Posts Tagged ‘grand canyon’

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(5).   Mampir Makan Nasi Di Ujung Timur California

Minggu, 23 April 2000, jam 9:00 pagi kami sudah meninggalkan hotel dan langsung melaju ke arah tenggara. Tujuan kami hari itu adalah menuju kota Flagstaff di sisi utara negara bagian Arizona. Dari kota ini besoknya kami akan mendekat ke pinggir selatan Grand Canyon of Colorado. Jarak Las Vegas – Flagstaff sebenarnya hanya 215 mil (sekitar 345 km), kalau saya tempuh langsung paling lama 4,5 jam. Tapi justru karena waktu tempuhnya relatif pendek, maka kami merencanakan untuk mampir-mampir dulu.

Sekitar satu jam keluar dari Las Vegas, kami sudah mencapai perbatasan antara negara bagian Nevada dan Arizona. Garis perbatasan ini tepat berada di sungai Colorado yang di atasnya dibangun sebuah dam atau bendungan yang bernama Hoover Dam. Bagian tebing sungai curam yang dibendung ini menyerupai sebuah celah yang sangat dalam yang di atasnya dibangun jalan penghubung antara dua negara bagian. Tempat ini kini menjadi obyek wisata negara bagian Nevada karena letaknya yang relatif lebih mudah dijangkau dari Las Vegas, dibanding dari kota-kota di Arizona.

Hoover Dam dibangun tahun 1931 dan diresmikan penggunaannya tahun 1936, mempunyai konstruksi beton setinggi 221meter. Ini adalah bendungan dengan konstruksi beton tertinggi yang pernah dibangun di Amerika yang berfungsi sebagai pengendali banjir, penampungan air dan pembangkit tenaga listrik, sehingga membentuk danau buatan Lake Mead. Nama Hoover diberikan sebagai penghargaan kepada Presiden Amerika ke-31, Herbert Hoover, yang waktu itu merestui pembangunannya.

Melihat lokasi sekitarnya yang umumnya berupa tebing curam dan lembah bebatuan yang nyaris tanpa penghuni selain hewan gunung, saya menduga-duga dulu pembangunannya barangkali tanpa perlu pusing-pusing soal ganti rugi atau pemindahan penduduk. Kalaupun dulu ada orang Indian yang camping di sekitarnya, itu memang cara hidup mereka. Berbeda dengan orang Kedung Ombo yang membangun gubug di pinggiran waduk, itu karena mereka tidak puas dengan cara pemerintah memperlakukan mereka.

Di atas bendungan dipasang dua buah jam dinding, satu berada di wilayah Nevada dan satu lagi masuk wilayah Arizona. Jarak antara kedua jam itu sekitar 50 meter. Tapi kalau di bulan-bulan antara Oktober – April Anda berjalan dari jam dinding yang satu ke yang lain, “waktu tempuhnya” adalah satu jam. Sedangkan kalau di bulan-bulan antara April – Oktober, jamnya tetap.

Ini karena ada perbedaan waktu antara Nevada dan Arizona untuk bulan-bulan Oktober hingga April. Sedangkan pada bulan-bulan antara April hingga Oktober jamnya sama, karena Arizona adalah negara bagian yang tidak mengikuti program Daylight Saving Time (pergeseran waktu maju atau mundur satu jam setiap musim panas).

***

Tidak terasa hampir dua jam kami berhenti di lokasi waduk Hoover Dam. Perjalanan lalu kami lanjutkan ke selatan memasuki wilayah negara bagian Arizona melalui jalan berkelok-kelok mendaki dan menuruni bukit. Setelah itu perjalanan terasa membosankan, karena pemandangan di kanan kiri jalan hanya berupa dataran luas dengan semak-semak di sana-sini sepanjang jalur lurus 50 mil (sekitar 80 km).

Waktu masih menunjukkan sekitar jam 2:00 siang saat jalan yang saya lalui akan bertemu dengan jalan bebas hambatan Interstate-40 yang membentang arah Timur-Barat, sekitar 7 km lagi. Mempertimbangkan masih cukup waktu, saya lalu berubah pikiran. Saya berbelok ke barat menuju kota kecil Laughlin dengan menyeberangi lagi sungai Colorado yang di atasnya dibangun bendungan Davis. Dari kota ini kemudian memasuki wilayah negara bagian California di sisi ujung timur, lalu belok ke selatan hingga  tiba di kota Needles. Di kota Needles inilah saya akan ketemu lagi dengan Interstate-40.

Meskipun untuk jalan memutar ini saya harus menambah jarak tempuh 143 mil (sekitar 230 km), namun kami punya pertimbangan : Pertama, kami berharap akan menemukan restoran Cina di wilayah California, yang berarti kami akan bisa makan siang dengan nasi. Maklum, sejak dari Salt Lake City belum pernah makan nasi yang benar-benar makan.

Kedua, setelah memasuki Interstate-40 kami bisa melaju dengan kecepatan konstan 80 mil/jam (sekitar 130 km/jam) menuju Flagstaff, tanpa khawatir terganggu dokar, becak, sepeda, penyeberang jalan, anak ngejar layang-layang, ayam, kucing, pengamen atau pencongkel kaca spion. Paling-paling saya harus waspada terhadap rambu lalu lintas bergambar kijang atau elk (sejenis rusa besar) yang suka-suka numpang menyeberang jalan.

Ketiga, meskipun hanya sekedar lewat, kami ingin melengkapi perjalanan panjang ini dengan merasakan pernah berada di wilayah negara bagian California (sebuah keinginan yang kedengarannya ambisius).-

Pertimbangan yang pertama ternyata terbukti. Ketika di kota Needles kami menjumpai restoran Cina, maka nasi putih dan sop egg flower kesukaan anak saya langsung menjadi menu utama. Nikmat sekali rasanya, di saat sedang lapar berat di siang yang terik, tahu-tahu ketemu nasi yang benar-benar terasa nasi, justru di ujung timur California yang semula tidak menjadi bagian dari rencana perjalanan saya. Cukup diakhiri dengan menghabiskan segelas es teh dan sebatang rokok, lalu perjalanan dilanjutkan langsung menuju Flagstaff.

Sekitar jam 6:00 sore lebih sedikit, kamipun sudah sampai di hotel di kota Flagstaff. Satu dari dua kota terdekat untuk menuju ke sisi selatan Grand Canyon, selain satunya lagi kota Williams.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Iklan

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(7).   Melihat Batu Gosong

Mempertimbangkan kami masih punya cukup waktu dalam perjalanan kembali ke Flagstaff dari Grand Canyon sore itu, maka sekitar 25 km sebelum mencapai Flagstaff kami berbelok ke timur mampir ke obyek wisata yang disebut Sunset Crater Volcano. Saya memang tertarik dengan namanya, sementara belum banyak informasi yang sempat saya baca tentang tempat itu sebelumnya. Dalam hati saya berkata : pokoknya belok saja, toh hanya 5 km dari jalan besar.       

Ternyata yang namanya Sunset Crater Volcano adalah bekas kawah gunung berapi. Lha wong namanya bekas, jadi yang tampak di sana adalah hamparan batu-batu vulkanis yang nampak gosong, bekas terbakar. Juga tersedia jalan yang cukup aman untuk bisa jalan kaki mendaki ke pinggir bekas kawahnya, jika berminat.

Sepintas sama sekali tidak ada yang menarik bagi saya. Di Indonesia rasanya banyak yang lebih menarik untuk dikunjungi, daripada sekedar batu gosong. Tidak perlu lama-lama, setelah berhenti istirahat sebentar, kamipun langsung memutar untuk melanjutkan perjalanan. Yang lalu kemudian mengganjal di pikiran saya adalah kenapa batu gosong saja mampu mereka promosikan untuk menarik wisatawan. Dan anehnya, banyak juga wisatawan (lokal khususnya) yang mau berkunjung ke situ dan rela membayar uang tanda masuk US$ 7.00.

Obyek wisata Dieng di Jawa Tengah, bagi saya jauh lebih kaya dan menarik untuk dikunjungi, kalau hanya sekedar berkunjung yang diinginkan. Untuk sekedar mengambil contoh : tahun 1977 saya ke Dieng, lalu tahun 1987 saya ke Dieng lagi, memang menarik tapi ya masih begitu-begitu saja. Tidak berkesan ada nilai tambah yang saya peroleh. Padahal di sana ada kawah, ada sumber air panas, ada telaga, ada candi, ada industri jamur, ada pertanian kentang, ada perkebunan teh, ada berbagai legenda yang tidak habis-habisnya digali.

Selesai berkunjung dan melihat, ya sudah. Apa dan bagaimana semua itu? Anda harus mencarinya sendiri, tanya sana tanya sini, riset kepustakaan sendiri jika diperlukan, atau mendatangi kantor Dinas Pariwisata (itupun kalau Anda beruntung petugasnya sedang “mau” Anda kunjungi). Maka janganlah heran kalau Pemda Dati II Banjarnegara, atau Wonosobo sebagai kota terdekatnya sebenarnya kehilangan sumber pendapatan asli daerah (termasuk devisa) dari sektor pariwisata, yang sebenarnya bisa diharapkan lebih banyak. Karena dengan memberi nilai tambah, Dieng akan sangat menjanjikan lebih bernilai ekonomis untuk “dijual”.   

***

Seperti saya singgung di catatan sebelumnya tentang Lembah Api. Kenapa banyak wisatawan berkunjung ke Sunset Crater Volcano adalah karena ada nilai tambah atas batu gosong itu. Brosur-brosur promosi yang dicetak di atas kertas lux berwarna dan terkadang dilengkapi dengan foto, bisa diperoleh dengan mudah, di hotel, di restoran, bahkan di visitor center saat memasuki negara bagian Arizona. Tentu dengan harapan agar para wisatawan tertarik untuk menjadikan tempat itu sebagai salah satu sasaran kunjungannya. Minimal para calon pengunjung tahu bahwa ada tempat yang namanya Sunset Crater Volcano.

Umumnya tempat-tempat wisata di Amerika, setiap kita membeli karcis masuk maka akan disertakan juga brosur yang memuat berbagai informasi tentang tempat yang kita kunjungi, termasuk denah atau peta lokasi lengkap dengan berbagai keterangannya. Dengan demikian pengunjung tidak hanya akan melihat obyeknya saja (batu gosong misalnya), melainkan juga akan tahu “Apa dan Bagaimana”-nya.

Di ruang visitor center, biasanya pengunjung akan memperoleh berbagai macam informasi yang terkait, seperti sejarahnya, proses terjadinya, pengelolaannya, bahkan terkadang dikembangkan lagi dengan peristiwa-peristiwa lain yang ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi di situ. Semua disajikan melalui media yang sangat informatif, bisa gambar-gambar dan foto-foto di dinding, diorama, alat peraga, pemutaran film dan video, buku-buku, hingga dilengkapi dengan cenderamata yang bisa diperoleh dengan membelinya.

Nilai tambah itulah yang sebenarnya sedang mereka jual, bukan semata-mata menjajakan “batu gosong” -nya. Nampaknya kita memang harus mengejar banyak hal di sektor ini. Dalam kenyataannya kita masih menerapkan bahwa antara rekreatif dan edukatif adalah dua hal terpisah. Sementara di sini saya melihat orang sudah mengaitkan bagaimana agar yang rekreatif itu sekaligus berfungsi edukatif, bagi siapa saja, sekalipun untuk itu harus dengan membayar. Siapapun boleh saja tidak setuju, tapi setidak-tidaknya itulah yang baru saja saya tangkap.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(8).       Bukit-bukit Merah Di Sedona

Hari Sabtu, 12 Agustus 2000, sekitar jam 10:30 pagi saya meninggalkan kota Tempe menuju ke arah utara melalui jalan bebas hambatan Interstate 17 yang menuju kota Flagstaff, sejauh kira-kira 225 km. Akan tetapi bukan Flagstaff tujuan saya, karena bulan April yang lalu saya sudah ke kota kecil yang berada di sebelah selatan Grand Canyon ini. Beberapa kilometer sebelum masuk kota Flagstaff saya berbelok ke barat lalu belok ke selatan lagi mengikuti jalan Highway 89A menuju kota Sedona.

Highway 89A ini dapat dikatakan letaknya sejajar dengan Interstate 17, dan saya sengaja menyurusi jalan ini balik ke selatan dari arah utara, karena dari sana saya akan melewati beberapa obyek wisata alam pegunungan yang menarik. Daerah ini memang mempunyai bentang alam yang sama sekali berbeda dibandingkan umumnya daerah Arizona yang berupa dataran gurun.

Daerah pegunungan di sini suasananya lebih hijau oleh banyaknya pepohonan, suhu udara juga lebih sejuk dibanding kota Phoenix dan kota-kota lainnya di selatan. Namun tetap saja gugusan bukit-bukit terjal dan tandus menyelip di antara perbukitan hijau. Justru gugusan bukit-bukit inilah yang ternyata memberi pemandangan indah yang khas karena warna batuannya yang kemerah-merahan dan bentuknya yang monumental sehingga sering menjadi simbul bagi kebanggaan masyarakat kota Sedona dan sekitarnya.

***

Rute Highway 89A dari Flagstaff menuju Sedona sepanjang 40 km ini dikenal sebagai salah satu jalur wisata paling indah di Amerika. Bukit-bukit yang merupakan formasi batuan gamping dan lempung merah menghiasi sepanjang perjalanan rute ini. Bukit-bukit merah berada di sebelah barat jalur jalan dua lajur dua arah yang berkelok-kelok mendaki dan menuruni lereng pegunungan. Di antara jalan dan bukit-bukit itu membentang lembah dan sungainya.

Para wisatawan yang datang menggunakan kendaraan menyusuri rute ini memang perlu ekstra hati-hati. Ya, karena dengan sendirinya perhatian akan terbagi antara menikmati pemandangan indah di sepanjang rute dan waspada terhadap kendaraan lain karena jalan yang berkelok dengan jurang di sebelahnya.

Tiba di Oak Creek Canyon, saya menyempatkan untuk berhenti sebentar. Sekedar menghirup hawa segar pegunungan dan menikmati pemandangan yang tidak biasanya saya jumpai di Arizona. Lembah Oak Creek membentang sepanjang 25 km dengan lebarnya ada yang mencapai 1.5 km, dengan dinding tebingnya berwarna putih, kuning dengan dominasi warna kemerah-merahan, dan di sela-selanya menyebar pepohonan pinus, cypress dan juniper.

Melanjutkan ke arah selatan, saya tiba di Slide Rock State Park. Masih di bilangan lembah Oak Creek, di dasar sungainya dijumpai bidang luncuran air sepanjang kira-kira 20 meter yang terbentuk oleh proses alam. Di musim panas seperti ini, tempat ini menjadi pilihan orang-orang tua, muda maupun anak-anak untuk bermandi dan berendam di sungai. Mereka memanfaatkan tempat ini untuk meluncur di air sungai di dasar lembah Oak Creek. Yang menarik dari obyek mandi sungai ini adalah air sungainya setiap hari dimonitor kualitasnya. Tempat ini pernah ditutup untuk umum gara-gara diketahui terkontaminasi oleh bakteri yang tidak diketahui dari mana asalnya. Untuk itu disediakan nomor tilpun khusus (hotline) yang bisa dihubungi setiap saat untuk mengetahui kondisi airnya.

Lebih ke selatan lagi sebelum mencapai kota Sedona, kali ini saya menjumpai pemandangan bukit merah yang beraneka bentuknya, di kejauhan sebelah-menyebelah jalan. Namun cuaca siang itu tiba-tiba hujan deras, padahal saya sedang berada di pinggir sungai di dekat jembatan, karena dari sini tampak lebih jelas pemandangan bukit-bukit merah yang menggunung di kejauhan sebelah timur dan barat jalan.

Ada anjungan atau lebih tepat semacam tempat terbuka yang dilengkapi pagar pengaman di sebelah kiri dan kanan jalan di pinggiran sungai. Tempat ini memang disediakan untuk para wisatawan agar dapat lebih leluasa melihat pemandangan. Rupanya antara kedua anjungan tersebut bersambungan melalui bawah jembatan. Sangat kebetulan tentunya, di bawah jembatan itulah saya bisa berteduh sementara menunggu hujan reda. Setelah agak lama menunggu ternyata hujan tidak juga mereda, akhirnya saya putuskan untuk berlari hujan-hujanan menuju ke tempat parkir, lalu melanjutkan perjalanan. Lumayan basah.

Di antara bentuk-bentuk bukit merah di daerah ini ada yang dikenal dengan nama Courthouse Rock, Bell Rock dan Cathedral Rock. Dua yang terakhir ini yang paling terkenal dan sering ditampilkan menghiasi kartu pos, kalender atau foto-foto promosi pariwisata.

Akhirnya saya sampai di kota Sedona, sebuah kota kecil tapi ramai oleh wisatawan. Satu hal yang paling membuat frustrasi sejak dari Oak Creek Canyon hingga masuk ke Sedona adalah mencari tempat parkir. Terbatasnya area terbuka di antara lajur jalan, lembah dan bukit-bukit, membuat lokasi parkir kendaraan sangat terbatas, termasuk di Sedona. Saat hari libur seperti hari ini, memperoleh tempat parkir menjadi tidak mudah. Sementara parkir di sembarang tempat di pinggir jalan tentu saja tidak diperbolehkan.

Seperti yang saya alami ketika hendak berhenti di Slide Rock, setelah memutar balik dan memutar lagi, baru akhirnya saya dapatkan lokasi agak lebar di pinggir jalan sehingga masih ada jarak aman antara kendaraan dengan badan jalan. Begitulah aturannya untuk bisa parkir di pinggir jalan, itupun di luar kota yang kondisinya memang tidak memungkinkan untuk parkir secara “normal”.

Kota Sedona sendiri berada pada ketinggian 1.340 m di atas permukaan laut dan dihuni oleh sekitar 7.700 jiwa. Menurut sejarahnya, nama Sedona diambil dari nama seorang wanita, istri dari Theodore Schnebly salah seorang dari sedikit keluarga yang pada tahun 1901 nekad memulai kehidupan di daerah yang waktu itu masih dianggap sangat terpencil adoh lor adoh kidul (jauh dari utara maupun selatan).

Mula-mula daerah itu mau diberi nama “Schnebly Station”, tapi rupanya oleh kantor pos terdekat masa itu dianggap terlalu panjang dan merepotkan penulisannya. Maka dicarikanlah nama yang lebih pendek, lalu diambillah nama “Sedona”. Pak Theodore ini belakangan diangkat menjadi kepala kantor post pertama di daerah itu.

Kini, Sedona menjadi kota yang cukup terkenal dan menjadi salah satu kota tujuan wisata setelah Grand Canyon. Setidak-tidaknya 4 juta wisatawan dari seluruh dunia datang ke tempat ini setiap tahunnya (saya jadi ingat, kita pernah mau mendatangkan 5 juta wisatawan asing ke Indonesia dalam setahun saja susahnya setengah mati).

Pemandangan alamnya yang khas dengan tonjolan bukit-bukit berwarna kemerah-merahan di sepanjang rute menuju Sedona dari arah utara telah mengundang para sutradara film layar lebar maupun televisi untuk merekam filmnya di sekitar daerah ini. Ternyata hal ini memang bisa menjadi promosi yang efektif bagi kota Sedona, sehingga makin dikenal oleh para wisatawan.

***

Dari kota Sedona, saya melanjutkan menuju ke selatan ke arah kota Jerome dan Prescott. Belum jauh meninggalkan pusat kota Sedona, saya berbelok ke timur. Ada jalan lingkar yang menuju ke Red Rock State Park. Taman Red Rock seluas 115 ha ini berupa dataran agak tinggi yang di tengahnya berdiri tegak bukit warna kemerahan sama seperti Oak Creek. Untuk masuk ke tempat ini saya mesti membayar US$5, karena ternyata taman ini tidak termasuk dalam kategori National Park, melainkan State Park yang dikelola secara lokal oleh Pemda setempat. Kali ini kartu pass saya tidak berlaku.

Tempat ini menjadi pusat kegiatan pendidikan dan pelestarian lingkungan, sehingga daerah ini tertutup untuk kegiatan berkemah karena dikhawatirkan akan merusak lingkungan flora maupun fauna yang ada. Kegiatan alam hanya di siang hari, dan para wisatawan pun diharuskan tetap melewati jalan setapak yang disediakan. Umumnya para wisatawan hanya akan berada di pinggir luar dari taman ini, dimana akan dijumpai aliran sungai yang jernih berbatu-batu dengan latar belakang menjulang tinggi bukit berwarna kemerahan.

Sebegitu ketatnya aturan ditegakkan jika memang dianggap perlu, demi kepentingan pelestarian ekosistem yang ada. Dan ternyata orang-orang (wisatawan maupun penduduk yang tinggal di daerah sekitarnya) sangat patuh dan menghargai aturan yang demikian ini. Satu lagi perasaan gumun (heran) muncul di pikiran saya. Ya, barangkali karena pembandingnya adalah “semangat tidak patuh dan tidak menghargai” yang selama ini sering saya jumpai di kampung saya yang jauh di katulistiwa sana.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar