Posts Tagged ‘gusti’

Guru Nyopir Putriku

9 Maret 2010

Guru nyopir putriku dibayar lebih sama istriku kok malah menolak, tidak mau. Kelebihannya dikembalikan. Lho, piye to iki?.Nggak apa2, ini memang untuk bapak”, kata istriku. Dijawabnya: “Mboten, niki mawon sampun cekap (enggak, ini saja sudah cukup)”.

Ee… alah, Gusti.., Gusti.., maafkan mahlukMu ini… Sopir itu merasa sudah cukup dengan jumlah uang yang tidak seberapa, tapi aku sering merasa tidak cukup dengan jumlah uang yang jauh di atas seberapa itu…

Yogyakarta, 7 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Sepenggal Doa Di Hari Fitri

27 September 2008

Catatan Pengantar :

Dua buah tulisan di bawah ini adalah tulisan lama saya yang saya tulis dua tahun yll. Karena saya pikir isinya masih pas, dan (yang lebih penting) saya ingin merenungkannya kembali. Maka semoga ada setitik hikmah yang bisa dipetik. Disertai ucapan tulus :

“Selamat Idul Fitri 1429H – Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Wassalam.

Yogyakarta, 27 Setember 2008 (27 Ramadhan 1429H)
Yusuf Iskandar

——-

Sekian lama sekian tahun, saya sempat midar-mider numpang lewat, hingga akhirnya suatu kali berkesempatan singgah dan menjelajah negeri jiran yang bernama Singapura. Saya pernah nyinyir nggrundel sendiri, Singapura itu sebuah pulau yang jelas-jelas tidak punya apa-apa tapi sepertinya apa-apa punya. Pengurus pulau sak uplik itu telah berhasil mengamalkan sebuah titah agar mendayagunakan ilmu pengetahuan semaksimal-maksimalnya demi kesejahteraan umat manusia penghuninya. Dari sudut pandang (sempit) ini, saya merasa bahwa pengelola pulau itu ternyata kok ya lebih islami daripada saya (sebut saja “saya”) yang seprana-seprene cuma piya-piye saja…..

Kita ini (maksudnya, saya bersama segenap tetangga saya dan Sampeyan semua), baru kecopetan dompet plus kartu-kartu utang saja sudah lenger-lenger. Baru terkena cobaan hidup kecil saja sepertinya merasa dunia sudah tidak berpihak kepada kita. Apalagi ketimpa musibah besar, kontan nelangsa seperti dunia tiba-tiba kiamat, merasa paling kasihan sedunia, paling tidak berdaya, paling miskin dan tidak punya apa-apa lagi.

Padahal yang terakhir itu amat dekat dengan kekufuran (begitu agama saya mengajarkan). Sedangkan kalau sudah telanjur kufur (lawan dari syukur), maka itu adalah tanda-tanda awal dari cilakak duabelas dunia wal-akhirat.

Ketika sedang jatuh lalu tertimpa tangga, padahal sedang sakit gigi dan ingat cicilan rumah sudah ditogah-tagih saja sama bank, pas mau bangkit ndilalah tangannya mencekal telek lencung……. Uh! Dunia seperti gelap bin gulita….., tidak punya apa-apa lagi, tidak berdaya-upaya, boro-boro sisa tabungan buat modal. Mau bayar zakat pitrah saja berat rasanya, kepala berbintang-bintang. Padahal tahun lalu masih bisa menyisihkan sedikit zakat maal (bukan mall), meskipun hitungannya diminim-minimkan agar tidak kebanyakan.

Mak deg…! Mungkin benar, tampaknya tidak punya apa-apa lagi. Padahal mestinya kita masih punya hati dan ilmu. Sebuah kekayaan, sebuah “apa-apa” yang menurut Sang Maha Pemberi Apa-apa adalah bekal untuk bangkit, berpikir dan bekerja, terus dan terus tiada henti.

Mak deg…! Kenapa tidak mencoba untuk berperilaku islami seperti pengelola pulau Singapura dalam mendayagunakan ilmunya. Merubah dari yang tidak punya apa-apa menjadi apa-apa punya. Paling tidak, ruh dan semangat untuk apa-apa punya tetap tumbuh, sehingga yakin bahwa dunia tetap berpihak kepada kita. Hanya ilmunya yang perlu dipelajari dan dipikiri, dan itu adalah titah Sang Khalik. Tidak diperlukan sertifikat S1, S2 atau S3 untuk bisa mempelajari dan memikiri hal semacam itu.

***

Sebulan ini kita sudah menceburkan diri ke dalam kawah candradimuka (karena candra Ramadhan ada sebelum candra Syawal, kalau Ramadhan sesudah Syawal namanya candradibelakang). Ada yang sebulan penuh dan ada yang sebulan kurang sehari tapi tetap saja dibilang sebulan penuh, kita menempuh beraneka ria mata ujian ulangan setiap tahun, siang dan malam, pendeknya duapuluh empat jam non-stop, berlapar-lapar, berhaus-dahaga, berngantuk-ngantuk, ngempet semburan nafsu liar, mengkaji ayat-ayat kauliyah dan kauniyah, dan ber-mu’amalah dalam kesalehan. Dalam lapar dan “pura-pura” miskin, dalam kebodohan dan “pura-pura” tidak punya apa-apa dan tidak berdaya apa-apa. Itupun kita bisa (bagi yang berniat untuk bisa, sebab ada yang memang tidak berniat untuk bisa). Padahal sendiri saja, tidak bersama, karena ini memang urusan pribadi antara kita dan Sang Pencipta.

Maka faktanya adalah, ketika kita sedang “apa-apa punya”, ternyata kita sanggup untuk “tidak punya apa-apa”. Jadi betapa kita ini sebenarnya bisa menjadi lebih singapura ketimbang Singapura. Wong kita punya hati dan ilmu. Sementara hati dan ilmunya persis sama plek.

***

Duh, Gusti Allah….., tolong Panjenengan berkati para pemimpin dan pengurus tanah kami. Bantu kami menyingkap hijab (tabir) yang menghalangi pandangan kami, agar kami semua ngeh, bahwa tanah kami ini sesungguhnya apa-apa punya. Terangi hati dan pikiran kami, agar kami mampu membedakan mana minyak dan mana emas, mana lumpur panas dan mana telek lencung hangat, mana asap dan mana parsel, mana menolong dan mana menyolong, mana sapaan mesraMu dan mana teguran kerasMu…..¬†

Duh, Gusti Allah….., di hari yang fitri ini (maap Gusti, bukannya saya mau ikut-ikutan kalau hari fitri saya adalah Senin 23 Oktober 2006, tapi itu juga menurut ilmu yang Panjenengan ajarkan…..). Semoga Engkau mengelompokkan kami ke dalam gerombolannya orang-orang yang mudik rame-rame menuju ke ranah kesucian dan kemenangan.

Agar kami tidak menjadi buta, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah buta, yang dibutakan oleh silau-gemerlapnya dunia.

Agar kami tidak menjadi bodoh, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah bodoh, yang dibodohkan oleh kesombongan seakan-akan kami tidak butuh siapa-siapa.

Agar kami tidak lemah, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah lemah, yang dilemahkan oleh ketidak-mau-tahuan kami bahwa sesungguhnya negeri kami ini negeri yang apa-apa punya.

Duh, Gusti Allah….., kabulkanlah doa kami. Engkau kabulkan sedikiiiiit saja dulu, kami sudah bersyukur kok, sisanya tolong disusulkan…… Amin.

PS :
Selamat Idul Fitri 1427H
Mohon Maaf Lahir & Batin

Yogyakarta – 23 Oktober 2006 (1 Syawal 1427H)
Yusuf Iskandar