengamen memainkan alat musiknya yang sangat sederhana. “Icik-icik” namanya. Sejenis alat musik seadanya terbuat dari kayu yang dilengkapi entah apa, sehingga kalau digoyang-goyang berbunyi “icik-icik”…. Pengamen itu adalah seorang bapak tua yang jalannya sudah agak membungkuk berbaju warna hijau pupus lusuh. Jelas bukan memainkan lagu. Tanpa intro, tanpa reffrain dan bukan juga lupa syairnya, melainkan sekedar irama musik monoton yang baru bisa berhenti setelah disodori uang.

Satu menit, dua menit…. Musik itu masih berbunyi. Sementara tidak seorangpun pelayan warung yang perduli, saking sibuknya mondar-mandir melayani pengunjung warung yang lagi ramai. Padahal yang diharapkan oleh pengamen itu barangkali hanya sekedar uang cepek-nopek. Kalau sesekali ada yang memberi koin gopek, sudah sangat berterima kasih.

Tiga menit, empat menit….. Belum juga ada orang warung yang memperdulikannya. Mulailah pikiran kreatif saya yang sedang kelebihan energi positif menangkap peluang. Ya, peluang untuk sedikit berimprovisasi spontan mengambil alih kepedulian terhadap bapak tua pengamen “icik-icik” itu. Lalu saya hampiri pengamen tua itu sambil saya sodorkan selembar ribuan. Benar juga, musik langsung berhenti dan pengamen tua itu ngeloyor pergi sambil berterima kasih. Mission accomplished. Saya pun duduk kembali, melanjutkan nyruput soto, tanpa sepatah kata pun pembicaraan tentang pengamen tua melainkan melanjutkan ngobrol dengan istri yang tadi terputus sebentar.

Usai nyoto, becanda sebentar dengan cucunya Pak Marto, lalu beranjak meninggalkan tempat parkir. Entah datang energi positif dari mana, tahu-tahu terpikir untuk melakukan improvisasi tahap kedua. Membuka kaca mobil sebelah kanan (kalau sebelah kiri terlalu jauh…..), lalu menyodorkan uang parkir dalam satuan agak besar. Ketika tukang parkir separuh baya itu hendak mengambil kembaliannya, segera saya berbisik : “Tulung turahane diwenehke anake njenengan….(tolong sisanya diberikan kepada anak Bapak)”.

Segera tancap gas, tanpa sepatah kata pun pembicaraan tentang tukang parkir itu melainkan ngobrol lain dengan istri. And another mission accomplished. Begitu saja. Lalu perjalanan pun dilanjutkan menuju toko di Madurejo, kecamatan Prambanan, Jogja.

Just a simple improvisation in my life. Saya sedang membicarakan nominal uang yang relatif tidak seberapa dibanding harga soto yang barusan saya santap dan rokok yang saya hisap. Tapi dipastikan manfaatnya sangat besar bagi orang-orang yang sedang membutuhkan. Saya sendiri heran, kenapa sangat jarang saya melakukan hal-hal kecil seperti ini. Tepatnya, jarang terpikir untuk lebih sering melakukannya. Padahal jumlah uang yang saya libatkan dalam improvisasi kecil semacam itu sama sekali tidak akan mengganggu roda ekonomi dan kehidupan saya maupun keluarga saya. Tapi berat rasanya untuk sering-sering melakukannya. Butuh dorongan kuat untuk merangsang bangkitnya energi positif yang nilai manfaatnya luar biasa, tanpa saya sadari wujudnya.

Yogyakarta, 22 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Ikan Bakar “Lumintu 101”

17 April 2008

Masih perkara makan. Sekedar memberi alternatif menu dan suasana berbeda dalam memenuhi hajat perut. Soal makan ikan bakar, tentu sudah terlalu banyak pilihan, terutama ikan air tawar semisal gurami, bawal, nila, tombro, lele atau udang. Namun tidak ada salahnya sekali waktu mencoba menu yang sama tapi dengan suasana rekreasi yang berbeda, terutama kalau pergi bersama keluarga dan anak-anak. Mari kita pergi ke arah utara agak jauh dari Yogya, yaitu ke jurusan kota Delanggu, Klaten. Tepatnya di desa Janti, kecamatan Polanhardjo, disana ada pondok makan “Lumintu 101”.

Ke pondok makan “Lumintu 101”, lebih untuk alasan rekreasi, sebab kalau soal menu ikan bakar saja sebenarnya tidak jauh beda dengan yang disediakan oleh rumah makan di tempat-tempat lain. Meskipun masakan “Lumintu 101” dapat saya kategorikan sebagai “enak”. Kelebihannya terletak pada keberanian pondok makan “Lumintu 101” untuk memberi added value bagi warung makannya yang menurut lokasinya sebenarnaya nyaris tidak mudah dikenal orang.

Ada kolam pemancingan kecil tapi cukup representatif, sehingga cocok bagi anak-anak untuk sekedar mencoba memancing ikan. Di sana disewakan perlengkapan mancing bagi anak-anak, termasuk walesan (tongkat pancing dan senarnya), umpan dan ember kecil tempat hasil pancingan. Anak-anak akan senang sekali memancing jenis ikan mas kecil seukuran telapak tangan anak-anak. Tidak terlalu sulit bagi anak-anak untuk sekedar memancing beberapa ekor ikan. Hasilnya, silakan ditimbang dan dibeli. Dapat juga dinegosiasi untuk dikembalikan lagi ke kolam. Mengasyikkan. Buktinya, anak-anak saya yang laki-laki maupun perempuan yang belum pernah mancing, jadi keasyikan dan ogah-ogahan diajak pulang.

Selain kolam pemancingan, tersedia juga kolam renang ukuran sedang. Cukup menghibur bagi yang hobi renang. Maka kalaupun pengunjung merasa biasa-biasa saja dengan menu ikan dibakar atau digoreng, setidak-tidaknya ada hiburan menyenangkan bagi anak-anak. Kalau ada yang perlu disayangkan, adalah upaya menjaga penampilan dan mempercantik lingkungan yang agak kurang diperhatikan. Selebihnya tidak ada yang perlu disesali kalau sudah sampai di sana, meskipun letaknya agak jauh dari Yogya, tapi sungguh mengasyikkan dan santai.

Untuk mencapai desa Janti, ikuti jalur ke timur jalan Yogya – Solo. Sekitar 1,5 km selepas kota Delanggu, setelah tikungan ke kiri, ada pertigaan jalan kecil yang masuk ke kiri (ke arah utara). Masuklah ke jalan ini, lalu terus ke utara melalui jalan aspal yang agak sempit, sehingga jika harus berpapasan dengan kendaraan lain perlu untuk saling mengurangi kecepatan. Setelah berjalan kira-kira 5 km melalui bulak dan persawahan, maka akan sampai pada pertigaan jalan, tepatnya sudah berada di desa Janti. Desa Janti ini terkenal dengan banyaknya usaha kolam pemancingan.

Dari pertigaan Janti ini dapat mengambil rute yang ke kiri atau yang lurus. Jika ambil jalur ke kiri, maka sekitar 100 meter kemudian lalu masuk ke jalan kampung tidak beraspal di sebelah kanan. Di sepanjang jalan kampung yang berbelok-belok ini banyak dijumpai usaha kolam pemancingan yang terletak di belakang rumah-rumah penduduk. Terus saja hingga tembus ke jalan aspal kelas III jalur Klaten – Boyolali. Lalu belok kanan sedikit, mengikuti jalan aspal ini, maka rumah makan “Lumintu 101” berada di sisi kanan.

Jika dari pertigaan Janti lalu mengambil jalur lurus (rute ini lebih mudah), maka akan ketemu dengan jalan Klaten – Boyolali, dan beloklah ke kiri. Nanti akan ketemu dengan pabrik pengolahan ikan PT Aquafarm Nusantara di sisi kiri jalan. Maju terus maka akan ketemu dengan rumah makan “Lumintu 101” juga di sisi kiri jalan Klaten – Boyolali.

Ihwal nama “Lumintu 101” inipun agak kedengaran aneh. Kata lumintu (bahasa Jawa) sebenarnya bukan kata yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Artinya kira-kira, kalau tidak salah….. berkelanjutan atau terus menerus. Misalnya, harta atau rejeki yang lumintu, artinya harta atau rejeki yang langgeng atau terus-menerus membawa berkah bagi pemiliknya. Lalu bagaimana dengan angka 101? Jangan-jangan wak haji si empunya warung terobsesi dengan popularitas anjing Dalmation 101……….

Ada banyak tempat makan dan kolam pemancingan di sana, tapi entah kenapa “Lumintu 101” paling banyak diminati tamu. Sempat terpikir oleh saya, apapun pemicu kesuksesan rumah makan “Lumintu 101”, yang pasti ide untuk memberi nilai tambah berupa kolam pemancingan dan kolam renang telah memberi daya pikat bagi para pengunjung yang tidak sekedar ingin makan, melainkan juga rekreasi dalam suasana santai alam pedesaan.

Ingin makan sekaligus rekreasi keluarga? Monggo….. jalan-jalan ke desa Janti sambil bawa anak-anak.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 22 Juli 2004