Posts Tagged ‘gambir’

Ketika Ditinggal Tidur Gadis Cantik Teman Seperjalanan

28 November 2009

Setelah sport jantung naik ojek membelah kemacetan Jakarta, setiba di depan stasiun saya melihat jam di HP (saya tidak punya arloji) menunjukkan pukul 19:40 WIB. Ini berarti saya masih punya sisa waktu sekitar 20 menit sebelum kereta api Argo Lawu yang akan saya tumpangi berangkat menuju Jogja.

Walaupun nafas saya mulai terasa lebih longgar dan lega, tiba-tiba saya merasa harus memutuskan di antara tiga pilihan di tengah sisa waktu yang singkat. Saya harus menentukan antara ke toilet dulu karena sudah kebelet sejak tadi, makan dulu setelah sehari berpuasa dan baru sempat diisi sedikit air putih saja, atau sholat maghrib dan isya dijamak (digabung). Assessment singkat kemudian saya lakukan. Kalau ke toilet masih bisa di atas kereta dan demikian pula makan, tapi kalau sholat di kereta akan rada kesulitan. Maka akhirnya saya putuskan untuk ke mushola dan sholat dulu.

Selesai sholat, segera saya bergegas masuk stasiun Gambir dan langsung naik ke lantai tiga sambil terburu-buru. Pasalnya halo-halo stasiun sudah memanggil-manggil penumpang Argo Lawu. Rupanya tempat duduk saya di Gerbong 1, terpaksa harus jalan menuju ke ujung depan rangkaian kereta. Masuk gerbong, lalu mencari tempat duduk, kemudian meletakkan tas ransel butut berisi laptop ke tempat bagasi di atas tempat duduk dan….. wow, penumpang di sebelah kanan saya ternyata seorang gadis cantik. Setidak-tidaknya saya melihat paras ayunya. Untuk subyek seperti ini memang biasanya assesssment bisa cepat (tapi sumprit….., ini bukan karena pengalaman melainkan naluri saja).

Begitu merebahkan badan di tempat duduk kereta dan lalu saya buat perasaan senyaman mungkin, serta-merta begitu saja saya bercerita kepada gadis di sebelah saya tentang perjalanan mendebarkan yang baru saja saya lakukan naik ojek menuju stasiun Gambir. Gadis itu tertawa renyah mendengar cerita saya. Entah kenapa spontan saya merasa gadis itu bukan orang lain, sehingga tidak perlu berbasa-basi ini-itu. Komunikasi jadi mudah dan lancar seperti dua orang yang sudah lama kenal. Bagi seorang yang suka iseng ketika tidak ada kesibukan lain seperti yang saya alami malam itu, maka suasana akrab itu perlu saya bangun karena selama delapan jam ke depan dia akan menjadi teman seperjalanan menuju Jogja. Agar azas “praduga tak bersalah” dapat ditegakkan, sengaja saya tidak membuat Bab Pendahuluan dengan ingin tahu siapa namanya, apalagi no HP-nya.

Tidak lama kemudian kereta Argo Lawu berangkat meninggalkan Jakarta. Saya masih termangu-mangu sambil tersenyum (jelas tidak sendiri karena sudah ada teman tersenyum di sebelah saya yang pasti jauh lebih manis), kalau mengingat perjalanan saya naik ojek membelah kemacetan Jakarta beberapa menit sebelumnya.

Sekitar sejam perjalanan, barulah saya ingat dua hal yang sebelum masuk stasiun tadi belum sempat saya tunaikan. Sekitar jam 9 malam saya pesan kopi panas dan nasi goreng sebagai makanan berbuka yang terlambat. Setelah itu baru ke toilet sembari sesudahnya menghabiskan sebatang Marlboro merah di depan toilet kereta. Eh bukan sebatang, melainkan dua batang. Lalu kembali duduk dan melanjutkan ngobrol dengan gadis di sebelah saya yang rupanya seorang karyawan bank swasta yang hendak libur mudik ke Magelang lewat Jogja.

Ada sedikit keheranan saya dengan pengalaman perjalanan saya hari itu. Hanya untuk keperluan dua jam di Jakarta, tapi perjalanannya serasa mengalami hari yang aneh. Saya berangkat dari Jogja siang harinya naik pesawat. Maskapai Lion Air memberi saya tempat duduk no. 38F pada pesawat MD 90 yang berarti berada di baris paling belakang dan seat paling pojok kanan yang tidak berjendela. Ketika kembali ke Jogja naik kereta, Argo Lawu memberi saya tempat duduk Gerbong 1 no. 1A yang berarti paling depan. Pas benar, dari duduk paling belakang saat berangkat ke duduk paling depan saat kembali, padahal ada ribuan penumpang, ratusan agen perjalanan dan puluhan calo di antaranya.

Dalam perjalanan kembali ke Jogja pada malam Idul Adha yang seharusnya malam takbiran itu  rasanya sulit sekali untuk tidur, klisikan….. Padahal waktu berangkat naik pesawat siangnya saya full tidur sejak pesawat lepas landas di Adisutjipto hingga mendarat di Cengkareng. Untuk mengusir kejenuhan, saya ber-SMS-ria dengan para sahabat di luar kereta sambil diselingi ngobrol canda dengan gadis cantik teman seperjalanan di sebelah saya malam itu. Para sahabat yang berada jauh di luar kereta sana bisa menjadi teman seperjalanan yang lebih mengasyikkan melalui SMS. Itu karena kami tidak saling terikat ruang dan waktu. Bisa kapan saja dilakukan, sambil apa saja, membicarakan apa saja, asyik dengan dirinya sendiri tanpa masing-masing perlu tahu apalagi perduli dengan suasana di sekitarnya.

Diantaranya saya sempatkan ber-SMS dengan anak perempuanku di Jogja. Saya bercerita tentang pengalaman mendebarkan naik ojek menerobos kemacetan yang barusan dialami bapaknya di Jakarta dan hingga nyaris ketinggalan kereta. Salah satu SMS yang saya kirim ke putriku itu bunyinya begini : “Just left Jakarta, nearly missed the train, a beautiful girl sits right beside me…”.

Rupanya oleh putriku dibalas cepat : “Ha ha ha.. oke oke.. be careful pa…”, kata SMS putriku bernada canda. Saya tersenyum membacanya sambil berucap “thanks” dalam hati. Saya senang membaca pesan putriku, cuma habis itu saya mikir : “Lho, sing be careful iki opone… (yang be careful itu apanya)”. Sebab yang mestinya disuruh be careful itu masinisnya, kalau saya kan tinggal duduk pasrah sama keretanya dan tidur kalau bisa, atau…. ya ngobrol dengan a beautiful girl right beside me itu tadi.

Karena kemudian saya ditinggal tidur juga oleh gadis cantik teman seperjalanan di sebelah saya, sementara SMS sahabat nun jauh di luar kereta sana terus menemani sambil takbiran di dalam kereta, sejenak pikiran saya menerawang jauh…..

Enam tahun yang lalu pada malam yang sama, saya dan ibunya putriku mengumpulkan kerikil di padang Muzdalifah. Lalu tiduran di atas tikar menikmati malam yang bersih dengan hembusan angin dingin yang bertiup sesekali lembut sesekali agak kencang melintas di bentang alam antara padang Arafah dan lembah Mina. Labbaikallahumma labbaik…., kupenuhi panggilanmu Ya Allah….. Ingin sekali aku mengulanginya, ingin sekali aku kembali memenuhi ajakanMu untuk bercumbu-mesra dalam suasana batin yang tak terkatakan, melainkan hanya titik airmata mewakili kehadiranku di hadapanMu…

Yogyakarta, 28 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Jika Harus Naik Ojek Membelah Kemacetan Jakarta

28 November 2009

Jam sudah menunjukkan pukul 18:15 waktu Pondok Indah Jakarta. Kendaraan yang akan mengantarkan saya menuju ke stasiun Gambir masih saja berjalan merayap, bahkan nyaris tidak bergerak. Jalan di depan Wisma Pondok Indah nampak demikian padatnya. Saya mulai gelisah. Pada tiket kereta api Argo Lawu yang akan saya tumpangi kembali ke Jogja malam itu jelas menunjukkan waktu keberangkatan jam 20:00 WIB.

Harus ada jalan keluarnya, kata hati saya. Sebab jika tidak, saya pasti akan ketinggalan kereta. Kalau sampai esok paginya saya belum tiba di Jogja, berarti saya tidak bisa sholat Idul Adha di kampung dan yang lebih saya khawatiri adalah kalau sampai saya gagal menjaga amanah dan komitmen untuk membantu Panitia Qurban di kampung saya.

Akhirnya saya putuskan turun dari kendaraan yang malam itu akan mengantar saya ke stasiun yang masih saja mbegegek (berhenti total) tertahan kemacetan parah. Segera saya menyeberang jalan untuk mencari taksi pada lajur jalan yang berlawanan yang tampak lebih lancar. Berdiri di pinggir jalan hingga lebih 15 menit ternyata tidak juga ketemu taksi kosong. Hati saya semakin gelisah disertai perasaan tegang. Tiba-tiba saya ingat kalau petang itu saya belum membatalkan puasa Arafah yang saya jalani. Saya lalu menuju tukang rokok di pinggir jalan membeli sebotol air mineral sekedar untuk membatalkan puasa saya. Sambil saya minta pendapat penjualnya tentang bagaimana cara tercepat menuju stasiun Gambir. Rupanya kalau perasaan sedang gelisah dan pikiran rada panik, kita sering tidak mampu berpikir jernah. Sampai perlu minta pendapat orang lain, siapapun dia termasuk tukang rokok pinggir jalan.

Solusi tukang rokok ternyata sederhana saja : “Kalau tidak ada taksi mending naik ojek, pak”, katanya. Ya, benar juga. Akhirnya usul itu saya setujui. Bapak penjual rokok pun berbaik hati membantu mencarikan ojek. Ketika saya tanya kira-kira berapa ongkosnya, dijawabnya sekitar 35 sampai 40 ribu rupiah. “Tapi ditawar saja, pak”, katanya lagi.

Pak tukang ojek meminta ongkos Rp 50.000,- sampai Gambir, setengah jam sampai katanya. Wah boleh juga, pikir saya. Tapi seperti saran tukang rokok tadi, saya pun menawar. Tawar-menawar berjalan rada alot (sudah tahu keadaan terdesak, masih juga gengsi untuk menerima begitu saja tawaran harga tukang ojek). Akhirnya kami sepakat dengan ongkos Rp 40.000,- Perasaan saya mulai agak lega, walau belum sepenuhnya. Ojek belum jalan tapi pikiran saya sudah membayangkan membonceng ojek malam-malam membelah kemacetan Jakarta.

Sebuah sepeda motor butut Suzuki Tornado yang spedo meternya sudah bolong ditutup plastik yang diplester, kedua kaca spion diganti kecil-kecil, lampu depan remang-remang dan suara mesinnya mbeker-mbeker…, segera meluncur menembus malam, menembus kemacetan Jakarta. Saya tidak ingat lagi jalan mana saja yang kami lalui malam itu, karena pandangan mata saya tajam ke depan mengikuti liak-liuknya sepeda motor yang saya boncengi sambil perasaan full tegang. Ya bagaimana tidak tegang, wong terkadang lampu merah diterobos, berpindah lajur asal wesss…. begitu saja, tidak perduli klakson kendaraan lain yang sedang melaju kencang di lajur yang dipotong.

Ketika sampai di kawasan Senayan, kami bertemu dengan kepadatan lalulintas lagi, sepeda motorpun mengendap-endap lalu tiba-tiba menyalip dengan cara menyusup celah sempit di antara dua buah bis yang sedang berjalan tidak terlalu cepat. “Oedan…”, kata saya dalam hati. Tiba di bundaran Hotel Indonesia, sepeda motor kembali beraksi dengan menambah kecepatan untuk mendahului bis kota dari sisi kanan dengan mencuri celah sempit di sudut antara moncong bis dengan separator jalan. Wusss…. berhasil, termasuk berhasil merobohkan dua buah traffic cones yang bentuknya menyerupai corongan warna oranye yang berada di ujung separator jalan sebelah kanan. “Huhhh….”, kata hati saya.

Mau saya tegur, saya khawatir nanti jalannya jadi pelan-pelan padahal saya berkepentingan untuk segera tiba di stasiun Gambir mengejar jadwal kereta Argo Lawu. Adrenain saya meningkat. Entah kenapa saya begitu menikmatinya. Sepeda motor pun kemudian melaju kencang menyusuri Jl. Thamrin ke arah utara menuju kawasan Monas, meski saya tidak sempat lagi memandang tugu itu. Lalu lintas mulai lancar dan tidak lagi merayap. Barangkali seperti itulah rasanya ikut balap road race.

Tiba di Jl. Medan Merdeka Barat, tiba-tiba tukang ojek mengajak bicara. Katanya : “Kita lurus pak”. Saya memang tidak terlalu hafal jalan-jalan di Jakarta. Tapi setahu saya kalau lurus berarti ke arah Kota, sedang stasun Gambir ada di sisi timurnya Monas. Spontan saya berteriak di tengah kebisingan lalu lintas : “Belok kanan, belok kanan….!”. Sepeda motor pun spontan memotong ke kanan tanpa tolah-toleh. “Huhhhh, lagi…..”.

Mulai feeling saya curiga, jangan-jangan tukang ojek ini tidak tahu dimana letak stasiun Gambir. Lalu saya tanya : “Bang, tahu stasiun Gambir kan?”. “Ya, tahu”, jawabnya meyakinkan.

Tiba di ujung Jl. Juanda, sepeda motor terus melaju kencang ke arah timur. Saya kembali curiga, tapi saya tepis keraguan saya. Mungkin dia tahu jalan pintas. Akhirnya, dugaan saya ternyata benar. Tukang ojek salah jalan hingga mutar-mutar kehilangan arah hingga ke kawasan Senen. “Wuahhh, modar aku!”.

“Bang, sebenarnya lu tahu stasiun Gambir enggak sih?”, tanya saya hendak memastikan. Jawabnya : “Tahu pak, tapi jalannya banyak berubah”. Sudahlah, hati saya mulai gemas. Ketika akhirnya tukang ojek itu beberapa kali tanya orang mencari arah yang benar, telinga saya mendengar yang ditanyakan bukan ‘stasiun Gambir’ melainkan ‘terminal kota’. “Aaahhhh…. Guoblog!”, kata saya misuh-misuh…, memaki dalam hati (heran, masih juga saya khawatir menyinggung perasaannya).

Lha kok tiba-tiba berhenti dan bilang : “Bapak turun sini saja lalu menyeberang sana”, maksudnya saya disuruh naik taksi. Wooo, wong edan tenan iki (orang gila beneran ini). Langsung saya bentak : “Jalan terus dan ikuti perintah saya!”. Kalau urusan tersesat kemudian kembali ke jalan yang benar (maksudnya kesasar) rasa-rasanya saya cukup punya pengalaman dan ini menjadi sebagian dari keahlian saya.

Meskipun saya tidak familiar dengan kawasan itu, entah saya sedang berada di sebelah mananya apa saya pun tidak tahu, tapi yang jelas di kawasan Senen. Setidak-tidaknya saya bisa membaca tulisan petunjuk arah yang berupa rambu berwarna dasar hijau dan berwarna tulisan putih. Akhirnya tukang ojek saya komando dari belakang menemukan jalan yang benar. Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya saya sampai ke pintu gerbang keluar stasiun Gambir. Tobat tenan aku!

Begitu berhenti, tukang ojek yang semula saya pikir orang Jakarte (pakai huruf akhir ‘e’) dan saya panggil ‘Abang’, ternyata kemudian bilang begini : “Dalane ora ceto, ora koyo nek awan pak (jalannya tidak jelas tidak seperti kalau siang pak)”, katanya dalam bahasa Jawa. Spontan saya jawab : “Lha wis ngerti aku nek awan serngengene cedak ngobong sirahmu (lha sudah tahu saya kalau siang mataharinya dekat membakar kepalamu)”, kata saya sambil rada jengkel.

Segera uang Rp 50.000,- saya sodorkan sambil saya pesan : “Turahane pek-en nggo tuku bensin (sisanya kamu ambil buat beli bensin)”, lalu saya tinggal pergi bergegas menuju ke dalam stasiun. Hitung-hitung saya sudah diberi bonus diajak wisata malam keliling Jakarta…..

Yogyakarta, 27 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Aviophobia

4 Mei 2008

Terpaksa kemarin malam saya kembali ke Yogyakarta dari Jakarta dengan menggunakan jasa kereta api. Rasanya sudah belasan tahun, saya lupa persisnya, tapi pasti lebih sepuluh tahunan saya tidak pernah menggunakan jasa persepuran ini. Terakhir saya naik sepur antara Jogja-Jakarta sewaktu saya hanya mengenal dua jenis sepur, kalau tidak Senja Utama, ya Fajar Utama. Setelah itu, setelah dikenal sepur jenis Argo-argoan, saya belum pernah menaikinya hingga hari Jum’at yang lalu.

Bagi pelaku pengguna sepur njum’at-ngahad (Jum’at-Minggu) yang biasa menempuh perjalanan ulang-alik mingguan Jogja-Jakarta atau Jogja-Surabaya v.v. (vulang-vergi), barangkali pengalaman naik kereta api malam adalah hal yang sangat biasa. Tapi bagi saya malam itu seperti orang ndeso yang baru pertama kali naik kereta api, kelas eksekutif lagi. 

Naik kereta api malam itu sebenarnya di luar rencana saya. Sewaktu berangkat kami bertiga, seorang  teman memilih berangkat naik kereta api, seorang lainnya bersama saya naik pesawat. Seorang teman kembali ke Jogja sehari lebih awal, maka tinggal saya dan seorang teman lain kembali ke Jogja menyusul belakangan. Inilah masalahnya, ternyata teman saya ini takut naik pesawat, sehingga kembali ke Jogja lagi dengan menggunakan jasa kereta api. Rasanya kurang lucu, kalau pergi dengan seorang teman seperjalanan kok kembalinya yang satu naik kereta yang lain naik pesawat. Selain itu, kami bisa kehilangan kesempatan untuk mendiskusikan banyak hal setelah melalui padatnya acara di Jakarta, lebih tepat sebenarnya saya sebut padatnya lalulintas kota Jakarta (tobat tenan urip ning Jakarta, biso tuwek ning ndalan …..).

Ndeso Tenan…

Jadilah naik kereta Argolawu jurusan Jakarta-Solo, turun di Jogja. Sepertinya asing memasuki statsimun Gambir setelah sekian belas tahun tidak pernah saya masuki. Hal yang membanggakan, sekarang terkesan lebih tertib dan rapi, dibanding sekian tahun yang lalu (entah kalau dibanding bulan lalu). Demikian halnya statsimun Tugu juga sudah banyak berubah dan lebih enak dilihat.

Tapi ada sedikit “ganjalan” di  Gambir, saya jadi kesulitan untuk melampiaskan keinginan untuk udut. Dimana-mana dipasang tanda dilarang merokok, lengkap dengan tulisan Perda DKI. Bahkan di peron tempat tunggu kereta pun tempat udut-nya mesti mojok jauh. Tapi sejujurnya, ini “ganjalan” yang membuat saya senang dan bangga. Ternyata bisa juga masyarakat diajak patuh untuk menjaga lingkungan udara yang sudah kurang bersih ini. Meski masih terlihat ada orang yang curi-curi menebar asap.

Teman saya membisiki, kalau mau udut nanti saja di dalam kereta. Lho? Ternyata yang dimaksud adalah ketika kereta sudah berjalan, kita bisa keluar gerbong lalu ngudut di bordes, di sambungan gerbong, atau di luar pintu gerbong. Good idea! Setidak-tidaknya tidak mengganggu orang lain. “Tips” itupun saya turuti. Puas menghisap dan menebar asap beracun di bordes, saya hendak kembali ke tempat duduk. Eh, lha kok pintu kereta tidak mau dibuka. Digeser sedikit, kembali nutup lagi. Digeser lagi, kembali nutup lagi. Feeling mulai bekerja, pasti ada yang salah. Iseng-iseng saya tunyuk saja tombol nyenil kecil warna hijau. Berhasil, berhasil,  ……, pintu gerbong pun membuka dengan sendirinya.

Setelah di dalam gerbong, saya berniat baik menutup lagi pintunya agar penumpang lain yang duduk di dekat pintu tidak kanginan. Digeser kok berat, tidak mau nutup. Digeser lagi, tetap berat tidak juga mau nutup. Akhirnya saya cuekin aja, terbuka ya biarin, pikir saya. Baru beberapa langkah menuju tempat duduk, eee… malah pintunya nutup sendiri….. Tobil anak kadal……! Wah, jan ndeso tenan aku iki….. (Semoga saja tidak ada penumpang lain yang sempat memperhatikan tingkah saya).

Sebelum memutuskan untuk naik kereta ke Jogya, teman saya mewanti-wanti. Katanya di dalam gerbong kereta eksekutif biasanya suhu udaranya sangat dingin, makanya biasanya orang-orang sudah persiapan membawa jaket atau baju hangat. Karena sejak semula saya memang tidak merencanakan naik kereta, maka ya tidak persiapan membawa jaket. Teman saya memberi saran, sebaiknya nanti pakai bajunya rangkap-rangkap agar tidak kedinginan, meskipun di kereta akan dipinjami selimut.

Nasihat yang baik saya pikir, saya pun akhirnya mengenakan baju rangkap tiga. Dua kaos plus kemeja, yang sudah kategori baju kotor, pun dikenakan lagi dan difungsikan sebagai baju hangat. Rupanya air condition di gerbong kereta api memang hanya mengenal dua tombol, kalau tidak dingin ya mati. Jadi, pilihannya ya kedinginan atau kepanasan. Ya sudah, wong memang kompromi antara “air” dan “condition”-nya sudah begitu. Yang jelas baju rangkap tiga yang saya kenakan cukup membantu untuk tidak kedinginan di dalam gerbong selama perjalanan. Terbukti dua-tiga jam setelah kereta meninggalkan Gambir, saya sudah terlelap, tahu-tahu menjelang jam 5 pagi sudah ada yang berteriak : “Jogja….. Jogja……”  

Takut Terbang

Tentang teman yang takut naik pesawat, sehingga memilih naik sepur Jogja-Jakarta v.v. (vulang-vergi). Dulunya katanya tidak begitu. Midar-mider naik pesawat biasa saja, sampai suatu ketika sedang tugas ke lapangan naik chopper, rupanya chopper-nya muntir-muntir mau jatuh tidak jadi. Sejak itulah teman saya ini trauma naik pesawat. Orang yang takut naik pesawat seperti ini biasa disebut orang itu menderita flight phobia. Ada juga yang menyebutnya aviophobia, aviatophobia atau aerophobia. Maksud kesemua istilah itu sama, yaitu takut terbang atau takut naik pesawat.

Trauma semacam ini, takut terbang, diam-diam banyak juga sebenarnya orang yang mengalaminya. Penyebabnya bisa macam-macam, salah satunya ya seperti pengalaman teman saya itu tadi. Menurut catatan di Amerika, satu dari delapan orang memilih bepergian menggunakan sarana angkutan darat dan menghindari bepergian dengan angkutan udara. Untuk beberapa alasan, ternyata di antara penyebab dasarnya adalah takut naik pesawat atau menderita trauma flight phobia atau aviophobia itu. Untungnya, bepergian menggunakan angkutan darat atau melakukan perjalanan (traveling) lewat darat di Amerika adalah sesuatu yang sangat  mudah dan menyenangkan. Mau pakai jalintim-teng-bar-ut-sel (jalan lintas timur-tengah-barat-utara-selatan), tidak perlu khawatir ngantri semalaman untuk melewati jalan yang menyungai. Lha kalau kita mau ngotot menghindari naik pesawat, apalagi ke luar Jawa, sebaiknya dipertimbangkan masak-masak.

Lebih dari sekedar masalah kesehatan atau keselamatan, ketakutan semacam ini merupakan perilaku “aneh” yang menyebabkan seseorang bisa dengan tiba-tiba saja terserang panik yang luar biasa saat naik pesawat terbang. Jangan kaget kalau saat Anda naik pesawat tiba-tiba Anda dipeluk erat-erat oleh penumpang di sebelah Anda yang kebetulan mengidap trauma aviophobia. Mendingan kalau dia seorang wanita yang sejak semula membuat Anda klisikan, lha kalau seorang nenek ngemut susur? Itulah sebabnya mereka yang menderita trauma flight phobia atau aviophobia daripada tiba-tiba merasa panik yang tak biasa, mendingan menghindari naik pesawat.

Ketika teman saya yang naga-naganya menderita flight phobia itu hendak merencanakan perjalanan pergi ke suatu pulau yang berarti harus menyeberang lautan, sementara dia merasa deg-deg pyur tidak karuan sejak tiga hari tiga malam sebelum berangkat kalau mesti naik pesawat, maka harus ada jalan keluarnya. Seorang teman lain memberi “nasehat” alternatif : naik kendaraan darat kemudian disambung naik kapal, atau……. nyeberang lautan naik genthong saja…….    

Yogyakarta – 18 Maret 2006
Yusuf Iskandar  

Sepotong Roti

22 Maret 2008

Jam limo keliwat limo (05:05) pagi, sepur Argo Dwipangga jurusan Solo – Jakarta memasuki statsimun Jatimanaraga (Jatinegara, mangsudnya…..). Saya terbangun dari mimpi karena selimut pinjaman pramugari sepur ditarik-tarik sama yang tadi meminjaminya, sesaat sebelum kereta memasuki Jatinegara. “Hampir sampai…..”, katanya seperti terburu-buru sembari tidak perduli.

Mata masih agak siut-siut, antara melek dan merem. Saya lihat jatah konsumsi yang disuguhkan pramugari kereta api tadi malam masih utuh terselip di depan saya. Secepat kilat saya sempat berpikir lugu, kalau jatah makanan itu tidak saya makan sementara sepur keburu berhenti di Gambir, maka makanan itu jadi mubazir. Kereta api akan segera dibersihkan lalu sampahnya dibuang oleh tukang bersih-bersih kereta api.

Sebenarnya perut saya tidak lapar-lapar amat. Namun dengan pertimbangan kilat daripada mubazir itu, akhirnya saya ambil kardus jatah konsumsi di depan saya. Saya buka isinya ternyata dua potong roti dalam bungkus plastik tersimpan dalam sebuah kardus besar. Sebenarnya, ukuran kardusnya tidak proporsional dengan ukuran rotinya. Ya sudahlah. Barangkali kardusnya sudah telanjur lebih dahulu dicetak banyak-banyak pada akhir tahun anggaran setahun yang lalu, sementara isinya baru dipesan kemarin sesuai dengan kondisi dan situasi ekonomi “oknum” jawatan persepuran pada saat memesan roti.

Tanpa pikir panjang lagi, sepotong roti saya kunyah habis. Lalu potongan kedua menyusul lhek demi lhek….. Akhirnya kedua potong roti pun bablas tinggal kardus kosongnya. Bersamaan tertelannya kunyahan terakhir…..lhek….., muncul anak laki-laki kecil berpakaian lusuh, usia bangsa 12 tahunan sebaya anak kedua saya, masuk menyusuri gerbong di belakang para porter yang menawarkan jasanya.

Sembari tolah-toleh serong ke kiri dan serong ke kanan, lalu anak itu berhenti di seberang tempat duduk saya, dan ngomong kepada penumpang yang juga masih terkantuk-kantuk di sana. Si anak bertanya kepada penumpang di seberang saya : “Om, rotinya boleh untuk saya?”.

Mak deg atiku….., mendengar pertanyaan memelas anak itu. Setelah diiyakan oleh yang punya roti, si anak pun secepat kilat menyambarnya dan ngeloyor pergi.

Saya ngong-bengngong….., lha barusan kunyahan terakhir masuk ke tembolok saya, ndadak ada anak kecil pagi umun-umun minta roti di sebelah saya. Sementara kedua anak saya di Yogya barangkali masih bobok manis menjelang berangkat ke sekolah, tanpa kurang suatu rotipun jua.

Mestinya….., perut anak itu lebih membutuhkan dua potong roti yang telanjur saya makan tadi daripada perut saya…… Kalau saya mau agak bersabar sedikiiiit saja, mestinya saya tahu bahwa tidak ada yang mubazir di dunia fana ini…..

Jakarta, 8 Mei 2006
Yusuf Iskandar