Posts Tagged ‘gurami’

Nasi Goreng Gurami Petai

7 Juni 2010

Nasi goreng ini harus menjadi istimewa. Itu ide yang terbersit saat pagi ini ibunya anak-anak bikin nasi goreng ‘biasa’, buat sarapan. Masih ada gurami bakar sisa kemarin, ada petai di kulkasku + vitamin U (ulat) di dalamnya. Improvisasi harus dilakukan! Dan, jadilah… ‘Nasi goreng gurami petai’. Hwaaa…..hoenak tenaaaan….

Yogyakarta, 31 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Di Bawah Purnama Menyantap Udang Bakar Mang Engking

14 April 2009

img_2116_rBagi penggemar kuliner menu udang, nama Mang Engking Jogja sepertinya sudah bukan nama asing lagi. Apalagi sekarang Mang Engking sudah buka cabang di Depok dan Surabaya. Mang Engking yang asli Ciamis dengan nama lengkap Engking Sodikin ini boleh dibilang pelopor dalam bisnis kuliner perudangan di Jogja. Tambak udangnya yang berlokasi di kecamatan Minggir, Sleman, adalah cikal bakal usahanya yang bernama Pondok Udang Mang Engking dengan menu unggulannya udang galah.

Setelah sekitar enam tahunan Pondok Udangnya berkibar di Minggir Sleman, sejak akhir 2007 Mang Engking masuk kota membuka cabang di kawasan jalan Godean. Jurus jemput bola diterapkannya guna menangkap “bola” yang sedang mencari makan malam atau yang merasa kejauhan kalau harus minggir-minggir ke Minggir.

Awalnya Mang Engking masuk kota bergandengan tangan dengan pemilik Banyu Mili Resto yang kemudian buka warung di kompleks Griya Mahkota Regency. Namun gandengan mesra itu hanya berlangsung setahun, sebab setelah itu Banyu Mili Resto menangkap peluang bisnis perkulineran untuk berdiri sendiri. Mang Engking pun terpelanting yang lalu kemudian membuka warung sendiri tidak jauh dari situ. Tepatnya kalau dari arah Jogja menuju Jl. Godean, tidak sampai 1 km kemudian ketemu perempatan pertama belok kiri sejauh 200 m. Judul warungnya adalah Gubug Makan Mang Engking Soragan Castle.

Kalau disebut Gubug Makan, itu karena arena permakanannya berupa sebuah gubug besar dan beberapa gubug (saung) kecil, baik dalam formasi meja-kursi maupun lesehan. Kalau Mang Engking agak gaya dengan nama asing Soragan Castle, itu karena di sana sudah berdiri sebuah bangunan (yang dari depan tampak) megah menyerupai sebuah istana. Rupanya tempat itu sebelumnya merupakan sebuah resto bermenu asing bernama Soragan Castle. Resto masakan asing ini sendiri sempat melayani tetamu turis asing selama lima tahunan sebelum kini ditempati Mang Engking. Dan, istana itu kini masih kokoh berdiri.     

***

Di saat malam purnama, saya sekeluarga mengunjungi istana barunya Mang Engking. Siluet sosok Soragan Castle nampak angker tapi indah di bawah cahaya rembulan yang sedang bundar-bundarnya bagai bertengger di atas bentengnya. Sebuah tampilan malam yang indah sekali. Tidak sabar saya jeprat-jepret dengan kamera digital pinjaman yang sengaja saya bawa. Kami kemudian menju ke sebuah gubuk lesehan agak ke sudut kanan belakang. Lokasi itu saya pilih karena berhadapan dengan sebuah kolam dan dekat dengan persawahan umum di belakang lokasi gubuknya Mang Engking.

img_2112_rSetengah kilogram menu udang bakar madu lalu kami pesan. Ditambah dengan gurami goreng sambal cobek, tumis kangkung, lalapan sambal dadak, dan belakangan menyusul kepiting rebus. Tidak terlalu lama kami menunggu hingga pesanan disajikan. Sebenarnya dalam hati saya agak surprise, kok cepat sekali….. (Sementara sebuah keluarga lain di sebelah saya yang lebih dahulu duduk di sana mulai menggerutu karena pesanannya belum juga keluar. Rupanya tadi sang pelayan salah mengantar pesanan mereka ke tamu yang lain, tapi bukan saya….. Nampaknya malam itu bukan purnama keberuntungan bagi keluarga itu).

Udang bakarnya disajikan berupa empat tusuk udang masing-masing berisi empat ekor udang mlungker ukuran sedang. Sajian ini berbeda dengan sebelumnya ketika saya sempat makan menu sama di Pondok Udang Mang Engking yang di Minggir. Sajian bentuk sate seperti ini mengingatkan saya pada menu sate udangnya Bu Entin di Labuan, Banten. Agaknya kini disajikan agar lebih praktis, baik dalam mengolah, menghitung maupun menyajikannya. Tapi jadi terasa kurang alami dan gimana gitu….. Kalau tentang enaknya, tidak saya ragukan, masih sama. Meski pusatnya Mang Engking masih ada di Minggir, Sleman, tapi semua kokinya termasuk yang di cabang Depok dan Surabaya sudah melalui pelatihan ketat di Minggir sebelum diterjunkan ke resto cabang-cabangnya.

img_2111_r1Gurami goreng sambal cobek (tapi sambalnya disajikan di cawan kecil) berhasil kami ludeskan, kecuali duri dan kepalanya tentu saja. Sambalnya yang diracik dengan tambahan bawang merah sekulit-kulit keringnya dan sedikit rasa jahe, terasa pas benar. Saya sengaja memesan setengah kilogram kepiting (rajungan) rebus dengan maksud agar lebih merasakan taste dagingnya yang belum banyak terkontaminasi oleh rasukan bumbu-bumbu pelengkapnya. Rupanya anak-anak saya juga menyukainya. Kalau rasa tumis kangkungnya standar, biasa-biasa saja. Sedang lalapan dengan sambal dadaknya lebih berasa (berasa pedas maksudnya). Namanya juga sambal mentah yang mendadak dibikin dengan campuran irisan tomat. Cukup untuk membuat agak megap-megap disaksikan oleh sang purnama yang menghiasi angkasa Jogja.  

Untuk kenikmatan makan malam plus nuansa indah malam purnama di sebuah gubuk di samping istana Sorogan malam itu, kami sekeluarga berempat harus membayar ganti rugi kepada Mang Engking sekitar Rp 250.000,- (persisnya lupa, karena notanya terselip), belum termasuk ongkos parkir dua ribu rupiah. Kami puas karena semua sajian ludes kecuali nasi putih yang masih tersisa di cething.

Yogyakarta, 14 April 2009
Yusuf Iskandar

img_2120_r

Udang Bakar Madu Khas Banyu Mili Resto Yogyakarta

26 Januari 2009
Banyu Mili Resto

Banyu Mili Resto

Banyu mili, dalam bahasa Jawa berarti air mengalir. Tapi umumnya orang Jawa merasa lebih nyaman kalau mengucapkannya mbanyu mili (dengan imbuhan huruf ‘m’ di depannya) yang artinya kemudian menjadi : seperti air mengalir atau mengalir seperti air. Kosa kata banyu mili biasanya memberi kesan suasana segar, sejuk, indah, santai, disertai suara gemericik air yang mengalir. Nampaknya kesan itu pula yang hendak “dijual” oleh pemilik resto Banyu Mili di kawasan Jalan Godean, Yogyakarta.

Terdorong oleh rasa ingin mencoba menu masakan yang berbeda pada suatu malam di Yogyakarta, maka seperti air yang mengalir pula kami menuju kompleks perumahan Griya Mahkota Regency di Jalan Godean Km 4,5 Yogayakarta. Di sana ada Banyu Mili Resto & Country Club, sebuah pilihan tempat makan yang menawarkan aneka pilihan menu ikan yang bukan saja bernuansa alam melainkan juga bisa menjadi tempat rekreasi bersama keluarga.   

Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari pusat kota Jogja dan mudah dijangkau, berada di kawasan perumahan mewah dengan aneka fasilitas bermain dan rekreasi. Ada danau buatan yang dikelilingi oleh gubuk-gubuk (saung), lengkap dengan fasilitas pemancingan dan kolam renang, atau sekedar menikmati taman yang ditata asri, atau bermain remote control boat dan aero modelling.

Hanya karena tujuan kami malam itu adalah makan, dan bukan mau mandi atau mancing, maka mengalirlah saya dan rombongan berlima menuju ke salah sebuah meja makan di Banyu Mili Resto, yang pada malam itu suasananya tampak sepi.

Lupakan dulu soal kesegaran, kesejukan atau rekreasi, melainkan langsung fokus ke menu makan yang disajikan melalui dua lembar daftar menu berupa kertas dilaminasi bagus dan rapi. Meski sudah tahu menu unggulan resto ini adalah berbahan udang dan gurami, tak urung, bingung juga ketika hendak memesan makanan.

Sebuah kombinasi suasana hati yang nyaris hampir selalu terjadi ketika masuk ke dalam rumah makan yang sebelumnya sudah tersugesti bahwa makanannya berkategori enak atau enak sekali, yaitu lapar tapi bingung… Sudah tahu sedang lapar dan kepingin segera makan, juga sudah tahu kalau makanannya bakal enak, tapi urusan memilih menu ternyata tidak selesai dalam 5-10 menit.

Jalan keluarnya, percaya saja pada menu unggulan atau menu spesial yang ditawarkan, yaitu udang bakar madu ukuran standar (ada juga yang ukuran super), gurami bumbu cobek ukuran sedang (ada juga ukuran besar, tapi ukuran kecil tidak ada) dan kepiting telur saus tiram. Masih ditambah dengan asesori kangkung tumis, sambal terasi dadak, sambal tomat dan tahu-tempe goreng. Kalau menu pelengkapnya memang relatif berasa standar, tapi menu unggulannya itu yang brasa lebih dan lebih brasa….  

img_1040_udangCoba bayangkan….. (walah…., lha saya membayangkan saja serasa seperti benar-benar sedang menyantapnya….). Seporsi udang bakar madu terdiri dari empat tusuk yang setiap tusuknya terdiri dari empat ekor udang. Di balik warna merah-oranye udangnya, bumbunya mrasuk sekali (benar-benar meresap) sampai menembus kulit udangnya dan menyentuh dagingnya yang kenyal-kenyal gurih. Rasa asam berbalut rasa manis madunya terasa pas di selera. Meski sedikit kerepotan memisahkan kulit, kepala dan kaki-kaki udang, tak menghalangi untuk menghabiskan ekor demi ekor udang mlungker yang telah tersaji dua piring di atas meja.

img_1042_guramiGurami bumbu cobek sebenarnya hanya sebuah nama, yaitu gurami goreng disajikan di atas piring dengan guyuran sambal bawang merah, cabe rawit merah, tomat yang digoreng setengah matang, dan bisa ditambah dengan sedikit perasan jeruk nipis. Sebenarnya hanya menu gurami goreng sederhana, tapi takaran sambal setengah gorengnya begitu pas sehingga memberi sensasi sedap dan nikmat (selain karena memang sedang lapar…., dan terkadang ya terpaksa agak rakus juga daripada mubazir…).

img_1039_kepitingMeski bukan restoran spesial seafood, namun cara membumbui kepiting telornya pantas dipuji. Saus tiram yang menyelimuti kepiting goreng dipadu dengan irisan loncang atau daun bawang dan bawang bombay bagai membuat sang pemakan tak ingin berhenti. Sayang telor kepitingnya digoreng matang agak keras, sehingga agak merepotkan untuk diambil dari cangkangnya meski masih tetap bisa dirasakan kemrenyes tekstur kecil-kecil telur kepitingnya.  

Walhasil, semuanya wes…ewes…ewes… bablasss tak bersisa. Tinggal kulit udang, cangkang kepiting dan duri gurami yang njebubuk di atas meja. Soal harga secara umum memang sedikit di atas rata-rata menu sejenis di resto lain di Jogja, namun itu sebanding dengan kenikmatan, kelezatan dan kepuasan yang memang diidamkan oleh para pencari makan.

Resto Banyu Mili yang baru berumur setahunan ini memang termasuk baru di kalangan penikmat makan di Jogja. Namun kreatifitas pemiliknya yang memadukan wisata makan dengan fasilitas rekreasi keluarga yang bernuansa alam dan tertata rapi agaknya cukup menjadi daya tarik tersendiri.

Pengunjung bisa memilih untuk makan di gubuk-gubuk di tepi danau buatan, di ruangan bermeja-kursi, atau bisa juga lesehan. Restoran yang jam bukanya pukul 10.00 – 22.00 ini siap menampung hingga 500 orang tamu sekaligus. Sedangkan fasilitas rekreasinya buka setiap hari dari pukul 07.00 – 18.00. Satu lagi, sebuah pilihan bagi penikmat kuliner di Jogja, sekaligus tempat rekreasi keluarga yang elok dan bersih.

Yogyakarta, 26 Januari 2009 (Tahun Baru Imlek 2560)
Yusuf Iskandar

img_1045_r

Membeli Selera Makan Di Moro Lejar

7 April 2008

Nama Moro Lejar rasanya sudah tidak asing di telinga orang Yogya atau mereka yang sering bepergian ke Yogya. Meskipun mungkin belum berkesempatan mengunjunginya, tapi umumnya kenal dengan nama ini. Ini adalah nama sebuah restoran yang berada di luar kota di sisi utara Yogyakarta. Restoran ini dikenal karena lokasinya yang bernuansa alami dan sajian menunya yang khas.

Lokasinya relatif berada di daerah pegunungan, meskipun sebenarnya masih jauh di kaki timur gunung Merapi. Namun setidak-tidaknya pemandangan alam di sekitarnya memberi nuansa alam pegunungan. Cara termudah untuk mencapainya adalah melalui jalan Kaliurang menuju utara ke arah Pakem. Menjelang tiba di pusat kota (kalau boleh disebut kota) Pakem, ada persimpangan jalan yang membelok ke kanan menuju ke timur yang merupakan jalan alternatif menuju kota Solo. Sekitar 3-4 km menyusuri jalan ini maka akan ketemu dengan restoran Moro Lejar.

Kalau misalnya dari Pakem salah jalan dan lalu mengambil persimpangan yang membelok ke kiri yang merupakan jalan alternatif menuju Magelang, maka di sana juga ada dua restoran sejenis. Tapi entah kenapa Moro Lejar lebih punya nama. Mungkin karena restoran ini yang pertama kali berdiri dan sukses, sehingga ditiru orang.

***

Sajian menu khas yang disediakan antara lain menu ikan air tawar, sayur asam, lalapan lengkap dengan sambal terasi, serta aneka minuman. Ada pilihan ikan segar gurami, emas, nila atau bawal, lalu tinggal minta mau digoreng atau dibakar, dibumbui asam pedas atau asam manis, dengan ukuran sajian kecil hingga super besar.

Salah satu jenis minuman yang khas adalah bir “plethok”, bir yang tidak mengandung alkohol. Minuman ini sebenarnya adalah sejenis minuman penghangat seperti halnya wedang jahe, sekoteng atau bajigur. Bir “plethok” terbuat dari sari jahe, gula, bijih bunga selasih dan sejenis akar-akaran yang membuatnya berwarna merah (saya lupa namanya dan beberapa pelayannya ternyata tidak mampu menyebut nama akar-akaran ini ketika saya tanya).

Setiap hari restoran ini buka hingga jam 21:00 malam sehingga cukup leluasa bagi mereka yang datang dari luar kota. Jumlah pengunjungnya pun tergolong luar biasa banyaknya, apalagi kalau musim liburan. Di sana terdapat puluhan gubug (saung) yang berdiri di atas kolam-kolam ikan air tawar yang sengaja dibuat di lereng permukaan tanah yang konturnya berteras-teras. Umumnya pengunjung makan sambil duduk lesehan seperti gudeg Malioboro, meskipun tersedia juga sarana meja-kursi.

Harganya relatif tidak terlalu mahal. Sekedar gambaran, kami sekeluarga berempat pada hari Jum’at, 17 Agustus 2001, yll. (kami tidak ikut upacara bendera), hanya menghabiskan sekitar Rp 70.000,- sudah pada “kemlakaren” (perut terasa penuh terisi seperti tidak ada lagi ruang yang tersisa).

Kalau melihat banyaknya pengunjung hampir setiap hari, tentu akan ada pertanyaan : Apakah memang masakannya enak? Kalau saya rasa-rasakan sebenarnya kok ya biasa-biasa saja. Menu dan rasanya tidak jauh berbeda dengan menu sejenis di restoran atau warung makan lainnya. Tapi kenapa Moro Lejar banyak dikunjungi orang?

***

Moro Lejar secara fisik berani tampil beda sebagai sebuah restoran. Suasana makan lesehan di gubug yang berdiri di atas kolam-kolam ikan air tawar, di kaki kawasan pegunungan yang tentunya berhawa menyegarkan, dengan menu ikan segar, ternyata dapat membangkitkan selera makan. Apalagi kalau memang sedang lapar. Dan, itulah yang ditawarkan oleh Moro Lejar.

Moro Lejar berhasil memberi nilai tambah atas menu makanan khas yang sebenarnya biasa-biasa saja, menjadi pilihan makanan yang banyak diminati dan dibeli pengunjung atau calon pengunjungnya.

Oleh karena itu, kalau kelak saya akan kembali ke sana, itu karena saya akan datang dengan kesadaran bukan untuk membelanjakan uang guna membeli makanan yang masakannya luar biasa, melainkan saya akan membeli selera makan yang akan disajikan oleh Moro Lejar dengan sangat baik dan memuaskan.

Jadi, saya memang siap dan rela untuk membeli nilai tambah guna melampiaskan keinginan untuk dapat menikmati makan di Moro Lejar.

New Orleans, 20 Agustus 2001
Yusuf Iskandar