Posts Tagged ‘godean’

Sop Gurami ‘Mang Engking’ Jogja

11 Juni 2010

“Mang Engking, I’m coming, deui…”, kataku dalam hati ketika seorang teman lama mengajak makan malam ke Resto Mang Engking di Soragan, Jl Godean, Jogja. Udang galah adalah menu unggulannya, tapi gurami bakarnya juga mak nyusss. Dan yang lebih menggairahkan lagi, menu pembuka sop gurami… Wauw, kuahnya sedap sekalee…, sambil nithili (makan sedikit demi sedikit) kepala gurami, sebelum menyantap udang bakar asam manis.

Yogyakarta, 5 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Udang Bakar Madu Khas Banyu Mili Resto Yogyakarta

26 Januari 2009
Banyu Mili Resto

Banyu Mili Resto

Banyu mili, dalam bahasa Jawa berarti air mengalir. Tapi umumnya orang Jawa merasa lebih nyaman kalau mengucapkannya mbanyu mili (dengan imbuhan huruf ‘m’ di depannya) yang artinya kemudian menjadi : seperti air mengalir atau mengalir seperti air. Kosa kata banyu mili biasanya memberi kesan suasana segar, sejuk, indah, santai, disertai suara gemericik air yang mengalir. Nampaknya kesan itu pula yang hendak “dijual” oleh pemilik resto Banyu Mili di kawasan Jalan Godean, Yogyakarta.

Terdorong oleh rasa ingin mencoba menu masakan yang berbeda pada suatu malam di Yogyakarta, maka seperti air yang mengalir pula kami menuju kompleks perumahan Griya Mahkota Regency di Jalan Godean Km 4,5 Yogayakarta. Di sana ada Banyu Mili Resto & Country Club, sebuah pilihan tempat makan yang menawarkan aneka pilihan menu ikan yang bukan saja bernuansa alam melainkan juga bisa menjadi tempat rekreasi bersama keluarga.   

Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari pusat kota Jogja dan mudah dijangkau, berada di kawasan perumahan mewah dengan aneka fasilitas bermain dan rekreasi. Ada danau buatan yang dikelilingi oleh gubuk-gubuk (saung), lengkap dengan fasilitas pemancingan dan kolam renang, atau sekedar menikmati taman yang ditata asri, atau bermain remote control boat dan aero modelling.

Hanya karena tujuan kami malam itu adalah makan, dan bukan mau mandi atau mancing, maka mengalirlah saya dan rombongan berlima menuju ke salah sebuah meja makan di Banyu Mili Resto, yang pada malam itu suasananya tampak sepi.

Lupakan dulu soal kesegaran, kesejukan atau rekreasi, melainkan langsung fokus ke menu makan yang disajikan melalui dua lembar daftar menu berupa kertas dilaminasi bagus dan rapi. Meski sudah tahu menu unggulan resto ini adalah berbahan udang dan gurami, tak urung, bingung juga ketika hendak memesan makanan.

Sebuah kombinasi suasana hati yang nyaris hampir selalu terjadi ketika masuk ke dalam rumah makan yang sebelumnya sudah tersugesti bahwa makanannya berkategori enak atau enak sekali, yaitu lapar tapi bingung… Sudah tahu sedang lapar dan kepingin segera makan, juga sudah tahu kalau makanannya bakal enak, tapi urusan memilih menu ternyata tidak selesai dalam 5-10 menit.

Jalan keluarnya, percaya saja pada menu unggulan atau menu spesial yang ditawarkan, yaitu udang bakar madu ukuran standar (ada juga yang ukuran super), gurami bumbu cobek ukuran sedang (ada juga ukuran besar, tapi ukuran kecil tidak ada) dan kepiting telur saus tiram. Masih ditambah dengan asesori kangkung tumis, sambal terasi dadak, sambal tomat dan tahu-tempe goreng. Kalau menu pelengkapnya memang relatif berasa standar, tapi menu unggulannya itu yang brasa lebih dan lebih brasa….  

img_1040_udangCoba bayangkan….. (walah…., lha saya membayangkan saja serasa seperti benar-benar sedang menyantapnya….). Seporsi udang bakar madu terdiri dari empat tusuk yang setiap tusuknya terdiri dari empat ekor udang. Di balik warna merah-oranye udangnya, bumbunya mrasuk sekali (benar-benar meresap) sampai menembus kulit udangnya dan menyentuh dagingnya yang kenyal-kenyal gurih. Rasa asam berbalut rasa manis madunya terasa pas di selera. Meski sedikit kerepotan memisahkan kulit, kepala dan kaki-kaki udang, tak menghalangi untuk menghabiskan ekor demi ekor udang mlungker yang telah tersaji dua piring di atas meja.

img_1042_guramiGurami bumbu cobek sebenarnya hanya sebuah nama, yaitu gurami goreng disajikan di atas piring dengan guyuran sambal bawang merah, cabe rawit merah, tomat yang digoreng setengah matang, dan bisa ditambah dengan sedikit perasan jeruk nipis. Sebenarnya hanya menu gurami goreng sederhana, tapi takaran sambal setengah gorengnya begitu pas sehingga memberi sensasi sedap dan nikmat (selain karena memang sedang lapar…., dan terkadang ya terpaksa agak rakus juga daripada mubazir…).

img_1039_kepitingMeski bukan restoran spesial seafood, namun cara membumbui kepiting telornya pantas dipuji. Saus tiram yang menyelimuti kepiting goreng dipadu dengan irisan loncang atau daun bawang dan bawang bombay bagai membuat sang pemakan tak ingin berhenti. Sayang telor kepitingnya digoreng matang agak keras, sehingga agak merepotkan untuk diambil dari cangkangnya meski masih tetap bisa dirasakan kemrenyes tekstur kecil-kecil telur kepitingnya.  

Walhasil, semuanya wes…ewes…ewes… bablasss tak bersisa. Tinggal kulit udang, cangkang kepiting dan duri gurami yang njebubuk di atas meja. Soal harga secara umum memang sedikit di atas rata-rata menu sejenis di resto lain di Jogja, namun itu sebanding dengan kenikmatan, kelezatan dan kepuasan yang memang diidamkan oleh para pencari makan.

Resto Banyu Mili yang baru berumur setahunan ini memang termasuk baru di kalangan penikmat makan di Jogja. Namun kreatifitas pemiliknya yang memadukan wisata makan dengan fasilitas rekreasi keluarga yang bernuansa alam dan tertata rapi agaknya cukup menjadi daya tarik tersendiri.

Pengunjung bisa memilih untuk makan di gubuk-gubuk di tepi danau buatan, di ruangan bermeja-kursi, atau bisa juga lesehan. Restoran yang jam bukanya pukul 10.00 – 22.00 ini siap menampung hingga 500 orang tamu sekaligus. Sedangkan fasilitas rekreasinya buka setiap hari dari pukul 07.00 – 18.00. Satu lagi, sebuah pilihan bagi penikmat kuliner di Jogja, sekaligus tempat rekreasi keluarga yang elok dan bersih.

Yogyakarta, 26 Januari 2009 (Tahun Baru Imlek 2560)
Yusuf Iskandar

img_1045_r

Udangnya Mang “Engking”

17 April 2008

Ini cerita soal makan, hasil perburuan selama cuti ke Yogya musim libur kenaikan kelas kemarin. Siapa tahu dapat menjadi alternatif bagi mereka yang hendak berlibur atau ada perjalanan bisnis ke Yogya. Bosan dengan menu yang ada di dalam kota? Maka cobalah sedikit ke luar kota. Tepatnya di desa Sendangrejo, kecamatan Minggir, Sleman. Di sana ada banyak tambak udang galah yang di sekitarnya dibangun pondok-pondok atau gubuk-gubuk tempat makan. Salah satunya, dan yang menjadi pelopor bisnis ini adalah Pondok Udang Mang “Engking” (menilik namanya, pasti asal Jawa Barat).

Sebut saja Pondok Udang di Minggir, Godean, maka orang akan dengan mudah menemukan lokasinya. Setidak-tidaknya kalau sudah sampai Godean, tanya orang di pinggir jalan pasti tahu. Berjalanlah (pakai motor atau mobil tentunya, jangan sekali-kali jalan kaki) dari Yogya menuju Godean. Lanjutkan sedikit ke barat kira-kira 1,5 km akan ketemu perempatan, lalu belok kanan menuju arah Tempel. Terus ke utara sekitar 4-5 km, akan terlihat banyak tambak-tambak udang di antara areal persawahan di pinggir jalan ini. Paling tidak ada lebih 7 lokasi pondok makan di kawasan ini, tinggal pilih mau makan di pondok mana. Tapi mempertimbangkan bahwa Mang Engking adalah pelopor usaha perudangan di daerah ini, maka saya cari-cari tulisan Mang Engking di sisi kiri jalan. Begitu ketemu, lalu belok kiri masuk ke jalan kecil belum beraspal. Inilah satu-satunya jalan termudah menuju lokasinya Mang Engking, hanya beberapa ratus meter saja dari jalan aspal Godean – Tempel.

Namun jika Anda kesana hari Sabtu atau Minggu pas jam makan siang, bersiap-siaplah untuk agak kerepotan memasuki jalan ini, saking banyaknya mobil-mobil (banyak juga berplat nomor luar kota) keluar-masuk atau berebut parkir di jalan tanah pinggir sawah atau tambak. Asyik. Berikutnya cari pondok yang kosong. Ada sekitar 7 pondok dengan beberapa meja di dalamnya. Jika kebetulan lagi penuh, maka harap sabar mengantri. Asyik lagi, bisa kepanasan.

Setelah duduk, pesan makanan dengan berbagai pilihan menu ikan air tawar, selain menu utamanya udang galah. Bisa direbus, digoreng atau dibakar. Sekilo udang galah harganya Rp 70.000,- Jika khawatir terlalu banyak dan biar menunya merata, bisa “diakalin”, pesan saja udang, ikan bawal dan ikan nila masing-masing seperempat kilogram. Atau, pesan sekilo tapi terdiri dari dua atau tiga atau empat macam ikan. Tinggal terserah mau dimasak bagaimana. Bumbu asam-manis adalah salah satu yang bisa membuat ngelek idu (menelan air liur). Jangan lupa, tumis kangkung dan sambal terasinya uenak tenan. Lalu tunggu sebentar, terkadang ya agak lama juga. Asyik lagi, menanti disajikan.

Perut lapar, makan udang goreng, di atas tambak, anginnya semilir, perut kemlakaren (kekenyangan), malas berdiri (asal jangan malas bayar, saja….). Wis to, yang ini huaaasyik tenan.

***

Lebih duapuluh tahun yang lalu Mang Engking Sodikin boro dari Ciamis ke Yogya, lalu merintis usaha tambak udang galah di kecamatan Minggir, tidak jauh dari Kali Progo, dekat dengan selokan Mataram. Selama itu ya biasa-biasa saja, pasang-surut bisnis tambak udang dialaminya. Di atas tambak didirikannya pondokan tempat Mang Engking istirahat kalau capek ngurus tambaknya. Sekitar tiga tahun yang lalu, pondoknya diperbaiki, lalu ngiras-ngirus sambil jualan udang untuk konsumsi pembeli eceran. Kata Bu Engking (yang ini pasti istrinya Mang Engking), ketika saya tanya sejak kapan mulai usaha ini?. Jawabnya dengan logat Sunda yang masih kentara, kira-kira begini : pondoknya sih dibangun sejak 3-4 tahun yang lalu, waktu itu yang beli udang paling-paling sebulan hanya 1-2 orang saja.

Lha, kok lama-lama pembelinya semakin banyak, malah seringkali ada “orang-orang kota” yang minta dimasakkan sekalian dan dimakan di situ. Walhasil, sejak awal tahun 2004, Mang Engking sudah menambah jumlah pondoknya, juga agak dipercantik (meskipun masih terkesan sangat sederhana), dan kebetulan koran Kedaulatan Rakyat mengangkat dan mensponsori publikasinya. Jadilah kisah sukses Pondok Udang Mang “Engking” yang sekarang ini. Lha, siapa yang nyangka, wong cuma jualan udang eceran di tambak kok malah jadi buka restoran besar. Pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Namun yang pasti, Mang Engking perlu waktu “pencarian” dua puluh tahun dengan tanpa disadarinya.

Melihat tanda-tanda kesuksesan Mang Engking, jamaknya lalu para petambak udang di sekitarnya mulai ikut-ikut membangun pondok-pondok makan juga. Maka berdirilah beberapa lokasi pondok udang di kecamatan Minggir. Setidaknya bisa sebagai pilihan untuk menikmati udang jika ternyata pondoknya Mang Engking sudah penuh. Lagi, pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Dan, meniru sukses orang lain adalah bukan tindakan yang salah (menjadi salah kalau disertai dengan “kampanye negatif”)

Kepingin mencoba? Monggo……

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 20 Juli 2004