Posts Tagged ‘frederic bartholdi’

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(16).    Menyeberang Ke Patung Liberty

Setiba di Times Square di hari kedua ini, kami langsung masuk ke gedung visitor center. Di dalam ruangan ini kami dapat memperoleh informasi apa saja tentang wisata kota New York. Di sini pula kami membeli tiket wisata kota yang salah satunya dilayani oleh perusahaan Grey Line. Tiketnya cukup mahal, yaitu US$59 untuk orang dewasa dan US$39 untuk anak-anak.

Dengan paket wisata seharga itu kami dapat keliling kota New York selama dua hari penuh siang maupun malam sepuas-puasnya, termasuk mengunjungi patung Liberty, naik ke puncak menara Empire State dan gedung pencakar langit World Trade Center. Dari pagi hingga malam, bis-bis tingkat (double decker) yang di dek atasnya terbuka tanpa atap, berjalan mengelilingi kota New York, tepatnya wilayah Manhattan.

Bis wisata ini akan berhenti di banyak tempat pemberhentian yang telah ditentukan. Berbekal peta perjalanan yang disediakan, kami tinggal memilih dimana ingin berhenti dan kapan ingin naik lagi menuju ke tempat-tempat lain di sepanjang rute yang dilalui oleh bis wisata yang berjalan setiap 15 menit ini. Cukup luwes guna mengatur tempat tujuan dan waktunya.

Ada dua macam perjalanan wisata, siang dan malam. Untuk perjalanan siang itu kami langsung memutuskan untuk mengunjungi patung Liberty sebagai prioritas tujuan pertama. Ini mempertimbangkan lokasinya yang berada paling jauh, karena harus naik ferry menyeberang ke pulau kecil di sungai Hudson, sehingga perlu mengalokasikan waktu lebih lama.

Sekitar jam 10:30 pagi kami baru mendapat giliran untuk naik bis wisata. Anak-anak spontan meminta untuk duduk di dek atas. Memang ini pilihan tepat di saat hawa panas di musim panas. Meskipun tanpa atap, tapi justru dapat memperoleh udara segar. Untungnya kepadatan kota ini tidak diperburuk dengan polusi udara yang tak terkendali, setidak-tidaknya di wilayah Manhattan ini, sehingga berada di udara terbuka pun terasa enak.

***

Bis wisata menyusuri rute tengah kota dengan berjalan perlahan-lahan. Sepanjang perjalanan pemandu wisata menjelaskan segala macam kisah dan sejarah, dari apa saja yang terlihat dari bis. Seperti tidak kehabisan ide dan kata-kata untuk berceritera mulai dari gedung bertingkat, jalan, jembatan, toko, restoran, dsb. Saya maklum, itu semua mampu dilakukannya karena mereka telah mengulanginya ribuan kali, setiap hari hingga sepanjang tahun. New York memang tidak pernah sepi dikunjungi wisatawan dari seluruh dunia sepanjang tahun.     

Sekitar 45 menit sibuk tolah-toleh kiri-kanan atas-bawah di dek atas bis wisata, seperti sedang tenggelam di sela-sela gedung-gedung tinggi, akhirnya tiba di Battery Park. Battery Park adalah sebuah taman di pinggir pantai barat daya di mana terdapat pelabuhan tempat penyeberangan ferry menuju pulau Liberty, pulau Ellis dan tempat-tempat lainnya.

Dari jauh sudah kelihatan sosok patung Liberty yang tegak berdiri di pulau Liberty. Saat itu di tempat penyeberangan sudah bergerombol antrian panjang para wisatawan yang juga ingin mengunjungi patung Liberty. Tidak ada pilihan lain, selain menyambung di ujung antrian untuk menunggu giliran naik ferry.

Saat musim liburan musim panas seperti kali ini, seharusnya kami berangkat lebih awal, karena waktu yang diperlukan untuk antri saat berangkat naik ferry, antri naik ke atas patung dan antri lagi saat kembali naik ferry, bisa berjam-jam. Paling tidak, sejak tiba di Battery Park kami perlu waktu lebih satu jam berpanas-panas antri naik ferry. Sambil berdiri dan sesekali jongkok di antrian, tampak banyak pedagang asongan yang umumnya orang kulit hitam sedang menawarkan barang dagangannya.

Barang yang ditawarkan bermacam-macam, selain cendera mata juga ada yang menawarkan jam tangan Rolex atau kaca mata Rayban seharga US$10. Bahkan bisa lebih murah kalau berminat menawarnya. Sangat murah untuk ukuran merk barang yang disandangnya. Tentu saja setiap orang maklum untuk tidak perlu menanyakan keasliannya.

Ada juga mereka yang mengamen dengan cara memamerkan keahliannya dalam berakrobatik dan berolah tubuh. Setelah itu mereka meminta para penonton untuk menyumbangkan uang recehnya. Sukarela tentunya.

Setelah naik ferry sekitar 15 menit, kami berlabuh di pulau Liberty. Mulailah berjalan berkeliling di pelataran patung Liberty yang resminya kompleks taman ini disebut dengan Statue of Liberty National Monument. Berdiri di bawah patung yang menjulang setinggi 93 m, dengan tinggi patungnya sendiri 46 m, terasa benar betapa besar dan kokohnya patung yang terbuat dari cetakan tembaga yang melingkupi kerangka besi ini. Kini patung Liberty tampak berwarna kehijau-hijauan akibat dari proses oksidasi dari bahan tembaganya, mewarnai tampilan khasnya.  

Patung Liberty yang menjadi simbol kebebasan bagi dunia ini berupa seorang wanita berkain selendang mengenakan mahkota di kepalanya, dengan tangan kanannya mengacung memegang obor dan tangan kirinya memegang buku. Tujuh cahaya yang memancar dari mahkotanya melambangkan tujuh samudra dan tujuh benua (tepatnya adalah tujuh daratan dunia). Pada mahkotanya terdapat 25 lubang jendela yang melambangkan 25 macam batu permata yang ditemukan di dunia. Pada buku yang dipegangnya tertulis dalam tulisan Latin berbunyi : 4 Juli 1776.

Demikian antara lain makna yang dimaksudkan oleh perancangnya, seorang pematung Perancis bernama Frederic-Auguste Bartholdi. Nyala api obornya kini telah diperbarui dengan lapisan emas 24 karat sebagai pengganti atas nyala api aslinya yang telah terkorosi.

Frederic Bartholdi yang lahir di Colmar, Perancis, pada 2 Agustus 1834 dan meninggal tahun 1904, sang perancang patung, menggunakan ibunya sendiri sebagai model patung Liberty. Bartholdi telah mencurahkan 20 tahun dari sebagian hidupnya untuk mewujudkan impiannya membuat monumen Liberty ini. Ini tentu bukan pekerjaan iseng dari seseorang yang tinggal di tempat yang jauh dari Amerika. Terbukti dia kemudian sibuk mencari dukungan kesana-kemari guna mewujudkan impiannya.

Tahun 1869 Bartholdi mulai mencorat-coret rancangannya. Tahun 1875 terbentuk lembaga penyandang dana di bawah Union Franco-Americaine. Tahun 1878 hingga 1884 dilakukan pekerjaan pertukangan pembuatan patung dari bahan tembaga di Paris, Perancis. Pekerjaan perancangan rangka besinya dikerjakan oleh Gustave Eiffel, sebelum merancang menara Eiffel di Paris, Perancis.

Setelah digotong dengan kapal menyeberang samudra Atlantik, maka pada tanggal 4 Juli 1884 (bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Amerika), berdirilah patung ini di pulau Bedloe’s yang luasnya sekitar 48,500 m2. Sejak tahun 1956 pulau ini dikenal dengan nama pulau Liberty. Akhirnya baru pada tanggal 28 Oktober 1886, patung ini diresmikan setelah didahului dengan penyematan tanda warga kehormatan New York bagi Bartholdi.

Sekalipun dilatarbelakangi oleh semangat bersatunya bangsa Perancis dan Amerika setelah periode Revolusi Amerika, entah apa yang mengilhami dan mendorong Bartholdi untuk mewujudkan impiannya itu. Sehingga bangsa Perancis suka rela menyumbangkan uangnya untuk sebuah patung yang kelak akan dipasang di sebuah negeri di seberang samudra Atlantik. Sebuah patung yang mereka sebut “Liberty Enlightening the World”. Dan kini, lebih dari dua juta orang setiap tahunnya mengunjungi patung ini.

***

Bangunan di bagian bawah dari tempat patung Liberty berdiri, berarsitektur bentuk benteng Amerika yang di dalamnya juga dibangun fasilitas museum. Selain ada sarana lift untuk mendaki ke atas patung, juga tersedia 354 anak tangga. Pada saat kami menaiki patung ini, para pengunjung hanya diperbolehkan mencapai setengah ketinggian, yaitu di bagian puncak landasannya atau di bagian dasar patungnya.

Kenampakan patung menjadi tidak indah dari sini, lha wong tepat berdiri di bawah benda raksasa. Melainkan sejauh mata memandang, tampak pemandangan indah sungai Hudson dengan latar belakang gedung-gedung menjulang tinggi di Manhattan dan kota Jersey City di wilayah negara bagian New Jersey. 

Selain dicapai dari Battery Park di Lower Manhattan (istilah untuk menyebut wilayah Manhattan sebelah selatan), Pulau Liberty dapat juga dicapai dari Liberty State Park di Jersey City. Dari kedua pelabuhan ferry ini, para wisatawan selain menuju ke pulau Liberty juga dapat mengunjungi pulau tetangganya yaitu pulau Ellis. Pulau Ellis ini pernah menjadi pelabuhan pendaratan dari kaum immigran pada tahun 1892 – 1954.

Sekitar jam 4:00 sore, kami baru meninggalkan patung Liberty. Kembali kami harus berada di antrian panjang sebelum dapat menyeberang kembali ke Battery Park. Setiba di Battery Park, kami masih harus antri lagi menunggu bis wisata yang sore itu ditunggu banyak orang yang baru kembali dari pulau Liberty.  

Berada di tengah kerumunan orang banyak untuk tujuan yang sama memang terasa sumpek dan tidak menyenangkan. Akan tetapi adanya kesadaran setiap orang untuk antri tanpa perlu ada petugas atau tulisan yang menyuruhnya, ternyata dapat menjadi solusi yang enak. Bersama anak-anakpun menjadi tidak perlu khawatir berdesak-desakan.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar