Posts Tagged ‘granit’

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(3).  Pulau Penghasil Bauksit

Sejak jaman Sekolah Dasar dulu, pelajaran Ilmu Bumi adalah salah satu pelajaran yang saya sukai. Hingga saya sangat hafal bahwa bauksit sebagai salah satu hasil tambang di Indonesia dihasilkan di pulau Bintan. Lokasinya di sebelah mana pun dengan mudah dapat saya cari. Bauksit mengandung mineral bahan penghasil alumunium, antara lain untuk membuat pesawat terbang. Selalu begitu yang diajarkan oleh guru saya. Saya tidak tahu kenapa tidak pernah disebut sebagai bahan pembuat panci, sendok atau cething (wadah nasi) misalnya, melainkan selalu dihubungkan dengan pesawat terbang. Baru kali inilah saya benar-benar menginjakkan kaki saya di pulau Bintan.

Herannya, kedua anak saya tidak tahu ada pulau yang namanya Bintan yang luasnya dua kali luas pulau Batam. Apalagi menemukan letaknya dan mengetahui hasil utamanya. Terpaksa saya membuka buku atlas Indonesia untuk sekedar menunjukkan kemana bapaknya hendak pergi selama beberapa hari. Menuju ke sebuah pulau dimana ibukota propinsi baru Kepuluan Riau (Kepri) berada. Kepri adalah propinsi ke-32 yang baru diresmikan berdirinya pada tanggal 1 Juli 2004. Diam-diam terbersit kekhawatiran dalam hati, jangan-jangan masih banyak anak-anak Indonesia lainnya yang juga tidak tahu pulau Bintan dan hasil utamanya, belum lagi pulau-pulau yang lebih kecil.

Barangkali karena letaknya yang berdekatan dengan Batam, Singapura dan Johor Bahru, Malaysia, maka keberadaan Bintan nyaris tidak banyak dipromosikan kepada wisatawan dalam negeri. Padahal konon, pantai utaranya yang masih asri dan alami menjanjikan nilai jual tinggi untuk industri pariwisata. Saya ingat ketika di tahun 2002 sempat jalan-jalan ke Singapura dan menyeberang ke Johor Bahru, Malaysia, di sana banyak saya peroleh brosur-brosur promosi wisata tentang pulau Bintan. Sesuatu yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Yang paling populer adalah kawasan Bintan Resort, dan salah satu hotel mewahnya adalah Mayang Sari Beach Resort (jelas nama hotel ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Bambang Trihatmojo……, ya memang tidak ada hubungannya……).  

***

Bauksit yang banyak dijumpai di pulau Bintan dan pulau-pulau di seputarannya dijumpai dalam bentuk endapan laterit. Berada bersama-sama dengan lapisan tanah penutupnya yang kesemuanya menampakkan perwujudan berupa endapan tanah merah. Maka dengan mengupas sedikit tanah penutupnya saja sudah diperoleh endapan laterit mineral bauksit. Dan itu ada di mana-mana. Memandang ke arah mana pun di pulau Bintan ini akan tampak tanah merah yang mengandung bauksit. Oleh karena itu tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pulau Bintan ini adalah pulau bauksit. Di mana pun kita berdiri, maka sesungguhnya kita sedang berdiri di atas endapan bauksit. Demikian halnya dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sungguh sebuah “Maha Karya” yang luar biasa dari Si Empunya jagat raya.

Tidak heran kalau bangsa Belanda yang “lebih dahulu” pandai, sudah sejak lama mengeksploitasi bauksit di pulau Bintan ini, yang hingga sekarang masih berlanjut di bawah manajemen PT Aneka Tambang. Lokasi-lokasi bekas penambangan itu sekarang masih tampak. Sebagian diantaranya kini sudah berdiri bangunan perumahan, perkantoran dan pertokoan di atasnya. Sebagian lainnya ada yang menjadi kolam dan cerukan. Salah satunya, kolam di tengah kota Kijang yang malah menambah asri suasana kota.

Sedangkan area bekas penimbunan tailing (limbah hasil penambangan) maupun area bekas tambang lainnya, kini sudah mulai menghijau ditumbuhi aneka tanaman, baik yang direncana melalui program reklamasi maupun yang dibiarkan sak thukule (asal tumbuh dengan sendirinya). Sebagian dari endapan tailing ini ada juga yang dimanfaatkan sebagai bahan pembuat bata, dicetak seperti batako. Katanya mutu batanya lebih bagus, dan sudah banyak juga masyarakat yang memanfaatkannya. Tailing ini pun tidak mengandung B3 (bahan beracun dan berbahaya), sehingga tidak terlalu “merepotkan”. Malah bagi masyarakat yang mempunyai jiwa seni bercocok-tanam, kawasan tailing ini dapat diolah menjadi lahan pertanian yang menghasilkan sayur-sayuran.

*** 

Seharian ini cuaca rada murung, mendung bergelantungan di mana-mana dan hujan. Sebelum kami bekendaraan ke arah barat dari Tanjung Pinang, kami mampir dulu ke Bintan Center untuk sarapan pagi. Cari model sarapan yang berbeda. Ketemulah sarapan roti prata plus tentu saja kopi atau teh O.

Konon roti prata ini jenis masakaan peninggalan orang India yang dulu-dulunya banyak ada di pulau Bintan. Bentuk, rasa dan bahannya seperti martabak, dan dimakan bersama kuah kari atau pokoknya yang mirip-mirip itulah, wong saya juga enggak tahu. Satu-satunya yang saya tahu adalah rasanya enak dan mak sek, bikin kenyang…… Roti prata ini memang biasa dipilih oleh masyarakat Bintan sebagai salah satu jenis makanan untuk sarapan pagi.  

Segera kami melaju ke arah barat mengikuti jalan yang menuju kota kecamatan Tanjung Uban yang terletak sekitar 90 km arah barat dari Tanjung Pinang dan berada di pantai barat pulau Bintan. Jalannya termasuk beraspal bagus tapi sepi. Sekira di km 60-an kami berbelok masuk ke selatan, ke desa Penaga (baca : Penage). Jauh meninggalkan jalan raya ke arah pedalaman mendekati pantai selatan. Niatnya ingin menuju ke tepian dan muara sungai Ekang Anculai. Namun malah menemui jalan buntu dimana terlihat petani-petani Cina bercelana kolor pendek dan ote-ote (tidak pakai baju) yang lagi pada nongkrong di rumahnya. Di sepanjang jalan tanah merah ini banyak dijumpai pohon karet, durian dan duku. Sayangnya saat ini bukan sedang musim durian berbuah.

Karena jalan tanah sudah mentok dan tidak ketemu sungai, maka kami kembali lagi ke jalan raya dan mencoba jalur lain. Upaya kedua inipun tidak membuahkan hasil. Jalan tanah mentok lagi di perkampungan petani lokal. Malah hujan turun agak lebat sehingga terpaksa numpang berteduh di salah satu rumah penduduk di sana. Namun dari ceritanya, lokasi sungai sebenarnya sudah dekat, hanya saja terlalu sulit untuk dicapai dengan berjalan kaki, apalagi naik mobil, karena banyak kawasan rawa berhutan bakau atau mangrove yang tebalnya berkisar 20-200 m dari bibir sungai.

Upaya mencari muara sungai lewat darat hari ini dibatalkan untuk rencananya besok dicoba lagi dengan mencapainya lewat laut. Meski demikian, semua tempat yang kami kunjungi tetap kami petakan menggunakan alat GPS agar dapat diketahui lebih pasti dimana posisi kami ketika kesasar dan mentok di jalan buntu, kalau diplotkan di peta. Segera kami kembali ke Tanjung Pinang, untuk selanjutnya menuju kota kecamatan Kijang yang letaknya di sudut tenggara pulau Bintan. Jarak dari Tanjung Pinang ke Kijang sekitar 28 km.

Namun sebelum kami melaju jauh, kami menyempatkan untuk melihat dermaga sungai milik perusahaan penambangan batu granit yang lokasi tambangnya tidak jauh dari jalan raya. Batu granit hasil penambangannya dimuat ke dalam tongkang melalui dermaga sungai yang juga berada di sungai Anculai, tetapi lebih ke arah hulu dari lokasi yang rencananya hendak kami datangi. Setelah itu barulah kami melanjutkan perjalanan menuju kota Kijang. Kali ini kami mengambil jalur memutar melalui sisi utara pulau Bintan agar dapat melihat pemandangan alam berbeda.

***

Sebenarnya bukan kota Kijang yang menjadi tujuan utama kami, melainkan melihat lokasi dan operasi tambang bauksit. Diantaranya yang saat ini dikelola oleh PT Aneka Tambang. Ya, sekedar melihat saja. Wong namanya juga orang tambang, ya lumrah kalau kepingin melihat tambang (siapa tahu ada peluang membuka cabang “Madurejo Swalayan” ……). Setidak-tidaknya, dengan melihat, maka informasi yang dapat diserap akan lebih banyak dibandingkan dengan hanya mendengar dan membaca saja. Setidak-tidaknya lagi, kalau terpaksanya ngomong soal tambang bauksit maka tidak akan pathing pecothot karena memang sudah melihat sendiri kenyataannya di lapangan.

Sebelum memasuki kota Kijang kami menyimpang ke selatan, menuju lokasi penambangan bauksit, lalu melihat lokasi pencuciananya. Dilanjutkan melihat dermaga sungai dimana selanjutnya bauksit akan diangkut dengan tongkang menuju ke pelabuhan. Di pelabuhan inilah bauksit dipindahkan ke kapal yang akan membawanya ke pembeli bijih bauksit di luar negeri.

Dengan proses penambangan, pencucian dan pengangkutan yang seperti itulah aktifitas penambangan bauksit di pulau Bintan ini terus berjalan. Bukan saja oleh PT Aneka Tambang, melainkan juga oleh pihak swasta lainnya. Sepanjang pengelolaan areal penambangan dan lingkungannya dikerjakan secara professional, rasanya pemerintah daerah kabupaten Bintan atau propinsi Kepri layak bangga memiliki potensi kekayaan alam yang jarang dijumpai di kawasan lain di negeri ini. Daerah lain yang memiliki potensi cadangan bauksit adalah Kalimantan Barat.

Tinggal pandai-pandai saja pihak pemerintah setempat mengawasi dan mengelola dengan segenap perencanaan yang matang. Tidak asal memperoleh Pendapatan Asli Daerah, melainkan optimasi pendayagunaan sumber daya alam yang diikuti dengan perencanaan yang komprehensif terhadap Rencana Tata Ruang dan Wilayah kota dan kawasan penyangganya. Kalau sudah demikian, maka kegiatan ekonomi dan bisnis pun akan tumbuh menyertainya. Peluang untuk memajukan Bintan melalui sektor industri pertambangan masih sangat terbuka. Bauksit hanyalah satu di antara sekian banyak jenis bahan galian lainnya yang ada, seperti granit, andesit, basalt, pasir kwarsa, kaolin, dsb. 

Pengalaman yang terjadi di pulau Singkep (masih tetangga Bintan di Kepri), dimana kini meninggalkan bentang alam bopeng dan kota Dabo yang kini menjadi kota hantu, hendaknya menjadi pelajaran berharga. Letak geografis Bintan yang dekat dengan Batam dan Singapura tentunya menjadi nilai tambah tersendiri, dimana aktifitas perdagangan lintas pulau lintas negara sudah lebih dahulu terbangun sejak lama. Berbeda halnya dengan Singkep yang adoh lor adoh kidul. Semoga pemerintah Bintan dan Kepri lebih cerdas menyikapinya demi kemajuan masyarakatnya.

Tanjung Pinang, Kepri – 11 April 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(5).  Menyeberangi Teluk Bintan Naik Pompong

Hari ini kami berencana hendak menyusuri sungai Anculai dari hilir ke hulu dengan masuk melalui muaranya, mengingat kemarin tidak berhasil mencapai sungai lewat jalan darat. Untuk itu kami harus mencari pelabuhan nelayan untuk menyewa perahu motor yang biasa disebut pompong. Langsung saja kami melaju menuju pelabuhan nelayan Senggarang yang berada di arah barat laut dan berjarak sekitar 28 km dari Tanjung Pinang. Jalan untuk mencapainya tidak terlalu lebar tapi beraspal bagus dan melompati bukit yang cukup tinggi. Dari tempat tinggi ini nampak pemandangan indah pantai dan laut luas dengan pulau-pulau kecilnya menghampar di arah selatan.

Rupanya di Senggarang ini tidak ada perahu motor sewaan, kendati di tempat ini ada perkampungan nelayan. Kepalang sudah tiba di sana, sekalian saja berhenti di kedai terdekat untuk mencari sarapan pagi. Tidak banyak menu pilihan di tempat ini. Cukup sarapan pagi dengan lontong sayur dan teh O (teh manis biasa), agar cepat selesai karena memburu waktu.

Di penghujung jalan menuju pantai Senggarang saya jumpai sebuah kompleks tempat peribadatan Cina yang cukup luas dengan tampilan bangunan yang sangat bagus. Letaknya tepat berada di garis pantai. Menilik sejarah panjang kepulauan Riau memang tidak lepas dari keberadaan masyarakat etnis Tionghoa, sehingga di mana-mana banyak ditemui warga Cina-Melayu hidup berdampingan dengan warga Melayu aslinya, ditambah pula warga pendatang. Maka tidak mengherankan kalau berbagai tempat peribadatan seperti gereja, masjid, kelenteng dan kuil, banyak betebaran di Bintan. Bahkan banyak pula kelenteng dan kuil yang berada di pedesaan yang jauh dari pusat kota.

Pulau Bintan memang memiliki potensi wisata yang cukup besar dan sangat menarik, terutama untuk wisata alam dan sejarah. Sayangnya akses untuk mencapai kawasan ini masih sering menjadi kendala, sehingga memang tidak mudah bagi wisatawan dalam negeri jika ingin berkunjung ke tempat ini. Selain memerlukan alokasi waktu yang lebih banyak, juga tentunya biaya yang tidak murah. Untuk mencapai pulau Bintan, selain dapat ditempuh dengan kapal penyeberangan, sebenarnya Bintan juga memiliki pelabuhan udara Kijang, yang terletak di kilometer 11 jalan raya Tanjung Pinang – Kijang. Tetapi frekwensi penerbangannya hanya dua kali seminggu dengan biaya yang tentunya masih tergolong bertarif mahal sehingga belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.  

Lain halnya dengan wisatawan mancanegara, ibaratnya tinggal loncat saja dari Singapura atau Malaysia, sudah mendarat ke kawasan pantai Bintan. Selama ini wisatawan yang paling banyak masuk ke Bintan memang berasal dari Singapura dan Malaysia. Sejak obyek wisata Bintan dibuka pertama kali pada tahun 1995, jumlah kunjungannya terus meningkat. Sehingga Bintan pernah mendapat penghargaan terbaik sebagai “The Best New Destination Award” untuk kategori Asia. Penghargaan bergengsi lainnya yang telah didapat adalah “Best Destination Marketing Award”. Hanya sayangnya, media setempat menengarai bisnis pariwisata ini nyerempet-nyerempet ke bisnis “esek-esek”, nyaris tidak beda jauh dengan apa yang terjadi di pulau Batam dan pulau Karimun yang terletak di sebelah baratnya lagi.

***

Dari Senggarang kami kemudian berbalik dan menuju agak ke arah barat lagi ke pelabuhan nelayan Tembeling. Melalui rute jalan yang berbukit, berkelok dan beraspal halus. Agak mengherankan, di pulau yang luasnya sekitar 1.800 km2, dikelilingi oleh garis pantai sepanjang 728 km dengan jumlah penduduk kurang dari 300.000 jiwa ini ternyata sarana jalannya sangat bagus. Sampai ke jalan-jalan kecil ke pelosok desa yang sepi pun sudah banyak jalan yang beraspal mulus kendati tidak terlalu lebar. Sampai-sampai saya baca di koran lokal ada warga yang mengungkapkan unek-uneknya yang kira-kira intinya mengeluh bahwa pembangunan sarana jalan saja yang dimana-mana dibuat mulus sedangkan pembangunan fasilitas listrik yang lebih dibutuhkan malah ditunda-tunda.

Akhirnya kami memperoleh perahu motor atau pompong sewaan setelah menunggu agak lama berembug dengan seorang pemilik pompong. Menjelang tengah hari, pompong kami baru bisa berangkat meninggalkan pelabuhan nelayan Tembeling. Perahu kecil tanpa atap itu muat diisi oleh enam orang plus dua orang awaknya. Kami pun segera siap dengan topi atau penutup kepala masing-masing mengingat siang itu cahaya matahari cukup menyengat langsung menerpa kepala. Pompong pun mulai bergerak tidak terlalu cepat masuk ke laut teluk Bintan

Setelah menempuh perjalanan laut menyeberangi teluk Bintan selama kira-kira satu jam, kami sampai di muara sungai yang menjadi pertemuan antara sungai Ikang dan Anculai dengan teluk Bintan. Perjalanan kami lanjutkan memasuki alur hulu sungai Anculai. Namun tiba-tiba langit cepat berubah menjadi berawan gelap, juga kilat menyala dan menyambar di latar depan. Tidak ada pilihan, kami pun sudah menyiapkan diri untuk kehujanan di atas pompong setiap saat.

Lebar sungai di dekat-dekat muara ini sekitar 150 meteran, kurangnya sedikit atau lebihnya banyak. Di sepanjang kanan dan kiri sungai dibatasi oleh hutan bakau atau mangrove dengan ketebalan bervariasi antara 20 hingga 200 m. Hutan bakau memang banyak mendominasi kawasan garis pantai pulau Bintan. Di latar utara dan timur nampak gunung Bintan, sehingga perjalanan laut dan sungai ini seakan-akan mengitari gunung Bintan. Tepatnya disebut gunung Bintan Besar (karena ada yang Kecil, di sebelah utaranya lagi) yang ketinggiannya tidak lebih dari 225 meter di atas permukaan laut dan menjadi titik tertinggi di pulau Bintan.

Ketika perjalanan menyusuri sungai ke arah hulu mencapai kira-kira 2,5 km, hujan mulai turun dan semakin deras. Beruntung, di sisi barat sungai kami jumpai satu-satunya rumah panggung kayu yang tepat berada di tepian sungai. Pompong kami pun merapat dan meminta ijin untuk numpang berteduh sambil beristirahat. Beruntung lagi, bukan hanya dipersilakan numpang melainkan kami pun disuguh dengan teh O kosongan, yang maksudnya hanya ada teh panas manis tanpa asesori camilan. Lumayan sebagai penghangat di saat kehujanan.

Ketika hujan mulai reda, perjalanan kami lanjutkan semakin ke arah hulu. Lebar sungai memang semakin agak menyempit tapi tetap saja masih sekitar 70-100 meteran dan berkelok-kelok. Lebar dan kedalaman sungai ini nampaknya cukup aman bagi kapal-kapal tongkang untuk melaluinya dalam keadaan kosong maupun membawa muatan batu granit atau bauksit. Dan hutan bakau pun masih melingkupi sisi kanan dan kiri sungai. Setelah mencapai jarak sekitar 5 km dari muara, dimana kami temui sebuah dermaga sungai milik salah satu perusahaan penambangan batu granit, kemudian kami memutuskan untuk kembali. Observasi lapangan di seputaran sungai kami anggap cukup dan posisi beberapa lokasi pun sudah kami petakan.

Segera pompong berputar haluan dan kembali ke arah muara sungai. Dalam perjalanan kembali ke muara ini sempat terlihat seekor buaya kecil sedang main-main di tepian sungai yang berbatasan dengan hutan bakau. Menurut cerita orang-orang, katanya di daerah dekat-dekat muara sungai memang masih suka ada kenampakan buaya (maksudnya, buaya beneran yang nampak). Hari tidak lagi hujan, bahkan langit semakin cerah dan matahari pun kembali memancarkan panasnya saat kami tiba di muara untuk kembali menyeberangi teluk Bintan, dan kembali ke Tembeling.

Waktu sekitar empat setengah jam telah kami lewatkan untuk menyeberangi teluk Bintan dan menyusuri hilir sungai Anculai dengan menaiki pompong. Saat tiba di Tembeling ternyata muka air laut sudah surut lebih satu meter. Sehingga kami tidak bisa mendarat di lokasi yang sama seperti saat berangkatnya. Terpaksa merapat agak jauh lalu disambung dengan jalan kaki kembali ke lokasi pemberangkatan dimana kendaraan kami diparkir di sana.

Lega rasanya rencana kegiatan hari ini dapat terselesaikan dengan baik, meski sempat terlambat karena mencari pompong sewaan. Juga sempat was-was kehujanan di tengah perjalanan berpompong karena dikhawatirkan alat GPS kami tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Tanjung Pinang, Kepri – 12 April 2006
Yusuf Iskandar