Posts Tagged ‘gudeg’

Gudeg Bu Hj Ahmad Jogja

22 Oktober 2010

Seorang teman dari luar kota kepingin makan siang gudeg. Pilihan jatuh ke gudeg mBarek Bu Hj. Ahmad (terkadang ditulis tanpa ‘h’), Utara Selokan Mataram, Jogja. Terkenal karena rasanya (ya rasa gudeg itu…), begitu semboyannya. Tapi memang beda taste dengan gudeg Wijilan atau Yu Jum.

Pertanyaannya selalu: “Mana lebih enak?”. Jawabnya: “Tidak ada yang lebih, melainkan semua enak, hanya beda taste itu tadi”. Yang pasti.., woenak bangeth!

Yogyakarta, 16 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Bersepeda Ke Kota Gede

24 Desember 2009

Persiapan fisik hari ke-4 (H-7) : Pagi ini kayuhan ditambah…….

Bersepeda ke Kota Gede mengayuh perlahan-lahan/
Mampir makan gudeg pengganjal perut berselonjor kaki nglarasss…./
Bukan soal mau olahraga atau beli sarapan/
Melainkan sekedar mengeringkan rambut karena pagi-pagi sudah keramassss…

(Uuuuh, lha wong jagat seperti ini indahnya kok ya sempat-sempatnya korupsi…..)

(Gudeg Bu Sri, Jl. Karanglo, Kotagede, Jogja)

Yogyakarta, 24 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Sarapan Gudeg

23 Desember 2009

Hari kedua cek fisik : bersepeda keliling kecamatan, lumayan berkeringat, menempuh 4-5 km. Lalu beli gudeg di ujung gang, sarapan pagi…. Wow, Jogja biyangeth…!

Yogyakarta, 22 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Suatu Malam Di Malioboro

3 April 2009

img_0810_r1Keluar dari toko buku Gramedia Malioboro Mall Yogyakarta, saya bergabung dengan seorang teman yang sebelumnya sudah menunggu di depan Mall. Teman saya ini baru pertama kali datang ke Yogyakarta dan minta ditemani untuk jalan-jalan malam di Malioboro sambil mencari-cari sebarang pesanan seorang temannya. Sebagai orang Jogja, saya sendiri sebenarnya sudah sangat lama tidak pernah menikmati jalan-jalan malam di kawasan Malioboro.

Bagi saya, atau barangkali juga kebanyakan orang Jogja, sengaja menghabiskan waktu malam dengan menyusuri penggal Jl. Malioboro adalah bukan pilihan menyenangkan. Kalau bukan karena keperluan yang mengharuskan pergi ke toko yang ada di kawasan Malioboro, ada acara khusus di sana, atau menemani orang yang baru pertama kali datang ke Jogja, rasanya lebih baik pergi ke kawasan jalan yang lain di Jogja. Meski tidak dipungkiri sebagian orang justru menyukai tempat ini.

Kawasan ini serasa terlalu padat menyesakkan dan kurang lagi nyaman untuk dinikmati sebagai obyek wisata jalan-jalan bersama keluarga, kecuali di bagian ujung selatan seputaran Gedung Agung dan benteng Vredenburg saja yang terasa masih nyaman untuk menghela napas agak panjang. Selebihnya perlu agak ngos-ngosan untuk melaluinya. Jangan sekali-sekali jalan meleng, sebab puluhan andong dan kudanya, ratusan becak dan tukangnya, atau ribuan pejalan kaki dan teman-temannya, belum lagi pedagang kali lima di sepanjang trotoar pertokoan dan sepeda motor yang keluar-masuk tempat parkir, siap menyerempet atau menginjak kaki sesama pejalan kaki tanpa perlu mencari tahu siapa yang salah. Idenya Malioboro adalah kawasan street mall, tapi salah bentuk. 

***

Sekitar pukul 20:30 WIB kami kembali sampai di teras Malioboro Mall setelah berjalan kaki ke arah selatan Malioboro, baik di sisi barat maupun timur jalan. Teman saya mengajak makan lesehan. Saya sarankan bukan di Jl. Malioboro-nya sebab kawasan ini terlalu crowded, nanti jadi kurang nyaman untuk menikmati santap malam sambil duduk lesehan. Kami putuskan untuk mencari warung lesehan di Jl. Perwakilan, sebuah penggal jalan di sebelah utara Malioboro Mall, relatif tidak terlalu hiruk bin pikuk.

Masih berjalan santai di teras Mall, di tengah keramaian pejalan kaki, seorang pemuda tampan berbusana rapi, berkaos hitam dan bercelana warna gelap, menghampiri dari sebelah kanan saya. Lalu katanya :
 
“Mau pijat pak?”. Saya hanya menoleh acuh tak acuh. Sang pemuda lalu menambahkan : “Yang mijat cewek pak….”.

Ah, tergoda juga saya. Tergoda untuk tanya lebih lanjut, maksudnya.
“Cantik, enggak?”, tanya saya iseng, masih sambil jalan perlahan.

“Wah, dijamin pak”, jawab sang pemuda itu meyakinkan. Saya tidak tahu, ini dijamin tidak luntur atau luntur tidak dijamin. Namun akhirnya saya berkata : “Enggaklah, mas. Terima kasih”.

Eh, rupanya sang pemuda masih ngotot juga. Setengah memaksa dia menyodorkan dua buah kartu nama agar saya terima (mungkin karena dilihatnya saya berjalan berdua teman saya), sambil katanya : “Barangkali nanti bapak membutuhkan…”. Dan kedua kartu nama itu pun lalu saya masukkan ke saku baju, karena saya tahu teman saya pasti tidak tertarik dengan kartu nama itu.

Sesampai di warung lesehan, sambil menunggu pesanan gudeg, ayam dan burung dara goreng plus lalapannya disajikan, saya lihat kembali karta nama yang tadi saya selipkan di saku baju saya.

Selembar kertas kecil seukuran kartu nama (lha, namanya juga kartu nama…) dengan desain sangat sederhana. Berwarna dasar hitam, bertuliskan “Pijat Panggilan”, di bagian bawahnya ada tulisan warna kuning “Hub. : 085 sekian-sekian-sekian… INDRA/ENY/MITA” (ditulis dengan huruf kapitas menyolok).

Sejenak saya menelan ludah….. Bukan, bukan karena membaca nama tiga diva yang ada di kartu nama itu, melainkan karena asap burung dara goreng dan petai goreng yang masih mengepul sudah tersaji di depan hidung lengkap dengan lalapan dan sambalnya. Kartu nama itu lalu saya masukkan kembali ke saku baju.

Sesampai di rumah, kartu nama tadi saya selipkan di buku tipis “Innovative Leadership” karya Dennis Stauffer yang tadi saya beli di Gramedia, lalu bukunya saya masukkan ke dalam tas ransel kebanggaan saya. Saya perlu ekstra hati-hati menyimpan buku ini. Jangan sampai perang dunia ketiga pecah di dalam rumah. Cukup gempa bumi 5,9 Skala Richter yang telah memporak-porandakan separuh isi lemari kaca dan beberapa keramik, tiga tahun yll.

Kini, diam-diam buku itu saya buka dan saya lihat kembali kartu nama hitam bertulisan nama tiga diva pebisnis panggilan dari Malioboro. Usai menulis kisah ini, kartu nama itu saya sobhek-sobhek… (diucapkan sambil menirukan mulut Thukul Arwana) hingga kecil-kecil lalu saya buang di tempat sampah paling bawah. Agar kalau ada pembaca yang ingin tahu no HP yang tertulis di kartu itu jangan menghubungi saya, melainkan jalan-jalan saja sendiri ke Malioboro sana….. 

Yogyakarta, 3 April 2009
Yusuf Iskandar

Musim Libur Panjang Di Yogya

29 Desember 2008
Malam, padat, merayap, di depan stasiun Tugu, Yogyakarta

Malam, padat, merayap, di depan stasiun Tugu, Yogyakarta

Inilah hari-hari padat dan merayap di kota Yogyakarta (sering disingkat dengan Yogya, saja). Ya, musim libur panjang telah tiba, yaitu hari-hari libur dan hari-hari kejepit yang membentang antara tanggal 25 Desember 2008 (Hari Natal), 29 Desember 2008 (Tahun Baru 1430 Hijriyah) dan 1 Januari 2009 (Tahun Baru Masehi).

Bertumpuknya 3 (tiga) hari libur nasional ini memang jarang terjadi. “Berkumpulnya” Hari Natal, Tahun Baru Hijrah (1 Muharam atau 1 Suro) dan Tahun Baru Masehi (1 Januari) adalah tergolong kejadian langka. Peristiwa ini (menurut perhitungan) akan terulang 32 tahun lagi atau tahun 2040.

Ribuan pendatang sedang berkunjung dan berlibur ke Yogya. Nampaknya kota Yogya tetap menarik minat wisatawan domestik menjadi kota tujuan wisata. Jalan Malioboro, gudeg Jogja, keraton Ngayogyokarto Hadiningrat, Taman Sari,  adalah sebagian dari obyek-obyek yang sering menjadi impian para pendatang untuk sekali waktu ingin menyempatkan bisa mengunjunginya. Bukan saja dalam kota Yogya, di seputaran kawasan kota Yogya, masih ada candi Prambanan, Borobudur, Mendut, pantai Parangtritis, kawasan pegunungan Kaliurang, gunung Merapi, dsb. yang juga tetap menarik minat wisatawan, domestik maupun mancanegara.

Inilah hari-hari padat dan merayap di kota Yogyakarta. Petugas lalulintas kewalahan mengatur kepadatan kota yang pada hari-hari biasa saja sudah padat dan semrawut. Bagi penduduk Yogya, inilah hari-hari tidak menyenangkan untuk keluar rumah dan jalan-jalan ke kota. Namun bagi pedagang dan pebisnis sektor non-formal khususnya, pedagang makanan, penjual cendera mata, pewarung, pemilik resto, pengusaha ritel, tukang parkir, pengusaha angkutan, pengelola obyek wisata, copet (ugh…), dan lain-lain yang sejenis itu, maka inilah hari-hari penuh berkah dan panen raya. 

Selamat berlbur dan tetap berhati-hati menjaga keamanan dan keselamatan diri dan keluarga. Semoga menjadi liburan yang mengesankan.

Yogyakarta, 29 Desember 2008
Yusuf Iskandar

Malam, padat, merayap, di depan stasiun Tugu, Yogya