Posts Tagged ‘gila’

Musim Panas Di Arizona

5 Februari 2008

Pengantar :      

Tanggal 2 sampai 17 Agustus 2000 yang lalu saya melakukan perjalanan dinas ke kota Phoenix, ibukota negara bagian Arizona. Di sela-sela hari kerja di saat akhir pekan, saya menyempatkan untuk jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat menarik. Berikut ini catatan perjalanan saya.-

(1).    Api Di Mana-mana
(2).    Kaktus Raksasa Di Gurun Sonoran
(3).    Dunia Kecil Biosphere 2
(4).    Wisata Tambang Di Kota Hantu
(5).    Legenda Tentang Lost Dutchman Mine
(6).    Menyusuri Rute Apache Trail
(7).    Peninggalan Budaya Indian Salado
(8).    Bukit-bukit Merah Di Sedona
(9).    Jerome, Kota Tambang Di Lereng Gunung
(10).  Taman Nasional Gila

Yusuf Iskandar

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(10).   Taman Nasional Gila

Hari Minggu, 13 Agustus 2000, sekitar jam 10:00 pagi saya melaju ke arah timur melalui jalan bebas hambatan Interstate 60. Hari itu saya merencanakan perjalanan agak jauh, menuju sisi timur dataran Arizona yang berbatasan dengan negara bagian New Mexico. Setiba di ujung jalan bebas hambatan, saya sempatkan untuk mengisi BBM dan membeli beberapa botol air mineral untuk bekal perjalanan. Sekitar 30 menit kemudian, di mil ke 54 (sekitar 86 km), saya tiba di kota Superior. Kota ini dulunya adalah sebuah kota tambang perak dan kini berkembang cukup ramai dan kelihatannya tidak “sempat” menjadi kota hantu.

Melaju ke timur lagi sejauh sekitar 27 km, saya tiba di kota kecil Miami (ini bukan kota Miami yang terkenal di pantai timur Florida). Sekitar 10 km kemudian saya tiba di kota Globe. Jalur antara kota Superior dan Globe merupakan jalur yang enak dilalui, selain jalannya yang mulus dengan lalu lintas tidak terlalu padat, tapi juga berpemandangan indah. Itu karena rute ini membelah Devil’s Canyon yang dinding-dindingnya menampakkan dengan jelas strata batuannya dan mempunyai punggungan bukit yang berbentuk runcing-runcing serta di beberapa tempat berbentuk seperti menara, dengan warna khas kemerah-merahan.

Kehidupan sebagai kota tambang mewarnai kedua kota Miami maupun Globe. Komunitas tambang di Globe terjadi pertama kali sekitar tahun 1860-an, saat booming produksi perak, lalu berikutnya kota ini juga berjaya dengan hasil tembaga. Hingga kini masih ada operasi tambang tembaga di kawasan Miami – Globe.

Salah satu perusahaan raksasa pertambangan Amerika, Phelps Dodge Corporation, kini masih mengoperasikan tambang dan pabrik peleburannya di kawasan Globe – Miami. Saat melewati kota Miami ini tampak di sebelah utara jalan berdiri pabrik peleburan (smelter) dan pemurnian (refinery) tembaga serta produk-produk sampingannya seperti emas, perak, selenium dan tembaga sulfida.

Meskipun Phelps Dodge dalam upayanya untuk meningkatkan effisiensi perusahaannya telah mengurangi kegiatan tambang tembaganya di Miami, namun tahun 1999 Phelps Dodge Mining Company mengakuisisi Cyprus Amax Minerals Company untuk menguasai 100% kepemilikan pabrik pemurnian tembaga di Miami. Korporasi ini menghasilkan sekitar 36% dari produksi tembaga di Amerika.

  

***

Selepas dari kota Globe, saya melanjutkan perjalanan lebih ke timur melalui jalan Highway 70 menuju kota Stafford hingga sampai di pertigaan dengan Highway 191. Ketika tiba di pertigaan inilah saya baru tersadar dan teringat bahwa sebenarnya saya baru saja melakukan “napak tilas” perjalanan saya tahun 1996 ketika berkunjung ke tambang tembaga Morenci. Karena empat tahun yang lalu saya hanya sebagai penumpang, maka tidak terlalu memperhatikan rutenya. Tapi kini saya ingat, bahwa saya pernah berada di tempat ini.

Pada bulan Maret 1996, dari pertigaan ini saya bersama tiga orang rekan kerja membelok ke Highway 191 menuju ke arah utara. Sekitar 55 km kemudian akan mencapai kota Morenci. Morenci adalah juga kota tambang karena di sini ada sebuah tambang tua tembaga yang dioperasikan oleh Phelps Dodge Mining Company. Tambang ini sudah beroperasi sejak tahun 1937 hingga sekarang.

Ketika korporasi yang mula-mula didirikan bersama oleh Anson Greene Phleps dan William Earl Dodge ini memutuskan untuk membuka tambang terbuka di Morenci, sebenarnya Amerika sedang dilanda depresi ekonomi yang luar biasa, yang dikenal dengan Great Depression. Tidak lama kemudian pecah Perang Dunia II, dan lalu tiba-tiba tembaga menjadi komoditi yang sangat dibutuhkan. Maka produksi tembaga pun menjadi strategis bagi pertahanan bangsa. Ya, karena untuk mensuplai bahan persenjataan perang.

Kini, tambang Morenci rata-rata setiap hari menghasilkan 800.000 ton batuan dan 135.000 ton di antaranya berupa bijih yang dikirim ke pabrik pengolahan (mill). Selain dari operasi tambang terbukanya, Morenci juga memiliki dua unit SX/EW (solution extraction/electrowinning), serta sebuah konsentrator. Karena itu tambang ini menyumbang sekitar 25% dari seluruh produksi tembaga yang dihasilkan oleh Phelps Dodge.

Barangkali dilandasi oleh kebanggaan atas sejarah panjang masa kejayaan tambang ini, maka kini tambang Morenci memberikan layanan masyarakat berupa wisata tambang (mine tour) ke sebuah tambang yang masih beroperasi, dengan tanpa dipungut biaya apapun. Sebuah kontribusi yang bisa tak ternilai harganya bagi masyarakat awam yang tidak pernah tahu tentang bagaimana sebuah tambang beroperasi. Kelak, pengetahuan dan pengalaman semacam ini pasti akan mampu memberikan pemahaman dan wawasan baru yang tak terduga bagi mereka yang memang tidak bergelut di dunia tambang. 

***

Kali ini saya tidak berbelok ke Morenci, melainkan terus melaju ke timur menuju perbatasan negara bagian New Mexico, melalui jalur panjang yang tampak gersang, sepi serta membosankan. Menjelang kota Lordsburg, saya berbelok ke utara menuju kota tambang lainnya, Silver City. Kota ini juga pernah merasakan kejayaannya ketika booming perak di akhir abad 19.

Dari kota ini saya terus menuju utara melalui State Road (SR) 15. Rute sepanjang 67 km yang sempit, mendaki dan berkelok-kelok serta berada di lereng gunung yang menyusuri hutan pinus, saya tempuh dengan sesekali mencuri kecepatan. Khawatir akan kesorean, saya menunda untuk berhenti menikmati pemandangan alam dari punggungan bukit yang saya lalui. Akhirnya dalam 1,5 jam saya tiba di lokasi Taman Monumen Nasional Gila (baca : Hila).

Tiba di ruang pusat pengunjung (visitor center) sebenarnya masih jam 4:30 sore dan cuaca juga masih cerah, tapi entah kenapa kok sudah tutup. Saya lalu langsung menuju ke lokasi taman Gila ini. Untungnya di sana belum tutup dan saya masih bisa menjumpai dua orang wanita petugas Taman Nasional. Dengan menunjukkan kartu National Parks Pass saya, maka dengan tanpa perlu membayar US$3 saya bisa langsung memasuki lokasi taman. Ini adalah Taman Monumen Nasional yang mirip-mirip dengan Taman Monumen Nasional Tonto tempat ditemukannya sisa-sisa bangunan peninggalan kuno suku Indian Salado.

Yang menarik perhatian saya mengunjungi Taman Gila ini adalah karena lokasnya berada di perbukitan yang profilnya membentuk seperti bongkahan batuan raksasa yang dinding-dinding batuannya nyaris tegak. Di dinding-dinding tegak itu ada beberapa gua bekas tempat tinggal suku Indian Mogollon pada abad ke 13. Untuk mencapai lokasi itu, harus berjalan mendaki dan memutar sejauh kira-kira 1 km.

Setiba saya di lokasi reruntuhan bangunan kuno, saya sudah disambut oleh seorang petugas wanita yang setia setiap saat menunjukkan, menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Bahkan akhirnya sayapun ditemani turun dari bukit menuju ke pintu keluar taman. Ya, karena rupanya saya adalah pengunjung terakhir sore itu.

Ada 7 gua di dinding perbukitan yang menghadap ke lembah yang curam dan pada 5 gua di antaranya dijumpai sisa peninggalan bangunan kuno. Dinding-dinding rumahnya dibangun dengan konstruksi batu-batu yang diambil dari daerah itu juga, dengan menggunakan lempung karbonat sebagai semennya. Batang-batang kayu yang dijumpai juga masih asli. Diindikasikan ada sekitar 10 hingga 15 keluarga suku Indian Mogollon pernah menempati bangunan-bangunan yang ada di situ dan ruangan-ruangan yang ada digunakan hanya untuk satu generasi. Mereka adalah masyarakat nomaden dan hidup sebagai petani dan pemburu.

Sebelum memasuki kawasan taman ini, seorang petugas menjelaskan tentang rute yang harus saya lalui serta me-wanti-wanti (berpesan) agar saya tidak mengganggu flora dan fauna yang saya jumpai. Termasuk kalau ketemu ular dilarang membunuhnya dan demikian halnya binatang-binatang sejenis burung dan tupai yang dilindungi. Dalam hati saya bertanya : Apa sih artinya seekor ular atau tupai di tempat itu, dibandingkan dengan ratusan ular atau bajing yang saya percaya masih banyak berkeliaran di sekitarnya.

Rupanya memang ada “pesan standard” yang harus disampaikan kepada setiap pengunjung Taman Nasional Gila. Bukan pesannya yang saya perhatikan, melainkan di baliknya ada tercermin rasa kepedulian yang lebih terhadap lingkungan di situ. Lha wong kalau saya pikir-pikir, apa sih kerugian si ibu petugas itu kalau umpamanya dia tidak usah repot-repot menasehati saya dan lalu saya membunuh ular misalnya. Rasanya juga tidak ada ruginya. Gajinya pun tidak akan dikurangi kalau misalnya dia hanya berdiri menjual karcis melayani pengunjung.

Tapi ternyata, si ibu itu tetap memilih untuk repot. Tapi begitulah, barangkali tradisi berpikir saya (atau orang lain yang juga tidak suka repot) masih belum nyandak (menjangkau) tradisi mereka dalam memberi apresiasi terhadap ekosistem dimana manusia hanyalah satu bagian kecil saja di dalamnya.

Saat senja saya baru meninggalkan Taman Nasional Gila ini, dan tiba ke kota Tempe saat tengah malam. Perjalanan panjang di musim panas baru saja saya akhiri. –

New Orleans, 4 September 2000
Yusuf Iskandar