Posts Tagged ‘ikan air tawar’

Menu Ikan “Boyong Kalegan”

16 April 2008

Makan lagi, makan lagi dan makan lagi. Bagi orang Yogya dan sekitarnya, barangkali nama “Boyong Kalegan” sudah cukup dikenal. Ini terkait dengan nama rumah makan yang menyediakan menu ikan air tawar, seperti gurami, nila atau bawal, dibakar atau digoreng.

Bagi yang belum kenal, rumah makan “Boyong Kalegan” adalah generasi penerus (maksudnya, mengikuti dan meneruskan) kesuksesan rumah makan “Moro Lejar” yang sudah lebih dahulu populer. Sejak “Moro Lejar” ngetop, bermunculanlah rumah-rumah makan sejenis ini di seputaran Yogya. Sejenis dalam hal menu yang disajikan, sejenis dalam hal pilihan lokasinya, dan sejenis dalam hal penataan ruangnya. Karena itu, “Boyong Kalegan” sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tempat-tempat makan lainnya yang juga menawarkan menu ikan air tawar.

Soal penyajian biasa-biasa saja. Soal rasa, lidah saya menilainya “cukup enak” saja, masih di bawah kategori “uenak tenan”. Meskipun begitu toh apa yang saya pesan, lalu disajikan, ternyata habis juga saya lahap bersama istri dan anak-anak. Ya dasarnya memang suka makan, dan siang itu sedang terlambat makan siang.

Namun, “Boyong Kalegan” mempunyai keunggulan yang jarang dijumpai di rumah makan sejenis lainnya di Yogya. Pertama, lokasinya strategis dan pencapaiannya mudah. Dari Yogya, ikuti saja jalan Kaliurang dan terus naik sampai menjelang masuk daerah Pakem. Lalu belok kiri atau ke barat di pertigaan jalan alternatif menuju Turi dan jalan raya menuju Magelang. Ikuti terus jalan alternatif yang naik-turun dan belak-belok ini hingga sampai pada jembatan sungai Boyong, dimana di sisi kiri dan kanan sebelum jembatan ada terlihat pondok-pondok rumah makan. Nah, “Boyong Kalegan” ada di sisi yang kanan.

Demikian juga jika masuk dari arah jalan raya Yogya – Magelang, maka belok ke kanan atau timur ketika ketemu dengan pertigaan Tempel yang menuju ke jalan alternatif menuju Kaliurang dan Prambanan. Ada rambu jalan yang cukup mudah diikuti. Letaknya pun berada agak di bawah badan jalan alternatif, sehingga pondok-pondok makannya nampak jelas terlihat dari jalan.

Keunggulan kedua, memiliki pemandaan alam yang cukup bagus dan angin yang semilir karena lokasinya berada agak di lembah, di sisi sungai, selain topografinya memang lebih tinggi dari kota Yogya.

Keunggulan ketiga, di tengah kawasan pondok makan ini dibuat kolam ikan yang di sana disediakan gethek (rakit bambu). Kolamnya memang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk anak-anak berakit-rakit (tanpa berenang-renang). Dengan naik rakit itu, anak-anak bisa ikut memberi makan para ikan yang ada di kolam. Orang tuanya kalau mau ikutan naik rakit juga boleh.

Untuk ukuran Yogya, tempat ini cukup enak dikunjungi. Meskipun sebenarnya biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan pondok-pondok makan sejenis yang banyak bertebaran di daerah Jawa Barat. Intinya adalah, jika kita berkunjung ke “Boyong Kalegan” lalu harus membayar agak mahal, maka harus dipahami bahwa sebenarnya kita memang sedang membeli nilai tambah dari keunggulan-keunggulan yang ditawarkan. Selebihnya, tidak lebih dari sekedar membeli makan sambil relaks beristirahat.

Sejenak beristirahat ketika sedang berada di sisi utara kota Yogya, sambil makan siang dan berekreasi bersama keluarga………… Monggo, “Boyong Kalegan” bisa menjadi salah satu pilihan.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 25 Juli 2004

Iklan

Membeli Selera Makan Di Moro Lejar

7 April 2008

Nama Moro Lejar rasanya sudah tidak asing di telinga orang Yogya atau mereka yang sering bepergian ke Yogya. Meskipun mungkin belum berkesempatan mengunjunginya, tapi umumnya kenal dengan nama ini. Ini adalah nama sebuah restoran yang berada di luar kota di sisi utara Yogyakarta. Restoran ini dikenal karena lokasinya yang bernuansa alami dan sajian menunya yang khas.

Lokasinya relatif berada di daerah pegunungan, meskipun sebenarnya masih jauh di kaki timur gunung Merapi. Namun setidak-tidaknya pemandangan alam di sekitarnya memberi nuansa alam pegunungan. Cara termudah untuk mencapainya adalah melalui jalan Kaliurang menuju utara ke arah Pakem. Menjelang tiba di pusat kota (kalau boleh disebut kota) Pakem, ada persimpangan jalan yang membelok ke kanan menuju ke timur yang merupakan jalan alternatif menuju kota Solo. Sekitar 3-4 km menyusuri jalan ini maka akan ketemu dengan restoran Moro Lejar.

Kalau misalnya dari Pakem salah jalan dan lalu mengambil persimpangan yang membelok ke kiri yang merupakan jalan alternatif menuju Magelang, maka di sana juga ada dua restoran sejenis. Tapi entah kenapa Moro Lejar lebih punya nama. Mungkin karena restoran ini yang pertama kali berdiri dan sukses, sehingga ditiru orang.

***

Sajian menu khas yang disediakan antara lain menu ikan air tawar, sayur asam, lalapan lengkap dengan sambal terasi, serta aneka minuman. Ada pilihan ikan segar gurami, emas, nila atau bawal, lalu tinggal minta mau digoreng atau dibakar, dibumbui asam pedas atau asam manis, dengan ukuran sajian kecil hingga super besar.

Salah satu jenis minuman yang khas adalah bir “plethok”, bir yang tidak mengandung alkohol. Minuman ini sebenarnya adalah sejenis minuman penghangat seperti halnya wedang jahe, sekoteng atau bajigur. Bir “plethok” terbuat dari sari jahe, gula, bijih bunga selasih dan sejenis akar-akaran yang membuatnya berwarna merah (saya lupa namanya dan beberapa pelayannya ternyata tidak mampu menyebut nama akar-akaran ini ketika saya tanya).

Setiap hari restoran ini buka hingga jam 21:00 malam sehingga cukup leluasa bagi mereka yang datang dari luar kota. Jumlah pengunjungnya pun tergolong luar biasa banyaknya, apalagi kalau musim liburan. Di sana terdapat puluhan gubug (saung) yang berdiri di atas kolam-kolam ikan air tawar yang sengaja dibuat di lereng permukaan tanah yang konturnya berteras-teras. Umumnya pengunjung makan sambil duduk lesehan seperti gudeg Malioboro, meskipun tersedia juga sarana meja-kursi.

Harganya relatif tidak terlalu mahal. Sekedar gambaran, kami sekeluarga berempat pada hari Jum’at, 17 Agustus 2001, yll. (kami tidak ikut upacara bendera), hanya menghabiskan sekitar Rp 70.000,- sudah pada “kemlakaren” (perut terasa penuh terisi seperti tidak ada lagi ruang yang tersisa).

Kalau melihat banyaknya pengunjung hampir setiap hari, tentu akan ada pertanyaan : Apakah memang masakannya enak? Kalau saya rasa-rasakan sebenarnya kok ya biasa-biasa saja. Menu dan rasanya tidak jauh berbeda dengan menu sejenis di restoran atau warung makan lainnya. Tapi kenapa Moro Lejar banyak dikunjungi orang?

***

Moro Lejar secara fisik berani tampil beda sebagai sebuah restoran. Suasana makan lesehan di gubug yang berdiri di atas kolam-kolam ikan air tawar, di kaki kawasan pegunungan yang tentunya berhawa menyegarkan, dengan menu ikan segar, ternyata dapat membangkitkan selera makan. Apalagi kalau memang sedang lapar. Dan, itulah yang ditawarkan oleh Moro Lejar.

Moro Lejar berhasil memberi nilai tambah atas menu makanan khas yang sebenarnya biasa-biasa saja, menjadi pilihan makanan yang banyak diminati dan dibeli pengunjung atau calon pengunjungnya.

Oleh karena itu, kalau kelak saya akan kembali ke sana, itu karena saya akan datang dengan kesadaran bukan untuk membelanjakan uang guna membeli makanan yang masakannya luar biasa, melainkan saya akan membeli selera makan yang akan disajikan oleh Moro Lejar dengan sangat baik dan memuaskan.

Jadi, saya memang siap dan rela untuk membeli nilai tambah guna melampiaskan keinginan untuk dapat menikmati makan di Moro Lejar.

New Orleans, 20 Agustus 2001
Yusuf Iskandar