Posts Tagged ‘insiden’

Antara Ariel Dan Maria Eva

24 Juni 2010

Pengantar:

Hingar-bingar video sarunya “mirip” Ariel – “mirip” Luna Maya – “mirip” Cut Tari mengingatkan saya (heran, kok ya ingat saja…) kepada “insiden” yang sama sarunya dengan yang melibatkan tokoh “mirip” artis Maria Eva dan “mirip” anggota Dewan yang terhormat empat tahun yll. Sekedar bernostalgia dengan hikmah atau pelajaran apa yang dapat dipetik, berikut ini tayang-ulang dongeng saya empat tahun yll.

*******

Gunung Es-nya Maria Eva

Gunung esnya Maria Eva ini tentu tidak mak nyusss…, seperti gunung es campurnya “Pak San” di Cilacap. Tapi ini kisah tentang sebuah fenomena, yang bisa jadi benar, bisa jadi salah. Bukan hanya penderita HIV/AIDS saja yang bisa membentuk fenomena gunung es, tapi penderita (sebenarnya lebih tepat disebut penyuka, karena memang tidak menderita) selingkuh juga bisa membentuk fenomena gunung es.

Ini hanya sebuah unek-unek tentang semangat yang rada mengada-ada, mungkin su’udzdzon (berprsangka buruk), tapi mungkin juga make sense…..!

***

Hari-hari ini sebagian besar penonon televisi di Indonesia sedang “terjebak’ untuk terpaksa mengambil bagian dalam menggunjing aib orang lain. Sebut saja penggunjing pasif. Pasalnya tidak turut ngomong, melainkan ter-fait-acompli untuk turut mengikuti perkembangan ceritanya. Kemanapun saluran TV di-ceklek-kan, kisah aib orang lainlah yang muncul pathing pecothot….., berhamburan tak terkendali. Puncak tangganya diduduki oleh beredarnya film adegan saru (lebih enak didengar ketimbang mesum) perselingkuhan yang berujung perseteruan, antara Maria Eva versus Yahya Zaini. Keduanya public figure (meskipun sebelumnya saya juga tidak pernah tahu kiprah maupun seluk dan beluknya kedua orang itu). Karena itu, tentu saja tidak bebas dari kepentingan, baik kepentingan diri sendiri maupun (apalagi) orang lain..

Anggap saja aib perselingkuhan itu sebagai sebuah “insiden” (tapi direncanakan), yang kalau dijabarkan menjadi : sebuah insiden perselingkuhan, yang konangan (ketahuan) istri dari pelaku laki-laki, sempat direkam, hasil rekamannya sempat beredar, dan pilem itu jadi pembicaraan orang (karena menyangkut tokoh atau selebriti).

Anggap saja “insiden” Maria Eva ini bak sebuah puncak gunung es, maka lereng, tebing, lembah dan kaki gunung es yang berada di bawah permukaan air itu bisa jadi lebih nggegirisi (mengerikan). Ambil saja perbanyakannya mengikuti deret ukur kelipatan sepuluh, maka rekonstruksi ceritanya bisa menjadi demikian :

Ada sebuah “insiden” Maria Eva.
Ada sepuluh “insiden” yang filmnya tidak menjadi pembicaran orang.
Ada seratus “insiden” yang filmnya tidak sempat beredar.
Ada seribu “insiden” yang tidak sempat direkam.
Ada sepuluh ribu “insiden” yang tidak konangan isri atau keluarganya.

Lalu, bagaimana kalau ternyata kaki gunung es yang berada di bawah permukaan air laut itu membentuk dataran yang mbleber kemana-mana seperti lumpur Lapindo? Perbanyakannya bisa-bisa lebih dari deret ukur kelipatan sepuluh, melainkan eksponensial?

Barangkali ada seratus ribu, sejuta atau lebih banyak lagi, “insiden” yang tidak direncanakan, “just-in-time”, ujug-ujug terjadi begitu saja………, dimana-mana, tak kenal papan lan panggonan (waktu dan tempat), dan pakaian seragam (toh akan dilepas juga).

***

Waktu terus berlalu. Yang sudah terjadi akan tetap terjadi, tidak bisa di-tip-ex atau di-delete. “Maria Eva” lainnya yang kini masih thenguk-thenguk (diam tepekur) di dasar lautan semakin hari semakin gerah. Bukan soal salah siapa. Melainkan kalau ada sepasang pelaku “insiden”, kenapa satu pihak tetap tampak disubyo-subyo (disanjung-sanjung) dan malah menikmati aneka keistimewaan. Sementara pihak lainnya menanggung derita batin, tenggelam dalam nasi yang sudah kadung jadi bubur. Itu tentu karena kepentingan telah berganti antara yang dulu dan sekarang. Kepentingan (interest) memang tidak tak lekang oleh panas, tidak tak lapuk oleh hujan, apalagi gempa atau banjir lumpur. Belum lagi karena karir, prestise, kemapanan dan kenyamanan yang berfluktuasi dari waktu ke waktu.

Mudah-mudahan kaki gunung esnya Maria Eva tidak mencair, yang lalu mbleber ke wartawan infotainment. Pertama, agar waktu dan energi bangsa ini tidak terbuang percuma. Kedua, agar saya tidak perlu menjual TV di rumah yang gambarnya sudah agak rusak akibat digulingkan oleh Gempa Yogya dan kini semakin rusak gambarnya oleh tayangan aib orang lain, plus dengan lugu-nya (maksudnya : lu guoblok…) dimunculkannya cuplikan adegan saru itu. Ya, hanya oknum televisi guoblok saja yang menganggap cuplikan tayangan itu pantas muncul di tengah keluarga.

Jagad….jagad……., yang namanya aib memang tidak ada yang sopan. Sama aib dan tidak sopannya adalah mereka yang suka mengutak-atik aib orang lain, lalu mengumbarkannya kepada tetangganya sebangsa dan setanah air. Seolah berkata : Mari kita melakukan aib rame-rame seperti potong padi di sawah atau berjama’ah seperti jum’atan…..

Yogyakarta, 9 Desember 2006
Yusuf Iskandar
(Tidak punya ponsel yang ada kameranya)

Sisi Lain Dari Insiden Timika

8 Januari 2009

Berikut ini adalah posting dari tulisan lama :

Banyak orang sudah tahu, setidak-tidaknya membaca atau mendengar berita tentang insiden di Timika, Papua. Tepatnya yang terjadi di lingkungan area kerja PT Freeport Indonesia pada hari Sabtu, 31 Agustus 2002 yll. Tiga orang tewas jadi korban penembak gelap. Gelap karena pada saat kejadian terhalang kabut tebal dan gelap karena hingga kini tidak ketahuan siapa mereka, apa motifnya dan lalu kemana perginya setelah menembak.

Bagi saya dan kita semua, kiranya hanya bisa turut merasa prihatin. Insiden memang sudah terjadi. Korban juga sudah terlanjur berjatuhan. Tinggal menyisakan PR (yang seringkali tidak pernah terjawab tuntas) bagi pemerintah dan aparat keamanan.

Melihat tragedi insiden Timika, lalu mencoba melongok ke layar lebih luas, yaitu Indonesia, terasa ada hal kecil yang mengganjal di sisi kemanusiaan kita. Sampai-sampai seorang rekan di Tembagapura menulis : “Bangsa lain, dalam momen paling sedihpun masih memikirkan kepentingan bersama. Bangsa kita, any moment, tilep uang rakyat !”. Apa pasalnya sehingga rekan saya ini demikian geram?

Rupanya rekan saya itu membaca berita di media. Isinya : Lembaga Swadaya Masyarakat di Sulawesi Utara meminta Presiden Megawati Soekarnoputri untuk tidak mengizinkan pimpinan dan seluruh anggota DPRD Sulut tour keliling Eropa dengan menggunakan dana APBD 2002. “Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi, tanpa mau melihat kehidupan rakyat Sulut sedang terhimpit kemiskinan dan kemelaratan akibat krisis ekonomi”, demikian kata Ketua Forum Advokasi Pemantau Parlemen (Foraper) Minahasa, Sulut. Sungguh ini ide dan rencana yang luar biasa. Dana APBD yang akan digunakan untuk tour ke Eropa tentu tidak sedikit jumlahnya.

Pada saat yang bersamaan, kita dengar tragedi gelombang pengungsi TKI di Nunukan, Kaltim. Betapa banyak dari mereka, orang dewasa maupun anak-anak, yang akhirnya meninggal akibat berbagai masalah kesehatan yang tak tertangani dengan baik. Betapa pemerintah (baca : saudara-saudara kita yang kebetulan sedang berkuasa) terkesan begitu lamban dan kurang cekatan menghadapi masalah kemanusiaan yang memerlukan penanganan cepat semacam ini.

Sementara di Tembagapura, beberapa hari setelah insiden Timika, ada pengumuman kepada masyarakat. Isinya : bagi masyarakat yang bersimpati kepada dua orang korban asal Amerika dan ingin menyampaikan sumbangan uang duka, maka diminta agar uang tersebut disampaikan kepada lembaga sosial di Amerika yang telah ditunjuk oleh masing-masing ahli waris, lengkap beserta alamatnya. Dalam kedukaan yang mendalam akibat tragedi penembakan, mereka masih ingin menyisihkan sebagian hatinya untuk sesamanya.

Lalu, dimana sebagian hati kita saat bencana kemanusiaan sedang melanda saudara-saudara kita lainnya, di belahan Indonesia lainnya? Mudah-mudahan rangkaian fragmen lelakon ini menjadi cermin kecil yang layak untuk dilongak-longok, apakah tampak di wajah kita bahwa kita masih punya sedikit hati untuk perduli kepada sesama.

Tembagapura, 6 September 2002
Yusuf Iskandar