Posts Tagged ‘dukun’

Benih Untuk Korban Merapi

3 Maret 2011

Pada tanggal 16 Pebruari 2011 saya dan beberapa rekan mengunjungi desa Pucanganom, kecamatan Srumbung dan desa Sengi, kecamatan Dukun, Magelang, dalam rangka pendistribusian bantuan berupa benih kepada korban tidak langsung dari bencana erupsi gunung Merapi. Tulisan ini adalah kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi semoga menjadi inspirasi…

***

(1)

Banyak kawasan yang terkena dampak tidak langsung dari letusan Merapi seperti rusaknya lahan persawahan dan perladangan. Untuk mengolah dan menanam kembali perlu biaya mahal. Tidak gampang untuk memulihkan ekonomi.

Sebagian warga menyiasati dengan menanam tanaman yang berbiaya relatif murah tapi cepat menghasilkan, seperti mentimun dan sawi. Itu yang dilakukan warga desa Sengi, kecamatan Dukun. Magelang.

(2)

Alasan warga desa Sengi untuk menanam tanaman yang cepat menghasilkan bukan saja lantaran berbiaya murah, tapi juga desa yang sebelum Merapi meletus adalah kawasan subur penghasil padi, kini menjadi sulit air.

“Banyak sumur warga yang airnya kering”, kata pak Aan seorang warga dusun Ngampel, Sengi. Entah pada lari kemana airnya. Maka untuk menanam tanaman yang umurnya panjang, mereka khawatir tidak akan mampu mengairi hingga tuntas.

(3)

Membantu membangun infrastruktur pengairan tentu tidak sederhana. Ini pekerjaan lintas sektoral. Maka membantu yang mudah dilakukan, kiranya cukup untuk meringankan kesulitan warga.

Itu yang kami lakukan terakhir dengan mengirim benih tanaman sayuran seperti kacang panjang, cabe, terung, dsb. dan kali ini kami kirimkan ke dusun Berokan, desa Pucanganom, kecamatan Srumbung dan dusun Ngampel, desa Sengi, kecamatan Dukun, di wilayah kabupaten Magelang.

Yogyakarta, 18 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Candi Asu Sengi

3 Maret 2011

Candi ini benar-benar Candi Asu…, di desa Sengi, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang. Lokasinya berada sekitar 12 km arah timur dari kota Muntilan.

Yogyakarta, 17 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Catatan Harian Untuk Merapi (10)

28 Desember 2010

(87). Mereka Yang Jauh Dari Bantuan

Dusun Bandung, desa Paten, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang, sekitar 12 km dari Muntilan, ada di radius (tidak aman) 7 km dari puncak Merapi. Warga laki-laki berjaga-jaga, sedang warga perempuan/lansia/balita masih di pengungsian. Mereka para petani, jelas tidak ada yang dapat dikerjakan apalagi dihasilkan. Jauh dari sentuhan bantuan luar. Logistik adalah kebutuhan mendesak. Walau mereka takut “wedhus gembel”, tapi sore ini diamanahi tiga ekor wedhus gembel kurban…

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(88). Mereka Yang Selalu Berstatus Awas Di Dusunnya

Dusun Bandung, Paten, Magelang, jelas berada di radius tidak aman terhadap Merapi (7 km). Tapi mereka harus menjaga hewan dan hartanya, begitu alasannya kenapa sebagian warga tidak mengungsi. Makan seadanya.

Sesuai status Merapi, mereka pun AWAS dan selalu terjaga terhadap gerak-gerik Merapi. Begitu bumi bergetar keras dan bergemuruh, mereka segera kabur menjauh menuruni gunung dengan sepeda motor yang selalu standby. Sambil getok tular (saling memberitahu) teman-temannya…

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(89). Korban Merapi Non-Pengungsi

Menempuh jarak sekitar 12 km dari Muntilan, Magelang, ke arah sisi baratdaya lereng Merapi, menuju dusun Bandung, desa Paten. Melalui jalan sempit dan menanjak yang terlapis abu vulkanik. Di sana ada korban Merapi non-pengungsi dan memang tidak mau mengungsi. Mereka sadar ancaman awan panas, juga lahar dingin, bahkan hujan kerikil pun telah dirasakan, sedang abu tipis tak henti menyelimuti. Logistik adalah kebutuhan mendesak kini dan entah sampai kapan…

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(90). Masih Ada Sapi Yang Akan Lewat

Membantu menyalurkan hewan kurban, sebagian dari amanah yang kami terima dari HMM (Himpunan Masyarakat Muslim) PT Freeport Indonesia. Hari ini tiga kambing ke dusun Bandung, Dukun; empat kambing ke dusun Pepe, Muntilan; satu sapi ke dusun Babadan, Sawangan; semua di wilayah kabupaten Magelang, sisi barat-baratdaya Merapi.

Insya Allah, masih ada sapi dan kambing yang akan lewat, besok… (Terima kasih untuk warga HMM Papua).

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(91). Seekor Lembu Ke Sawangan Magelang

Dusun Babadan, kecamatan Sawangan, Magelang terletak di kaki gunung Merbabu yang berhadapan dengan lereng barat Merapi, berada di radius sekitar 6 km dari puncak Merapi (juelass tidak aman). Tapi ratusan KK pengungsi ada di sana. Logistik sangat terbatas dan para lansia butuh selimut. Mereka sadar akan pilihannya itu. Tapi…., banyak hal sulit dicari penjelasannya. Ke dusun itulah seekor lembu (amanah dari rekan-rekan di HMM Papua) malam ini dikirimkan..

(Yogyakarta, 17 Nopember 2010)

——-

(92). Menuntaskan Amanah Kurban Dari Papua

Tuntas sudah, enam sapi dan 10 kambing selesai disalurkan dalam dua hari ini sebagai amanah kurban dari warga Himpunan Masyarakat Muslim di Papua, untuk para korban bencana Merapi. Apresiasi untuk rekan-rekan yang telah bekerja keras untuk itu. Dan saya bersyukur berkesempatan menjadi bagian dari tim yang ketiban amanah. Semoga kelak menjadi “kendaraan” yang indah bagi para pengkurban, di langit tingkat tujuh yang dijamin bebas dari semburan awan panas maupun abu vulkanik…

(Yogyakarta, 18 Nopember 2010)

——-

(93). Penggalangan Dana Dari Mantan Teman Kerja

Beras, gula, sarden, kecap, hari ini dibelanja dan diangkut, siap untuk segera disalurkan ke beberapa lokasi pengungsian maupun korban Merapi non-pengungsi yang membutuhkan (dari hasil survey pendahuluan). Bantuan akan digabung dengan belanjaan lain. Semua dibeli dari hasil penggalangan dana yang bersumber dari para ex-teman kerja di Papua yang sekarang menyebar kemana-mana. Juga teman Facebook. (Terima kasih untuk pak Dwi Pudjiarso).

(Yogyakarta, 18 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (11)

28 Desember 2010

(94). Pe-er Besar Menghadang

Pertengahan minggu keempat sejak Merapi meletus pertama kali (26/10), cuaca Jogja hari ini cerah. Debu, yaa… masih ada dikitlah... Mbah Merapi ingin istirahat. Erupsi menurun. Berharap ancaman letusan segera usai. Konsekuensinya, ancaman banjir lahar dingin masih berstatus AWAS. Di balik semua itu ada timbunan rejeki dari pasir. Tinggal para korban langsung, baik yang mengungsi maupun yang tidak, lha ini dia pe-er besarnya…

(Yogyakarta, 19 Nopember 2010)

——-

(95). Ayo Balik Jogja

Anyway…, sinaoso mekaten… Jogja aman! Jogja bangkit! Jogja bersemangat! Insya Allah… AYO BALIK JOGJA…!

(Yogyakarta, 19 Nopember 2010)

——-

(96). Bantuan Hasil Saweran

Hasil saweran dari rekan-rekan pensiunan Freeport, dapat dibelanjakan beras, gula, mie instant, dkk. Sore tadi langsung dikirim ke lingkungan dusun Pepe, kecamatan Muntilan, yang sebagian besar warganya adalah buruh harian lepas. Sebagian bantuan lagi diarahkan ke dusun Bandung, kecamatan Dukun, yang berada di lereng baratdaya Merapi (di radius 7 km dari puncak). Karena sudah terlalu sore dan mendung, terpaksa minta mereka untuk mengambilnya sendiri. Tatuuut…

(Yogyakarta, 19 Nopember 2010)

——-

(97). Bakmi “Mbah Dhumuk” Sleman

Hari sudah petang ketika pulang dari mengirim bantuan ke Muntilan. Kepingin mengisi perut dengan menu beda, terpilihlah mie rebus (mie jawa) warung “Mbah Dhumuk”, di Jl. Magelang Km-12, Sleman. Mbah Dhumuk yang sudah malang-melintang di dunia perbakmian sejak lebih setengah abad yll, kini sudah tiada dan anak-anaknya meneruskan usaha itu. Taste-nya agak beda dan lumayan enak. Pantesan selalu ramai. Cuma waktu tunggunya itu lho… Loamaaa banget…

(Yogyakarta, 19 Nopember 2010)

——-

(98). Cerita Tentang Sebuah Batu Besar

Sebuah batu sebesar sapi kurban nongkrong magrong-magrong di tengah jembatan sungai Tlising sehingga menghalangi jalur evakuasi di desa Paten, kecamatan Dukun, kabupaten Magelang. Batu itu mau nyebrang ke atas jembatan karena sungai di bawahnya penuh dengan material lahar dingin Merapi hingga meluber.

Saya tanyakan kepada salah seorang warga: “Kenapa batunya tidak digelindingkan saja agar tidak menghalangi jalan”.
Jawabnya serius: “Belum boleh sama Mbah Merapi…”.

(Yogyakarta, 20 Nopember 2010)

——-

(99). Masih Ada Satu Letusan Lagi

Radius bahaya Merapi sudah dipersempit. Sebagian warga memang berangsur meninggalkan pengungsian. Tapi kaum bapak di dusun Bandung, desa Paten, kecamatan Dukun, Magelang, masih berjaga-jaga seperti mau perang gerilya, di dusunnya yang berada pada radius 7 km dari puncak dan belum mau membawa keluarga pulang dari pengungsian.

“Kenapa pak?”, tanyaku pada salah seorang yang dituakan.
“Kami merasa masih ada satu letusan lagi”, jawabnya serius. Waduh…! Blaik…!

(Yogyakarta, 20 Nopember 2010)

——-

(100). Sejenak Menghirup Hawa Segar

Hanya Merapi yang tak pernah ingkar janji… Tidak Merpati, tidak juga Turangga Jogja-Bandung ingkar janji. Katanya 7 jam, malah diimbuhi jadi 8 jam. Abu vulkanik dan pengungsi Merapi sementara kutinggalkan dulu sejenak untuk menghirup hawa segar Bandung… Huuuaah…!

(Yogyakarta, 20 Nopember 2010)

——-

(101) . Bandung Dan Bandung

Warga kampungku di Kalangan, Umbulharjo, Jogja, mengumpulkan dana untuk dibelikan sembako plus plus. Ingin disalurkan langsung kepada korban Merapi yang benar-benar membutuhkan. Lokasi yang dituju berada di lereng baratdaya Merapi di wilayah kab. Magelang.

Hari ini rombongan kampungku berangkat menuju dusun Bandung. Saya sendiri tidak bisa gabung karena sedang dalam perjalanan pulang dari kota Bandung… (Sebuah kebetulan belaka kalau namanya sama).

(Yogyakarta, 21 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (13)

28 Desember 2010

(110). Mereka Makan Keladi Dan Ketela

Ketika saya cerita bahwa masyarakat di dusun-dusun terpencil yang terkena dampak letusan Merapi bertahan hidup dengan makan seadanya, seperti keladi dan ketela, maka itu benar adanya. Bukan cerita yang saya dramatisir…

Hanya umbi-umbian di dalam tanah yang bertahan terhadap serangan abu vulkanik panas. Tanaman lain di permukaan rusak, termasuk kelapa, sayuran, rumput, apalagi pisang. Ironisnya, kalau minta bantuan ke posko besar akan ditolak karena mereka bukan pengungsi…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(111). Mereka Adalah Relawan Mandiri

Posko mandiri (itu istilah mereka), adalah posko yang dikelola oleh pribadi-pribadi yang dengan semangat relawan mengelola masyarakat korban Merapi yang ada di rumah-rumah penduduk, bukan di lokasi/barak yang sengaja disiapkan untuk pengungsi.

Dengan upayanya sendiri relawan mandiri ini mencari bantuan ke pelbagai pihak. Bahkan antar mereka sering saling berbagi bantuan jika di lokasinya ada kelebihan. Memang, mereka kebanyakan ada di dusun-dusun terpencil, pelosok dan tersembunyi.

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(112). Bantuan Dari Para Sahabat

Hari ini saya menerima transfer sejumlah dana dari para sahabat di Jakarta dan Surabaya. Rencananya akan langsung saya alokasikan ke posko mandiri di dusun Soronalan dan Babadan, kecamatan Sawangan yang memang butuh bahan makanan mendesak.

Tapi sayang, sore ini cuaca berawan gelap, hujan deras berkepanjangan, sedang lokasi yang mau dituju agak naik ke kaki gunung. Terpaksa ditunda. Insya Allah…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(113). Siapa Yang Lebih Nekat

Seorang relawan mandiri di lereng baratdaya Merapi sore tadi mengirm pesan singkat via SMS, katanya: “Jumlah jiwa ada 250. Ekonomi lumpuh”. Posko itu ada di dusun Semen, kecamatan Dukun, Magelang. Info dari dusun tetangganya mengabarkan kalau masyarakat dusun Semen mencari-cari bantuan logistik.

Kutanya lokasinya di radius berapa dari puncak Merapi?
Jawabnya: “Sekitar 4 km pak!”.

Haduh…, lha yang nekat itu yang dibantu atau yang membantu?

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(114). Hanya Sebuah Potret Kecil

Dusun Babadan, Soronalan, Bandung dan Semen, di wilayah kabupatn Magelang, hanyalah sebagian kecil potret ketakberdayaan masyarakat yang dibuat tak berkutik setelah diplekotho abu dan pasir vulkanik panas dari Merapi. Padahal masih ada buanyak dusun-dusun terpencil yang warganya tidak mengungsi tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyambung hidupnya.

Mereka nyaris tak tersentuh bantuan. Semoga ada orang lain yang bergerilya membantu mereka yang buanyak itu…

(Note: diplekotho adalah ekspresi dalam dialog orang Jogja yang berarti ditakberdayakan)

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-