Posts Tagged ‘great smoky’

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(4).     Jalan Merayap Di Cherokee

Minggu pagi, 2 Juli 2000, menjelang jam 10:00 kami baru meninggalkan kota Atlanta menuju ke arah timur laut mengikuti jalan Interstate 85. Sekitar satu setengah jam kemudian kami melintas danau Richard B. Russell yang merupakan perbatasan antara negara bagian Georgia dan South Carolina. Melanjutkan setengah jam kemudian kami tiba di kota Greenville. Di kota ini kami keluar dari Interstate 85, lalu pindah ke Highway 25 yang menuju ke arah utara.

Tidak ada obyek menarik yang kami rencanakan untuk dikunjungi di jalur utara South Carolina yang mempunyai nama julukan “Palmetto State” dan ibukotanya ada di Columbia. Kami terus saja melanjutkan perjalanan ke utara hingga memasuki wilayah negara bagian North Carolina. Beberapa kilometer di utara daerah perbataasan ini kami bertemu dengan jalan Interstate 26 yang menuju kota Asheville.

Di kota Asheville kami berpindah ke jalan Interstate 40 menuju ke arah barat lalu keluar di kota kecil Waynesville untuk istirahat makan siang. Seperti dijumpai di banyak lokasi di sepanjang perjalanan, makan siang yang paling praktis adalah model makan cepat saji. McDonald adalah satu di antaranya. Anak-anak pun menyukainya karena di sana ada happy meals atau kid meals yang biasanya disertai iming-iming mainan anak-anak. Makananpun bisa dimakan sambil jalan, tanpa perlu berhenti terlalu lama.

Dari Waynesville perjalanan kami lanjutkan menuju ke rute yang akan melintasi pegunungan Great Smoky. Rute yang membelah Taman Nasional Great Smoky Mountain ini memang salah satu tujuan kami. Taman Nasional Great Smoky Mountain berada tepat di perbatasan wilayah antara negara bagian North Carolina dan Tennessee, membentang seluas lebih 210.000 ha pada ketinggian hingga lebih 2.000 m di atas permukaan laut.

Pegunungan di Taman Nasional ini mempunyai enam belas puncaknya yang berketinggian di atas 1.800 m. Seperti tersirat di balik namanya, Great Smoky Mountain, barangkali karena di rute puncak pegunungan ini seringkali terlihat adanya awan yang menyerupai asap seakan-akan menggantung di langit biru di atas puncak-puncak pegunungan.

Taman Nasional yang resminya berdiri tahun 1934 guna melindungi sisa-sisa hutan di bagian selatan Appalachian Trail ini merupakan Taman Nasional yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Amerika. Rata-rata dikunjungi oleh sekitar 10 juta wisatawan setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 1999 yll. telah tercatat dikunjungi lebih dari 21 juta wisatawan. Sebuah angka kunjungan yang luar biasa, untuk ukuran Amerika sekalipun. Bulan paling padat adalah selama musim liburan antara Juni hingga Agustus, dan di bulan Oktober dimana daun-daun mulai berubah warna di musim gugur.

Jalur Appalacian Trail adalah jalan setapak yang membentang di gigir pegunungan dan memotong lembah sepanjang 3.480 km dari ujung timur laut daratan Amerika di negara bagian Maine hingga ke selatan di daerah Georgia.

Jalur ini dikelola oleh sekitar 32 kelompok pecinta alam setempat di bawah organisasi yang disebut Appalachian Trail Conference guna pemeliharaan dan perlindungannya, bekerjasama dengan lembaga pemerintah National Park Service (NPS). Penggal-penggal jalur jalan setapak ini banyak menjadi pilihan para penggemar olah raga lintas alam (hiking), bahkan termasuk para tuna netra dan penderita cacat kaki yang melintas menggunakan kruk (tongkat berjalan).

*** 

Jalan utama yang melintas di pegunungan ini disebut Newfound Gap Road (jalan US 441) membentang antara kota Cherokee di sisi tenggara dan Gatlinburg di sisi barat laut sepanjang sekitar 53 km. Di kota kecil Cherokee yang berada di kaki sebelah tenggara pegunungan ini ada areal konservasi suku Indian Cherokee. Karena itu kota kecil ini menjadi salah satu obyek kunjungan para wisatawan.

Rupanya rute jalan yang melalui wilayah ini luput dari perhitungan saya sebelumnya, yaitu bahwa di saat hari libur ternyata rute ini sangat ramai dan arus lalulintasnya padat. Akibatnya kendaraan hanya dapat berjalan merayap ketika tiba di Cherokee. Kami jadi kehilangan cukup banyak waktu untuk melewati kota terakhir sebelum saya meninggalkan negara bagian North Carolina yang mempunyai nama julukan sebagai “Tar Heel State” dengan ibukotanya Raleigh.

Daripada sekedar mengikuti arus lalulintas yang merayap perlahan, kami lalu memutuskan untuk berhenti di kota ini. Turut mengambil bagian di tengah keramaian. Sampai di pertigaan jalan yang akan membelok menuju pegunungan Great Smoky, di sisi utaranya ada sungai yang tidak terlalu lebar tapi jernih airnya.

Di tengah suhu udara siang musim panas yang cukup menyengat, sungai ini dimanfaatkan oleh banyak wisatawan untuk ciblon (mandi dan berendam di sungai) beramai-ramai. Karena lokasinya yang tepat di pinggir jalan, maka tentunya ini menjadi bagian tontonan tersendiri. Kejadian yang sebenarnya biasa saja, tapi menjadi tidak biasa karena adanya di tengah keramaian.

Salah satu tempat yang terkenal di area Reservasi Indian Cherokee seluas lebih 22.000 ha ini adalah Museum Indian Cherokee dan Perkampungan Indian Oconaluftee. Di perkampungan Indian ini direkonstruksi kehidupan masyarakat Cherokee tahun 1750-an. Selama berabad-abad, wilayah reservasi ini ternyata telah menjadi wilayah hunian suku Indian Cherokee yang saat ini paling tidak masih ada sekitar 11.000 warganya.

Kini umumnya mereka hidup dari hasil industri pariwisata. Tampak sekali kalau kita menyusuri di sepanjang jalan dan pertokoan, mereka suku Indian yang berkulit kemerah-merahan ini berseliweran, berdagang cendera mata, beraksi dengan pakaian tradisionalnya dan aktifitas-aktifitas seni lainnya. 

***

Layaknya rute jalan di daerah pegunungan, tentu banyak berupa kelokan, tanjakan dan turunan di tengah areal hutan. Namun yang menjadikan rute jalan ini enak dilewati adalah karena pepohonan yang tumbuh di kiri-kanan di beberapa penggal jalan, batang dan ranting di bagian atasnya menyatu. Membuat penggal jalan ini seperti sebuah lorong yang ditutup oleh atap warna hijau. Cahaya matahari pun menerobos di antara celah-celah batang dan dedaunan.

Saat kami tiba di bagian puncak pegunungan, cuaca berubah menjadi mendung dan hujan kecil mengguyur hingga saat kami menuruni pegunungan. Rute jalan dua lajur dua arah ini tampaknya memang menjadi pilihan para wisatawan yang ingin menikmati alam pegunungan. Terlihat dari cukup ramainya kendaraan yang datang dari kedua arah. Bukan saja karena di kaki pegunungan sebelah tenggara ada kota Cherokee, tetapi juga di kaki sebelah barat laut ada beberapa kota wisata seperti Gatlinburg, McCookville, Pigeon Forge, Dollywood dan Pine Grove.

Kota-kota di sisi barat laut pegunungan Great Smoky ini berada di wilayah negara bagian Tennessee yang mempunyai nama julukan “Volunteer State” dengan ibukotanya di Nashville. Tennessee, siang itu menjadi negara bagian ketujuh yang saya lintasi setelah pagi harinya melintasi South Carolina dan North Carolina.

Melewati kota-kota ini membuat kami semakin ketinggalan jarak dan waktu tempuh, karena di beberapa kota kecil yang sangat ramai wisatawan ini lagi-lagi kami mesti berjalan merayap. Tak terhindarkan, selain karena melewati rute ini memang sudah kami rencanakan sebelumnya, tetapi juga karena saya tidak melihat ada rute alternatif di sekitarnya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(5).     Pejalan Kaki Yang Dimanjakan Di Gatlinburg

Gatlinburg menjadi kota pertama yang saya temui setelah menuruni pegunungan Great Smoky, satu diantara beberapa kota pariwisata di sisi barat laut pegunungan Great Smoky. Kota yang terletak pada elevasi sekitar 400 m di atas permukaan laut ini sebenarnya hanya berpopulasi sekitar 3.400 jiwa. Tetapi kota ini populer sebagai kota cendera mata yang hampir setiap harinya dipadati oleh wisatawan, lebih-lebih dalam liburan musim panas seperti ini. Entah bagaimana kota kecil ini bisa sedemikian menjadi pilihan tempat tujuan wisata.

Ada yang menarik ketika tiba di kota kecil Gatlinburg, yang menjelang sore hari Minggu, 2 Juli 2000 itu masih sangat padat dan ramai wisatawan. Jalan utama yang membelah kota wisata ini cukup dikendalikan dengan rambu lalulintas yang memperingatkan tentang batas kecepatan maksimum 25 mil/jam (sekitar 40 km/jam). Para pengendara yang sewaktu berada di rute pegunungan tadi sama-sama melaju kencang, tiba di kota ini serta-merta mengurangi kecepatan. Tanpa perlu dilambai-lambai oleh tangannya Pak Polisi, apalagi patungnya.

Kalau ditanya kenapa mereka bisa demikian patuh kepada aturan yang ada? Saya tidak tahu persis jawabannya. Saya hanya bisa menduga-duga, kemungkinan karena tradisi lebih mudah diatur (baca : disiplin) memang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat mereka. Atau, kemungkinan lain karena mereka takut kepada disiplin penegakan aturan yang ketat. Artinya, sekali mereka melanggar aturan maka sangsi yang tidak ringan akan dikenakan kepada mereka dengan konsekuen. Kalaupun ini benar, maka ini adalah ketakutan yang edukatif.

Saya mencoba bercermin diri : Bagaimana dengan kita? Siapa takut……? Kelihatannya kita memang lebih berani. Berani bukan karena tidak takut, melainkan karena kita punya “kebiasaan” suka memperjual-belikan rasa takut. Sehingga tidak tampak lagi beda antara patuh dan tidak patuh, disiplin dan tidak disiplin. Ah, bisa jadi cermin yang saya gunakan keliru.

Setiap beberapa puluh meter di jalan utama kota Gatlinburg ini ada tempat penyeberangan jalan (zebra cross), yang di atas aspalnya ditulis dengan tulisan besar warna putih yang berbunyi “Dahulukan Pejalan Kaki”. Maka jika terlihat ada pejalan kaki yang turun dari trotoar hendak menyeberang, tidak ada alasan lain bagi setiap pengendara kendaraan yang datang dari kedua arah selain berhenti memberi kesempatan kepada pejalan kaki untuk menyeberang.

Menjadi pejalan kaki di Gatlinburg memang benar-benar dimanjakan dengan rasa aman. Untuk menjadi pejalan kaki di kota ini nampaknya tidak diperlukan ketrampilan menyeberang jalan. Kontradiktif (tanpa bermaksud membandingkan) dengan cerita kawan-kawan saya yang tinggal di Jakarta, dimana ilmu menyeberang jalan menjadi wajib dipelajari oleh kaum pendatang untuk bisa hidup selamat di Jakarta. Alih-alih mau turun dari trotoar, lha wong masih di atas trotoar saja sudah merasa tidak aman. Berebut jalan dengan para pemain tong setan yang karena tidak punya tong lalu pindah ke trotoar.

***

Setelah melewati beberapa kota wisata yang membuat kami tidak bisa melaju cepat, akhirnya kami ketemu lagi dengan jalan Interstate 40 yang menuju ke arah timur dan lalu berpindah ke Interstate 81 menuju ke arah timur laut. Di jalan bebas hambatan ini saya memberanikan diri memacu kendaraan dengan mencuri kecepatan di atas batas maksimum, agar bisa memperkecil ketertinggalan jarak dan waktu tempuh. Sebelum tiba di perbatasan dengan negara bagian Virginia, kami berbelok ke Highway 23 yang menuju ke kota Kingsport.

Kota Kingsport terletak menjelang perbatasan antara negara bagian Tennessee dan Virginia. Hari sudah mulai gelap saat saya tiba di kota ini, dan perjalanan ke arah utara dari kota ini hanya akan melalui kota-kota kecil. Ketika berhenti sebentar untuk mengisi BBM, saya minta persetujuan terutama kepada anak-anak bahwa perjalanan akan dilanjutkan sampai agak malam dan menginap dimanapun nanti kalau ketemu kota pertama yang sekiranya enak untuk diinapi. Ini karena mengingat bahwa kami semakin tertinggal dari jarak tempuh yang seharusnya bisa dicapai akibat beberapa kali jalan merayap ketika melewati jalur padat yang kurang saya perhitungkan sebelumnya.

Melaju dalam gelap di rute jalan yang relatif sepi, awalnya memang cukup mengasyikkan. Di sebelah menyebelah jalan di dataran agak tinggi tampak pemandangan kerlap-kerlip lampu-lampu rumah yang antara satu rumah dan lainnya saling berjauhan di keremangan senja hari. Sepi sekali memang. Tetapi semakin malam menjadi semakin membosankan karena tidak ada lagi pemandangan yang bisa dinikmati di wilayah paling ujung barat dari negara bagian Virginia. Negara bagian Virginia ini mempunyai nama julukan sebagai “The Old Dominion State” dengan kota Richmond sebagai ibukotanya.

Akhirnya kami tiba di kota kecil Jenkins yang berada di perbatasan antara negara bagian Virginia dan Kentucky. Dari kota ini perjalanan masih kami lanjutkan, karena melihat suasana kota yang menurut feeling kurang enak untuk disinggahi. Sekitar sejam kemudian kami lalu tiba di kota Pikeville, yang berada di wilayah negara bagian Kentucky. Kentucky adalah negara bagian kesembilan yang saya lintasi hingga hari kedua perjalanan kami, setelah sebelumnya melintasi Virginia. Negara bagian Kentucky mempunyai nama julukan “Bluegrass State” dengan ibukotanya di kota Frankfort.

Sejak dari kota Kingsport hingga Pikeville rute jalan yang kami lalui relatif mudah karena hanya mengikuti sepanjang rute Highway 23, sehingga tidak perlu bolak-balik melihat peta. Saat tiba di kota Pikeville ini waktu sudah menunjukkan lebih jam 10:00 malam. Kami lalu mencari hotel untuk menginap di pinggiran kota kecil ini setelah lebih dahulu mampir ke McDonald di downtown, sekedar mengisi perut.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar