Posts Tagged ‘guru’

Murid Kencing Berlari

7 April 2010

Tanpa alasan yang jelas, kekasihku duluuu… bangga menjadikan aku sebagai idola, panutan sekaligus GURU baginya. Hatiku berbunga-bunga.

“Tapi aku ragu…”, kataku.
“Memang knaffa?”, tanyanya mesra (namanya juga kekasih, nggak mungkinlah teriak-teriak kayak kernet bis antar kota sambil bergelantungan).
“Apa kamu siap kalau aku ke toilet buang air kecil?”, tanyaku.
“Siap apaan?”, tanyanya curiga.
“Sebagai MURID kamu harus siap-siap kencing sambil berlari…”

Yogyakarta, 6 April 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Guru Nyopir Putriku

9 Maret 2010

Guru nyopir putriku dibayar lebih sama istriku kok malah menolak, tidak mau. Kelebihannya dikembalikan. Lho, piye to iki?.Nggak apa2, ini memang untuk bapak”, kata istriku. Dijawabnya: “Mboten, niki mawon sampun cekap (enggak, ini saja sudah cukup)”.

Ee… alah, Gusti.., Gusti.., maafkan mahlukMu ini… Sopir itu merasa sudah cukup dengan jumlah uang yang tidak seberapa, tapi aku sering merasa tidak cukup dengan jumlah uang yang jauh di atas seberapa itu…

Yogyakarta, 7 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Ibu Guru Teladan

12 November 2008
Betsy Rogers

Betsy Rogers

Seorang guru sekolah dasar dari negara bagian Alabama, terpilih sebagai guru terbaik tahun ini di Amerika Serikat. Presiden George Bush menghormatinya di Gedung Putih pada tanggal 30 April yll, dalam acara pemberian penghargaan yang sangat bergengsi “2003 National Teacher of the Year Award”.

Ibu guru teladan itu bernama Betsy Rogers. Sebagai guru terbaik tahun ini, Ibu Rogers akan menghabiskan waktunya tahun depan sebagai duta besar internasional untuk bidang pendidikan. Ibu Rogers akan meninjau ke seluruh Amerika Serikat dan negara lain, dan mengajurkan agar guru-guru sekolah terus diberi kursus lanjutan yang lebih baik.

Ini memang berita terlambat. Pertama kali membaca berita itu, sejujurnya, saya kurang tertarik. Pikiran saya terlanjur skeptis, paling-paling ya seperti pemilihan Pelajar Teladan atau Guru SD Teladan atau ribuan teladan lainnya, saat perayaan 17-an di Jakarta. Itu saja. Namun, ketika kedua kali saya menerima dan membaca berita yang sama, saya mengendus ada hal yang tidak biasa di balik pemilihan guru teladan itu.

Rupanya benar. Ada sesuatu yang menurut saya luar biasa. Ibu Roger ini ternyata memang bukan sembarang guru SD. Dr. Helen Betsy Roger adalah seorang ibu berusia 51 tahun, seorang sarjana lulusan Samford University tahun 1974 dan menyandang gelar Master dan Doctor di bidang pendidikan. Beliau telah menjadi guru selama 22 tahun dan memilih mengajar murid-murid kelas satu dan dua Sekolah Dasar di sekolahan kecil dan ndeso yang murid-muridnya berusia antara 5 hingga 7 tahun, dan kebanyakan anak-anak orang miskin (jangan lupa, di Amerika juga banyak orang miskin). SD itu bernama Leeds Elementary School, di Jefferson County, di luar kota Birmingham, negara bagian Alabama.

Seperti diberitakan oleh Voice of America, bahwa menurut Ibu Rogers, salah satu masalah utama sekolah-sekolah yang ada di daerah miskin adalah bahwa sekolah-sekolah ini tidak memperoleh cukup dana. Dia juga menghendaki agar lebih banyak guru yang bersedia datang mengajar ke sekolah-sekolah anak kaum miskin. Dia bersama suaminya pindah ke daerah pertanian dekat Sekolah Dasar Leeds Elementary pada awal tahun 1980-an. Mereka menghendaki kedua putra mereka mengenal anak miskin dan keturunan ras lain. Sejak itu sampai sekarang ia mengajar di sekolah tersebut.

Bagi Betsy Rogers, cara mengajar sangat beraneka ragam. Dia menganjurkan kepada para guru lain agar jangan sekali-kali menganggap bahwa seorang siswa tidak dapat belajar atau bodoh. Sebaliknya, ia menyarankan agar para guru mencoba teknik baru untuk memberi penjelasan.

Betsy Rogers menggunakan lukisan, musik, dan memasak sebagai bagian dari alatnya untuk mengajar. Dia berhasil meyakinkan sekolah tersebut agar memulai suatu program dimana guru-guru mengikuti perkembangan siswa dari mulai awal kelas satu sampai akhir kelas dua. Ini memungkinkan guru dapat mengukur kemajuan anak. Teknik ini di Amerika Serikat disebut looping. Sekolah-sekolah lain di negara bagian Alabama sekarang menggunakan teknik tersebut.

alam karirnya, Ibu Rogers yang nenek dan ibunya juga seorang guru ini, dikenal atas komitmennya terhadap para anak didik di luar jam sekolah. Sebelum jam sekolah dimulai, beliau memberikan pelajaran tambahan kepada murid-muridnya yang membutuhkan bantuan ekstra untuk belajar membaca. Ibu Rogers juga berminat pada kehidupan siswanya di luar ruang kelas. Dia menghadiri pesta anak-anak dan pertandingan olah raga mereka. Beliau aktif di Komite Sekolah. Beliau juga membantu keluarga para anak didiknya yang kurang beruntung melalui kelompok-kelompok gereja dan paguyuban atau organisasi social kemasyarakatan. Untuk berkomunikasi dengan semua anggota keluarga siswa, dia bahkan mengirim e-mail kepada orang tua siswa (perlu diketahui bahwa sarana email dan internet sudah menjadi sarana komunikasi umum bagi sebagian besar masyarakat Amerika).

Selama bertahun-tahun, Ibu guru Rogers telah bekerja keras untuk memastikan agar anak-anak didiknya memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa mempedulikan status ekonomi mereka. Beliau berargumentasi bahwa sekolah-sekolah yang kinerjanya rendah harus memiliki guru-guru yang terbaik. Beliau mencita-citakan agar kelasnya menjadi tempat dimana anak-anak merasa aman dan memberikan suasana yang membantu anak-anak mengembangkan dirinya. Beliau juga menginginkan agar para guru menjadi bangga terhadap profesi mereka dan mengetahui akan pengaruh peran mereka terhadap anak didik melalui cara-cara yang mungkin tidak terlihat.

***

Betsy Rogers terpilih mendapat kehormatan nasional di antara 54 orang guru teladan yang mewakili masing-masing negara bagian untuk berdiri di samping Presiden Bush menyampaikan sambutannya di Gedung Putih. Dalam pesan yang disampaikannya dalam kesempatan itu, Betsy Rogers sempat mensitir sebuah ucapan yang sangat puitis, bahwa “anak-anak kita adalah pesan yang hendak kita kirimkan menuju ke suatu masa yang kita tidak pernah melihatnya. Betapa ini adalah tanggungjawab yang mengagumkan dan luar biasa bagi kita sebagai pendidik, untuk bekerja menuju masa depan Amerika”.

Betsy Rogers juga menghimbau murid-muridnya untuk saling membantu. Dikatakannya : “Tidak perduli seperti apapun keadaan hidupmu, kalian tetap dapat memberi”.

Guru-guru seperti Ibu Betsy Rogers ini, menempatkan anak-anak di atas jalan untuk menjadi warga masyarakat yang baik, terlebih lagi menjadi orang tua yang berhasil. Mereka itu menunjukkan kepada para muridnya bahwa di sepanjang jalan itu ada banyak orang-orang yang perduli dan siap untuk membantu. Demikian kata Presiden Bush.

Apa yang dilakukannya sepulang dari Gedung Putih dan tiba di sekolahnya? Ibu guru Rogers menyampaikan pesan-pesannya di forum pertemuan untuk anak-anak TK sampai kelas dua SD. Kemudian dilanjutkan dengan berpidato di depan anak-anak kelas tiga sampai kelas lima SD. Murid-muridnya bangga karena seorang gurunya memperoleh penghargaan tertinggi dari Presidennya. Ibu Rogers pun bangga dapat berbagi cerita dan pengalaman di depan murid-muridnya.

Kelak ketika Ibu Rogers mengambil paket MPP, betapa bangganya para murid bersama-sama menyanyikan lagu “Auld Lang Syne”…… old long ago……saat-saat yang (pernah) indah…..

Semoga kisah tentang ibu guru Betsy Rogers ini dapat mengilhami kita semua (sebagai bagian kecil dari bangsa besar yang lagi terpurukruk-ruk-ruk-ruk ini) untuk berbuat sesuatu……..

Tembagapura, 18 Juni 2003.
Yusuf Iskandar

Pak Gubernur Akan Mogok Bersama Para Guru

12 November 2008

Di Jakarta – 18 April 2000, unjuk rasa besar-besaran para guru yang berdatangan ke pusat pemerintahan untuk menuntut kenaikan gaji dan perbaikan nasib. Para wakil rakyat (DPR) dan para pejabat Depdikbud pada intinya mendukung keluhan para bapak dan ibu guru itu. Bahkan Presiden Gus Dur juga menjanjikan akan memperhatikan dan memperbaiki nasib para guru yang kini merasa “tersinggung” disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Di New Orleans – 19 April 2000, beberapa kelas sekolah negeri meliburkan muridnya. Ada apa gerangan? Rupanya para gurunya berbondong-bondong menuju Baton Rouge (ibukota negara bagian Louisiana) guna berunjuk rasa besar-besaran menghadap Gubernur menuntut kenaikan upah.

Apakah mereka sudah semayanan (janjian) hingga peristiwa unjuk rasa itu terjadi berturut-turut di tempat berbeda? Tentu tidak……! Tapi pasti mereka telah sama-sama merasakan bahwa nasib mereka perlu perbaikan.

Hingga kemarin saya masih menganggap kedua peristiwa itu adalah kejadian yang biasa-biasa saja. Ada pihak yang merasa kurang diperhatikan. Lalu karena mengeluh dengan cara yang baik dan enak tidak mempan, ya ditempuhlah cara yang tidak baik dan tidak enak. Itu saja.

Baru ketika saya membaca koran lokal “The Times-Picayune” hari ini, saya merasakan ada hal yang aneh. Di Jakarta, Presiden Gus Dur (yang adalah orang upahan, kata Emha Ainun Nadjib) telah mengabulkan tuntutan para guru, meskipun tentu saja belum memuaskan. Di Louisiana, sudah sebulan ini belum ada tanda-tanda akan dipenuhinya tuntutan para guru. Sampai-sampai keluar tekad Pak Gubernur Mike Foster yang kira-kira jawa-nya berkata demikian : “Kalau DPRD tidak melakukan apa-apa, dan Anda (para guru) merasa harus mogok, maka saya akan ada di sana bersama Anda”. Lho…, Pak Gubernur akan ikut mogok bersama para guru ?

Kejadian itu terasa aneh bagi saya (yang sudah terbiasa hidup dalam berdemokrasi Pancasila). Trias politika murni agaknya memang diterapkan di Amerika. Jika perlu eksekutif akan bertarung dengan legislatif atau yudikatif (tidak ada konspirasi tilpun-tilpunan). Ya, seperti tekadnya Pak Gubernur itu. Ternyata Pak Gubernur memang ngiras-ngirus (sekaligus) sedang berupaya untuk menggolkan usulan menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) melalui usulan kenaikan pajak usaha yang hingga kini belum juga disetujui pihak legislatif. Sebagian dari penambahan pemasukan dari pajak itu rencananya akan dialokasikan untuk menaikkan gaji guru.

Perasaan aneh saya semakin menjadi-jadi, ketika saya mencoba menganalogikan (meskipun ini analogi yang tidak tepat), peristiwa di Louisiana dengan di Jakarta. Seandainya, Pak Presiden Gus Dur ikut berunjuk rasa bersama para guru di gedung DPR/MPR ……-

New Orleans, 18 Mei 2000
Yusuf Iskandar