Posts Tagged ‘hawaii’

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (5)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 21:30 CST (8 Nopember 2000 – 10:30 WIB)

Al Gore yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Presiden ternyata justru kalah di Tennessee, negara bagian dari mana dia berasal. CNN melaporkan, setelah 39 negara bagian telah menutup TPS dan menghitung suaranya, kini giliran George Bush melejit dengan meraih 217 suara dari 24 negara bagian meninggalkan Al Gore yang masih meraih 172 suara dari 15 negara bagian.

Masih 11 negara bagian lagi yang belum menyelesaikan pemilu dan penghitungan suaranya hingga malam ini. Bush perlu 53 suara lagi untuk mencapai angka kemenangan 270. Akan tetapi Al Gore punya kartu truf dengan keyakinannya untuk menang di negara bagian California yang mempunyai 54 jatah suara, ditambah dengan keyakinannya untuk juga meraih kemenangan di beberapa negara bagian di pantai barat lainnya.

Al Gore dan pasangannya Joe Lieberman serta George Bush dan pasangannya Dick Cheney, saat ini tentu sedang deg-degan dan semakin tegang mengamati perkembangan perolehan suara dari setiap negara bagian yang mulai menghitung hasil pemilu sejak seharian tadi.

Melihat kejar-kejaran angka yang demikian ini, para pemilih di wilayah pantai barat seperti negara bagian California, Oregon dan Washington, serta Alaska dan Hawaii yang baru akan menutup TPS-nya sekitar satu jam lagi tentunya sudah mulai membuat hitungan-hitungan “politis”. Para pemilih di wilayah barat Amerika ini yang seharian sibuk di kantor atau di ladang dan baru saat menjelang penutupan sempat pergi ke TPS-TPS tentu sudah melihat hasil perhitungan suara dari wilayah timur Amerika.

Kepada siapa suara mereka akan diberikan? Kemungkinan pertama mereka akan terus menggunakan hak pilihnya untuk memperkuat posisi jago mereka. Akan tetapi bukan tidak mungkin mereka berubah pikiran jika jago mereka sudah jelas kalah, mereka memilih untuk tidak memilih saja dan pulang ke rumah.

Cara berpikir sederhana ini memang hal yang lumrah saja. Ya seperti yang saya kemukakan sebelumnya, banyak juga masyarakat Amerika ini yang tidak terlalu menganggap penting tentang pemilihan presidennya. Buktinya? Diramalkan hanya 50% saja dari masyarakat yang mempunyai hak pilih akan menggunakan haknya tahun ini.

Yusuf Iskandar

Iklan

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

Pengantar :

Berikut ini adalah catatan perjalanan saya mengunjungi kota Tanjung Pinang dan sekitarnya di Pulau Bintan, pada tanggal 10 – 15 April 2006. Perjalanan dari Yogyakarta ditempuh melalui Pulau Batam.

(1).  Menuju Kota Gurindam
(2).  Kopi O, Teh Obeng dan Kopi Tarik
(3).  Pulau Penghasil Bauksit
(4).  Ngopi Di Kedai Kopi “Hawaii”
(5).  Menyeberangi Teluk Bintan Naik Pompong
(6).  Purnama Di Tanjung Pinang
(7).  Ada Bunga Sakura Di Kijang
(8).  Semalam Di Batam

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(4).  Ngopi Di Kedai Kopi “Hawaii”

Masyarakat Bintan ini mempunyai kebiasaan unik, yaitu minum kopi. Bukan di rumah, di kantor, di hotel, atau di resto, melainkan di kedai-kedai kopi yang banyak betebaran di setiap sudut kota. Apakah dia orang biasa atau pejabat atau pengusaha, mereka pada pergi ke kedai-kedai kopi kalau dirasa-rasa sudah tiba waktunya kepingin ngopi. Acara ngopi atau coffee break ini bisa terjadi kapan saja. Tidak perduli pagi hujan, siang bolong panas terik, sore mendung atau malam dingin semribit, pokoknya kalau kepingin ngopi ya pergi nongkrong di kedai kopi. Tapi ya jangan lalu dibayangkan semua penduduk Bintan tumplek-blek di kedai kopi. Itu demo namanya!. Njuk nanti siapa yang tunggu rumah atau kantor……

Maka kedai kopi menjadi tempat paling strategis untuk bertemu membicarakan ihwal apa saja. Lobi-lobi politik, transaksi bisnis, silaturahmi, sekedar membuang waktu, nglaras, diskusi serius, ngumpul-ngumpul penuh canda, semua bisa berlangsung setiap saat setiap hari di kedai kopi, tanpa mengenal hari libur atau jam istirahat. Pokoknya kapan saja.

Salah satu kedai kopi favorit di kota Kijang adalah kedai kopi “Hawaii” yang berlokasi di depan pasar Berdikari. Mudah ditemukan lokasinya karena memang kota ini tidak terlalu ramai. Aroma dan rasa kopi di kedai kopi “Hawaii” ini sangat khas dan kuat sehingga membuat setiap penggemar kopi pasti kepincut untuk kepingin kembali ngopi lagi di tempat ini. Maka ada seloroh bagi pendatang baru di kota ini, yaitu dianggap belum sah datang ke Kijang kalau belum pernah singgah ngopi di kedai kopi “Hawaii”.

Sang pemilik kedai adalah seorang Cina tua yang biasa dipanggil A-Eng. Di usianya yang sudah 79 tahun ternyata engkoh A-Eng ini masih terlihat bregas (gagah), gesit, dan tidak menampakkan kelelahan fisiknya. A-Eng suka diajak ngobrol, apalagi kalau menyangkut kedai kopinya. Engkoh ini pun dengan berapi-api akan bercerita panjang-lebar dengan logat Melayu-Cina yang mulai rada susah dipahami karena giginya yang sudah pada hilang dan diganti gigi emas. Konon, air Riau memang terkenal keras dalam mempercepat kerusakan gigi.

Dulunya A-Eng tinggal di pulau Koyang, yaitu sebuah pulau kecil di sebelah timur pulau Bintan. Katanya semasa muda dulu suka berburu menangkapi monyet dan menyucrup otaknya, hingga puluhan ekor jumlahnya. Hmmmmm…….. Itulah selalu jawabnya kalau ditanya apa resep awet mudanya. Tentu saja ini formula yang tidak layak ditiru. Tapi begitulah pengalaman hidup A-Eng hingga di usianya yang sekarang.

Pada tahun 1969 A-Eng pindah ke Kijang. Dia lalu membuka usaha kedai kopi di depan pasar Berdikari yang pada waktu yang sama juga sedang mulai buka. Tentu saja waktu itu kota Kijang masih sangat sepi. Tapi relatif lebih ramai karena kota ini adalah bekas pusat kegiatan penambangan bauksit ketika Belanda masih jaya. Sejak itulah hingga kini A-Eng tidak pernah pindah. Kedainya pun tidak pernah direnovasi, diperbaiki atau sekedar dirapikan, sejak 37 tahun yang lalu. Maka wajarlah kedai kopi “Hawaii” milik engkoh A-Eng yang ada sekarang ini tampak sangat sederhana dan tradisional, meski tidak dipungkiri munculnya kesan kurang bersih.

Perihal nama “Hawaii” untuk kedainya itu, menurut penuturan A-Eng adalah pemberian pak Camat Kijang pada masa itu. Karena A-Eng yang wong ndeso Cina-Melayu ini bingung kedainya mesti dijuduli apa, maka dia pun minta pak Camat Kijang untuk memberinya nama, dan lalu dipilihlah nama “Hawaii” yang bertahan hingga sekarang menjadi trade mark kopinya engkoh A-Eng.

Dulu pernah tersiar rumor, katanya kopinya A-Eng bercampur ramuan daun ganja, makanya setiap sruputan pertama dari kopinya selalu menimbulkan efek thengngng….. di kepala peminumnya, apalagi bagi mereka yang tidak biasa minum kopi. Namun A-Eng membantahnya, diapun tidak merahasiakan resepnya.

Pulau Bintan memang bukan penghasil kopi, makanya A-Eng membeli kopi Sumatra biasa. Menurut A-Tet, satu dari empat orang anaknya yang sekarang tekun membantu usaha babahnya, kopi mentahnya berasal dari kopi Jambi, digoreng sendiri dengan sedikit tambahan minyak wijen dan lalu digilingnya sendiri. Begitu saja, katanya. Kalau kemudian tercipta taste kopi yang khas dan numani (membuat tuman atau ketagihan), itu karena penyajiannya.

Sebelum disajikan, kopi kental itu direndam atau diseduh dalam air panas mendidih agak lama, lalu disaring. Setelah itu tinggal menyajikan dalam cangkir kecil, dan lagi-lagi agak mbludak…… Mau kopi O atau dicampur susu, tinggal pesan saja. Susunya pun tidak sembarang susu, mesti merk “Double Dice” dari negeri seberang. Suatu ketika susunya pernah diganti, ternyata dikomplain penggemarnya. Katanya susunya kurang enak dan akibatnya seringkali kopi dalam cangkir pembelinya tidak dihabiskan. Akhirnya kembali lagi dia menggunakan susu cap “Double Dice” itu hingga sekarang.

Harga secangkir kopinya A-Eng terbilang murah. Cukup Rp 2.500,-. Itu sebabnya kedai kopi “Hawaii” ini laris manis tanjung kimpul. Sehari A-Eng bisa menghabiskan sampai 40 kg kopi, terkadang lebih. Hanya penggemar berat kopi hitam saja yang akan sanggup nenggak kopinya A-Eng lebih dari secangkir, mengingat kental dan aromanya yang kuat, serta sensasi thengngng… di kepala itu.

Iseng-iseng saya tawarkan kepada koh A-Eng untuk buka cabang di Jogja. Waralaba juga bolehlah. Dalam hati saya berkhayal, kalau dijual Rp 5.000,- sampai Rp 15.000,- per cangkir bagi penggemar kopi rasanya masih sepadan dengan sensasi thengngng… yang diberikan, tergantung lokasi dan tampilan kedainya. Mbah A-Eng ini hanya tertawa. Katanya, dia tidak bisa menjamin rasa dan aromanya tidak berubah. Wah…….

Sebagai penggemar kopi yang sudah terbiasa ngopi pagi dan sore, bagaimanapun juga tidak saya lewatkan kesempatan untuk membeli satu kilogram kopi ramuannya A-Eng ini sebagai oleh-oleh untuk saya sendiri. Harganya Rp 25.000,- per kilogram. Tentu dengan harapan agar di Jogja nanti saya akan memperoleh sensasi thengngng….. yang sama seperti ketika ngopi di kedai “Hawaii”.

Pendeknya, sruputan pertama begitu thengngng….., selebihnya terserah Anda…… Mau secangir, dua cangkir atau tiga cangkir mbludak……

Tanjung Pinang, Kepri – 11 April 2006
Yusuf Iskandar