Posts Tagged ‘emergency’

Ketika Harus Naik Pesawat ”Pokoke Mabur”

4 Mei 2008

Maunya terbang ke Jakarta dari Jogja naik burung Garuda, namun apa daya terkadang harga tiket yang tersisa melonjak tinggi sekali. Seperti tadi pagi, harga tiket burung besi Garuda hampir empat kali lipat harga tiket murah-meriah-resah-gelisah dari maskapai “Pokoke Mabur” yang cuma Rp 229.000,-. Selisih yang hampir 900 ribu rupiah tentu sangat cukup untuk mandi pakai 60 liter minyak goreng yang juga lagi melonjak harganya.

Namanya juga pokoke mabur (yang penting terbang), maka jangan heran kalau awaknya pun pokoke mramugari (pakai huruf depan ‘m’, yang artinya yang penting menjalankan tugas sebagai pramugari).

Baru saja pesawat atret mundur hendak siap-siap menuju landasan, peragaan busana emergency segera dimulai. Seorang pramugari bertugas di bagian tengah kabin dan seorang pramugara di ujung depan kabin. Seorang lagi hanya kedengaran suaranya sebab bertugas membacakan tatacara penggunaan piranti emergency dalam dua bahasa.

Paras cantik tidak menjamin identik dengan cara membaca yang cantik pula alias enak didengarkan. Ya, karena pokoke (yang penting) dibacakan, itu tadi. Soal cara membaca ini, kalau dipikir-pikir (meskipun tidak usah dipikir sebenarnya juga sudah ketahuan) hanya beda sedikit saja dengan cara membacanya keponakan saya yang belum tamat SD.

Asal dilarak… diseret saja membacanya agar cepat selesai. Tidak jelas mana koma mana titik. Tidak jelas urut-urutannya, seperti kepulauan Indonesia yang sambung-menyambung menjadi satu minus Sipadan dan Ligitan. Termasuk tidak ada jeda mana yang bahasa Indonesia mana yang coro Londo. Pendeknya, buru-buru seperti kebelet mau ke belakang…..

Akibatnya, antara bacaan naskah dan peragaannya nyaris seperti balapan, dulu-duluan selesai. Jangankan penumpangnya, pramugari yang memeragakan pun sebenarnya bingung mengikuti urut-urutan tatacara yang sedang dibacakan. Ketika penggunaan masker oksigen masih dibacakan dalam bahasa Inggrisnya, tapi sang peraga sudah mengangkat tinggi-tinggi kartu petunjuk keselamatan.

Maka ketika penggunaan kartu petunjuk keselamatan dalam bahasa Inggris belum selesai dibacakan, pramugara yang di depan sudah balik kanan menuju kabin depan dan pramugari yang di tengah langsung kabur duluan ke kabin belakang. Jadi benar, memang sedang kebelet ke belakang….. (bagian belakang pesawat maksudnya).

Entah karena telanjur terbiasa begitu atau memang saking tidak menariknya “acara” peragaan itu, maka penumpang pun seperti tidak ada yang memerdulikannya. Penumpang nampak asyik dengan jalan pikiran masing-masing. Ibarat sebuah acara pementasan, maka ini adalah pementasan yang gagal.

Belum lama pesawat take-off dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman belum dipadamkan, tiba-tiba penumpang yang duduk tepat di sebelah kiri saya berdiri hendak ke WC. Tentu saja langsung diberi kode oleh pramugari agar duduk kembali. Barulah saya tahu rupanya penumpang di sebelah saya itu sejak awal tadi tidak mengenakan sabuk pengaman dan tidak ketahuan.

***

Malamnya saya kembali ke Jogja naik pesawat “Pokoke Mabur” lainnya. Rasanya sudah belasan kali saya ikut penerbangan terakhir ke Jogja dengan pesawat ini dan belum pernah sekali pun mabur (terbang) tepat waktu. Saking seringnya, sehingga kalau “hanya” terlambat satu jam sudah tidak perlu dihalo-halo lagi. Semua pihak sepertinya sudah sama-sama maklum. Mestinya sekalian saja secara resmi jadwalnya dimundurkan satu jam. Wong sudah terbukti sering sekali begitu.

Tiba saatnya boarding, rupanya hanya pintu depan pesawat Boeing 737-900ER yang dipasangi tangga, sedangkan pintu belakang tidak digunakan. Karuan saja dua ratusan penumpang tumplek-blek bergerombol di depan tangga menunggu giliran naik satu-persatu. Jarang-jarang saya mengalami kejadian seperti ini.

Ada seorang penumpang yang rupanya cukup kritis menanyakan kepada seorang awak kabin, kenapa pintu belakang tidak dibuka. Lalu dijawab bahwa tidak ada tangganya. Penumpang itu rupanya belum puas dan masih ingin memastikan bahwa tidak dibukanya bukan karena macet.

Pertanyaan yang sangat logis. Sebab masih lebih baik pintu tidak dibuka karena tidak ada tangga (meskipun sebenarnya aneh bin ajaib), daripada tidak dibuka karena pintunya macet atau rusak.

***

Meski pesawat jenis Boeing 737-900ER itu tergolong pesawat baru, tapi ketika roda-rodanya menjejak bumi bandara Adisutjipto, tak urung mak jegluk…. Menghentak cukup keras sehingga mengagetkan sebagian besar penumpangnya.

Maka, kalau terpaksa menggunakan jasa maskapai “Pokoke Mabur”, perlu memperbanyak doa untuk mengendalikan rasa resah-gelisah di atas tiket murah-meriah, agar pokoke tekan nggone (yang penting sampai tujuan dengan selamat). Jangan sampai pesawatnya mabur ….. tinggi sekali dan tidak kembali lagi….. (diucapkan dengan logat Banyumasan).-

Yogyakarta, 5 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(1).   Jika Mendadak Harus Pulang Kampung

Hari itu, Jum’at, 11 Pebruari 2000. saya harus memutuskan untuk segera pulang kampung karena ibu saya dalam kondisi kritis dan sudah masuk ICU di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Sejak tiga hari sebelumnya ketika pertama kali menerima kabar dari kampung bahwa ibu saya masuk Rumah Sakit, saya memang sudah mulai berhitung untuk pulang ke tanah air. Tapi kapan ?

Ternyata memilih hari adalah keputusan yang tidak mudah. Barangkali karena saya punya pengalaman yang tidak menguntungkan, yaitu saat menanti kelahiran anak pertama saya. Tahun 1991, saat saya masih bertugas di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman Bengkulu Utara, dimana komunikasi ke luar job-site masih jadi kendala. Saya berangkat cuti sekitar dua hari sebelum hari H yang diperkirakan dokter anak saya akan lahir.

Harap-harap cemas menyertai hari-hari cuti saya di Yogya. Lewat satu minggu cuti belum ada tanda-tanda bayi akan lahir. Hingga hari kesepuluh, masih juga belum. Hari ke-11, 12, 13, terlewati masih juga belum ada tanda-tanda istri akan melahirkan. Dalam hati saya sempat ngedumel : “doktere ngapusi” (dokternya bohong). Apa boleh buat, jatah cuti dua minggu habis, maka terpaksa pulang ke job-site tinggal membawa rasa cemas saja, rasa harapnya sudah saya titipkan istri saya di Yogya. Sebenarnya bisa saja memperpanjang cuti, tapi masalahnya harus jelas sampai kapan memperpanjangnya. Dan ini yang susah.

Hari kedua setiba di job-site, saya terima tilgram bahwa istri saya sudah melahirkan dengan selamat. Akhirnya, ya cuti lagi, tapi tidak menangi (sempat melihat atau mengalami) detik-detik kemerdekaan jabang bayi anak pertama saya. Pengalaman inilah yang membuat saya sulit untuk memutuskan kapan harus pulang menjenguk ibu yang sedang ada di Rumah Sakit. Meskipun akhirnya, hari Jum’at itu saya putuskan untuk secepatnya harus pulang.

Kemudian ternyata tidak mudah untuk memperoleh tiket penerbangan dari New Orleans menuju Semarang, sebelum nantinya saya sambung dengan taksi ke Kendal. Kesulitan memperoleh tiket ini disebabkan oleh dua alasan : mendadak dan di akhir pekan. Saya dan keluarga sempat bimbang, antara saya pulang sendirian atau bersama semua keluarga. Keputusan akhirnya, saya pulang sendirian. Bukan soal biayanya, melainkan karena pertimbangan cuti pamit dari kantor yang hanya dua minggu padahal perjalanan cukup jauh, juga lantaran anak-anak sedang enjoy dengan sekolahnya.

Anak saya yang kelas 3 SD kelihatan gelo (menyesal) untuk meninggalkan sekolah sewaktu mau saya ajak pulang ke kampung. Selain itu juga lebih sulit mendapatkan tiket untuk empat orang dalam keadaan mendadak. Dengan akhirnya saya berangkat sendirian, ternyata nantinya ini akan memudahkan perjalanan saya untuk ber-manouver lebih bebas guna mencari alternatif penerbangan yang lebih cepat dalam situasi emergency seperti ini.

Agaknya, di Amerika sarana transportasi udara sudah menjadi kebutuhan, layaknya kereta api atau bis malam di Jawa. Bukan lagi kemewahan untuk mendapatkan privilege. Jika harus membeli tiket pesawat mendadak, maka selain sulit untuk membuat pilihan-pilihan, juga mesti siap dengan harga tiket yang lebih tinggi.

Dalam situasi tidak mendadak, peluang untuk memperoleh harga tiket murah sangat dimungkinkan, bahkan bisa kurang dari seperempatnya. Demikian halnya di saat akhir pekan (biasanya hari Jum’at hingga Minggu) adalah saat padat penumpang yang akan liburan ke luar kota atau pulang ke daerah asalnya bagi para pekerja pendatang dari lain kota.

Untungnya soal harga tiket ini sudah tidak menjadi perhitungan saya, karena perjalanan saya dibiayai oleh kantor. Meskipun demikian toh saya tidak berhasil memperoleh tiket untuk hari Sabtu besoknya.

Berkat bantuan sekretaris kantor yang berbaik hati menguruskan tiket (meskipun saat itu dia sedang berakhir pekan), saya bisa berangkat hari Minggunya. Pemesanan tiket melalui layanan 24 jam tiket elektronik (e-ticket) melalui media internet, memudahkan saya untuk hari Minggunya tinggal datang saja langsung ke bandara. Dengan menunjukkan kartu identitas, maka tiket kertas (paper ticket) bisa dikeluarkan.

Rutenya adalah hari Minggu pagi berangkat dari New Orleans ke Dallas-Ft.Worth, langsung sambung ke Tokyo dan akan tiba di Tokyo hari Senin sore. Menginap semalam di Tokyo, untuk Selasa besoknya menuju Jakarta, dan dijadwalkan tiba di Jakarta sudah menjelang malam. Saat itu saya tidak terlalu memusingkan tentang rencana perjalanan tersebut. Bisa berangkat hari Minggu saja sudah senang rasanya.

Itu sebabnya, kemudian saya belakangan khawatir apa kira-kira masih bias nyambung ke Semarang malam itu juga untuk selanjutnya menuju ke Kendal. Jika tidak, artinya saya baru akan tiba di rumah hari Rabunya. Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi juragan milisi Upnvy*), siapa tahu beliau bisa membantu memberi info, karena saat itu saya sudah telanjur unsubscribe.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

__________

*) milisi Upnvy : sebutan untuk mailing list alumni UPN “Veteran” Yogyakarta, serta para simpatisan.

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(6).   Jika Harus Mencari Penerbangan Tercepat Dari Tokyo

Saat di depan petugas AA itulah, tiba-tiba muncul ide di pikiran saya, untuk minta tolong kepada kedua orang Jepang itu agar bersedia membantu mencarikan alternatif penerbangan tercepat menuju Jakarta, dengan tanpa harus menginap semalam di Tokyo. Kalau saja saat itu bukan dalam perjalanan emergency, rasanya kesempatan menginap semalam di Tokyo akan menjadi pilihan yang cukup mengasyikkan.

Melihat betapa pedulinya mereka terhadap persoalan saya sebagai pengguna jasa penerbangan AA, pasti mereka mau membantu, pikir saya. Apalagi saya punya alasan kuat bahwa saya sedang dalam perjalanan emergency karena ibu saya meninggal dunia. Tentu saja untuk yang terakhir ini saya sambil berakting macak melas (berlaku seolah perlu dikasihani, dan rasanya memang begitu…..) sedramatis mungkin.

Benar juga, dengan cara yang sangat simpatik mereka mau membantu saya, dan lalu meminta saya untuk menunggu sebentar. Saya begitu yakin dengan kata-kata “sebentar”-nya. Salah seorang dari mereka, seorang gadis Jepang berperawakan gemuk, segera berjalan cepat meninggalkan saya. Benar-benar sebentar, gadis Jepang yang saya lupa membaca label nama di dadanya itu segera kembali, lalu menghidupkan komputer “kuno”-nya yang ternyata masih berfungsi baik, pencet-pencet keyboard, lalu keluar secarik kertas berisi alternatif penerbangan menuju Jakarta. Ini dia yang memang saya harapkan.

Sambil menunggu petugas AA memainkan komputernya, pandangan saya tertuju kepada seorang ibu muda yang tadi sama bingungnya dengan saya. Saya perhatikan si ibu tampak asyik bercakap-cakap dengan petugas penerbangan lain.

Rupanya bukan asyik mengobrol, melainkan karena si ibu muda itu tidak paham bahasa Inggris, hanya bisa bahasa Spanyol. Sedangkan dua orang petugas penerbangan yang juga orang Jepang tidak ngerti bahasa Spanyol. Jadi tampak seru. Yang mengherankan saya, tidak tampak sedikitpun ekspresi panik pada wajah si ibu, malah cengengesan karena setiap kata yang mereka saling ucapkan tidak pernah sambung.

Petugas AA telah selesai dengan komputer “kuno”-nya. Lalu dikatakannya bahwa sudah tidak ada penerbangan langsung ke Jakarta hari itu juga. Wah! Tapi menurutnya ada alternatif, untuk malam itu juga saya bisa terbang ke Singapura dengan Singapore Airlines (SQ) dan akan tiba di sana jam 1:30 dini hari Selasa. Lalu esoknya jam 7:00 pagi saya bisa terbang ke Jakarta. Saran yang bagus, saya pikir lebih baik menghabiskan waktu di Singapura karena penerbangan menuju Jakarta dari Singapura akan lebih banyak pilihan.

Sebagai konsumen pengguna jasa penerbangan AA, saya diperlakukan dengan sangat baik. Padahal setelah itu saya sudah tidak lagi menggunakan jasa mereka, melainkan ganti dengan SQ atau Garuda. Rasanya saya harus mengakuinya, bahwa itulah kelebihan mereka dalam me-manage pelanggannya. Dalam hati saya berprasangka, kok yang demikian itu jarang ada perusahaan jasa di Indonesia yang mau meniru.

Salah seorang petugas yang laki-laki kemudian membawa saya ke counter AA di bagian keberangkatan (saya tidak jadi meminta shore pass untuk keluar bandara melewati imigrasi), dan lalu mempertemukan saya dengan petugas lain di bagian tiket AA. Di bagian ini saya menunggu agak lama.

Rupanya sang petugas sedang bingung, padahal mestinya saya yang bingung. Rupanya dia juga merasa berkepentingan untuk ikut bingung, membantu saya. Rasa turut berkepentingan atas kesulitan yang sedang dihadapi orang lain ini rasanya dijaman kini terasa sangat mahal harganya, di jaman reformasi sekalipun.

Dia bingung karena alternatif pertama penerbangan lanjutan ke Jakarta esok hari dari Singapura adalah dengan Garuda Indonesia (GA), sedangkan tiket GA ternyata tidak bisa dikeluarkan oleh pihak AA di Tokyo, padahal tempat duduknya bisa confirm. Alternatifnya, ada 3 penerbangan SQ pada jam-jam sesudah jadwal GA yang tiketnya bisa dikeluarkan saat itu juga, tapi tempat duduk berstatus stand by. Lalu agak sore ada lagi Thai Airways (TG), yang tempat duduknya OK dan tiket juga bisa langsung dikeluarkan.

Yang membuat dia bingung adalah kenapa tiket GA tidak bisa dikeluarkan di Tokyo saat itu (sebenarnya kalau mau dia tidak perlu bingung, bisa saja dia berlaku cuek dan bilang bahwa hanya tiket SQ yang bisa dikeluarkan, dan toh pasti saya akan percaya juga). Untuk meyakinkan saya, sang petugas tiket AA itu pun meminta saya untuk melongok ke layar komputernya. Dan memang di situ saya lihat ada tulisan “non ticketable“. Sang petugas AA akhirnya menyerahkan keputusan kepada saya, mau ambil tiket yang mana, karena pihak AA hanya bisa melakukan endorsement guna pengalihan tiket dengan harus menyebutkan nama penerbangannya.

Ini membuat saya harus berpikir keras, mengatur strategi agar terhindar dari kesulitan esok harinya di Singapura. Pilihan dengan penerbangan lanjutan apa sebaiknya tiket dikeluarkan. Dalam waktu yang singkat, pikiran saya menguji beberapa kemungkinan yang bisa terjadi atas beberapa alternatif penerbangan lanjutan yang diberikan. Akhirnya saya pilih penerbangan dengan TG.

Pertimbangan saya waktu itu adalah meskipun jadwal TG agak sore tapi tempat duduk OK dan tiket bisa langsung dikeluarkan saat itu juga, sambil berasumsi bahwa di Singapura saya akan melakukan jurus macak melas yang sama seperti tadi untuk mencari peluang berangkat dengan penerbangan lebih awal. Toh sesial-sialnya, saya sudah pegang tiket TG untuk penerbangan sore (belakangan ketika di Singapura saya baru menyadari bahwa pilihan dan strategi saya ini ternyata salah).

Setelah semua tiket sudah dikeluarkan oleh pihak AA, saya langsung check-in untuk penerbangan SQ ke Singapura. Tiba-tiba saya baru ingat, lha bagasi saya bagaimana?. Wong menurut labelnya bagasi tersebut harus saya ambil dulu di Tokyo. Dengan sangat meyakinkan, petugas AA itupun ngayem-ayemi (menenangkan pikiran) saya bahwa soal bagasi saya tidak perlu khawatir. AA akan mengaturnya, dan saya tinggal mengambilnya di Singapura nanti.

Ada perasaan ragu-ragu. Lha bagaimana tidak, wong di labelnya sejak di New Orleans sudah jelas-jelas tertulis bahwa tujuan akhir bagasi itu adalah Tokyo. Sementara lalu lintas penerbangan di Narita sangat sibuk, hari sudah malam lagi. “Wis embuh“, pikir saya. Pokoknya segera berangkat ke Singapura malam itu juga, yang artinya saya berhasil mengurangi waktu tempuh perjalanan dibanding dengan rencana sebelumnya yang harus nginap di Tokyo.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(8).   Jika Memilih Untuk Tidur Di Ruang Tunggu Bandara Changi

Selasa, 15 Pebruari 2000, sekitar jam 1:30 dini hari, pesawat Singapore Airlines (SQ) mendarat di Terminal 2 Changi, Singapura. Saya harus melewati imigrasi, karena mesti keluar dulu untuk ambil bagasi. Ternyata bagasi saya sudah tiba bersama-sama saya. Terus terang saya agak gumun (heran), bahwa petugas American Airlines (AA) di Tokyo benar-benar menangani bagasi saya yang seharusnya saya ambil di Tokyo, mengikuti penerbangan lanjutan saya ke Singapura malam itu juga. Padahal saya sudah tidak lagi menggunakan jasa penerbangan mereka.

Pikiran pertama setiba di bandara Changi adalah langsung mencari counter Thai Airways (TG). Maksudnya mau menegosiasikan tiket saya agar bisa pindah dengan pesawat pertama yang terbang ke Jakarta paginya, yaitu Garuda Indonesia (GA) dan seklaigus menukar tiketnya. Ternyata untuk ketemu counter TG maupun juga GA saya mesti menuju ke Terminal 1. Wah, agak jauh.

Saya ubah skenarionya. Saya coba langsung menghubungi counter SQ di Terminal 2. Lalu dijelaskan oleh petugasnya bahwa tiket saya tidak bisa langsung digunakan untuk penerbangan lain, karena di Tokyo tiket AA saya sudah dialihkan ke TG. Untuk dapat pindah ke SQ atau pesawat lain, harus ada endorsement dulu dari pihak TG.

Akhirnya tetap juga saya mesti ke Terminal 1, itupun belum tentu buka, di saat dini hari, kata seorang Satpam bandara yang saya tanyai. Belum lagi mesti jalan kaki, karena sky-train yang menghubungkan Terminal 2 ke Terminal 1 dan sebaliknya sudah berhenti beroperasi dan baru mulai beroperasi lagi jam 6 pagi. Belum lagi sambil menyeret bagasi yang cukup berat. Yen, tak pikir-pikir …….., kok ya lebih baik istirahat saja dulu, simpan tenaga untuk esok paginya berburu lagi pesawat tercepat menuju Jakarta. Jadilah, masuk ke Terminal 2 lagi melalui imigrasi, dan stempel imigrasi di paspor pun saya minta untuk dibatalkan.

Dalam hal overnight di Singapura seperti ini, pengalaman sebelumnya saya langsung menuju ke lantai 3 untuk tidur di hotel transit airport. Bagaimanapun juga ini adalah kesempatan untuk istirahat, memulihkan stamina, dan bisa tidur dengan posisi sempurna, meskipun harus mbayar. Akan tetapi mempertimbangkan bahwa esok pagi-pagi mesti sudah mulai ngurus ini-itu kesana-kemari, saya memilih untuk tidur di kursi ruang tunggu di lantai 2 saja.

Di sana banyak sesama penumpang transit yang juga tidur di kursi menunggu penerbangan lanjutan esok paginya. Tetapi yang lebih penting bagi saya adalah agar tidak kebablasan tidurnya. Lumayan ….., toh bisa juga tidur 2-3 jam, meskipun diselingi nglilir (terbangun) beberapa kali. Selain karena tidurnya tidak dengan posisi sempurna, juga karena pikiran tetap bekerja menyusun skenario untuk esok paginya.

Sekedar pengalaman pembanding, pada tahun 1993 saya pernah kemalaman di Cengkareng dalam perjalanan dari Bengkulu ke Yogya, dan terpaksa tidur di Terminal F.  Rasanya seperti di rumah suwung (tidak berpenghuni), meskipun tidurnya di airport. Sepi dan tidak ada “tanda-tanda kehidupan”, boro-boro ada yang jual makanan. Bahkan karena tidur di bangku ruang tunggu saya merasa kedinginan, akhirnya pindah tidur di musholla. Itupun masih kedinginan, lapar lagi.

Sebelum merebahkan badan di kursi tunggu Terminal 2 Changi, saya sempatkan untuk mencari smoking area. Maklum, sejak dari New Orleans kemarin saya terpaksa menahan keinginan untuk merokok, karena memang di setiap tempat terpampang tulisan dilarang merokok.

Namun sebenarnya saya menahan keinginan merokok bukan lantaran ada tanda “No Smoking”. Melainkan karena tidak saya jumpai orang yang tidak tahu malu, yang suka melanggar tapi justru bangga. Tidak saya jumpai orang yang suka nekad melanggar aturan umum. Saat itu, saya ingin menjadi bagian dari orang-orang yang tahu malu dan menghargai aturan. Ingin rasanya saya mengajak 200 juta tetangga saya agar mempunyai keinginan yang sama. Tapi jangan-jangan ……, untuk punya keinginan semacam itupun para tetangga saya itu juga malu.

Di kesempatan lain, sekali waktu saya transit di bandara Taipei, Taiwan. Karena di sekitar ruang tunggu tidak boleh merokok, saya berjalan menuju lorong penghubung antara ruang-ruang tunggu. Agak ke ujung lorong memang tidak saya jumpai tulisan “No Smoking”, tapi juga tidak ada tulisan “Smoking Area”.

Hanya yang melegakan, di situ ada bekas puntung rokok berserakan di sepanjang tempat bunga. Saya hanya berlogika : berarti puluhan orang yang merokok sebelum saya berkategori tidak melanggar aturan, alias tidak dilarang. Kesimpulan yang bagus, terkadang logika secara bodoh semacam ini ada gunanya. Paling tidak, bisa menjadi “tempat persembunyian” yang masuk akal.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(9).   Jika Pilihan Saya Ternyata Salah

Jam 05:30, Selasa pagi, saya sudah terbangun karena Terminal 2 mulai ramai. Kucek-kucek mata sebentar, menggeliat, menyusun barang bawaan, lalu mendorong kereta ke arah stasiun sky-train karena harus ke counter Thai Airways (TG) di Terminal 1. Ya jelas sky-train-nya belum beroperasi, wong belum jam 6:00. Lalu saya berhenti sebentar di prayer room yang letaknya agak tersembunyi untuk sholat Subuh, meskipun sebenarnya saya ragu apakah saat itu di Singapura sudah masuk waktu sholat Subuh atau belum.

Sky-train ternyata beroperasi 5 menit lebih awal, jadi bisa segera meluncur ke Terminal 1, seusai sholat Subuh. Setelah keluar melewati imigrasi, langsung menuju bagian check-in TG di lantai 1. Pikiran pertama saya, saya akan minta TG untuk memberikan endorsement atas tiket saya ke Garuda Indonesia (GA). Karena meskipun petugas American Airlines (AA) di Tokyo tidak berhasil mengeluarkan tiket GA, tapi bisa membuat status seat saya OK. Lagipula GA adalah penerbangan pertama pagi itu dari Singapura menuju Jakarta, berangkat jam 06:50. Artinya saya harus mengejar waktu sekitar 50 menit.

Bagian check-in TG rupanya tidak bisa memberi endorsement. Kata petugasnya, pengalihan tiket ke penerbangan lain harus dilakukan oleh kantor TG yang ada di lantai 2. Katanya lagi, biasanya kantor baru buka jam 08:00. Wah…, modar aku!, batin saya. Artinya saya mesti menunggu 2 jam lagi. Tetapi sang petugas juga ngayem-ayemi (menenangkan pikiran) saya, disuruhnya saya langsung saja ke kantor : “Siapa tahu sudah ada orang”, katanya.

Dengan berharap banyak di balik kata “siapa tahu”, saya langsung mencari kantor yang dimaksud di lantai 2. Ngos-ngosan juga, karena barang bawaan saya cukup berat. Ternyata kantor TG memang belum buka, dan tidak tampak ada orang di dalamnya. Saya tunggui saja persis di depan pintu kantor yang masih sepi itu. Sudah 10 menit berlalu, 20 menit berlalu, masih juga belum ada tanda-tanda ada orang. Saya mulai gelisah, karena GA akan terbang jam 06:50.

Setelah jalan kesana-kemari di seputaran kantor, kemudian saya putuskan untuk turun lagi ke bagian check-in di lantai 1 menemui petugas berbeda, sambil berharap barangkali petugas lain bisa membantu. Ternyata tidak juga, tetap disuruhnya saya datang ke kantor. Yaaa ….., balik lagi ke lantai 2, tetap dengan menggotong-gotong barang bawaan karena kereta dorong tidak diperbolehkan masuk dan naik tangga berjalan. Tetap juga kantornya masih tutup.

Kalau gelisah begini biasanya paling enak menyalakan rokok, tapi tentu tidak bolah. Akhirnya ya hanya bisa anguk-anguk (berdiri di lantai atas sambil melongok-longokkan kepala memandang ke lantai bawah) di depan pintu kantor, sambil tetap berdoa mudah-mudahan kata “biasanya buka jam 8:00” tidak berlaku untuk hari itu.

Saat itulah saya baru menyadari bahwa keputusan saya untuk memilih tiket TG sewaktu di Tokyo ternyata adalah strategi yang salah. Seharusnya saya memilih untuk dikeluarkan tiket Singapore Airlines (SQ). Sekalipun status kursi saya waktu itu tidak confirm, tapi SQ punya kelebihan lain.

Pertama : ada banyak counter SQ di Changi, sehingga tidak perlu kesana-kemari untuk mengurus ini-itu. Kedua : perwakilan SQ di Changi buka 24 jam. Ketiga : ada 3 penerbangan SQ pagi hingga siang itu menuju Jakarta, sehingga kalaupun penerbangan pertama tidak bisa, masih ada peluang bernegosiasi untuk penerbangan kedua atau ketiga yang semuanya masih relatif lebih awal tiba di Jakarta. Keempat : saya punya jurus pamungkas, bahwa saya saat itu sedang dalam perjalanan emergency.

Salah strategi. Ya, sudah. Wong pilihan salah sudah telanjur dibuat. (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(10).   Jika Harus Kembali Memainkan Lakon Emergency

Tiba-tiba serasa dapat durian Bangkok runtuh yang tanpa kulit, ketika sekitar jam 06:45 saya lihat ada petugas di dalam kantor TG menuju pintu depan. Sebenarnya dia bukan mau buka kantor, melainkan mengambil koran pagi yang diselipkan sama lopernya di bawah pintu. Melihat ada peluang, sengaja saya lalu berdiri mendekat pintu agar terlihat dari dalam. Benar juga, saya lalu dibukakan pintu dan ditanya keperluannya apa oleh petugas kantor yang saya taksir usianya sudah menjelang pensiun, yang agaknya orang Thailand.

Mulailah saya berakting sedramatis mungkin, bahwa saya perlu bantuannya agar tiket TG saya bisa dibuatkan endorsement untuk pesawat yang lebih awal menuju Jakarta. Tentu dengan alasan emergency. Alhamdulillah, tanpa banyak kesulitan dan tanya macam-macam, endorsement bisa dibuatkan. Tiket TG saya distempel, ditandatangani, lalu saya ditanya mau pakai pesawat apa.

Mempertimbangkan saat itu sudah menjelang pukul 7:00 pagi, pasti pesawat GA sudah kabur, tidak terkejar. Langsung saya mintakan dengan pesawat SQ. Tentu ucapan “thank you” tidak saya lupakan (Ada keinginan untuk mengucapkan “kap kun kah“, seingat saya itu bahasa Thai-nya terima kasih, biar sok akrab, tapi saya takut salah, nanti malah “dadi gawe”. Saatnya tidak tepat, pikir saya) bahkan tidak cukup sekali saya ucapkan kata “thank you“.

Seperti dikejar setan, saya langsung terbirit-birit menuju bagian check-in SQ, agar bisa mengejar pesawat pertama menuju Jakarta yang dijadwalkan berangkat pukul 7:00 pagi.

Sampai di sana ternyata saya mesti antri. Melihat kenyataan itu, dalam hati saya berpikir berarti pesawatnya belum berangkat, barangkali agak molor. Hal yang tidak saya sukai, tapi kali itu justru menguntungkan. Ketika tiba giliran mau check-in, saya ingat bahwa status kursi saya sewaktu di Tokyo masih belum OK. Maka terpaksa saya mainkan lagi pentas lakon emergency.

Di depan petugas counter yang tampangnya seperti pemuda Cina berkacamata, saya dahului nerocos bahwa saya sedang dalam perjalanan emergency, bla…bla…bla…, dan seterusnya. Ujung-ujungnya minta tolong agar bisa berangkat ke Jakarta dengan pesawat pertama SQ.

Agaknya berhasil, terbukti sang petugas cukup lama mencermati tiket kelas bisnis dan paspor saya sambil pencet-pencet tombol komputer di depannya. Saya perhatikan sampai dua kali dia bolak-balik berkonsultasi dengan supervisor-nya yang berada tidak jauh di belakangnya.

Di menit-menit terakhir menjelang pesawat berangkat, seat saya di-OK-kan, meskipun disertai permintaan maaf karena saya hanya bisa terbang di kelas ekonomi karena kelas bisnis sudah habis. Hati saya berbunga-bunga, lha wong saya yang memaksa terbang, kok dia yang minta maaf. Barangkali itulah bahasa bisnis.

Lalu bagaimana dengan barang bawaan saya? Apakah tas saya masih cukup waktu untuk dibagasikan? Dengan sangat meyakinkan petugas itupun menjawab silahkan saja. Saya masih ragu, saya tanya lagi apa tidak terlambat? Dengan sopan dijawabnya tidak. Nanti akan ada petugas SQ yang mengurusnya, dan saya dipersilahkan tinggal ambil di Jakarta. Saya hanya berharap mudah-mudahan ucapannya benar.

Entah saya dapat energi dari mana, yang jelas setelah dapat kartu boarding, cepat sekali saya bergerak menuju gate yang telah ditentukan, dan puluhan orang telah saya salip sambil sesekali mengucap “excuse me“. Sambil agak malu saya masuk pesawat, karena di sana ternyata saya sudah ditunggu orang sepesawat termasuk pilot dan pramugarinya yang berseragam khas.

Lha kok ternyata benar, saya tiba di Jakarta bersama-sama dengan bagasi saya. Luar biasa, saya benar-benar gumun. Bagaimana mereka mengurusi sebuah tas yang cukup berat di menit-menit terakhir sebelum pintu pesawat ditutup, sementara kegiatan di bandara Changi pagi itu sudah sangat sibuk. (Bersambung).

Yusuf Iskandar