Posts Tagged ‘grizzly’

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

(2).   Terlambat Bangun Malah Disewakan Pesawat Khusus

Hari ini menjadi hari yang kurang menguntungkan bagi saya. Kekhawatiran saya tadi malam rupanya menjadi kenyataan. Pagi tadi saya terlambat bangun, sehingga ketinggalan boat yang menuju ke lokasi tambang Greens Creek di Pulau Admiralty.

Tadi malam saya menunggu waktu sholat Isya’ tiba terlebih dahulu, lalu setel jam dan pergi tidur. Jadi, lewat tengah malam saya baru tidur. Sial sekali, entah karena tidak mendengar alarm jam akibat kecapekan, atau nyetel jamnya yang tidak benar, akhirnya saya terlambat bangun. Lebih malu lagi, karena saya terbangun justru karena ditilpun oleh Sang General Manager tambang Greens Creek pada jam 4:40 pagi.

Sial, malu, memaki pada diri sendiri, lalu istighfar. Pokoknya segala macam perasaan tidak menyenangkan komplit menjadi satu. Dalam ketergesa-gesaan, hanya dalam waktu lima menit, akhirnya saya siap meninggalkan hotel. Buru-buru minta tolong sopir kendaraan hotel untuk mengejar kapal motor yang akan meninggalkan pelabuhan Juneau jam 05:00 pagi.

Di luar pengetahuan saya, rupanya sang sopir mengira saya akan naik pesawat, sehingga saya dibawa ke bandara. Padahal sopir ini sudah biasa mengantarkan orang yang akan menyeberang ke Pulau Admiralty. Setelah saya jelaskan bahwa saya akan menuju ke tambang Greens Creek, barulah dia ngeh (paham apa yang dimaksudkan). Lalu berbalik menuju ke pelabuhan penyeberangan yang jaraknya cukup makan waktu. Setiba di pelabuhan, masih terlihat kapal motor yang akan menuju ke Pulau Admiralty meninggalkan dermaga. Telat satu menit. Tapi ya, namanya tetap saja telat.

Saya sempat dheleg-dheleg, tidak tahu apa yang mesti saya lakukan. Saya ingat, kalau di film-film mestinya saya dapat lari mengejar perahu lalu meloncat dari dermaga dan menjangkau sambil bergelantung di pagar perahu. Tapi kejadian tadi pagi adalah live show, yang ada hanya perasaan menyesal, bingung dan panik, karena berarti saya akan menyia-nyiakan waktu seharian hanya untuk menunggu jadwal kapal motor besok paginya. Itu juga kalau tidak terlambat bangun lagi…….

Akhirnya kembali ke hotel. Di sepanjang perjalanan saya ajak sang sopir untuk diskusi langkah apa yang sebaiknya saya lakukan dan apakah ada cara lain untuk menuju Pulau Admiralty. Di hotel, petugas front desk pun saya ajak rembugan (rundingan). Keputusannya : dengan berbagai cara pagi itu juga saya menghubungi pihak  tambang Greens Creek untuk minta saran. Tentu saja belum ada orang di sana, kecuali mesin penjawab tilpun. Hanya bisa meninggalkan pesan ke mesin.

Perjalanan menuju Pulau Admiralty hanya mungkin ditempuh via udara, karena tidak ada sarana penyeberangan komersial antar pulau, kecuali yang khusus bagi karyawan tambang Greens Creek tadi pagi. Pihak hotel membantu menghubungi berbagai perusahaan penerbangan lokal untuk mencari informasi jasa penerbangan antar pulau yang ada untuk hari itu. Di saat hari masih pagi, hasilnya sama saja, nihil.

Akhirnya saat menjelang jam 07:00 pagi, perusahaan penerbangan Ward Air bisa dihubungi. Jawabnya adalah : “belum ada kepastian apakah ada penerbangan menuju Pulau Admiralty”. Wuuuah, modar aku…….  Dhelek-dhelek lagi……

Lha kok ndilalah (secara kebetulan), Sang General Manager yang sudah tiba di kantornya sekitar jam 07:15 menilpun ke kamar hotel dan mengatakan agar saya langsung saja menuju ke Ward Air, karena sudah dibuatkan reservasi untuk berangkat jam 08:00.

“Alhamdulillah….., mak plong rasanya”. Lha kok ya kebetulan sekali saya berurusan dengan orang bule yang baik hati dan penuh pengertian (ini tentu sebutan versi saya). Langsung saja saya minta diantarkan menuju ke bandara pemberangkatan Ward Air. Akhirnya jam setengah delapan lewat sedikit, saya sudah tiba di sana, dengan perasaan lega selega-leganya.

Jam 07:45 sopir pesawatnya sudah ngajak berangkat. Dibantunya saya membawa barang bawaan, lalu disuruhnya saya naik ke pesawat kecil. Kecil seperti mainan saja, berkapasitas 6 orang termasuk pilotnya. Rupanya hanya saya sendiri penumpangnya. Pak Pilot pun menawarkan untuk duduk di depan di sebelahnya. Kebetulan, ethok-ethok (pura-puranya) menjadi co-pilot. Ada sedikit rasa bangga, bisa naik pesawat khusus sendirian. Tapi lebih banyak rasa malu pada diri sendiri, akibat keteledoran terlambat bangun lalu jadi seperti diperlakukan istimewa.

Tanpa halo-halo segala macam, Pak Pilot langsung tancap gas. Perjalanan menuju Pulau Admiralty hanya ditempuh kurang dari 15 menit pada ketinggian jelajah sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Belum jam 08:00 sudah mendarat, atau tepatnya “mengair” karena berhentinya di atas air di dermaga Pulau Admiralty.

Sambil menunggu kendaraan jemputan dari tambang, saya sempatkan untuk ngopi dulu di kantin di lingkungan camp site-nya karyawan tambang Greens Creek. Gratis. Untuk menuju ke tambang yang terletak pada elevasi sekitar 300 meter di atas permukaan laut, dari camp ini saya masih harus menempuh perjalanan darat sejauh 8 mil (sekitar 13 km) yang ditempuh dalam waktu sekitar 25 menit.

Tiba di lokasi tambang, hanya rasa malu, disertai ucapan maaf dan terima kasih, yang meluncur tidak habis-habisnya. Untungnya, kejadian yang saya alami tadi pagi sepertinya (mudah-mudahan penilaian saya benar) dapat dipahami. Terbukti dari hangatnya sambutan dan penerimaan dari semua pihak di tambang Greens Creek. Bersyukur sekali saya, di hari yang sedang sial ini ketemu dengan orang-orang yang baik.

***

Dengan ditemani oleh Chief Engineer tambang Greens Creek, pagi itu saya menjelajahi lorong-lorong tambang bawah tanah. Tidak sebagaimana tambang-tambang umumnya, sarana transportasi ke tambang bawah tanah ini bukannya mobil, melainkan traktor pertanian yang dimodifikasi sehingga di bagian belakang kemudinya ada platform untuk penumpang berdiri. Dalam hati saya jadi geli (ingin tertawa) sendiri. Kok jadi seperti kernet angkutan kota……

Tambang Greens Creek termasuk tambang bawah tanah skala kecil dengan tingkat produksi hanya sekitar 1.800 ton bijih per hari. Hasil utamanya adalah perak, seng, emas dan timbal. Metode penambangannya adalah “Cut and Fill” dengan sedikit modifikasi, sehingga sebenarnya lebih tepat disebut dengan metode “Drift and Fill”. Pendeknya, lebih 3 jam saya jadi “kernet traktor”, mutar-mutar di lorong-lorong tambang bawah tanah. Setelah itu acara dilanjutkan dengan diskusi kecil di kantor sambil beristirahat. (Tentang tambang ini sendiri, mudah-mudahan saya akan sempat menceriterakannya secara lebih lengkap dalam Catatan Perjalanan yang akan saya tulis menyusul).

Sore harinya, mestinya saya dapat kembali dan menginap di hotel di Juneau, untuk esok pagi berangkat lagi ke tambang. Namun saya memilih untuk tinggal di camp site. Toh, hanya semalam ini saja. Besok sore rencananya saya akan meninggalkan tambang Greens Creek dan bermalam di Juneau. Hitung-hitung untuk merasakan pengalaman baru dan berbeda, tinggal di lokasi perumahan karyawan tambang, di sebuah pulau terpencil di Alaska yang katanya banyak beruang coklat (grizzly) dan beruang hitam serta rusa liar.

Rusanya sudah beberapa yang saya jumpai dalam perjalanan darat menuju ke lokasi tambang tadi pagi. Sedangkan untuk ketemu beruang, katanya perlu nasib baik kalau kebetulan sang beruang sedang main-main ke pinggiran jalan tambang. Demikian pula untuk melihat ikan paus atau singa laut, perlu nasib baik karena sesekali suka muncul saat dalam perjalanan boat dari Juneau ke Pulau Admiralty.

Sore tadi saya memenfaatkan waktu untuk jalan-jalan di seputar camp site di pinggiran Pulau Admiralty yang berpemandangan cukup menawan, di bawah suhu udara sangat dingin. Malam ini saya ingin tidur lebih awal. Sementara jadwal waktu sholat lebih agak merepotkan dibanding kemarin. Waktu sholat Isya’-nya hari ini sangat pendek, yaitu Isya’ jam 23:55 dan Subuh besok jam 01:10 dini hari.

Wooops ……., sorry. Rupanya saya tidak berhasil men-dial-up untuk melakukan hubungan internet. Entah kenapa, saya sudah malas mengkutak-katik berhubung sudah ngantuk. Apa boleh buat, surat kedua ini tidak dapat saya kirimkan tepat waktu dari pulau terpencil ini. Mudah-mudahan dapat saya kirimkan besok. Mohon dimaklumi.

Pulau Admiralty, 25 April 2001 – 21:30 AKST (26 April 2001 – 12:30 WIB) 
Yusuf Iskandar

Iklan

Surat Dari Alaska

6 Februari 2008

(5).   Hari Terakhir Di Juneau

Semalam tidur saya cukup nyenyak setelah dijamu di rumahnya Mas Lorenzo yang ternyata adalah seorang Philipino yang cukup idealis. Oleh perusahaan tempat kerjanya dia sering dipercaya melakukan traveling ke berbagai negara dalam rangka dinas. Dia juga berceritera pernah enam bulan menjadi anggota NPA (New People Army), itu organisasi militer bawah tanah-nya Philipina.

Hari Sabtu ini adalah hari terakhir saya di Juneau, Alaska. Pesawat Alaska Airlines yang saya tumpangi dari Juneau tinggal landas jam 19:04 menuju Seattle, lalu akan disambung dengan pesawat Continental Airlines menuju Houston dan akhirnya ke New Orleans. Jika tidak ada halangan saya baru akan tiba di New Orleans pada hari Minggu pagi besok sekitar jam 09:00.

Siang tadi saya ajak Mas Rodel untuk menemani menyusuri jalan utama kota Juneau, yaitu Highway 7 yang menuju ke arah barat laut yang merupakan penggal jalan Glacier Highway dan Veteran Memorial Highway. Sedangkan penggal jalan yang menuju ke arah tenggara disebut Thane Road. Rute jalan yang menuju barat laut ini kira-kira sepanjang 40 mil (64 km). Dapat dikatakan selepas dari kota Juneau jalan ini sangat sepi, membentang menyusuri pesisir barat daya Juneau.

Hampir di sepanjang perjalanan di sisi barat daya jalan tampak Selat Favorite yang memisahkan daratan Juneau dengan beberapa perbukitan di pulau-pulau kecil yang puncaknya tertutup salju. Di sisi timur laut jalan juga berupa perbukitan yang puncak-puncaknya tertutup salju. Hutan pepohonan pinus mendominasi pemandangan di sebelah-menyebelah pinggir jalan.  

Siang tadi cuaca sangat cerah, tidak sebagaimana beberapa hari terakhir saya berada di kota ini. Suhu udara berkisar 52 derajat Fahrenheit (sekitar 11 derajat Celcius). Cukup hangat. Matahari juga memancarkan sinarnya. Nyaris tidak banyak awan menghalangi. Perjalanan menyusuri Glacier Highway pun berjalan lancar. Sesekali ketemu dengan orang-orang atau kendaraan lain yang sedang mengisi liburan dengan memancing, berperahu, berkemah, sekedar jalan-jalan santai atau piknik di hutan pinus, bersepeda, serta ada juga yang berolah raga panjat tebing. 

Jalan Glacier Highway ini rupanya habis di sekitar mil ke 40 (km ke 64). Buntu dan tidak ada terusannya lagi. Hanya ada kawasan untuk berekreasi. Itulah jarak terjauh yang dapat dijelajahi ke arah barat laut dari wilayah kota Juneau yang memang wilayahnya terisolir dari mana-mana, kecuali dihubungkan melalui sarana udara dan laut. Setelah berhenti beristirahat sejenak lalu kembali menuju ke kota Juneau.

Di perjalanan kembali ke Juneau ini, saya sempatkan untuk berhenti beberapa kali menikmati pemandangan alam laut dan pantai yang indah dengan latar belakang pulau-pulau dengan puncak bukitnya berwarna putih kemilau karena salju yang memantulkan cahaya matahari. Sempat juga berhenti sejenak melihat beberapa orang yang sedang berolahraga panjat tebing di pinggir jalan. Siang tadi saya sungguh beruntung, sempat menjumpai seekor beruang hitam yang sedang longak-longok di pinggir jalan.

Kata orang, beruang hitam ini termasuk jenis beruang yang pemalu, ukuran badannya agak kecil dan kurang agresif. Kalau ketemu suasana hiruk-pikuk cenderung menghindar. Berbeda dengan jenis beruang coklat (grizzly) yang postur tubuhnya lebih gagah dan besar, serta lebih agresif.

***

Kota Juneau memang tidak besar serta tidak sepadat atau sesibuk kota-kota lainnya di Amerika. Dengan mengalokasikan waktu sehari saja rasanya sudah akan dapat menjangkau semua kawasan yang dapat dikunjungi.

Setiba kembali dari ujung jalan Highway 7, saya menuju ke downtown. Di sana ada sarana wisata kereta gantung (tramway) yang menghubungkan pusat kota dengan salah satu Puncak bukit di utaranya. Menurut brosur wisatanya, di puncak bukit itu kita dapat jalan-jalan menikmati pemandangan kota dari ketinggian dan menikmati suasana alam di dekat kawasan bersalju. Ongkosnya sekitar $20 per orang pergi-pulang (naik dan turun lagi dengan tram).

Setiba di bagian penjualan tiket, saya lihat kok sepi sekali, malah saya mesti ketuk-ketuk pintu dulu sebelumnya. Wow…, rupanya kegiatan wisata naik kereta gantung (tramway) ini hanya dibuka pada musim panas (summer) saja. Untuk tahun ini baru akan mulai dibuka tanggal 1 Mei nanti.

Wah, rupanya timing saya untuk berwisata ke Alaska memang tidak tepat. Beberapa obyek wisata alam juga umumnya baru buka saat musim panas tiba. Malah ada yang hanya bulan Juli-Agustus saja setiap tahun. Barangkali karena masih banyak kawasan yang tertutup salju saat di luar musim panas.

***

Sekitar jam 6:00 sore lebih, akhirnya saya menuju ke bandara international Juneau dengan diantar oleh sahabat baru saya yang orang Philipino, Mas Rodel Bulaong. Agak terlambat check-in, tapi tidak menjadi masalah karena pesawat Alaska Airlines yang terbang ke Seattle malam ini tidak terlihat penuh penumpang.

Jam 19:00 lebih sedikit, pesawatpun lalu tinggal landas meninggalkan bandara internasional Juneau. Hari masih sangat cerah, wong matahari masih tampak agak tinggi. Ini dapat dipahami karena matahari baru akan terbenam selepas jam 20:30.

Begitu lepas landas tadi, pesawat langsung berada di sela-sela perbukitan yang putih berkilau oleh hamparan salju. Lalu semakin tinggi dan semakin tinggi, hingga akhirnya berada pada ketinggian sekitar 10 km di atas permukaan laut. Perjalanan dari Juneau menuju Seattle akan ditempuh sekitar 2 jam. Diperkirakan akan mendarat di Seattle sekitar jam 22:00 waktu Seattle (21:00 waktu Alaska).

Sebentar lagi pesawat Alaska Airlines yang saya tumpangi akan tiba di Seattle, maka tulisan inipun segera saya akhiri, karena laptop saya segera akan saya matikan. Terdengar pak sopir pesawat sudah berhalo-halo memberitahu kepada penumpang bahwa pesawat segera akan mendarat di Seattle. Mudah-mudahan setiba di New Orleans hari Minggu besok, surat bagian terakhir ini dapat segera saya posting.

Usai sudah perjalanan singkat lima hari ke Juneau, Alaska, dalam rangka mengunjungi tambang perak bawah tanah Greens Creek. Tentu saja tidak saya sia-siakan kesempatan untuk dapat melihat lebih banyak daerah di sekitar Juneau di sela-sela waktu kunjungan tambang.- (Selesai).

Antara Juneau dan Seattle (di pesawat Alaska Airlines), 28 April 2001- 20:00 AKST (29 April 2001 – 11:00 WIB)
Yusuf Iskandar