Posts Tagged ‘investasi’

Berdoa Sambil Lalu

1 Oktober 2010

Sekali waktu seseorang minta didoakan dan kita jawab: “Ya, kudoakan”. Atau, malah kita yang nawarin: “Kudoain, deh…”. Tapi apakah kita pernah benar-benar menundukkan hati dan pikiran untuk mendoakan, barang 5-6 detik saja? Kebanyakan ternyata tidak, kecuali sambil lalu saat janji itu diucapkan. Maka Tuhan pun “sambil lalu” merespon.

Padahal itu adalah “investasi”. Energi yang kita alokasikan untuk berdoa itu kelak akan kembali dalam wujud yang (pasti) lebih baik.

Yogyakarta, 30 September 2010
Yusuf Iskandar

Sedekah Di Hari Raya Jum’at

10 April 2010

Tumben pagi-pagi tetanggaku (yang mirip) Meriam Bellina mampir ke rumah. Tampilannya cantik dan rapi. Lalu katanya: “Mau minta sedekah…”. Haaa.., tersanjung aku dimintain sedekah sama mbak ‘Meriam’ tetanggaku… Agaknya dia ‘memanfaatkan’ momen Hari Raya Jum’at, pasti banyak orang ingin pahala lebih. Saya pun tidak mau kalah ingin memanfaatkan ‘peluang bisnis’ yang sama. Dan rupiah sekedarnya pun ‘diinvestasikan’… “Selamat Hari Raya Jum’at”

Yogyakarta, 9 April 2010
Yusuf Iskandar

Sedia Sepeda Motor Sebelum Tsunami Menggelontor

15 November 2009

Hari Minggu, 23 Desember 2007, adalah hari “keramat” yang sangat mendebarkan bagi sebagian besar masyarakat Bengkulu dan sekitarnya. Pasalnya, sejak sebulan terakhir telah beredar rumor bahwa pada hari itu akan terjadi gempa besar berkekuatan 8,5 SR yang “rencananya” akan diikuti dengan terjangan gelombang tsunami. Apa tidak nggegirisi (mengerikan)……

Spontan yang ada di pikiran masyarakat Bengkulu adalah trauma terhadap gempa besar yang belum lama memporak-porandakan Bengkulu Utara pada September lalu dan bencana tsunami di Aceh tiga tahun yang lalu.

Ini gara-gara adanya sebuah fax yang dikirim oleh Prof. Jucelino Nobrega da Luz, seorang (konon) pengamat gempa dari Brazil. Jelas, siapapun yang paham tentang pergempaan akan menolak prediksi semacam ini. Namun tak ayal, isu ini telah membuat sebagian masyarakat Bengkulu cemas bin resah.

***

Tentang gempanya, yang ternyata hari Minggu kemarin Bengkulu baik-baik saja, biarlah menjadi porsi para ahli untuk mengkajinya. Namun saya melihat ada “kejadian” lain yang menarik.

Sejak beberapa minggu menjelang tanggal 23 Desember 2007, saya jumpai di koran lokal “Rakyat Bengkulu” sebuah iklan produk sepeda motor yang menawarkan kemudahan untuk kredit kepemilikan sepeda motor Honda. Bunyi iklannya kira-kira bermaksud mengingatkan masyarakat bahwa bila bencana tsunami terjadi, maka diperlukan sarana transportasi yang gesit untuk mencari tempat berlindung (mengungsi, maksudnya). Dan, sepeda motor adalah salah satu diantara moda transportasi yang fleksibel itu.

Ternyata bukan hanya iklan yang kemudian saya jumpai, melainkan juga dalam format berita. Tidak salah juga kalau disebut iklan terselubung, meskipun kalau menilik isi beritanya jelas bukan lagi terselubung, alias sudah terang-terangan. Bahkan bernada sangat provokatif. Penggalan iklannya berbunyi begini :

….. Jalur evakuasi ini terletak diberberapa titik di daerah Bengkulu, apabila benar terjadi gempa 23 Desember, jalur ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang akan berlomba menyelamatkan nyawa dan harta masing-masing. Sepeda motor merupakan alat transportasi yang paling praktis, aman dan cepat dalam usaha menyelamatkan nyawa dan harta…..

….. Honda menawarkan kepada masyarakat Bengkulu segala kemudahan dalam memiliki sepeda motor yang praktis, aman dan cepat. Cukup dengan hanya Rp 500 ribu, subsidi Rp 700 ribu ditambah dengan cash back Rp 300 ribu, masyarakat Bengkulu sudah dapat memiliki sebuah motor FIT X…..

Aha! Ini sebuah berita yang tampaknya cukup simpatik memberitahu masyarakat tentang perlunya alat transportasi yang praktis di saat bencana dan kepanikan melanda. Namun ini juga sebuah bujukan kepada masyarakat agar segera membeli sepeda motor cap Honda.

Hanya saja yang membuat saya risih adalah judul beritanya berbunyi : “Honda Investasi Terbaik”. Lha ya, ketemu pirang perkoro (ketemu berapa perkara – ungkapan bahasa Jawa) wong membelanjakan uang untuk kabur dari kejaran tsunami kok disebut investasi.

***

Saya mengapresiasi idenya. Jeli menangkap peluang bisnis. Ini sah-sah saja. Sebuah strategi pemasaran yang jitu. Memanfaatkan momen tertentu untuk diubah menjadi sebuah peluang bisnis. Hanya, kebetulan saja momennya kok ya menakutkan….

Tak beda halnya kalau ada orang mempromosikan produk sepatu booth guna mengantispasi datangnya banjir. Atau orang menawarkan produk payung atau ponco sebelum musim hujan tiba. Soal banjirnya benar-benar datang atau tidak, hujannya jadi turun atau tidak, ya tidak menjadi soal.

Tapi mestinya pengusaha tidak perlu “mengelabuhi” konsumen dengan mengatakan bahwa membeli sepatu booth dan payung adalah sebuah investasi. Yang sebenarnya adalah konsumsi pada tingkat kebutuhan, kalau masih tingkat keinginan maka kecenderungannya konsumtif. Lain hanya kalau sepatu booth atau payung itu kemudian disewakan kepada orang lain, di dekat halte bus atau di ujung jalan yang kebanjiran.

Sayangnya saya tidak memiliki akses untuk mengetahui seberapa besar impak dari iklan sepeda motor itu terhadap tingkat penjualannya kemudian.

Saya hanya ingin menggarisbawahi sisi positif dari kejelian si pemasang iklan atau pengirim berita dalam menangkap peluang bisnis di tengah situasi yang sedang berkembang. Bagaimanapun juga ada pelajaran bisnis tentang trik pemasaran yang dapat dipetik dari kejadian itu. Seperti menerapkan peribahasa : sedia sepeda motor sebelum tsunami menggelontor.

Yogyakarta, 24 Desember 2007
Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(42).    Di Bawah Purnama, Kami Kembali Ke New Orleans

Jalan I-49 adalah jalan bebas hambatan yang membelah barat laut – tenggara dari wilayah negara bagian Louisiana yang pada umumnya berupa kawasan datar dan terbuka. Jalan ini berada sejajar dengan sungai Red River yang bermuara di sungai Mississippi. Namun karena kami melintasi daerah itu pada saat malam hari, sehingga tidak dapat melihat apa-apa selain hanya tampak adanya kawasan alam terbuka. Di garis horizon arah tenggara tampak rembulan mulai memancarkan cahayanya, menciptakan bayangan silhouette pepohonan yang tumbuh di sana-sini.

Kami yang sedang melaju ke arah tenggara menjadi seakan-akan sedang disongsong oleh terbitnya rembulan. Mula-mula langit di ujung dunia arah tenggara agak berawan sehingga hanya cahaya cerah saja yang tampak. Namun semakin malam langit semakin cerah, rembulan mulai menampakkan bentuknya ketika berada pada posisi sekitar 10 derajat.

Terlihat bulan penuh dengan latar belakang langit yang tampak bersih dan latar depan bentang alam terbuka luas. Rupanya malam itu memang sedang bulan purnama. Hari Sabtu Pahing, tanggal 15 Juli 2000 adalah bertepatan dengan penanggalan rembulan, malam 14 Rabi’ul Akhir (Bakda Mulud) 1421 kalender Hijriyah.

Semakin malam, jalan bebas hambatan I-49 semakin sepi. Sekali dua kali saya menyalip atau disalip oleh kendaraan lain. Sekali dua kali juga saya berpapasan dengan kendaraan lain yang berada di lajur yang berlawanan arah yang terpisah oleh median jalur hijau bersemak. Di tengah sepinya malam, rasanya kami seperti sedang berjalan menuju ke bulan yang berbentuk bulat penuh yang berada tepat di arah depan kami. Kalaupun saat itu tidak ada siapa-siapa menyertai perjalanan kami kembali ke New Orleans, maka setidak-tidaknya ada bulan purnama yang bergerak semakin tinggi yang terus menemani di depan kami.

Di malam hari terakhir perjalanan kami, yang ada di pikiran kami hanya pokoknya malam itu juga langsung pulang ke New Orleans. Oleh karena itu, rasa kantuk, capek dan letih, seperti termanipulasi dengan semangat untuk segera tiba di New Orleans. Tetap dengan menjaga kewaspadaan, tentunya.

Tidak terasa, menjelang tengah malam saya sudah mendekati ujung selatan jalan I-49. Di kota Opelousas saya keluar dari jalan I-49 dan berpindah masuk ke jalan Hwy 190 yang mengarah ke timur guna mempersingkat jarak menuju ke kota Baton Rouge, ibukota Louisiana. Sekitar satu jam kemudian kota Baton Rouge saya lintasi di pinggirannya saja karena saya segera berpindah ke jalan bebas hambatan I-10 yang menuju ke timur. Dari Baton Rouge tinggal sekitar 126 km lagi untuk sampai ke New Orleans atau sekitar satu setengah jam perjalanan. Anak-anak sudah terlelap tidur sejak tadi di jok belakang mobil.  

Malam semakin larut, namun bulan purnama masih setia mengantarkan kami, bahkan hingga kami berhenti di depan apartemen di New Orleans. Saat itu waktu menunjukkan sekitar jam 02:00 dini hari dan sang purnama sudah berada tinggi di atas angkasa. Berarti sudah masuk hari Minggu, 16 Juli 2000.

Perjalanan panjang lima belas hari mengelilingi setengah daratan Amerika belahan timur telah usai. Secara geografis memang belum sampai setengahnya, namun secara administratif kami telah mengunjungi dan melintasi 33 negara bagian dan ibukota Washington D.C., dari 48 negara bagian yang ada di daratan Amerika. Jarak sejauh 5.500 mil (8.800 km) telah kami jalani dengan menghabiskan 186 gallon (704 liter) bahan bakar minyak. Jarak yang jauhnya kira-kira hampir sama dengan dari Sabang sampai Merauke pulang-pergi.

***

Alhamdulillah“. Kami semua bersyukur bahwa perjalanan panjang telah berjalan dengan lancar dan kami telah tiba kembali ke New Orleans dengan selamat. Tidak kurang suatu apapun, kecuali tabungan yang terpotong oleh tagihan kartu kredit. Namun memang sudah menjadi komitmen kami kemudian, meskipun kedengaran aneh dan mengada-ada, bahwa itu adalah bagian dari sebuah “investasi”.

“Investasi” yang sama sekali tidak kami harapkan hasilnya segera, melainkan sekedar sebuah angan-angan dan harapan. Bahwa kelak, kalau anak-anak besar nanti ingin memahami lebih jauh tentang apa saja yang dapat dipelajari dari negeri besar ini, atau barangkali hanya sekedar ingin napak tilas sepenggal pengalaman masa kecilnya di negeri besar ini, hanya ada satu cara untuk mencapainya : “belajar dan bekerja keras”.

Apakah ini “investasi” yang menjanjikan keuntungan? Kami belum tahu jawabannya. Tapi kami tahu pasti bahwa kami tidak rugi, meskipun tidak untung-untung amat. Keuntungan yang saya yakini sebagai sebuah kenisbian, tidak absolut dan tak terdefinisikan.

Kalau kemudian kami masih memendam keinginan untuk melanjutkan melengkapi sebuah obsesi dengan mengunjungi wilayah-wilayah lain di daratan Amerika ini, maka itu juga adalah bagian dari “investasi”. Yang jelas, kami telah dan akan melihat Amerika, lebih banyak dari yang pernah dilihat oleh umumnya orang Amerika sendiri.

Dan….., masih banyak lagi yang ingin kami lihat. Mewujudkan sebuah obsesi, melengkapi sebuah “investasi”. Insya Allah.-

New Orleans, 25 Januari 2001
Yusuf Iskandar