Posts Tagged ‘ibu laminah’

Sate Kambing “Ibu Laminah” Gombong

7 April 2008

Menempuh jalur lintas selatan dari arah Yogyakarta menuju ke kota-kota di sebelah baratnya terkadang membosankan. Hari Sabtu yang lalu saya mencoba menggunakan jalan alternatif, yaitu jalan yang membentang sejajar di sebelah selatannya jalur utama lintas selatan dari Yogyakarta menuju kecamatan Buntu, yaitu perempatan yang menuju Cilacap, Purwokerto dan propinsi Jawa Barat. Ini adalah jalan alternatif yang sedang dikembangkan ke arah timur sebagai jalan alternatif di pinggir selatan, dekat laut, menghubungkan dengan wilayah selatan Bantul, Gunung Kidul, hingga ke Pacitan.

Kondisi jalan ini sekarang jauh lebih baik dan lebih lebar. Dulunya hanya jalan kecil atau tepatnya jalan lintas pedesaan. Kini kondisi jalannya ada yang sudah beraspal halus dan ada yang masih kasar, tapi tidak banyak berlubang-lubang sehingga bisa melaju kencang, karena bentangan jalannya relatif lurus dan sepi. Melintasi kawasan persawahan, tegalan dan menerobos pedesaan. Tidak banyak berpapasan dengan kendaraan atau sepeda motor, kebanyakan orang desa yang bersepeda dan pada jam-jam tertentu banyak anak-anak berangkat atau pulang sekolah. Bagi orang-orang yang sudah tahu, melintasi jalan ini akan sangat menghemat waktu.

Dari arah Yogyakarta, saya masuk ke jalur jalan ini setelah melewati kota Wates, tepatnya pada persimpangan jalan yang menuju ke pantai Congot. Setelah itu tinggal mengikuti papan petunjuk arah terus melaju ke arah barat. Jika menginginkan kembali ke jalur utama lintas selatan, maka pada beberapa persimpangan akan terdapat tanda dimana bisa menuju kota-kota Purworejo, Kebumen, Karanganyar, Gombong, dsb. Hanya saja, di sepanjang jalan alternatif selatannya lintas selatan ini tidak akan dijumpai SPBU dan tidak banyak warung makan.

Oleh karena itu ketika tiba di wilayah Gombong, saya menyempal ke utara menuju jalur utama di kota Gombong. Tujuannya ya mencari warung makan. Kalau tengki kendaraan sudah dipenuhi BBM sejak berangkat dari Yogyakarta, tapi tengki pengemudi dan penumpangnya sudah mulai memainkan musik klenengan alias minta diganjal.

Tapi kemana enaknya? Kata-kata “enaknya” ini dalam arti yang sebenarnya, yaitu makan yang enak. Sedang saya merasa belum familiar dengan kota ini.

Atas rekomendasi teman, sampailah saya di warung makan “Ibu Laminah”. Menilik namanya, jelas pemilik warung makan ini adalah seorang perempuan. Maka di sanalah aku berdiri…… (tentu saja setelah keluar dari mobil), lalu masuk ke sebuah warung di pinggir jalan. Suguhan menu utamanya adalah sate, gule dan tongseng kambing. Bagi sebagian orang yang sudah over sek (lebih seketan, lebih lima puluhan umurnya) memang terkadang perlu agak hati-hati dengan menu perkambingan.

***

Namanya juga warung, tampilan luarnya memang tidak terlalu bagus dan tidak pula terlalu menarik. Sangat sederhana, entah kenapa tidak direnovasi menjadi lebih bagus dan permanen. Tidak seperti resto-resto masa kini yang sedang menjamur. Nyaris biasa-biasa saja tak beda dengan warung-warung makan pinggir jalan lainnya. Lokasinya berada di sisi utara jalan raya utama kota kecamatan Gombong, kabupaten Kebumen. Persisnya di Jl. Yos Sudarso, di seberang depannya Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong, agak ke timur sedikit.

Meskipun sepintas seperti warung makan murahan di pinggir jalan raya, tapi rasa satenya, boo……… Saya kategorikan di atas rata-rata. Sate kambingnya disajikan dengan bumbu sambal kecap dan irisan bawang merah. Daging satenya uuuempuk tenan …..(diucapkan sambil kedua ujung jari jempol dan telunjuk seperti sedang memencet irisan daging, lalu gerak-gerakkan sedikit naik-turun…..), dan tidak berkecenderungan nylilit atau nyangkut di gigi (kecuali yang memang giginya sudah aus parah).

Seporsinya berisi sepuluh tusuk daging kambing dengan irisan agak kecil. Belum lagi tongsengnya, wow…… Pas benar bumbunya ibu Laminah ini. Bukan hanya mak nyusss..., tapi mak nyoouusss..…..karena keceplus cabe rawit yang ada di tongseng…..

Warung makan “Ibu Laminah” ini sudah beroperasi sejak tahun 1980. Selama ini pula sudah memiliki penggemarnya sendiri, khususnya mereka yang tinggal di Gombong, Kebumen dan sekitarnya, termasuk para dokter terbang Rumah Sakit PKU di seberangnya. Pelanggan dari luar kota hanya mereka yang sudah tahu dan kebetulan sedang dalam perjalanan melewati kota Gombong.

Menilik bahwa sehari rata-rata menghabiskan seekor kambing, tentu sebuah prestasi dagang yang cukup lumayan untuk ukuran warung kecil di pinggir jalan. Prestasi tertingginya dicapai waktu musim lebaran, sehari bisa mengorbankan tiga ekor kambing.

Kiranya bagi mereka yang sedang dalam perjalanan di jalur lintas selatan dan kebetulan tiba di Gombong pas lapar dan perlu mengisi tengki dua belas jari, serta menyukai menu kambing-kambingan, maka warung makan “Ibu Laminah” adalah salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan. Setidak-tidaknya, kalau suatu saat saya melintas di kota Gombong lagi, saya berniat untuk menyinggahi “Ibu Laminah”, lengkap dengan sate dan tongsengnya.

Yogyakarta, 30 Nopember 2006
Yusuf Iskandar

Iklan