Posts Tagged ‘gombong’

Ibu Guru Yang Kecopetan

4 Juli 2010

Setelah tugas nyopir dan mengantar istri saya ke tokonya di Madurejo, Sleman, Yogyakarta, saya segera menuju ke masjid terdekat untuk sholat dhuhur. Cuaca siang di seputaran Jogja sedang panas-panasnya. Maka duduk-duduk sambil agak melamun (melamun tapi agak) dan leyeh-leyeh di teras masjid usai sholat dhuhur, sepertinya menjadi selingan aktifitas yang menyejukkan. Selain menyejukkan suasana fisik di tengah teriknya matahari musim kemarau, juga menyejukkan hati dan pikiran usai menunaikan salah satu kewajiban.

Sambil mengisi waktu dengan berbalas SMS (jaman sekarang ini berbalas SMS rupanya sudah menjadi salah satu pilihan cabang aktifitas mengisi waktu), tiba-tiba datang seorang ibu muda naik Mio lalu memarkir sepeda motornya di pelataran masjid. Ibu muda berjilbab itu lalu turun membawa tas cangklong terbuat dari kain dan duduk tidak jauh dari saya duduk bersandar di tiang teras masjid. Sambil melepas sepatu dan kaos kakinya, pandangannya ke lurus depan seperti sedang memikirkan sesuatu. Saya mencoba mencuri pandang karena saya merasa ada yang aneh. Mau menatap langsung saya merasa tidak enak dan mungkin juga kurang etis (terkadang pikiran saya masih bisa membedakan mana yang etis dan kurang etis, tapi seringkali lupa…).

Sejurus kemudian, tanpa basa-basi atau senyum sapaan, ibu itu bertanya : ”Kantor polisi terdekat dimana ya pak?”. Sepertinya ini pertanyaan yang agak janggal. Saya tidak langsung menjawab, melainkan secepat kilat saya mencoba menyelidik profil kenampakan ibu itu hingga ke plat nomor kendaraan yang dinaikinya. Secepat kilat pula kesimpulan sementara saya bahwa kelihatannya ibu itu bukan orang yang biasa berada di seputaran kawasan situ.

Baru kemudian saya menunjukkan dan memberi ancar-ancar dimana kantor pilisi terdekat berada. Tak ayal rasa penasaran saya belum terjawab. Ada apa dengan ibu itu? Dialog pun berlanjut.

”Lho ada apa bu?”, saya mencoba bertanya menyelidik.

”Saya mau melapor kecopetan”, jawabnya.

”Kecopetan dimana?”, tanya saya lagi.

”Di pom bensin tadi sebelum Prambanan”, jawab ibu itu sambil kemudian menjelaskan ihwal terjadinya aksi pencopetan, setelah saya menanyakan kronologi kejadiannya.

”Sebenarnya tadi ibu sudah melewati kantor polisi sebelum sampai ke sini”.

”Saya tidak tahu pak”.

”Ibu ini dari mana mau kemana?”, tanyaku kemudian.

”Saya dari Sragen mau ke Gombong”.

”Wah, ibu ini nekat sekali. Itu kan jauh kalau naik sepeda motor. Apalagi sendirian”, kataku tidak habis pikir.

”Iya memang, sekitar enam jam perjalanan. Biasanya saya naik bis. Ini soalnya saya buru-buru mau layatan sekalian memulangkan motor ke Gombong”, jawaban itu membuat saya semakin penasaran. Bukan soal kenekatannya, melainkan duduk persoalannya.

Setelah panjang-lebar berdialog karena saya mencoba menelisik dan memastikan bahwa ceritanya benar dan agar saya tidak perlu berprasangka buruk terhadap ibu itu, barulah akhirnya saya percaya bahwa ibu itu tidak sedang mengada-ada dalam rangka mencari keuntungan diri sendiri dengan memperdaya orang lain, alias bukan sedang berupaya pu-tippu

Menurut ceritanya, ibu itu asli Gombong dan hal itu dengan mudah dapat terdeteksi dari logat bicaranya dengan bahasa Indonesia yang ngapak-ngapak, maupun juga dari plat nomor sepeda motor yang dinaikinya. Setelah ibu itu menyadari HP dan dompet seisinya dicuri orang ketika sedang berhenti sholat dhuha di sebuah pom bensin sebelum sampai Prambanan dari arah Solo, dia belok ke selatan berniat mampir ke rumah temannya di Wonosari untuk minta bantuan. Agaknya dia tidak tahu kalau jarak Prambanan – Wonosari itu cukup jauh. Bahkan sialnya lagi ternyata temannya itu sudah lebih dulu berangkat melayat ke Gombong. Itulah sebabnya maka di tengah kebingungannya akhirnya ibu itu mampir ke masjid dimana kebetulan bertemu dengan seorang sopir yang sedang duduk melamun dan leyeh-leyeh di teras masjid.

Baru tiga bulan yang lalu diangkat menjadi guru di Sragen, daerah asal suaminya yang sekarang kerja di Jakarta. Sebenarnya selama ini biasanya kalau pulang ke Gombong naik bis. Tapi karena katanya sekalian mau mengembalikan sepeda motornya dan buru-buru mau melayat, kemudian diputuskan pulang ke Gombong naik sepeda motor, sendirian dengan perkiraan waktu tempuh enam jam! Itulah yang kemudian sempat kulontarkan kata-kata : ”Sampeyan kok nekat banget”.

Niatnya mau sholat dhuhur dulu kok ndilalah di masjid itu tidak tersedia mukena untuk sholat bagi ibu-ibu. Maka ibu itu pun segera hendak pergi lagi, setelah sekali lagi saya memberi ancar-ancar dimana kantor polisi berada. Sambil bersiap melanjutkan perjalanan, ibu itu berkata : ”Saya mau melapor dan mungkin mau pinjam uang ke polisi biar nanti sepeda motornya mau saya titipkan di sana. Saya mau naik bis saja…”.

Ucapan dari ibu guru itu membuat otak saya berpikir cepat. Apakah memang seharusnya ibu itu menempuh cara itu? Tidak adakah solusi yang lebih baik baginya? Apa yang bisa saya lakukan?

Hingga akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan sejumlah uang dan memberikan kepadanya, sambil saya berkata : ”Bu, ini untuk membeli bensin. Ikhlaskan saja dompet ibu yang hilang dan doakan pencurinya, insya Allah ibu akan memperoleh gantinya yang lebih baik”, kataku sok tahu (dan memang dalam situasi tertentu, berperilaku ’sok tahu’ itu adalah sebuah keterampilan yang sangat diperlukan). Semula ibu itu menolak pemberian saya. Namun saya yakinkan bahwa dia lebih membutuhkannya. Tidak lupa kemudian saya wanti-wanti : ”Hati-hati di jalan, bu…!”. Ucapan ”normatif” tapi saya tahu pasti itu cukup membantu menenangkan pikirannya.

***

Bagian terakhir itulah sebenarnya yang menjadi inti dari cerita saya ini. Bukan soal uang yang saya berikan. Kalau itu saya percaya orang lain mampu melakukannya lebih baik dengan jumlah yang lebih banyak. Dalam agama saya, dan juga siapapun (lebih-lebih para pemilk KTP Islam) pasti tahu, perbuatan ”pamer kebaikan” adalah tergolong riya yang dilarang oleh agama. Namun, ternyata tidak setiap pemilik uang sempat dan mampu membuat keputusan cepat untuk melakukan sebuah kebaikan di detk-detik yang boleh dikatakan ”kritikal”. Sebab kalau saja saya kelamaan berpikir, ibu itu pasti sudah telanjur berangkat tanpa saya melakukan tindakan apapun.

Intinya adalah bagaimana kita menangkap sebuah peluang di detik-detik yang dalam istilah persepakbolaan disebut dengan injury time. Juga dikenal ada istilah suddent dead. Siapa duluan membuat gol, atau action langkah kemenangan, dialah yang akan meraih hasilnya. Dalam pengalaman cerita di atas, saya lebih dahulu membuat keputusan untuk berbuat sesuatu di detik-detik terakhir sebelum ibu itu pergi. Bukan tidak mungkin, saya terlambat membuat keputusan sehingga ibu itu lebih dahulu melaju pergi meninggalkan saya yang sesaat setelah itu baru ngeh….. Sesal kemudian tak berguna….

Satu hal lagi, bahwa kesempatan memperoleh peluang seperti itu tidak datang setiap saat. Sekedar ilustrasi, barangkali kita pernah mengalami berangkat dari rumah membawa segepok uang receh dengan harapan kalau nanti ketemu peminta-minta di jalan akan dibagikan. Tapi setelah berjalan melewati banyak perempatan jalan malah tidak satu pun peminta-minta yang kita jumpai. Atau sekali waktu kita pergi hendak bersedekah kepada seseorang dan ternyata setelah dicari-cari, seseorang itu tidak berhasil ditemui. Bahkan dalam kisah di atas, seorang teman yang kebetulan membaca status yang saya tulis di Facebook segera mengontak saya dan berniat menyumbangkan sejumlah uang. Namun sayang sekali, sudah dicari-cari hingga ke kantor polisi Prambanan, ibu itu tidak berhasil dijumpai. Entah sedang singgah kemana ibu itu. Betapa sering kita berniat melakukan kebaikan tapi kesempatannya tidak datang-datang. Tapi ketika kemudian kesempatan itu datang, sepertinya banyak hal membuat ragu dan menghalangi sehingga kita malah tidak melakukan apapun.

Ya, tentang menangkap sebuah peluang, itulah sebenarnya yang saya ingin berbagi melalui cerita ini. Menangkap sebuah peluang ”bisnis” yang dalam pemahaman saya di baliknya terkandung nilai yang tak terukur dan digaransi akan memperoleh return yang tak terhingga nilainya. Hanya sebuah langkah kecil yang relatif tidak berarti banyak. Namun saya ingin meyakinkan bahwa improvisasi keseharian semacam itu terkadang perlu dilakukan, minimal agar irama kehidupan ini tidak membosankan begita-begitu saja…, karena langgam improvisasi yang secara kasat mata tidak seberapa itu akan terasa besar manfaatnya baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Namun sekali lagi, tidak banyak orang yang sempat menangkap peluang ”bisnis” semacam ini. Padahal bukan soal ”berapa banyak” yang menjadi esensinya.

Yogyakarta, 28 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Ibu Guru Yang Kecopetan Dan Niat Sedekah

4 Juli 2010

Lagi enak-enak ML di masjid (Melamun & Leyeh-leyeh), datang seorang ibu guru muda naik motor mau sholat dhuhur, terlihat bingung, tanya kantor polisi terdekat. Rupanya baru kecopetan dalam perjalanan dari Sragen ke Gombong (rada nekat, 6 jam perjalanan sendiri naik motor). KTP/SIM/HP/uang, hilang. Mau beli bensin tidak bisa. Mampir ke rumah temannya tidak ketemu. Kunasehati: “Ikhlaskan yang hilang, doakan yang nyuri, dan ‘ini’ sekedar untuk beli bensin..”.

***

Sesaat setelah saya nulis ‘cersta’ tentang ibu guru muda yang kecopetan, seorang rekan kirim SMS: “Mas, aku nunut nyumbang 250 ribu, nanti saya transfer…”. “Waduh, orangnya sudah pergi”, jawabku.

Rupanya rekan saya pantang menyerah, saudaranya disuruh nyusul ke Polsek. Kuberikan ciri-ciri orang dan motornya. Ternyata tidak berhasil menemuinya. Saya yakin ibu muda tadi bukan model orang tipu-tipu. Dan…, terbukti merealisasi niat ibadah itu tidak selalu mudah.

(Note : “Cersta” = cerita status, di Facebook)

Madurejo – Sleman, 26 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Sate Kambing “Ibu Laminah” Gombong

7 April 2008

Menempuh jalur lintas selatan dari arah Yogyakarta menuju ke kota-kota di sebelah baratnya terkadang membosankan. Hari Sabtu yang lalu saya mencoba menggunakan jalan alternatif, yaitu jalan yang membentang sejajar di sebelah selatannya jalur utama lintas selatan dari Yogyakarta menuju kecamatan Buntu, yaitu perempatan yang menuju Cilacap, Purwokerto dan propinsi Jawa Barat. Ini adalah jalan alternatif yang sedang dikembangkan ke arah timur sebagai jalan alternatif di pinggir selatan, dekat laut, menghubungkan dengan wilayah selatan Bantul, Gunung Kidul, hingga ke Pacitan.

Kondisi jalan ini sekarang jauh lebih baik dan lebih lebar. Dulunya hanya jalan kecil atau tepatnya jalan lintas pedesaan. Kini kondisi jalannya ada yang sudah beraspal halus dan ada yang masih kasar, tapi tidak banyak berlubang-lubang sehingga bisa melaju kencang, karena bentangan jalannya relatif lurus dan sepi. Melintasi kawasan persawahan, tegalan dan menerobos pedesaan. Tidak banyak berpapasan dengan kendaraan atau sepeda motor, kebanyakan orang desa yang bersepeda dan pada jam-jam tertentu banyak anak-anak berangkat atau pulang sekolah. Bagi orang-orang yang sudah tahu, melintasi jalan ini akan sangat menghemat waktu.

Dari arah Yogyakarta, saya masuk ke jalur jalan ini setelah melewati kota Wates, tepatnya pada persimpangan jalan yang menuju ke pantai Congot. Setelah itu tinggal mengikuti papan petunjuk arah terus melaju ke arah barat. Jika menginginkan kembali ke jalur utama lintas selatan, maka pada beberapa persimpangan akan terdapat tanda dimana bisa menuju kota-kota Purworejo, Kebumen, Karanganyar, Gombong, dsb. Hanya saja, di sepanjang jalan alternatif selatannya lintas selatan ini tidak akan dijumpai SPBU dan tidak banyak warung makan.

Oleh karena itu ketika tiba di wilayah Gombong, saya menyempal ke utara menuju jalur utama di kota Gombong. Tujuannya ya mencari warung makan. Kalau tengki kendaraan sudah dipenuhi BBM sejak berangkat dari Yogyakarta, tapi tengki pengemudi dan penumpangnya sudah mulai memainkan musik klenengan alias minta diganjal.

Tapi kemana enaknya? Kata-kata “enaknya” ini dalam arti yang sebenarnya, yaitu makan yang enak. Sedang saya merasa belum familiar dengan kota ini.

Atas rekomendasi teman, sampailah saya di warung makan “Ibu Laminah”. Menilik namanya, jelas pemilik warung makan ini adalah seorang perempuan. Maka di sanalah aku berdiri…… (tentu saja setelah keluar dari mobil), lalu masuk ke sebuah warung di pinggir jalan. Suguhan menu utamanya adalah sate, gule dan tongseng kambing. Bagi sebagian orang yang sudah over sek (lebih seketan, lebih lima puluhan umurnya) memang terkadang perlu agak hati-hati dengan menu perkambingan.

***

Namanya juga warung, tampilan luarnya memang tidak terlalu bagus dan tidak pula terlalu menarik. Sangat sederhana, entah kenapa tidak direnovasi menjadi lebih bagus dan permanen. Tidak seperti resto-resto masa kini yang sedang menjamur. Nyaris biasa-biasa saja tak beda dengan warung-warung makan pinggir jalan lainnya. Lokasinya berada di sisi utara jalan raya utama kota kecamatan Gombong, kabupaten Kebumen. Persisnya di Jl. Yos Sudarso, di seberang depannya Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong, agak ke timur sedikit.

Meskipun sepintas seperti warung makan murahan di pinggir jalan raya, tapi rasa satenya, boo……… Saya kategorikan di atas rata-rata. Sate kambingnya disajikan dengan bumbu sambal kecap dan irisan bawang merah. Daging satenya uuuempuk tenan …..(diucapkan sambil kedua ujung jari jempol dan telunjuk seperti sedang memencet irisan daging, lalu gerak-gerakkan sedikit naik-turun…..), dan tidak berkecenderungan nylilit atau nyangkut di gigi (kecuali yang memang giginya sudah aus parah).

Seporsinya berisi sepuluh tusuk daging kambing dengan irisan agak kecil. Belum lagi tongsengnya, wow…… Pas benar bumbunya ibu Laminah ini. Bukan hanya mak nyusss..., tapi mak nyoouusss..…..karena keceplus cabe rawit yang ada di tongseng…..

Warung makan “Ibu Laminah” ini sudah beroperasi sejak tahun 1980. Selama ini pula sudah memiliki penggemarnya sendiri, khususnya mereka yang tinggal di Gombong, Kebumen dan sekitarnya, termasuk para dokter terbang Rumah Sakit PKU di seberangnya. Pelanggan dari luar kota hanya mereka yang sudah tahu dan kebetulan sedang dalam perjalanan melewati kota Gombong.

Menilik bahwa sehari rata-rata menghabiskan seekor kambing, tentu sebuah prestasi dagang yang cukup lumayan untuk ukuran warung kecil di pinggir jalan. Prestasi tertingginya dicapai waktu musim lebaran, sehari bisa mengorbankan tiga ekor kambing.

Kiranya bagi mereka yang sedang dalam perjalanan di jalur lintas selatan dan kebetulan tiba di Gombong pas lapar dan perlu mengisi tengki dua belas jari, serta menyukai menu kambing-kambingan, maka warung makan “Ibu Laminah” adalah salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan. Setidak-tidaknya, kalau suatu saat saya melintas di kota Gombong lagi, saya berniat untuk menyinggahi “Ibu Laminah”, lengkap dengan sate dan tongsengnya.

Yogyakarta, 30 Nopember 2006
Yusuf Iskandar