Posts Tagged ‘Indonesia’

Penonton ‘Gila’

10 Juli 2010

Salah satu momen yang saya sukai di partai Jerman vs Spanyol adalah ketika ada penonton mau ikut main dan masuk ke lapangan di awal babak I. Insiden itu cepat dapat ditangani tanpa keributan dan tanpa mengganggu permainan bolanya sndiri.

Rupanya penonton ‘gila’ bukan monopoli Indonesia. Tapi kalau yang memainkan adegan “mirip” pemain bola ‘gila’, jelas Indonesia lebih kaya dan malah dipelihara…

Yogyakarta, 8 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Mendadak Jadi Pranatacara

16 Oktober 2008

Pranatacara atau terkadang juga disebut pranata adicara adalah kosa kata dalam bahasa Jawa yang berarti pembawa acara atau MC. Mendadak jadi MC….. Siapa takut? Bagi sebagian dari kita, kiranya bukan menjadi sesuatu yang luar biasa kalau suatu saat mendadak ditunjuk menjadi pembawa acara atau MC.

Sepanjang bisa berhalo-halo, ditambah sedikit wawasan, improvisasi plus bumbu cengengesan, kiranya sudah bisa menjadi MC. Begitulah biasanya yang kita alami. Mendadak ditunjuk jadi MC pada pertemuan kampung atau kantor, arisan, pengajian, syukuran, reuni, rapat, sunatan, halal-bihalal, pentas seni, perlombaan sampai kampanye bin coblosan pemilu. Enteng saja sebagian dari kita menjalankannya, termasuk pengalaman saya sepanjang hayat dikandung badan ini.

Namun ceritanya menjadi lain, ketika suatu kali seorang teman menilpun saya dan meminta saya menjadi MC pada acara lamaran anak perempuannya. Kenapa jadi beda? Karena MC yang dimaksud adalah pranatacara alias pranata adicara.

Dimana bedanya? Pertama, ini adalah acara yang bagi sebagian kalangan dipandang mengandung ada bau-bau sakral. Kata lainnya, ada ketentuan tidak tertulis yang menengarai bahwa acara semacam ini harus berjalan mulus, khidmat dan jangan sampai ada kesalahan.

Kedua, di kalangan masyarakat Jawa acara semacam ini biasanya berlangsung dalam format suasana nJawani. Komunikasi dilangsungkan dalam bahasa Jawa halus, termasuk sambutan-sambutan, dsb. (kecuali bacaan kalam Ilahi…. ). Ini yang susah…. Bukan kalam Ilahinya, tapi justru ngomong Jawanya. Aneh rasanya, dan heran juga saya. Lha seprana-seprene bergaul dengan orang Jawa, sejak mbrojol ke dunia pun sudah nangis dan ngomong cara Jawa, disuruh jadi pranatacara kok sambat…. mengeluh susah.

Tapi ya begitulah. Akhirnya terpaksa syarat saya ajukan, ketika menjawab permintaan teman tadi. Saya bersedia jadi MC acara lamaran, asal menggunakan bahasa Indonesia. Kedengaran rada nasionalis sepertinya, tapi sebenarnya ya karena kesulitan ngomong bahasa Jawa halus alias kromo hinggil itu tadi.

Eh, lha kok teman saya setuju. Ya terpaksa secepat kilat kasak-kusuk cari referensi untuk bekal, minimal guna meminimalisir kalaupun nanti terjadi kesalahan. Alasannya ya seperti saya ceitakan di depan. Untuk acara-acara yang bersifat umum barangkali, sak-dek sak-nyet (seketika) saya siap. Tapi kalau acara lamaran dalam format Jawa, apalagi pernikahan, saya belum punya “fly watch”.   

***

Tiba saatnya membawakan acara. Sang MC yang mendadak jadi pranatacara pun mengantarkan acara demi acara di depan tetamu undangan dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Sementara para wakil keluarga yang menyampaikan sambutan pengantar, lamaran, penerimaan, dst. menggunakan bahasa Jawa kromo hinggil….. Sudah begitu, malah para wakil keluarga itu sebelum menyampaikan sambutannya pakai minta ijin segala kalau hendak bicara dalam bahasa Jawa. Entah ini bagian dari sopan-santun atau sindiran kepada pranatacara yang keukeuh berbahasa Indonesia.

Akhirnya, acara pun dapat berlangsung dengan aman dan terkendali, meskipun keringat sempat bercucuran membasahi baju batik baru (maklum, habis lebaran) yang saya kenakan tanpa rangkapan kaus singlet (karena memang tidak biasa dan tidak punya, kalau yang ini memang rodo ndeso…). 

Tapi tuan rumah dan para pihak yang terkait sempat sangat berterima kasih sama sang pranatacara. Pasalnya di akhir acara, sang pranatacara bahasa Indonesia ini, memberi bonus doa. Dalam draft susunan acara yang disodorkan si empunya hajat, tidak tertulis mata acara doa, akibatnya petugas pendoa pun tidak disiapkan. Tapi saya berinisiatif memimpin doa (sok alim ya biarin, wong berdoa itu baik, pikir saya…..). Lalu saya bacakan doa berbahasa Arab. Saya jamin ini bukan doa yang mengancam, meski saya yakin hanya sebagian kecil saja dari yang hadir tahu maksud dari doa yang saya lafalkan. Yang pasti ujungnya berbunyi : “Amiiin” (vokal i-nya agak panjang…..).

Asyik juga mendadak jadi MC, eh… pranatacara acara lamaran dalam format Jawa. Belakangan terpikir, barangkali ada baiknya juga kalau sempat belajar tentang pranatacara yang full bahasa Jawa kromo hinggil…… Tapi syusyah je…..

Kendal, 15 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

Amazing America

7 Februari 2008

We would like to say that it’s really a great opportunity for us to be New Orleanian, where we became a part of a heterogeneous culture within a big country, United States of America. Fortunately, we also had a lot of opportunities to visit, to see and to learn the other sides of this big country in any aspects of life.

And ….., it’s really amazing …..!

Amazing, for us who came from a small village in a developing community in an archipelago, far away at the equator. Amazing, that finally we made it : visit and see 48 states in the US contiguous, more than what have ever been seen by mostly American. Same amazing as 210 million people who live in 13,000 islands with hundreds of ethnic and cultures, hundreds of local languages and dialects, Indonesia.

(New Orleans, January 2001)