Posts Tagged ‘ikan’

”Seafood of Love” Untuk Satenya Bu Entin

13 Mei 2008

Labuan hanyalah kota kecamatan di kawasan pantai barat Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari pantai Carita yang belakangan lebih terkenal itu. Namun kalau kebetulan pergi berlibur ke pantai Carita, sebaiknya jangan lewatkan untuk mampir ke Labuan, lalu carilah Rumah Makan Bu Entin di Jalan Raya Labuan Encle. Kalau kesulitan, tanya saja sama orang lewat di sana pasti tahu tempatnya.

Apa yang menarik dengan rumah makan Bu Entin? Wow…, jangan kaget di sana ada sate raksasa…… Ini bukan menu satenya Buto Ijo, melainkan ya disediakan bagi pemangsa daging sejenis manusia yang kelaparan. Hanya manusia yang kelaparan yang sanggup menghabiskan beberapa tusuk satenya Bu Entin.

Coba simak deskripsi berikut ini : Satu tusuk sate hati sapi terdiri dari lima potong yang kalau di tempat lain barangkali satu potongnya ini sudah ekuivalen dengan setusuk sate. Satu tusuk sate cumi-cumi terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sebesar batu baterei D-size gemuk sedikit. Satu tusuk sate udang terdiri dari lima ekor masing-masing berukuran sekorek api besar sedikit dan ada juga yang lebih besar. Satu tusuk sate ikan (entah ikan apa) terdiri hanya seekor ikan laut kira-kira selebar peci hitam untuk sholat (tidak usah repot-repot sholat dulu untuk membayangkan, pokoknya cukup buesar….).

Belum lagi otak-otak yang bungkus daun pisangnya gosong di sana-sini dan masih panas, dipadu dengan dua macam sambal berwarna merah dan coklat muda. Masih ada urap, lalap leuncak, mentimun dan tauge kecil mentah, dsb.

Dari tampilannya saja (sumprit…, saya berkata sejujurnya) ludah saya sudah tertelan beberapa gelombang. Sampai bingung saya harus memulai dari mana untuk memakannya, padahal nasi sudah dituang ke piring dari beboko (ceting) yang disediakan. Akhirnya yang saya ambil duluan malah tauge mentah saya campur dengan sambal cabe merah.

Sebungkus otak-otak saya buka kemudian dan saya dulitkan (cocolkan) ke sambal yang berwarna coklat muda. Komentar saya spontan pendek saja… “Hmm…., enak…, enak sekali….”. Pilihan hasil assessment saya memang hanya dua, enak dan hoenak sekale…..

Sejurus kemudian baru setusuk cumi, setusuk udang dan beberapa potong hati sapi yang saya dudut (lolos) dari tusuknya. Itupun sudah hampir menenggelamkan nasi di piring saya, yang kemudian malah belakangan baru saya makan nasinya.

Oedan tenan……., sungguh sebuah petualangan makan-makan yang ruarrr biasa…..  Setiap gigitan dan kunyahan cumi-cumi dan udangnya terasa benar sensasi seafood bakarnya. Juga potongan hati sapinya mak kress…. di gigi ketika memotong tekstur bongkahan sate hati sapi yang dibakar hingga tingkat kematangan well done (sebaiknya jangan setengah matang).

Hampir sejam kemudian, perut sudah terasa kenyang nian…… nafsu serakah seperti sulit dikendalikan, tapi apa daya kapasitas tembolok manusia memang ada batasnya.

***

Entah dimana Bu Entin pernah belajar bisnis, namun sejak awal membuka usaha (yang kata pegawainya sejak tahun 1996), Bu Entin sudah menerapkan jurus deferensiasi. Bu Entin berani tampil beda dengan ide sate hati sapi raksasa dan sate seafood yang juga berukuran tidak biasa. Ditambah dengan adonan sambalnya yang mirasa, membuat faktor pembeda itu semakin mantap pada posisinya dan bertahan hingga kini. Akhirnya terbentuklah brand image Bu Entin yang seakan menjadi jaminan kepuasan pelanggannya.

Bu Entin memang luar biasa, masakannya maksudnya……. Meski yang menyajikan masakannya sebenarnya juga bukan Bu Entin sendiri melainkan para pegawainya. Tapi nama kondangnya sudah cukup untuk memanipulasi seperti apapun kualitas kemahiran memasak pegawainya. Siapapun pengunjung yang datang untuk menikmati sate raksasa dan sate seafood Bu Entin, maka yang terbayang adalah buah karya tangan Bu Entin.

Layaknya sebuah kesuksesan, maka kemudian berduyun-duyun para pengikut meniru jejak Bu Entin membuka usaha rumah makan sejenis di seputaran kawasan Labuan. Namun tetap saja Rumah Makan Bu Entin yang paling banyak diminati sehingga bukannya pengunjungnya berkurang, malahan semakin dikenal.

Kendati tampilan warungnya terkesan sangat sederhana, namun sajian cita rasa yang ditawarkan sungguh tidak sesederhana tampilannya, melainkan membuat kangen banyak pelanggan setianya terlebih bagi pengunjung fanatik yang sudah telanjur cocok dengan masakan Bu Entin.

Seorang pengunjungnya yang datang dari mancanegara saking terkesannya dengan masakan sate seafood Bu Entin, sampai menyempatkan untuk menuliskan sebuah puisi berjudul “Seafood of Love”, yang kini dipajang di dinding Rumah Makan Bu Entin.

Begini bunyi penggalan bait terakhirnya :

My seafood of love, my dining pleasure
Finger lickin’ food, so fresh and tasty
Breezing through my mind
You leave me breathless and wanting for more….

Tiada kata-kata yang lebih indah dapat saya ucapkan setelah berucap hatur nuhun kepada pelayannya, melainkan puji Tuhan wal-hamdulillah …… Kalau ada umur panjang, bolehlah saya kepingin mampir lagi.

Yogyakarta, 12 Mei 2008
Yusuf Iskandar 

Iklan

Makan Malam, Akhirnya Datang Juga…

7 April 2008

Mencari makan malam di Tanjung Redeb sebenarnya mudah. Kalau mau yang lebih merakyat dan murah meriah, datanglah ke kawasan Tepian sungai Segah. Di sana banyak pilihan menu di warung-warung tenda yang berjajar di sepanjang jalan yang menuju ke Tepian dari arah selatan. Atau kalau mau yang agak eksklusif, ada beberapa resto yang dapat dipilih. Meskipun untuk jenis yang terakhir ini plihan belum sebanyak di kota-kota lain.

Salah satu yang menjadi tujuan makan malam kami waktu itu adalah New Family Cafe. Ini adalah nama tempat makan yang menyebut dirinya dengan embel-embel Resto dan Tempat Pemancingan Umum. Lokasinya berada di Jalan Pulau Sambit, Gg. Aren, kira-kira di pertengahan dari arah Tanjung Redeb menuju Teluk Bayur, lalu masuk gang kecil ke kiri kira-kira 25 meter. Lokasinya memang tidak terlalu jelas terlihat dari jalan raya, tapi ada papan nama di pinggir jalan.

Memperhatikan lokasinya, resto ini menempati lahan yang sebenarnya tidak terlalu luas untuk model resto kebun atau terbuka, tapi cukup rimbun dengan pepohonan. Deretan meja-kursi berada di bangunan utama dan di sekeliling kolam ikan. Resto yang dibangun dengan konstruksi kayu ini juga menawarkan kegiatan rekreatif berupa pemancingan dengan disediakannya kolam ikan di bagian tengah, meski tidak terlalu besar ukurannya. Tentunya kegiatan pemancingan hanya kalau siang hari saja. Juga tersedia musik hidup (live), bukan sekedar organ tunggal. Suasananya cukup santai.

Menu ikan-ikanan (maksudnya berbahan dasar ikan) adalah menu unggulannya. Banyak pilihan ikan, terutama ikan laut. Juga banyak pilihan cara memasaknya, dibakar atau digoreng dengan aneka bumbunya. Cah kangkung, jamur, sambal tomat adalah asesori yang menjadi pasangan beraneka menu ikan.

***

Begitu mengambil tempat yang agak mojok, kami segera didatangi oleh seorang pelayan yang siap mencatat order makanan. Karena belum paham karakteristik dari setiap menu dan penyajiannya, maka sudah menjadi kebiasaan saya untuk tanya-tanya dulu kepada mbak pelayan. Antara lain, tentang menu unggulan yang ditawarkan, seperti apa memasaknya, seberapa besar ukurannya, cukup untuk berapa orang, dsb.

Maksudnya agar jangan sampai kurang, tapi jangan juga tersisa berlebihan. Ini karena kami memilih pesan makanan secara rombongan, bukan sendiri-sendiri. Kalau saja sedang di kota sendiri bersama keluarga, sisa makanan (maksudnya makanan yang tidak habis dimakan di resto) bisa dibungkus untuk dibawa pulang. Lha, kalau sedang di kota lain, mau diapakan?

Tapi sayang, agaknya si mbak pelayan kurang terampil dan kurang responsif dalam memahami model pelanggan seperti saya. Ketika ditanya seekor ikan patin goreng dan ikan putih bakar masing-masing cukup untuk berapa orang? Dijawabnya cukup untuk 2-3 orang. Maka yang terlintas di benak saya adalah seekor ikan yang sama ukuran dan penyajiannya dengan kalau kita pesan ikan di resto ikan-ikanan di tempat lain.

Setelah menunggu agak lama (ini yang agak membuat kesal, apalagi sedang lapar-laparnya, sementara resto malam itu sedang tidak terlalu ramai pengunjung), akhirnya datang juga….. Seperti acara televisi dimana seorang pemainnya belum tahu terhadap plot yang akan dimainkan. Dan pemain itu adalah saya dan rombongan.

Nasi sudah dibagikan secara adil dan merata di dalam piring masing-masing pemain, bukan di dalam cething atau tempat nasi. Lha ikannya? Dua ekor ikan berukuran sedang masing-masing sudah berada di piringnya dan sudah dipotong-potong. Kalau dihitung potongannya, memang setiap orang akan kebagian satu atau dua potong ikan. Tapi tentu bukan seperti itu maksud dari pertanyaan saya semula. Melihat gelagatnya bahwa sajian ikan tentu tidak memenuhi yang dibutuhkan, maka pelayan dipanggil dan segera pesan lagi dua porsi tambahan, ikan yang sama.     

Sambil menunggu rombongan ikan kloter kedua mendarat, acara makan malam segera dimulai. Para pemain segera meraih ikan sepotong demi sepotong dari piringnya. Karena pesanan enggak datang-datang, lama-lama nasi di piring masing-masing pemain habis sendiri (maksudnya terpaksa dihabiskan meski hanya dengan cah kangkung, tempe goreng dan dengan jumlah ikan yang terbatas, daripada bengong menunggu pesanan tidak datang-datang…..).

Akhirnya datang juga……, dua piring ikan kloter tambahan segera mendarat di atas meja makan. Tapi nasinya sudah telanjur habis. Terpaksa pesan beberapa piring nasi putih tambahan, dengan maksud untuk teman menghabiskan dua piring ikan susulan tadi. Ee…., judulnya kini ganti, nasi nan tak kunjung tiba……

Sambil menunggu ransum tambahan nasi putih, dua piring ikan pun di-thithili (dimakan sedikit-sedikit) rame-rame seperti potong padi di sawah. Lama-lama ya habis juga itu ikan, tepatnya tinggal sedikit, itu pun bagian ekor dan endhas (kepala). Dan, judulnya masih tetap nasi nan tak kunjung tiba…..

Setelah disusuli oleh seorang rekan ke dapur (jadi tahu seperti apa dapurnya), akhirnya datang juga….. , dan nasi putih kemudian tersaji di atas meja. Terpaksa lagi, nasi putih pun di-thithili dengan sisa potongan ikan yang masih ada, daripada mubazir wong sudah dipesan. Jadi, perlu pesan ikan lagi? Lalu nasi putih lagi?

Maka, acara “akhirnya datang juga” terpaksa distop, sebelum “guyonan” pelayan resto semakin menjadi-jadi…….

***

Perihal menu ikan dan ramuan bumbunya, sejujurnya harus diacungi jempol. Rasanya cocok, hoenak dan pas di indra pencecap. Cah kangkungnya juga lezat, meski agak kematangan memasaknya, tapi tetap memberikan taste yang delicious, kata orang sono. Apalagi sambal tomatnya, wuih…. beberapa kali saya cecap-cecap untuk menyelidiki bagaimana membuatnya. Ya, enggak bisa juga wong bukan ahlinya. Pendeknya, dari sisi cita rasa resto ini layak diunggulkan untuk dicoba dan dinikmati rasanya.

Hanya saja, mesti “hati-hati” sebelum menjatuhkan pilihan pesanan makanan. Jangan sampai diajak “guyonan” sama pelayannya. Sebab betapapun enaknya rasa masakannya, menjadi tidak bisa dinikmati kalau mesti menunggu kelewat lama. Perut yang semula lapar keburu kenyang dengan sendirinya, lalu lapar lagi, lalu kenyang lagi.

Cita rasanya memang pantas untuk dibayar mahal, tapi “guyonan” ala acara televisi “akhirnya datang juga”….., ngngngng….. caaapek, deh! (nunggunya). Mudah-mudahan pengalaman malam itu adalah satu-satunya kejadian di New Family Cafe, agar saya tetap bisa merekomendasikan untuk mencoba berpetualang dengan menu lezatnya New Family Cafe.

Madurejo, 19 Januari 2008
Yusuf Iskandar