Posts Tagged ‘gurun’

Hamster

21 Maret 2008

Anak laki-laki saya yang baru naik ke kelas 5 SD sangat menyukai hamster piaraannya. Prejengan (profil tubuh) hamster yang kecil imut-imut, lucu dan bersih itu barangkali yang menjadikan anak-anak banyak yang menyukainya. Sepulang dari liburan dua minggu yang lalu, induk hamsternya beranak lagi untuk ketiga kalinya. Padahal umurnya baru tujuh bulan.

Ketika umur hamsternya baru tiga bulan sudah beranak enam ekor, tapi mati satu. Kesemua anaknya habis diminta teman-teman anak saya. Beranak yang kedua waktu umurnya lima bulan, juga enam ekor jumlah anaknya. Empat ekor diantaranya juga diminta teman-teman anak saya. Lalu kini beranak lagi 12 ekor, tapi sayang di hari ketiga tinggal enam ekor, selebihnya dimakan oleh induknya.

Anak saya membeli hamster saat liburan semesteran bulan Januari awal tahun yang lalu. Pada suatu siang dia minta uang Rp 20.000,- pada ibunya untuk membeli hamster di pasar Ngasem. Ngasem adalah nama pasar burung di Yogya, meskipun tidak hanya burung yang dijual di pasar ini. Segala macam hewan berkaki dua ada di sini, termasuk ayam, bebek, menthok (itik), dsb. Ada juga ikan hias, termasuk kelinci dan hamster juga ada, serta hewan-hewan ukuran kecil lainnya.

Tanpa tanya ini-itu, setengah tidak perduli ibunya lalu memberinya uang yang diminta. Rupanya anak saya siang itu mengajak teman mainnya di Bintaran Kulon pergi ke pasar Ngasem dengan berjalan kaki. Jarak antara Bintaran dengan Ngasem sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 1,5 km saja. Tapi untuk mencapai Ngasem dia harus berjalan kaki melintasi pinggir kali Code, lalu menyeberang jembatan, terus menyusuri jalan besar utara plengkung Yudonegaran menuju alun-alun utara kraton. Setelah menyeberang alun-alun lalu ke selatan menuju pasar Ngasem.

Tidak berapa lama, anak saya pulang dengan membawa kantong kertas berwarna coklat yang ternyata berisi seekor hamster berwarna putih yang baru berumur tiga mingguan. Masih terlihat kecil sekali. Saya jadi merasa kasihan dengan kesungguhan anak saya yang ingin memelihara hamster. Kasihan yang kedua adalah terhadap hamsternya sendiri, masak hanya hidup sendiri tanpa pasangan di kandangnya yang hanya berupa kotak kardus kecil (belakangan saya baru tahu bahwa sebenarnya tidak ada masalah jika memelihara seekor hamster tanpa pasangan). Maka kemudian dia saya ajak untuk kembali ke penjualnya di Ngasem, sekalian bersama ibunya dan kakak perempuannya. Kali ini tidak berjalan kaki tentunya.

Si penjual hamster yang menempati petak agak di tengah pasar masih ada di sana. Ada banyak pasangan hamster yang ditawarkan. Harganya sepasang Rp 30.000,- Berumur rata-rata tiga mingguan. Masih terlalu kecil tampaknya, tetapi memang hewan ini sudah bisa dipisah dari induknya setelah berumur lebih dua minggu. Kali ini saya bilang kepada anak saya agar pasangannya yang berwarna krem dibeli sekalian saja, agar si hamster tidak kesepian sendiri. Lalu, sebuah kandang pun dibeli juga seharga Rp15.000,-, yaitu sebuah kandang kecil terbuat dari anyaman kawat yang di dalamnya ada mainan roda putarnya, seperti roda putar kandang tupai.

Tiba saatnya harus kembali ke Papua dan anak saya ingin membawa kedua hamsternya untuk dipelihara di Tembagapura. Artinya, hamster-hamsternya akan naik pesawat Garuda. Bagaimana caranya? Pasti ada aturan tersendiri untuk membawa binatang naik pesawat. Setelah tanya-tanya ke kantor Garuda, katanya biaya membawa binatang naik pesawat cukup mahal. Untuk dibagasikan bersama kandangnya kok kasihan. Maka perlu diakalin.

Kedua anak saya sepakat untuk berbagi tugas. Kedua hamster yang baru berumur tiga mingguan, masih sangat kecil tapi bulu-bulunya sudah tumbuh penuh, dimasukkan ke dalam sebuah tas cangklong kecil yang sengaja dikosongkan kecuali diisi makanan hamster. Ketika harus melewati pemeriksaan X-ray, mereka bersembunyi dulu dan terkadang bergantian ke toilet untuk memindahkan hamster dari tas cangklong ke saku celananya yang mempunyai ukuran saku cukup longgar. Setelah melewati pemeriksaan X-ray, mereka menuju toilet lagi dan memasukkan kembali hamster-hamsternya ke dalam tas cangklong. Demikian, SOP (Standard Operating Prosedur) ini dipraktekkan berulang-ulang, baik ketika di bandara Yogya maupun di Denpasar. Sementara kandangnya dimasukkan bagasi.

Maka selamatlah sang hamster tiba di bandara Timika, dan akhirnya di Tembagapura. Untungnya tidak diperlukan jaket khusus bagi hamster untuk hidup di Tembagapura yang berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Sebenarnya cuacanya cukup dingin bagi hamster yang nenek-moyangnya hidup di kawasan gurun.

***

Hamster adalah binatang sejenis tikus, ukuran tubuhnya juga kecil seperti tikus pithi atau curut. Bedanya hamster lebih bersih dan tidak jorok seperti tikus. Karena itu hewan ini banyak digemari anak-anak sebagai hewan piaraan. Seperti halnya tikus, hewan kecil ini suka ngrikiti (mengerat) apa saja. Jadi jangan mengira karena ukurannya kecil lalu ditempatkan dalam kandang yang terbuat dari kayu, apalagi kardus. Tidak lama, hamster akan berhasil membuat lubang untuk lolos.

Hamster jelas bukanlah hewan asli Indonesia. Habitat asal hewan ini sebenarnya di daerah dekat-dekat gurun. Di alam aslinya binatang suka membuat sarang di dalam liang-liang yang dalam seperti tikus tanah. Makanya memelihara hewan kecil ini sangat mudah, tidak perlu repot-repot memberi minum. Bukan tidak membutuhkan air, melainkan kebutuhan airnya biasanya cukup terpenuhi dari makanannya. Makanannya pun mudah, paling suka dengan jagung, terkadang divariasi dengan wortel, dan sayuran hijau seperti kangkung, bayam, kacang, boncis, kol, sawi, dsb. Sesekali diberi buah apel. Rakus sekali kalau diberi telur ayam, rebus maupun goreng.

Nama hamster sendiri berasal dari kata hamstern, bahasa Jerman yang artinya menimbun. Binatang kecil ini memang suka menimbun makanannya di dalam sarangnya. Diberi makanan sebanyak apapun akan disikatnya. Mula-mula disimpan di dalam mulutnya sehingga kedua pipinya menjadi gemuk. Setelah itu dia sembunyi ke sarangnya, lalu ditimbunnya makanan tadi di dekat sarangnya.

Di dunia ini ada banyak jenis hamster, tapi hanya sedikit saja yang biasanya dipelihara sebagai hewan piaraan di rumah, diantaranya jenis Syrian, Dwarf, Chinese dan Roborovski. Sedangkan species-species lainnya tidak lazim dipelihara orang. Warnanya pun bermacam-macam, ada putih coklat, abu-abu, hitam atau krem. Bulu-bulunya juga ada yang pendek dan ada yang panjang. Di alam aslinya, hamster ini termasuk binatang malam, kalau siang dia suka tidur dan kalau malam mulai aktif mencari makan.

Tentang hamster yang dibeli anak saya di pasar Ngasem, saya sendiri tidak tahu jenisnya. Penjualnya juga tidak tahu. Tapi kalau saya amat-amati, lebih dekat ke jenis Dwarf. Kata penjualnya, induknya dulu dibawa dari Australia oleh seorang pedagang Cina. Untuk jenis-jenis tertentu, harga di toko binatang bisa mencapai puluhan ribu bahkan lebih seratus ribu rupiah. Demikian halnya harga kandangnya jika membeli di toko. Anak saya menyimpan hamsternya di dalam ember plastik yang permukaannya lebar, agar hamster lebih leluasa bermain-main. Kandang dari ember ini cukup bagus dan aman karena hamster susah untuk mengerat permukaannya yang licin yang juga susah dipanjat.

Di dalam ember diberi sobekan-sobekan kertas yang lunak (sejenis kertas tissue), bisa juga serpihan-serpihan kayu. Yang agak merepotkan adalah harus rajin membersihkan kandang atau wadahnya. Tahinya kecil-kecil seperti beras tapi lebih besar sedikit, normalnya berwarna hitam, persis e’ek tikus. Tapi kencingnya cukup banyak, dan jika tidak rajin membersihkan kandangnya, baunya cukup mengganggu.

Perkembangbiakannya cepat sekali. Jika punya sepasang hamster yang sudah berumur 2 – 3 bulan, siap-siap untuk punya banyak hamster. Beberapa kali mereka bercinta, dalam waktu empat hari sang ibu segera hamil. Umur kehamilannya 16 sampai 18 hari, lalu melahirkan. Anaknya bisa berjumlah enam sampai 12 ekor. Ada yang sampai 17 ekor, tapi rata-rata 6 – 7 ekor. Ketika lahir, anak-anaknya seperti cindhil (anak) tikus, sebesar jari kelingking, berwarna merah, belum tumbuh bulu dan matanya masih tertutup. Setelah umur seminggu baru tampak warna bulunya, dan umur dua minggu baru terbuka matanya dan mulai keluyuran menjauh dari induknya.

Setelah melahirkan jangan coba-coba mengganggu anaknya sampai seminggu kemudian, jika induknya marah dia akan menelantarkan anaknya atau malah memakannya. Demikian juga kalau ada anaknya yang sakit, induknya akan tahu. Biasanya akan dimakan sendiri oleh induknya. Setelah berumur 2 – 3 minggu, anak-anak hamster sudah bisa hidup mandiri dan dapat dipisahkan dari induknya.

Setelah melahirkan, sebaiknya induk dan anak-anaknya dipisah dari hamster-hamster lainnya. Jika sudah siap untuk beranak lagi, baru dicampur dengan yang lain. Jadi dapat dibayangkan, betapa cepatnya perkembangbiakan hamster. Seperti dituturkan penjual hamster di pasar Ngasem, dari semula hanya memiliki sepasang hamster, kini sudah ratusan ekor keturunannya. Hamster memang termasuk binatang berumur pendek. Umur setahun biasanya sudah tampak tua dan tidak gesit. Umurnya rata-rata hanya 2 tahunan. Jika hanya ingin memelihara hamster untuk hiasan, sebaiknya ditempatkan hanya seekor dalam satu kandang.

***

Kini kedua hamster anak saya dan kedua anaknya hidup rukun dan damai di Tembagapura. Sebagian anak-anaknya dan saudara-saudaranya sudah hidup terpisah karena dibagikan kepada teman-teman anak saya. Paling tidak sudah ada sembilan ekor yang kini membina rumah tangganya masing-masing. Dan siap-siap untuk beranak-pinak, tergantung keinginan pemiliknya. Untuk enam ekor anaknya yang baru lahirpun sudah ada daftar pemesannya.

Menarik juga mengamati hamster-hamster ini. Kecil imut-imut, lucu, jinak (untuk jenis tertentu ada juga yang galak), tidak bersuara dan menggemaskan. Termasuk jenis binatang yang jarang membawa penyakit. Bisa menjadi hiburan yang mengasyikkan ketika pikiran sedang penuh sesak dengan urusan lain. Sama mengasyikkannya seperti ketika memandangi ikan-ikan di aquarium saat pikiran sedang stress. Boleh dicoba…..

Atau, melihatnya sebagai peluang bisnis? Seperti yang diceritakan oleh penjual hamster di pasar Ngasem, katanya hamsternya laku cukup keras. Harga untuk hamster seperti milik anak saya, sebut saja hamster “kampung”, harganya cukup murah. Banyak anak-anak yang suka. Bisa jadi klangenan anak-anak….. Habis, lucu sih …..

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 1 Agustus 2004.

Iklan

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(1).   Api Di Mana-mana

Selasa sore sekitar jam 15:30, 2 Agustus 2000, saya tiba di bandara internasional Sky Harbor di kota Phoenix, ibukota negara bagian (state) Arizona. Cuaca demikian panas saat itu, suhu udara bergerak di seputar angka 105-108 derajad Fahrenheit (sekitar 41-42 derajad Celcius). Bagi beberapa daerah di sekitar kota Phoenix, musim panas terutama bulan Agustus sering dikatakan sebagai bulan paling buruk, yang berkonotasi sebagai hari-hari dimana suhu udara sangat panas dan kering.

Bahkan jika kita berada di tempat teduh sekalipun, masih sangat terasa sentuhan hawa panas yang tertiup angin. Wilayah Arizona umumnya memang mempunyai bentang alam tipikal gurun yang aslinya tentu miskin dengan jenis tumbuhan besar. Kalaupun sekarang di sana-sini dijumpai tumbuhan pelindung, itu karena hasil rekayasa pertanian.

Sejam kemudian, dengan menaiki taksi saya tiba di sebuah hotel di kota Tempe (baca : Tempi), yaitu sebuah wilayah yang berada di sisi tenggara Phoenix. Lokasi kota Tempe terhadap Phoenix barangkali dapat saya identikkan dengan kota Depok atau Bekasi terhadap Jakarta. Secara geografis nyaris seperti tidak terpisahkan, namun secara administratif adalah dua kota berbeda. Kedua wilayah ini, berada pada ketinggian sekitar 300-an meter di atas permukaan laut, dengan tingkat kepadatan penduduk “hanya” sekitar satu juta untuk Phoenix dan 150 ribu penduduk untuk Tempe.

Pertama kali yang saya lakukan setiba di kamar hotel yang dilengkapi dengan alat pengatur udara adalah menghempaskan diri di tempat tidur dan lalu membuka saluran TV. Ternyata di beberapa saluran TV sore itu ada acara khusus, yaitu siaran langsung Konvensi Nasional Partai Republik di Philadelphia dimana Dick Cheney akan menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat wakil presiden.

Pada saat yang sama juga ada siaran langsung pemadaman kebakaran yang sedang terjadi di Phoenix. Maka, jadilah yang tampak di layar TV adalah tayangan pidato kampanye dan pemadaman kebakaran secara bergantian. Terkadang layar terbagi dua untuk penayangan kedua siaran langsung tersebut secara bersamaan..

Kebakaran besar memang sedang terjadi di sebuah gudang di tengah kota Phoenix sejak beberapa jam sebelumnya, yang bahkan hingga malam hari api belum berhasil dipadamkan. Menarik juga menyaksikan siaran langsung kebakaran dan upaya pemadamannya yang gambarnya diambil dari berbagai sudut. Hingga tengah malam saat TV saya matikan, siaran langsung “acara kebakaran” masih belum selesai.

Di musim panas seperti ini, seperti halnya di Indonesia, kebakaran adalah ancaman bencana yang sangat ditakuti. Dan itulah yang hari-hari ini sedang melanda sebagian wilayah belahan barat Amerika, yaitu kebakaran hutan atau api-api liar yang tiba-tiba muncul di mana-mana. Bahkan kilat yang menyambar pun bisa menyebabkan kebakaran. Berita kebakaran hutan hampir setiap hari menghiasi berita TV dan koran.

***

Sebegitu parahkah kebakaran liar yang sedang melanda Amerika?

Informasi terakhir yang juga dilansir CNN, saat ini kebakaran terjadi di lebih 90 lokasi seluas tidak kurang dari 4,500 km2 menyebar di 11 negara bagian. Secara nasional tahun ini kebakaran liar telah terjadi di lebih 68.700 lokasi dan telah menghanguskan areal yang pada umumnya berupa hutan seluas hampir 22,000 km2. Tentu yang disebut hutan di sini berbeda dengan hutan musim hujan di daerah beriklim tropis seperti di Indonesia. Menurut data yang ada, bencana kebakaran liar tahun ini merupakan yang terparah selama 13 tahun terakhir.

Secara angka, luas wilayah yang terbakar “hanya” sekitar 0,2 % saja dari seluruh wilayah Amerika. Namun menjadi kepentingan semua pihak, kalau mengingat akan berakibat musnahnya berbagai biota hutan serta tumbuhan. Perlu waktu ratusan tahun untuk kembali ke keadaan seperti asalnya. Itupun kalau tidak keburu terbakar lagi. Maka tidak heran kalau semua petugas pemadam kebakaran hutan dikerahkan silih berganti. Bahkan batalyon tentara dan marinir pun diperbantukan, termasuk bala bantuan dari Australia dan Selandia Baru.

Untungnya, tidak banyak negeri jiran yang tinggal di dekat lokasi kebakaran, sehingga Amerika tidak bisa “membagi” asapnya sebagaimana asap Sumatra atau Kalimantan yang mampir ke negeri tetangga di utaranya. Negara terdekat terhadap lokasi kebakaran ini adalah Canada, dan asap api sudah mulai mendekat ke perbatasan. Namun Canada tidak “teriak-teriak”, barangkali juga maklum karena ternyata Canada pun juga sedang disibukkan dengan munculnya api-api liar yang membakar hutan mereka.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar