Posts Tagged ‘festival’

Yogyakarta Gamelan Festival 2010

24 Juli 2010

‎”15th Yogyakarta Gamelan Festival” mengusung tema ‘Gamelan Anytime 2010’, Minggu malam, Taman Budaya, Jogja. Konser hari terakhir ini dipuncaki pagelaran Kyai Kanjeng, selain peserta dari luar negri. Sukses sebagai festival dan apresiasi instrumen musik tradisional. Namun masih kurang menyentuh sebagai “spirit of civilization”. Yang surprise,… ternyata dipadati orang-orang muda. Semoga benar karena apresiasi terhadap gamelannya dan bukan terhadap ramai-ramai festivalnya.

Yogyakarta, 18 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Menjaga “Spirit” Gamelan

24 Juli 2010

Ketika pertama kali menggagas Yogyakarta Gamelan Festival tahun 1994, alm. Sapto Rahardjo (seniman mbeling seangkatan dan semodel dengan Harry Roesli) meyakini bahwa gamelan adalah sebuah “spirit”, bukan semata alat musik tradisional. Festival dan konser gamelan bisa dengan mudah dipagelarkan tiap tahun, tapi menjaga “spirit”-nya ternyata jauh lebih sulit…

Yogyakarta, 18 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Nonton Festival Jazz Di New Orleans

12 November 2008

Kota New Orleans punya gawe, yang diberi judul “New Orleans Jazz & Heritage Festival 2000”. Ini adalah pesta musik jazz tahunan terbesar (karena masih ada beberapa pesta musik lainnya yang berskala lebih kecil), yang orang biasa menyebutnya dengan “Jazz Fest 2000” saja, dan tahun ini adalah tahun penyelenggaraan yang ke-31.

Ukuran besarnya pesta memang tidak tanggung-tanggung. Selama periode tujuh hari dalam dua akhir pekan yll (28-30 April dan 4-7 Mei 2000), digelar 10 panggung utama yang setiap harinya di setiap panggung tampil 5-6 kelompok musik mulai sekitar jam 11:00 pagi hingga jam 19:00 sore (saat ini jam 19:00 di Amerika masih terang benderang). Sampai-sampai saya sendiri kesulitan menghitung jumlah kelompok musik yang tampil, yang pasti lebih dari 400 kelompok. Ya benar, lebih 400 kelompok telah tampil. Mulai dari kelompok universitas, sekolah musik, kelompok gereja, kelompok kampung maupun profesional. Ada yang main solo, duet, trio, kuartet, group, hingga rombongan orkestra.

Ada banyak jenis musik, khususnya jazz serta berbagai kembangannya yang juga divariasi dengan musik apa saja. Maka pilihan musik menjadi banyak, ada jazz rock, tradisional maupun kontemporer, ada blues, dixie, rap, R&B, reggae, funk, brass dan country, ada irama latin, brazil, karibia, afrika dan indian, ada musik gospel, musik cajun (tradisional New Orleans), dan ada yang baru bagi saya yaitu musik tradisional zydeco.

Saking banyaknya pilihan musik, sehingga perlu waktu tersendiri sebelum memutuskan untuk datang ke arena pertunjukan, yaitu untuk mencermati jadwal acara guna memilih mau nonton group yang mana, di panggung sebelah mana, hari apa dan jam berapa. Bagi saya yang membawa keluarga tentu mesti mempertimbangkan juga, nanti anak-anak disuruh ngapain, karena pasti mereka belum bisa menikmati suasana seperti ini. Perencanaan semacam ini memang akan sangat berguna dalam hal effisiensi waktu, mengingat arena cukup luas dan padat pengunjung, sementara waktu kita terbatas.

Diantara pemusik terkenal yang tampil diantaranya Chick Corea, Gary Burton, Diana Krall, Sting, Lenny Kravitz (sebagaimana juga dilansir Astaga.com), juga beberapa penampil yang memperoleh sambutan meriah penonton seperti Temptations, Marva Wright, Neville Brothers, serta musik-musik khas tradisional. Maka wajar kalau pesta ini menjadi salah satu kebanggaan New Orleanian (sebutan untuk orang New Orleans). Selain tampil di panggung-panggung terbuka di siang hari, beberapa kelompok juga tampil di malam hari di gedung, hotel maupun tempat pertunjukan lain yang lebih selektif penontonnya. Maka selama tujuh hari pertunjukan, tidak kurang dari 500.000 pengunjung tumplek-bleg (tumpah ruah) di arena terbuka.

Tentu harus mbayar untuk bisa masuk ke arena, dewasa $20.00 dan anak-anak $2.00. Belum lagi jajanan dan minuman, yang tidak bisa tidak pasti dibeli. Lha wong tidak diperkenankan membawa bekal dari luar, sementara cuaca cukup panas, sekitar 90-an. Ini kebiasaan orang Amerika untuk menyebut temperatur, yang maksudnya sekitar 90 derajat Fahrenheit (atau setara dengan 32-33 derajad Celcius). Suhu udara yang cukup panas bagi orang Amerika.

***

Mengajak keluarga untuk hadir di tengah pertunjukan semacam ini memang tidak mudah, sekalipun Panitia juga menyediakan kegiatan khusus bagi anak-anak, serta ada puluhan parade (karnaval) yang berjalan mengelilingi arena. Jelas suasananya sangat riuh, padat dan panas menjadi satu, belum lagi sesekali angin yang bertiup membawa debu. Anak-anak tentu tidak jenak (nyaman, bisa menikmati) dalam suasana seperti ini, sementara kedatangan saya adalah untuk menikmati musik.

Jalan keluarnya? Anak-anak dibelikan makanan dan minuman, lalu disuruh main di bawah tenda raksasa yang digunakan untuk pameran mobil mewah (sehingga tidak kepanasan), dan ibunya diminta dengan hormat untuk mengawasinya, sementara bapaknya ngeluyur dari panggung ke panggung, berdesakan di sela-sela penonton lain.

Maka ada dua tontonan yang ternikmati (awalan ter, artinya tidak sengaja), pertama tentu pertunjukan musiknya, kedua adalah kaum perempuan Amerika yang dalam cuaca panas itu memilih untuk mengenakan (atau tidak mengenakan?) pakaian atasnya hanya ber-kutang ria. Pemandangan ini menjadi biasa, dan (ini yang enggak enak) juga bagi anak-anak. Tapi, itulah yang memang tidak terhindarkan. Anak laki-laki saya yang TK Besar berkomentar : “kok tidak malu, ya”. Karena saya kesulitan menimpali komentarnya, sayapun nyeletuk sekenanya (menirukan gaya orang Medan) : “Ini Amerika, Le…” (Le : panggilan ala kampung untuk menyebut anak laki-laki).-

Minggu siang itu lebih 3 jam saya berada di arena pertunjukan menikmati musik di bawah terik matahari, dan sempat berjalan dari panggung ke panggung. Setiap kelompok mempunyai durasi tampil yang berbeda-beda. Kelompok-kelompok lokal dan amatir biasanya hanya 30 menit, sedang kelompok profesional yang lebih punya nama bisa sampai 2 jam. Sesekali saya tidak bertahan lama berdiri di satu tempat, karena terganggu oleh bau bir dari botol atau gelas yang dibawa penonton di sebelah saya, atau bau sejenis mariyuana yang (sebenarnya khas dan enak) tapi mengganggu.

Setiap kali berdiri ditengah penonton, saya sempat memperhatikan sekeliling. Nampaknya cara saya menikmati musik berbeda dengan orang Amerika. Saya  cukup menikmatinya dengan diam dan dengan perasaan nglaras, tapi orang Amerika menikmatinya dengan gerakan. Maka begitu alat musik bunyi, tangan, kepala, badan dan pantat mereka langsung megal-megol, lenggak-lenggok, goyang-goyang. Wah …, satu tontonan lagi ternikmati.

Itulah “Jazz Fest”, dan itulah New Orleans. Bagi penggemar dan pecinta musik, maka New Orleans adalah tempatnya, terutama musik jazz dengan berbagai varian serta derivatifnya. Masyarakatnya yang heterogen, yang datang dari berbagai etnis lokal maupun dunia, turut mewarnai jenis musik yang berkembang, dan tentunya enak dinikmati.

New Orleans, 9 Mei 2000
Yusuf Iskandar

Berakhir Pekan Di Festival Strawberry Ponchatoula

12 November 2008

Selama dua hari di akhir pekan ini, Sabtu-Minggu, 7-8 April 2001, di sebuah kota kecil bernama Ponchatoula digelar acara tahunan yang disebut “Ponchatoula Strawberry Festival”. Tahun ini adalah tahun ke-30 sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1972. Menilik sebutan acaranya, memang keramaian ini berkaitan dengan buah strawberry.

Ponchatoula memang terkenal sebagai penghasil utama buah strawberry, khususnya untuk wilayah negara bagian Louisiana. Bahkan para Ponchatolian (sebutan untuk penduduk Ponchatoula) sangat bangga menyebut kotanya sebagai “Strawberry Capital of the World!”. Sebutan yang kedengarannya berlebihan. Namun karena saya tidak menjumpai fakta statistiknya, maka begitulah saya juga menyebut kota Ponchatoula. Setidak-tidaknya sebutan itu sah karena tertuang dalam Perda (ordinance) kota Ponchatoula.

Selain terkenal dengan hasil pertanian buah strawberry, Ponchatoula juga dikenal dengan sebutan sebagai “Antique City of Ponchatoula”. Bukan karena ini kota tua dan antik, melainkan karena di kota ini banyak dijumpai toko-toko yang memperdagangkan barang-barang antik dan kerajinan.

Ponchatoula hanyalah sebuah kota kecil yang terletak di barat laut New Orleans. Untuk mencapai kota yang berjarak sekitar 50 mil (80 km) dari New Orleans ini diperlukan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan. Ke kota inilah kami sekeluarga berakhir pekan di hari Minggu ini, menikmati acara festival strawberry. Berangkat dari New Orleans sekitar jam 10:30 pagi langsung menuju ke jalan bebas hambatan I-10 ke arah barat, lalu berpindah ke I-55 menuju utara mengitari sisi selatan dan barat danau Ponchartrain.

Sekitar jam 12:00 siang kami sudah berada di kepadatan lalu lintas kota kecil Ponchatoula. Berjalan merambat di jalan Highway 51 sambil mencari tempat parkir. Terlihat di sisi kanan-kiri jalan sudah penuh dengan kendaraan parkir, hingga akhirnya saya masuk ke sebuah lapangan luas yang berfungsi sebagai tempat parkir umum dan gratis.

Keluar dari tempat parkir, kami masih harus berjalan kaki agak jauh menuju arena keramaian. Namun terasa enak saja karena banyak pengunjung lain yang juga melakukan hal yang sama. Semakin mendekat ke arena festival, barulah saya tahu bahwa beberapa pemilik lahan di pinggiran jalan memanfaatkan halamannya untuk tempat parkir dengan membayar US$5. Semakin dekat lagi menuju pusat kota ongkos parkirnya menjadi US$10. Jadi, ya pantes kalau tadi saya parkir gratis, wong lokasinya agak jauh.

***

Festival ini sendiri digelar di sebuah blok di kota Ponchatoula. Selain karena kekhasan acaranya dimana buah strawberry menjadi tema sentralnya, maka selebihnya adalah acara keramaian biasa. Puluhan anjungan (booth) ketangkasan digelar di seputaran arena festival. Anjungan ketangkasan yang kalau di Indonesia sudah diteriaki berbau judi, tapi rupanya “penciuman” masyarakat Amerika memang berselera beda. Jadi, ya anjungan sejenis itulah yang juga banyak diminati.

Sudah umum bahwa arena ketangkasan seperti ini di Amerika biasanya menjanjikan hadiah berupa jenis-jenis mainan anak dan boneka kain (yang kalau di Indonesia sering diidentikan dengan nama boneka “panda”, meskipun bentuknya ada kucing, anjing, beruang, kura-kura, buaya, monyet, tokoh cerita anak-anak, dsb.). Nyaris tidak dijumpai yang menjanjikan hadiah barang menggiurkan atau uang.

Maka dapat ditebak, kalau banyak orang dewasa atau orang tua beradu ketangkasan dengan membayar US$1-5 per permainan, maka pasti mengangankan hadiah buat anak, cucu, keponakan atau adiknya. Itulah sebabnya barangkali bau judi dari permainan ini seakan-akan termanipulasi. Kalau mau berjudi ya datang ke casino, demikian kira-kira kalau ada yang berkilah.

Para pedagang makanan juga mremo (mengambil kesempatan dengan menjajakan jualannya). Lebih-lebih pedagang minuman dingin yang laku keras, mengingat saat ini cuaca sudah mulai panas. Berbagai sarana bermain juga banyak diminati anak-anak maupun orang dewasa. Beberapa panggung untuk pementasan musik pun didirikan. Yang membedakan pentas musik di sini dengan di beberapa pentas musik yang pernah saya lihat sebelumnya adalah dipasangnya tulisan besar berbunyi “No Dancing”.

Buah strawberry, sebagai identitas utama festival ini, banyak dijajakan oleh para pedagang. Sebagian diantaranya dengan menyebutkan nama pemilik kebunnya. Tentu sebagai lambang kebanggaan bagi pemilik kebun yang menghasilkan strawberry. Selain dalam bentuk buah segar, juga ditawarkan produk olahannya seperti jam, jelly, kue, anggur, dsb. Jika dibandingkan dengan membeli buah strawberry di supermarket, maka membeli di arena ini akan diperoleh buah strawberry segar dengan harga lebih murah.

Acara festival strawberry ini sebenarnya lebih meriah di hari pertama kemarin. Menurut agendanya, kemarin ada karnaval keliling kota yang diikuti oleh puluhan kendaraan, parade mobil antik, lomba makan strawberry, serta penampilan “King and Queen Strawberry”. Jadilah selama dua hari ini kota Ponchatoula dipadati para pendatang. Menurut catatan yang ada, tidak kurang dari 225.000 pengunjung memadati festival ini setiap tahunnya. Entah bagaimana cara mencatatnya, wong untuk masuk ke arena tidak dipungut biaya.

Festival strawberry ini dengan bangga setiap tahunnya digelar oleh Pemda Ponchatoula karena akan menjadi media promosi pariwisata yang efektif bagi kota itu yang pasti terkait dengan beredarnya dollar ke Ponchatoula dan tambahan pemasukan melalui pajak bagi Pemda Ponchatoula.

***

Di balik penyelenggaraan festival ini, ada latar belakang sejarah yang menarik. Pada tahun 1968, seorang anggota Dewan Kota bernama Dr. Charles H. Gideon merasa prihatin akan kehidupan ekonomi kota Ponchatoula yang kurang bergairah. Dia melihat kota Hammond, yaitu kota tetangga Ponchatoula yang memang lebih besar, ternyata lebih dikenal orang dengan sebutan sebagai “Strawberry Capital of Louisiana”.

Pikiran “usil dan kreatif” Dr. Charles menggelitiknya untuk mencari tahu kenapa bukan kota Ponchatoula yang lebih terkenal, padahal produksi strawberry dari wilayah Ponchatoula jauh lebih besar dibandingkan yang dihasilkan kota Hammond. Mulailah dikumpulkannya data-data statistik tentang produksi strawberry dari kedua kota itu yang ternyata memang membuktikan kebenaran anggapannya. Tapi sejauh itu kurang ada warga Ponchatoula yang perduli.

Berbekal data-data statistik itu, Dr. Charles lalu menemui Walikota dan para pejabat kota tetangganya, Hammond. Intinya adalah bahwa Dr. Charles meminta pengakuan bahwa sebenarnya kota Ponchatoula yang lebih layak menyandang sebutan sebagai “Strawberry Capital”. Sekalipun para pejabat Hammond mengakui kebenaran data statistik, namun tetap bergeming, apalagi untuk menyerahkan sebutan kebanggaan yang sudah terlanjur disandang oleh Hammond.

Nekatlah Dr. Charles, dilobinya Walikota Ponchatoula dan para anggota Dewan Kota lainnya untuk mendukung diundangkannya Perda tentang sebutan Ponchatoula sebagai “Strawberry Capital”. Setelah itu, disuratinya Walikota Hammond dan “diancam” agar dalam tempo 30 hari melepaskan semua atribut, tanda-tanda, dan segala macam sebutan tentang “Strawberry Capital” bagi kota Hammond yang disandangnya selama ini.

Maka, setelah itu resmilah Ponchatoula menyandang sebutan yang tidak tanggung-tanggung sebagai “Strawberry Capital of the World”. Kehidupan kota menjadi seperti hidup kembali dengan ditemukannya kebanggaan baru. Para petani strawberry pun semakin menggairahkan kehidupan ekonomi. Berkat pikiran “usil dan kreatif” (plus sedikit kenekatan) Dr. Charles, selanjutnya pada tahun 1972 diproklamirkan tentang tradisi tahunan “Ponchatoula Strawberry Festival”.

Memang hanya sebuah sebutan, tak bedanya dengan “Kota Kembang” untuk Bandung atau “Kota Apel” untuk Malang. Namun dampaknya secara ekonomi terbukti cukup meyakinkan.

***

Sekitar jam 03:00 sore kami baru meninggalkan arena festival. Kami kembali ke New Orleans melalui rute yang berbeda dari berangkatnya, yaitu dengan menyusuri jalan State Road 22 ke arah timur hingga tiba di kota Mendeville di sisi utara danau Ponchartrain. Dari Mendeville lalu ke selatan menyeberangi jembatan tol Lake Ponchartrain Causeway menuju New Orleans. Jembatan Lake Ponchartrain Causeway adalah jembatan suuuangat panjang yang membelah danau Ponchartrain sepanjang 28 mil (sekitar 45 km).

New Orleans, 8 April 2001.
Yusuf Iskandar