Posts Tagged ‘iowa’

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (6)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 23:45 CST (8 Nopember 2000 – 12:45 WIB)

Hingga menjelang tengah malam ini, ternyata persaingan semakin ketat. Kini George Bush masih unggul sangat tipis terhadap Al Gore dengan perbandingan perolehan suara 246 – 242, masing-masing dari 29 dan 18 negara bagian.

Masih ada empat negara bagian yang belum menyelesaikan hasil perhitungan akhir pemilu, diantaranya dua negara bagian yang akan mengkontribusi cukup besar jatah suaranya, yaitu Florida dan Wisconsin yang masing-masing mempunyai jatah suara 25 dan 11. Sedangkan dua negara bagian lainnya, Iowa dan Oregon, masing-masing menyisakan 7 suara.

Melihat perkembangan pergerakan angka perolehan suara ini terasa semakin mengasyikkan dan mendebarkan. Padahal saya tidak punya kepentingan apapun, tapi kok menarik. Seperti dilansir beberapa media, bahwa persaingan menuju kursi kepresidenan tahun ini adalah yang paling ketat sejak 40 tahun terakhir. Ternyata hingga diselesaikannya perhitungan di 47 negara bagian, masih belum tampak tanda-tanda siapa yang bakal mencapai garis finish pertama kali dengan meraih 270 suara, untuk muncul sebagai pemenangnya. Peluang keduanya untuk menang di sisa negara bagian yang belum selesai perhitungan suaranya sama besar.

Jika sampai lewat tengah malam nanti masih terjadi persaingan ketat, maka perhitungan suara akan menjadi lebih mendebarkan. Ini antara lain disebabkan karena ternyata di negara bagian Oregon, sistem coblosan-nya tidak dilakukan melalui TPS-TPS secara langsung malainkan dilakukan melalui surat yang harus diposkan pada hari Selasa ini. Lagi-lagi, penerapan aturan yang berbeda-beda untuk urusan yang bersifat nasional ini membuat saya heran.

Sebagai akibat dari sistem pemungutan suara lewat pos ini tentu saja hasilnya belum akan diketahui hingga tengah malam nanti, bahkan mungkin baru akan diketahui seluruhnya pada seminggu kedepan. Itu sebabnya jika sampai 50 negara bagian termasuk ibukota Washington DC selesai dengan hasil perhitungannya malam ini dan belum juga ada yang mencapai angka 270, artinya periode deg-degan bagi kedua kandidat akan masih berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Kalau benar demikian kejadiannya, maka barangkali peristiwa semacam ini baru terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di Amerika.

Sebagai penonton, saya sendiri sangat menikmati pacuan presiden Amerika ini yang perolehan suaranya saling susul-menyusul silih berganti. Selain melalui saluran internet, saya juga menyaksikannya melalui saluran TV CNN yang ditayangkan sejak sore tadi, lengkap dengan hasil pemilu untuk anggota konggres, senat, gubernur, dsb. beserta komentar-komentarnya. Hingga rela menunda untuk pergi tidur…….-

Yusuf Iskandar

Iklan

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(34).    Menyusuri Ladang Jagung Iowa

Keluar dari kota Madison pada Rabu siang itu, 12 Juli 2000, saya kembali berada di jalan bebas hambatan I-90 menuju ke barat. Sekitar dua jam kemudian, saya tiba di kota La Crosse. La Crosse hanyalah sebuah kota kecil di sisi barat wilayah negara bagian Wisconsin yang berpenduduk sekitar 51.000 jiwa dan terletak pada ketinggian sekitar 195 m di atas permukaan laut. Kota ini terletak persis di pinggir timur sungai Mississippi yang merupakan batas antara wilayah negara bagian Wisconsin dan Minnesota.

Anak saya heran, kok sungai Mississippi juga ada di situ, yang berarti di ujung utara Amerika bagian tengah. Selama ini yang diketahuinya bahwa sungai Mississippi itu adanya di New Orleans, yang berarti di ujung selatan Amerika bagian tengah. Lebih heran lagi ketika saya beritahu bahwa sungai Mississippi yang ada di situ dan di New Orleans itu sama.

Saya sendiri sebenarnya juga baru menyadari bahwa sungai yang ketika di SMP dulu saya hafal namanya sebagai sungai terbesar dan terpanjang di Amerika ternyata memang membelah daratan negara Amerika. Sungai Mississippi bermata air di danau Itasca di kawasan Hutan Taman Nasional Chippewa di sisi utara negara bagian Minnesota dan bermuara di Teluk Mexico di pantai selatan negara bagian Louisiana, atau tepatnya di sebelah selatan kota New Orleans.

Malahan sungai ini sebenarnya tidak melintasi negara bagian Mississippi, kecuali menjadi batas antara negara bagian Mississippi di sebelah timur sungai dan Louisiana serta Arkansas di sebelah barat sungai. Membentang dari selatan ke utara, di sisi timur sungai Mississippi terletak negara bagian Mississippi, Tennessee, Kentucky, Illinois dan Wisconsin. Sedangkan di sebelah baratnya, Louisiana, Arkansas, Missouri, Iowa dan Minnesota.

***

Di kota kecil La Crosse ini saya masuk ke kotanya untuk mencari restoran Cina yang biasanya menyediakan menu nasi. Ya, maklum. Dalam perjalanan panjang semacam ini acara makan tiga kali sehari sering-sering kacau jadwalnya. Agar kekacauan jadwal makan ini tidak berakibat runyam terhadap perut, maka “ganjal” perut mesti mantap. Salah satunya ya diganjal dengan makanan yang mengandung nasi itu tadi. Akhirnya saya temukan juga restoran Cina.

Sambil beristirahat di depan restoran, saya cermati lagi rute perjalanan hari itu yang ternyata masih akan panjang. Saya lalu menghubungi rekan di Columbia, Missouri, via tilpun dan memberitahukan bahwa saya tidak dapat memenuhi rencana semula untuk mencapai Columbia malam nanti, melainkan baru besok siangnya. Saat itu sudah sekitar jam 4:30 sore.

Meninggalkan kota La Crosse, menyeberang sungai Mississippi, saya sudah berada di negara bagian Minnesota yang mempunyai nama julukan sebagai “North Star State” dengan ibukotanya di kota St. Paul. Minneapolis yang terletak berdampingan dengan St. Paul adalah kota terbesar di Minnesota. Tepat di sisi barat sungai Mississippi, saya lalu mengambil exit dan menuju ke jalan State Road (SR) 16 ke arah selatan.

Rute jalan dua lajur dua arah ini akan melintasi wilayah perbukitan menuju ke Taman Negara Forestville/Mistery Cave dengan melewati beberapa kota kecil hingga nantinya tiba di kota Spring Valley. Rute jalan ini memang tidak melintasi pegunungan tinggi dan rute jalannya pun tidak terlalu berkelok tajam, namun di sepanjang rute ini kami temui pemandangan alam sore hari yang cukup enak dinikmati sambil melaju dengan kecepatan sedang.

Di kota Spring Valley yang berpopulasi sekitar 2,500 orang dan terletak pada ketinggian 400 m di atas permukaan air laut, saya berhenti lagi karena anak saya sudah kebelet pipis. Dari kota ini selanjutnya saya menuju ke arah selatan mengikuti jalur jalan lurus Highway 63 (Hwy 63) yang nanti akan membelah wilayah negara bagian Iowa.

Tidak berapa lama kemudian saya tinggalkan negara bagian Minnesota dan masuk ke wilayah Iowa. Negara bagian Iowa mempunyai nama julukan sebagai “Hawkeye State”, dengan ibukotanya di kota Des Moines. Iowa adalah negara bagian ke-28 yang saya kunjungi hingga perjalanan di hari keduabelas ini, setelah sebelumnya melintasi negara bagian Minnesota.

Menyebut nama Iowa, maka umumnya orang Amerika akan mengaitkan nama itu dengan produksi biji-bijian, terutama jagung dan kacang tanah. Iowa memang terkenal kaya akan hasil pertanian dan peternakannya. Tidak mengherankan, jika melihat bahwa 93% dari wilayah Iowa ini merupakan areal pertanian dan peternakan.

Masyarakatnya yang tinggal di perkotaan hanya sekitar 45% saja, selebihnya tinggal di wilayah pedesaan. Bandingkan dengan rata-rata penduduk Amerika adalah 80% yang tinggal di perkotaan. Maka sudah umum dan bahkan menjadi kebanggan di sebagian kalangan masyarakat Iowa (yang disebut Iowan) untuk hidup dan bermata pencaharian sebagai petani.

Secara nasional, Iowa adalah produsen utama jagung, padi dan daging babi bagi Amerika. Bahkan produksinya juga mensuplai kebutuhan dunia. Dari hasil peternakannya, Iowa merupakan penghasil telur kedua tertinggi di Amerika. Tahun 1999 yang lalu Iowa menghasilkan 512 juta telur. Jika jumlah penduduk Iowa pada tahun yang sama sekitar 2.869.000 orang, maka rata-rata setiap tahun orang Iowa “bertelur” lebih dari 178 butir. Bukan main banyaknya telurnya orang Iowa ini!

Karena itu ada anekdot, melihat produksi telurnya ditambah produksi sosis dan daging babi yang mensuplai kebutuhan Amerika, maka mestinya negara bagian Iowa ini lebih pas dijuluki sebagai “Breakfast State”.

Di Amerika, yang disebut petani adalah petani pemilik dan sekaligus penggarap (tanah atau ternak). Agak berbeda dengan sebutan petani di Indonesia, yang seringkali masih disebut lagi menjadi petani kecil atau peternak besar yang berkonotasi sebagai golongan ekonomi lemah atau ekonomi kuat. Belum lagi, di Indonesia ada sebutan petani pemilik (tanah) dan petani penggarap (tanah).

Hal ini mengingat bahwa di Indonesia ini sangat banyak orang yang memiliki tanah pertanian di mana-mana tanpa pernah sedikitpun pernah menyentuhnya, bahkan terkadang melihat lahannya pun belum pernah. Di sisi lain ada petani yang pekerjaannya hanya menggarap tanah pertanian milik orang lain tanpa pernah memiliki lahan sendiri. Kalaupun punya tanah, luasnya tidak seberapa.

Kalau di Iowa, rata-rata seorang petani memiliki lahan pertanian seluas sekitar 139 ha, maka di Indonesia kebanyakan petani hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 ha. Saya kurang tahu angka persisnya untuk petani tanaman pangan, namun sebagai gambaran sekitar 50% petani tanaman hortikultura adalah pemilik lahan kurang dari 0,5 ha.

Karena itu ada perbedaan kebanggaan antara sebutan petani di Amerika dan Indonesia. Kalau di Amerika disebut petani, maka ia benar-benar seorang petani professional yang identik dengan orang desa yang ahli bertani (termasuk berternak) dan (biasanya) kaya. Kalau di Indonesia disebut petani maka ada beberapa kemungkinan, antara lain : Pertama, petani kecil yang mempunyai lahan terbatas dan hasilnya pas-pasan (malah seringkali tekor) buat menyambung hidup. Kedua, petani penggarap yang tidak memiliki lahan tetapi memperoleh upah atau pembagian tertentu dari hasil tanah yang digarapnya.

Ketiga, petani pemilik tanah yang sama sekali tidak tahu soal-menyoal pertanian tapi kalau dilapori hasil panennya tidak memuaskan suka sekali menyalahkan pemerintah, cuaca, hama, penggarap atau tetangganya yang suka menutup saluran air atau malah membanjiri sawahnya dengan air.

Agaknya pemerintah menjadi pihak yang paling “enak” untuk disalahkan. Terlebih di era reformasi yang “tidak reform-reform” ini, saat mana para oknum pemerintah jadi kelewat asyik dengan soal-soal besar sehingga soal-soal kecil menjadi terabaikan. Bisa saja para oknum pemerintah itu tidak sependapat dengan penilaian ini, tapi siapa yang mendengarkan teriakan petani-petani kecil yang tak berdaya menerima kenyataan harga padinya jatuh karena ternyata harga beras impor lebih murah.

Atau, petani kecil yang kebingungan memilih pestisida yang asli karena saking banyaknya pestisida aspal (asli tapi palsu) yang beredar. Kalau sudah demikian, apa ya masih tega untuk “berhalo-halo” di depan petani kecil lalu bicara soal intensifikasi dan swa-sembada pangan. Alih-alih mikir tentang ekstensifikasi, mendingan tanahnya dijual buat naik haji.

***

Itulah negara bagian Iowa yang sore itu saya lintasi dari ujung utara menuju ke ujung selatan melalui jalan Hwy 63. Rute sepanjang 74 mil (118 km) dari kota Spring Valley menuju Waterloo merupakan jalur jalan raya yang lurus utara-selatan. Rute ini melintasi banyak persimpangan jalan-jalan kecil, melewati beberapa kota kecil yang sepi yang berpopulasi beberapa ribuan saja, selebihnya adalah areal pertanian dan beberapa areal peternakan.

Di sana-sini terdapat bangunan-bangunan silo (tempat penyimpanan hasil pertanian) yang bentuknya seperti silinder cerobong asap. Sekitar jam 18:30 melintasi rute ini, saya masih melihat petani yang membajak lahan tanahnya. Tidak menggunakan jasa kerbau tentunya.

Seluas mata memandang di bawah cuaca sore yang sangat cerah, hanyalah ladang-ladang jagung di sebelah menyebelah jalan membentang di wilayah dataran rendah yang nyaris tak tampak adanya perbukitan. Sebenarnya pemandangan yang membosankan. Namun menjadi terasa khas karena pemandangan semacam ini belum pernah saya jumpai di wilayah-wilayah lain di Amerika.

Inilah ladang-ladang jagung Iowa yang pada tahun 1997 ada seluas 4,9 juta ha ladang berhasil dipanen. Kalau ditambah dengan 4,2 juta ha ladang kacangnya, maka total semuanya menjadi sekitar 9,1 juta ha ladang jagung dan kacang yang berhasil dipanen (sekitar 63 %) dari 14,6 juta ha luas seluruh wilayah Iowa.

Untuk sekedar tambahan ilustrasi (bukan pembanding) : Indonesia yang luas wilayahnya lebih 191,9 juta ha, tahun lalu panen jagung, kacang dan padi mencapai lahan hampir seluas 15,9 juta ha (sekitar 8% dari luas wilayahnya).

Senja telah menjelang saat saya tiba di kota Waterloo pada sekitar jam 20:00. Sejenak saya berhenti di kota ini untuk sekedar membeli makanan kecil sambil beristirahat. Setelah itu perjalanan panjang hari itu saya lanjutkan dengan masih mengikuti jalan Hwy 63 ke arah selatan, melewati sedikit kota-kota kecil lainnya.

Ladang-ladang jagung masih membentang di sepanjang sisi kanan dan kiri jalan, meskipun kini sudah tidak terlalu nampak jelas di tengah keremangan senja. Saya merencanakan untuk bermalam di kota mana saja yang sekiranya enak untuk disinggahi. Anak-anakpun setuju, karena memang selama melintasi Iowa tidak akan menemui daerah perkotaan yang ramai. (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(35).    Bermalam Di Oskaloosa

Meninggalkan kota Waterloo hari Rabu, 12 Juli 2000, saat hari mulai rembang petang. Langit merah masih tampak di ufuk barat daya sepertinya berada jauh di ujung jalan lurus di tengah ladang terbuka yang saya lalui dari utara menuju selatan, hingga akhirnya malam pun tiba.

Perjalanan menyusuri ladang jagung Iowa masih saya teruskan dengan tentu saja pemandangan alamnya semakin tidak dapat dinikmati ketika malam benar-benar menjelang. Perjalanan kini telah menjadi semakin membosankan. Tidak ada hal lain yang terlintas di pikiran saya selain secepatnya berhenti mencari penginapan. Tapi, “nginap di mana enaknya?”. Wong sepanjang rute jalan Hwy 63 ini hanya ada kota-kota kecil.

Sampai di hari keduabelas ini agaknya kebosanan sudah mulai dirasakan oleh anak-anak. Mereka tahu bahwa ini adalah perjalanan kembali menuju ke New Orleans, tapi kok tidak sampai-sampai. Beberapa kali anak-anak bertanya apakah New Orleans masih jauh, berapa lama lagi, kapan akan sampai New Orleans, dan pertanyaan-pertanyaan semacam itu mulai sering ditanyakan.  Saya dan istri sangat-sangat memaklumi dan memahami akan hal ini.

Kepada anak perempuan saya yang lebih besar, terkadang saya gelarkan peta Amerika dan saya tunjukkan di mana posisi kami saat itu, jalan mana saja yang akan dilewati serta apa saja yang akan dilihat di sana. Namun bagi anak laki-laki saya yang lebih kecil, tahunya hanya besok – besoknya – dan besoknya lagi, akan sampai ke New Orleans.

Namun mereka agak terhibur ketika saya beritahu bahwa besok akan menuju ke rumah seorang rekan di Columbia yang mempunyai anak-anak yang kira-kira sebaya dengan anak laki-laki saya. Anak-anak saya pun senang akan ketemu teman barunya.  

***

Menyusuri jalan di sepanjang areal perladangan, sebenarnya ada pemandangan menarik lainnya selain ladang-ladang jagung. Sejak mulai menyusuri ladang jagung di sisi utara wilayah Iowa hingga saya tiba di pertengahannya saat hari mulai gelap, saya melihat banyak mobil-mobil bagus yang diparkir di pinggir atau di pojok areal perladangan menghadap ke jalan raya.

Terkadang hanya satu atau dua mobil, terkadang sampai tiga mobil berjejer di satu lokasi. Antara batas ladang dan badan jalan biasanya masih terdapat bidang terbuka sekitar 10-15 m. Saya sebut banyak karena di sepanjang perjalanan sore hingga malam itu, kalau saya hitung-hitung jumlahnya mencapai lebih duapuluh kendaraan parkir di sana.  

Kelihatannya memang mobil-mobil yang hendak dijual oleh pemiliknya. Keyakinan saya ini karena melihat di setiap mobil yang diparkir itu terdapat tempelan tulisan nomor tilpun. Bisa jadi ini memang cara yang dianggap efektif bagi masyarakat di sana untuk menawarkan mobilnya yang hendak dijual. Setidak-tidaknya, bebas biaya iklan baris, bebas calo dan hanya mereka yang sungguh-sungguh berminat saja yang akan menilpun menghubungi pemiliknya.

Semula saya kira itu mobil yang sengaja diparkir di sana karena pemiliknya sedang berada di ladang. Tetapi kok saya lihat di sekitarnya tidak ada orang-orang bekerja di sana, tidak juga ada perumahan penduduk. Benar-benar berada di daerah terbuka areal pertanian. Lebih heran lagi, saat hari sudah gelap pun saya masih menjumpai mobil-mobil di parkir di pinggir ladang. Berarti sepanjang siang dan malam mobil-mobil itu memang ditinggalkan berada di sana, atau dengan kata lain saya menyimpulkan bahwa wilayah itu tergolong wilayah yang aman dari para penjahil

***

Sekitar 100 km di sebelah selatan kota Waterloo, saya tiba di kota kecil Malcom. Kota ini sebenarnya hanya merupakan titik perlintasan antara jalan Hwy 63 dengan jalan bebas hambatan I-80 yang melintang timur-barat tepat di pertengahan antara kota Des Moines di sebelah barat dan Iowa City di sebelah timur. Setelah melintas di bawah jalan layang I-80, masih di kota Malcom, saya berhenti di sebuah stasiun pompa bensin untuk membeli air mineral dan sekalian beristirahat sejenak.

Terasa sangat sepi sekali suasana kota kecil ini, hanya tampak sedikit orang berlalu lalang dengan sedikit kendaraan melintas. Di saat malam hari, kota kecil ini tampak sebagai kota karena billboard dan lampu-lampu pertokoan yang ada di pinggir jalan seolah-olah memberi tanda adanya kehidupan.

Sebelum melanjutkan perjalanan ke arah selatan, sekali lagi saya membuka-buka peta perjalanan. Di kota mana kira-kira saya akan menginap. Menurut peta, ada beberapa kota agak besar di antara kota-kota kecil yang akan saya lalui, di antaranya Montezuma, Oskaloosa, Ottumwa dan Bloomfield, sebelum mencapai batas selatan negara bagian Iowa. Kota-kota kecil yang saya sebut di sini sebenarnya jauh lebih sepi dibandingkan dengan kota-kota kecamatan di Indonesia. Jadi memang benar-benar kecil, sepi dan tidak padat penduduknya.

Saat berangkat meninggalkan kota Malcom saya masih belum memutuskan akan menginap dimana, tergantung feeling saja nanti saat memasuki kota-kota itu enaknya menginap dimana. Namun rencana tetap harus dibuat. Mempertimbangkan saat itu sudah lewat jam 21:30, maka paling lama sejam lagi saya harus berhenti untuk bermalam. Kota yang pas untuk itu adalah Oskaloosa yang untuk mencapainya saya masih harus menempuh jarak kira-kira 33 mil (53 km) lagi. Selain itu, kota ini saya pilih karena saya tertarik dengan nama Oskaloosa yang kedengaran “aneh’ di telinga saya.

Melaju di jalan Hwy 63 ini saya agak mengendalikan kecepatan, sekitar 45 mil/jam (70 km/jam) saja. Selain sudah malam berada di jalan yang bukan bebas hambatan juga agar saya merasa agak santai. Baru selepas pukul 10 malam saya masuk ke batas kota Oskaloosa. Saya masih berada di pinggir utara kota saat saya melihat ada penginapan “Red Roof Inn”. Nama ini cukup saya kenal sebagai salah satu jaringan hotel-hotel transit di Amerika.

Mengingat ini adalah kota kecil yang tentunya tidak banyak menyediakan sarana penginapan, maka saya memutuskan untuk langsung saja masuk ke pelataran hotel. Akhirnya, jadilah saya dan keluarga bermalam di kota Oskaloosa yang malam itu sedang dihembus angin malam yang cukup dingin.

***     

Oskaloosa adalah sebuah kota berpopulasi sekitar 10,600 jiwa dan terletak pada ketinggian 256 m dia atas permukaan air laut. Salah satu yang menarik dari kota ini adalah adanya sebuah patung perunggu Chief Mahaska setinggi lebih dua meter yang berdiri di kawasan Taman Alun-alun Kota Oskaloosa. Ini adalah patung kebanggaan masyarakat Oskaloosa sebagai penghormatan atas kepemimpinan Mahaska, seorang tokoh suku Indian Ioway pada awal abad 18. Patung ini pertama kali dibangun pada tanggal 12 Mei 1909 dan baru saja selesai dipugar kembali pada tanggal 16 Oktober 1999.  

Chief Mahaska yang lahir tahun 1784 adalah seorang pemuda Indian Ioway yang tumbuh menjadi seorang pejuang pemberani. Ia membalas kematian ayahnya yang dibunuh oleh suku Indian Sioux. Dengan kemampuan dan keberaniannya di usianya yang masih muda, Chief Mahaska berhasil membunuh beberapa musuhnya dari suku Sioux, hingga akhirnya ia diangkat menggantikan kedudukan ayahnya sebagai pemimpin.

Salah satu catatan sejarah tentang Chief Mahaska ini menceriterakan bahwa pada bulan Juli dan Agustus 1824, Mahaska bersama sekelompok pemimpin dari suku Indian Ioway, Sauk dan Fox dikawal oleh pasukan kavaleri Amerika menuju ke kota Washington D.C. untuk membicarakan perjanjian pertanahan.

Waktu itu Amerika sudah berada di usia 48 tahun kemerdekaannya di bawah Presiden kelima James Monroe. Menyertai perjalanan ke Washington D.C. itu antara lain 19 orang kepala suku dan pejuang Indian, enam orang penterjemah dan empat wanita Indian termasuk juga istri Mahaska.

Ketika Mahaska dan rombongannya melintasi wilayah yang dihuni oleh orang-orang kulit putih, mereka melihat kenyataan betapa banyaknya orang-orang kulit putih itu, serta kekuatan dan kemakmurannya. Mahaska baru menyadari bahwa percuma saja dia melakukan perlawanan dan pertempuran. Ia kemudian berpikir untuk tidak akan lagi menyetujui dan mengambil bagian dalam setiap peperangan. Mahaska memutuskan untuk menyimpan senjata kapaknya (tomahawk) yang telah ia gunakan sejak masih muda.

Sekembali dari Washington, Mahaska membangun perumahan untuk keluarganya, memutuskan untuk mengikuti saran Presiden untuk membuka lahan pertanian dan hidup dalam kedamaian bersama masyarakatnya. Mahaska sendiri akhirnya mati dibunuh oleh musuhnya dari suku Indian lainnya. Mahaska juga disebut-sebut sebagai “saudara kaum kulit putih”.

Ini memang soal idealisme. Apakah itu berarti pemerintah Amerika telah memenangkan diplomasi untuk membujuk Mahaska dan pemimpin suku-suku Indian lainnya agar mau hidup bersama-sama membangun negeri Amerika? Pilihan yang diberikan Amerika bagi masyarakat Indian Ioway dengan memberi hak otonomi untuk mengurus dirinya sendiri.

Ataukah, Mahaska yang telah menyadari tidak ada lagi manfaatnya bertempur melawan pasukan Amerika, dan ia lalu mengambil keputusan untuk lebih baik bersama-sama masyarakatnya hidup berdampingan secara damai dengan bangsa kulit putih dengan tetap saling menghargai tradisi dan budaya masing-masing? Pilihan yang dinilainya lebih baik ketimbang bertempur yang tiada habisnya untuk mendirikan negara “Ioway Merdeka” di tengah kekuatan kaum kulit putih yang telah menguasai daratan Amerika.

Idealisme memang bukan fait a compli (sesuatu yang diterpaksakan). Idealisme adalah sebuah pilihan. Termasuk pilihan yang dikompromikan antara pemerintah Amerika dan masyarakat Indian Ioway pada masa itu, ketika Amerika sedang memulai era pembangunan negerinya yang belum lama merdeka.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar