Posts Tagged ‘ibu’

Dari New Orleans Ke Kendal

5 Februari 2008

Pengantar :

Berikut ini catatan perjalanan saya ketika mendadak harus pulang kampung saat ibu saya meninggal dunia dan saya tidak sempat menangi untuk mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Semoga ada hikmah yang bisa diambil di balik pengalaman perjalanan panjang lebih 40 jam dari New Orleans menuju Kendal yang sangat melelahkan. Terutama bagi rekan-rekan yang garis nasibnya telah membawanya untuk bekerja di tempat yang jauh dari sanak famili.-

(1).     Jika Mendadak Harus Pulang Kampung
(2).     Jika Kabar Duka Datang Tiba-tiba
(3).     Jika Waktu Dzuhur Begitu Panjang
(4).     Jika Ingin Menilpun Dari Pesawat
(5).     Jika Harus Menilpun Tapi Entah Kepada Siapa
(6).     Jika Harus Mencari Penerbangan Tercepat Dari Tokyo
(7).     Jika Ingin Tilpun dari Tilpun Umum Di Bandara Narita
(8).     Jika Memilih Untuk Tidur Di Ruang Tunggu Bandara Changi
(9).     Jika Pilihan Saya Ternyata Salah
(10).   Jika Harus Kembali Memainkan Lakon Emergency
(11).   Jika Check-In Di Cengkareng Pada Saat-saat Terakhir
(12).   Jika Harus Ada Yang Disesali

Iklan

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(1).   Jika Mendadak Harus Pulang Kampung

Hari itu, Jum’at, 11 Pebruari 2000. saya harus memutuskan untuk segera pulang kampung karena ibu saya dalam kondisi kritis dan sudah masuk ICU di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Sejak tiga hari sebelumnya ketika pertama kali menerima kabar dari kampung bahwa ibu saya masuk Rumah Sakit, saya memang sudah mulai berhitung untuk pulang ke tanah air. Tapi kapan ?

Ternyata memilih hari adalah keputusan yang tidak mudah. Barangkali karena saya punya pengalaman yang tidak menguntungkan, yaitu saat menanti kelahiran anak pertama saya. Tahun 1991, saat saya masih bertugas di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman Bengkulu Utara, dimana komunikasi ke luar job-site masih jadi kendala. Saya berangkat cuti sekitar dua hari sebelum hari H yang diperkirakan dokter anak saya akan lahir.

Harap-harap cemas menyertai hari-hari cuti saya di Yogya. Lewat satu minggu cuti belum ada tanda-tanda bayi akan lahir. Hingga hari kesepuluh, masih juga belum. Hari ke-11, 12, 13, terlewati masih juga belum ada tanda-tanda istri akan melahirkan. Dalam hati saya sempat ngedumel : “doktere ngapusi” (dokternya bohong). Apa boleh buat, jatah cuti dua minggu habis, maka terpaksa pulang ke job-site tinggal membawa rasa cemas saja, rasa harapnya sudah saya titipkan istri saya di Yogya. Sebenarnya bisa saja memperpanjang cuti, tapi masalahnya harus jelas sampai kapan memperpanjangnya. Dan ini yang susah.

Hari kedua setiba di job-site, saya terima tilgram bahwa istri saya sudah melahirkan dengan selamat. Akhirnya, ya cuti lagi, tapi tidak menangi (sempat melihat atau mengalami) detik-detik kemerdekaan jabang bayi anak pertama saya. Pengalaman inilah yang membuat saya sulit untuk memutuskan kapan harus pulang menjenguk ibu yang sedang ada di Rumah Sakit. Meskipun akhirnya, hari Jum’at itu saya putuskan untuk secepatnya harus pulang.

Kemudian ternyata tidak mudah untuk memperoleh tiket penerbangan dari New Orleans menuju Semarang, sebelum nantinya saya sambung dengan taksi ke Kendal. Kesulitan memperoleh tiket ini disebabkan oleh dua alasan : mendadak dan di akhir pekan. Saya dan keluarga sempat bimbang, antara saya pulang sendirian atau bersama semua keluarga. Keputusan akhirnya, saya pulang sendirian. Bukan soal biayanya, melainkan karena pertimbangan cuti pamit dari kantor yang hanya dua minggu padahal perjalanan cukup jauh, juga lantaran anak-anak sedang enjoy dengan sekolahnya.

Anak saya yang kelas 3 SD kelihatan gelo (menyesal) untuk meninggalkan sekolah sewaktu mau saya ajak pulang ke kampung. Selain itu juga lebih sulit mendapatkan tiket untuk empat orang dalam keadaan mendadak. Dengan akhirnya saya berangkat sendirian, ternyata nantinya ini akan memudahkan perjalanan saya untuk ber-manouver lebih bebas guna mencari alternatif penerbangan yang lebih cepat dalam situasi emergency seperti ini.

Agaknya, di Amerika sarana transportasi udara sudah menjadi kebutuhan, layaknya kereta api atau bis malam di Jawa. Bukan lagi kemewahan untuk mendapatkan privilege. Jika harus membeli tiket pesawat mendadak, maka selain sulit untuk membuat pilihan-pilihan, juga mesti siap dengan harga tiket yang lebih tinggi.

Dalam situasi tidak mendadak, peluang untuk memperoleh harga tiket murah sangat dimungkinkan, bahkan bisa kurang dari seperempatnya. Demikian halnya di saat akhir pekan (biasanya hari Jum’at hingga Minggu) adalah saat padat penumpang yang akan liburan ke luar kota atau pulang ke daerah asalnya bagi para pekerja pendatang dari lain kota.

Untungnya soal harga tiket ini sudah tidak menjadi perhitungan saya, karena perjalanan saya dibiayai oleh kantor. Meskipun demikian toh saya tidak berhasil memperoleh tiket untuk hari Sabtu besoknya.

Berkat bantuan sekretaris kantor yang berbaik hati menguruskan tiket (meskipun saat itu dia sedang berakhir pekan), saya bisa berangkat hari Minggunya. Pemesanan tiket melalui layanan 24 jam tiket elektronik (e-ticket) melalui media internet, memudahkan saya untuk hari Minggunya tinggal datang saja langsung ke bandara. Dengan menunjukkan kartu identitas, maka tiket kertas (paper ticket) bisa dikeluarkan.

Rutenya adalah hari Minggu pagi berangkat dari New Orleans ke Dallas-Ft.Worth, langsung sambung ke Tokyo dan akan tiba di Tokyo hari Senin sore. Menginap semalam di Tokyo, untuk Selasa besoknya menuju Jakarta, dan dijadwalkan tiba di Jakarta sudah menjelang malam. Saat itu saya tidak terlalu memusingkan tentang rencana perjalanan tersebut. Bisa berangkat hari Minggu saja sudah senang rasanya.

Itu sebabnya, kemudian saya belakangan khawatir apa kira-kira masih bias nyambung ke Semarang malam itu juga untuk selanjutnya menuju ke Kendal. Jika tidak, artinya saya baru akan tiba di rumah hari Rabunya. Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi juragan milisi Upnvy*), siapa tahu beliau bisa membantu memberi info, karena saat itu saya sudah telanjur unsubscribe.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

__________

*) milisi Upnvy : sebutan untuk mailing list alumni UPN “Veteran” Yogyakarta, serta para simpatisan.

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(2).   Jika Kabar Duka Datang Tiba-tiba

Minggu pagi, 13 Pebruari 2000, jam 05:30, sekitar setengah jam sebelum saya berangkat menuju bandara New Orleans, tiba-tiba datang kabar duka dari Kendal bahwa ibu saya telah meninggal dunia sekitar satu  jam yang lalu, yang berarti Minggu sore di Kendal. Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un.

Ternyata Tuhan telah merencanakan berbeda dari yang saya rencanakan. Sudah pasti saya tidak akan menangi almarhum ibu saya. Lha wong baru akan tiba di rumah hari Selasa malam atau mungkin malah hari Rabunya. Maka saat itu juga saya pesankan agar secepatnya dilakukan persiapan pemakaman tanpa perlu menunggu kedatangan saya.

Dengan perasaan tidak menentu di sepanjang perjalanan menuju bandara New Orleans, saya mantapkan niat bahwa musibah ini harus dihadapi dengan ikhlas dan tawakal. Hanya dalam doa di sepanjang perjalanan pulang dari New Orleans ke Kendal, saya bisa menyertai ibu saya yang sudah lebih dahulu menghadap Sang Maha Pencipta.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(12).   Jika Harus Ada Yang Disesali

Selasa siang, 15 Pebruari 2000, sekitar tengah hari saya tiba di Kendal. Dari masjid kota yang berada tidak jauh dari rumah saya terdengar adzan (panggilan sholat) waktu Dzuhur. Ya, saya sudah tiba di rumah, di Kendal. Sebuah perjalanan panjang lebih 40 jam dari New Orleans ke Kendal yang sangat melelahkan baru saja usai.

Saya disambut adik-adik saya. Lalu saya salami bapak saya. Mana ibu? Rasanya seperti tidak percaya, kalau tidak ada lagi seorang ibu yang biasanya menyambut kedatangan anaknya dengan suka-cita. Terharu? Ya. Sedih? Ya. Tapi sungguh, agama yang saya peluk tidak pernah mengajarkan yang berlebihan. Pemakaman ibu saya memang baru Senin pagi kemarinnya dilaksanakan, saat saya berada di atas Samudra Pasifik dalam perjalanan dari Dallas menuju Tokyo.

Beberapa saudara saya yang lebih sepuh (tua) menepuk-nepuk bahu saya, sambil mengingatkan bahwa tidak ada kewajiban lain bagi seorang anak terhadap orang tuanya yang sudah tiada, kecuali mendoakannya. Memang begitu kata guru-guru mengaji saya sewaktu kecil dulu.

Seorang ibu, kehadirannya seperti lumrah-lumrah saja saat dia berada di tengah-tengah kita, atau saat kita berada di sekitarnya. Tapi baru terasa betapa dia adalah sebuah sosok yang kita butuhkan sebagai panutan, justru ketika dia “hilang” dari tengah-tengah kita.

Tidak ada yang perlu disesali dengan kepergiannya yang mendadak untuk mendahului menghadap Allah, kembali kepada Sang Khalik, Sang Pencipta. Juga tidak ada yang harus disesali, sekalipun saya tidak menangi (sempat mengalami) saat-saat terakhir menjelang pemakaman ibu. Kalaupun ada yang harus disesali, ternyata justru jawaban kalau kita ditanya : “Apakah kita sudah siap jika sewaktu-waktu dipanggil menghadap-Nya?”.-

Kendal, 20 Pebruari 2000.
Yusuf Iskandar