Posts Tagged ‘gamelan’

Surat Tanggapan Yang Tak Kunjung Tiba

28 Juli 2010

Masih soal gamelan… Saya pernah ketitipan surat dari seorang ibu di Selandia Baru, untuk diserahkan kepada Ngarso Dalem HBX. Ibu londo ini menyimpan “warisan” sebuah gong milik Kraton Jogja yang “hilang” seabad yll, dan sekarang ingin dikembalikan. Sudah lebih tujuh minggu surat itu belum ada tanggapan. Ah, keburu ada bisikan dari kolektor: “Jual saja, sudah!” (Sedang yang di Solo saja begitu mudahnya, apalagi di seberang samudra. Sudah dinyatakan hilang, lagi).

Yogyakarta, 20 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Doa Dan Keyakinan

24 Juli 2010

Doa sepertinya tak pernah usai dipanjatkan
dzikir tak jeda diwiridkan
ayat-ayat pun tak henti diagungkan
sampailah pada satu keyakinan
bahwa, tiada yang mudah kecuali yang Engkau mudahkan… (laa sahla illa maa ja’altahu sahlan).

Tapi hati harus tetap tulus
pikiran harus tetap segar
agar tidak kehilangan nalar
agar tetap berada di lajur yang benar

(Ke Taman Budaya Jogja malam tadi menjadi selingan, menikmati alunan musik gamelan…)

Yogyakarta, 19 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Yogyakarta Gamelan Festival 2010

24 Juli 2010

‎”15th Yogyakarta Gamelan Festival” mengusung tema ‘Gamelan Anytime 2010’, Minggu malam, Taman Budaya, Jogja. Konser hari terakhir ini dipuncaki pagelaran Kyai Kanjeng, selain peserta dari luar negri. Sukses sebagai festival dan apresiasi instrumen musik tradisional. Namun masih kurang menyentuh sebagai “spirit of civilization”. Yang surprise,… ternyata dipadati orang-orang muda. Semoga benar karena apresiasi terhadap gamelannya dan bukan terhadap ramai-ramai festivalnya.

Yogyakarta, 18 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Menjaga “Spirit” Gamelan

24 Juli 2010

Ketika pertama kali menggagas Yogyakarta Gamelan Festival tahun 1994, alm. Sapto Rahardjo (seniman mbeling seangkatan dan semodel dengan Harry Roesli) meyakini bahwa gamelan adalah sebuah “spirit”, bukan semata alat musik tradisional. Festival dan konser gamelan bisa dengan mudah dipagelarkan tiap tahun, tapi menjaga “spirit”-nya ternyata jauh lebih sulit…

Yogyakarta, 18 Juli 2010
Yusuf Iskandar