Posts Tagged ‘dubbo’

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(7).    Melintasi Jalur Segitiga Parkes – Dubbo – Orange

Hari Minggu kemarin, 5 Agustus 2001, saya mempunyai rencana berbeda. Masih juga ingin melakukan perjalanan keluar kota, namun kali ini tidank menuju ke kota-kota yang jauh melainkan keliling ke beberapa kota yang ada disekitar kota Parkes. Jalur yang saya pilih adalah lintasan segitiga dari kota Parkes, lalu menuju kota Dubbo yang terletak di arah utara Parkes dan kota Orange yang terletak di arah timur Parkes. Saya sebut saja lintasan memutar ini sebagai segitiga Parkes – Dubbo – Orange.

Berangkat dari rumah agak siang, terlebih dahulu saya menuju ke Tourist Information yang ada di kota Parkes. Sekedar ingin tahu apa yang sekiranya dapat saya lihat di kawasan Parkes dan kota-kota di seputarannya. Yang saya sebut di seputaran adalah kota-kota terdekat yang jaraknya bisa hingga 100 km, akan tetapi masih dapat ditempuh dalam satu jam perjalanan atau lebih sedikit. Segera saya meninggalkan Parkes menuju ke utara melewati Jalan Clarinda dan Newell Highway

***

Kota Parkes mula-mula terbentuk sejak pertama kali diketemukannya endapan emas pada tahun 1862. Perkembangannya menjadi semakin pesat ketika diketemukan lagi tambang emas Bushman’s Gold Mine pada tahun 1871. Kota inipun lalu bernama Bushman. Pada tahun 1873 Perdana Menteri New South Wales, Sir Henry Parkes, berkunjung ke lokasi penggalian emas ini. Lalu pada tanggal 1 Desember 1873 nama kota ini pun berganti dari semula Bushman menjadi Parkes sebagai penghormatan atas Sir Henry Parkes. Kemudian pada tanggal 1 Agustus 1887, jalan utama di kota baru Parkes ini berganti nama menjadi Jalan Clarinda. Clarinda adalah nama baptis dari Nyonya Parkes.   

Kota Parkes yang bersaudara kembar (Sister City) dengan kota Coventry di Inggris ini terletak pada elevasi 339 m di atas permukaan laut. Meskipun terletak di daerah beriklim subtropics, suhu udara rata-ratanya relatif tidak berbeda jauh dengan umumnya di Indonesia, yaitu 30 derajat Celcius maksimum di musim panas dan 16 derajat Celcius maksimum di musim dingin. Pada saat musim dingin seperti bulan-bulan ini suhu udara di malam hari memang bisa turun menjadi sangat dingin.

Jalan Newell Highway sendiri adalah jalan utama yang membelah wilayah negara bagian New South Wales dari kota Tocumwal di selatan dekat dengan perbatasan negara bagian Victoria dan Goondiwindi di utara di perbatasan negara bagian Queensland. Oleh karena itu kota Parkes tergolong cukup sibuk disbanding kota-kota kecil lainnya karena berada di perlintasan ekonomi antar kawasan. Tidak heran kalau truk-truk pembawa kontainer-kontainer raksasa pun seringkali terlihat melintas di kota ini.

Sekitar 20 km di utara Parkes, saya keluar dari jalan raya membelok ke timur sejauh 6 km menuju ke sebuah area yang dikenal dengan nama Parkes Radio Telescope. Dari kejauhan sudah tampak sebuah piringan raksasa berdiameter 64 m berdiri di sebuah kawasan terbuka. Teleskop ini dikelola oleh CSIRO Australia Telescope Parkes Observatory. Ini adalah salah satu piranti riset astronomi terbesar yang berada di bumi belahan selatan. Sarana dimana benda-benda angkasa menjadi tampak dekat dan jelas untuk keperluan pengembangan ilmu dan teknologi di bidang astronomi.

Parkes Radio Telescope merupakan salah satu dari delapan antene (piringan) yang keberadaannya menyebar di tiga kawasan. Sebuah antene lainnya yang berdiameter 22 m terletak di Coonabarabran dan enam antene lainnya yang masing-masing juga berdiameter 22 m terletak di Narrabi. Kedelapan antene yang disebut The Australia Telescope ini diresmikan pada tahun 1988.

Ketiga kota Parkes, Coonabarabran dan Narrabi terletak di jalur lintasan Newell Highway. Bersama-sama dengan sarana riset dan observasi astronomi lainnya yang tersebar mulai kota Canberra di selatan hingga Narrabi di utara dan melintasi beberapa jalan Highway, maka jalur ini memperoleh julukan plesetan sebagai “Highway to the Star” menyerap sebuah judul lagunya kelompok Deep Purple.

***

Dari kawasan antene teleskop di Parkes ini saya melanjutkan perjalanan ke utara sekitar 100 km menuju ke kota Dubbo. Menjelang masuk ke dalam kota, saya membelok ke timur menuju ke kawasan kebun binatang yang disebut Western Plains Zoo. Mula-mula saya ragu untuk masuk, wong di kota kecil yang jauh dari mana-mana kok mempunyai kebun binatang. Paling-paling ya sesuai namanya, kebun yang ada binatangnya.

Setelah membayar tanda masuk seharga A$ 22.00 (sekitar Rp 100.000,-) dan diberi peta lokasi, saya baru tahu bahwa kawasan yang luasnya mencapai 300 hektar ini menyimpan lebih 1000 ekor binatang dari lebih 100 spesies yang berasal dari seluruh dunia.

Bedanya dengan kebun binatang umumnya adalah di tempat ini binatang-binatang tersebut dibiarkan lepas di alam terbuka. Untuk keperluan pengamanan biasanya diberi kolam air yang agak lebar dan pagar, sehingga pengunjung dapat melihat binatang-binatang tersebut seperti di alam aslinya.

Tempat ini rupanya menjadi semacam tempat penangkaran bagi binatang-binatang langka yang populasinya di dunia nyaris berkurang. Melalui rute sepanjang 6 km yang dapat dilewati kendaraan, saya dapat melihat bnatang-binatang langka antara lain badak hitam, badak putih, gajah Afrika, biri-biri Barbary, singa Asia, harimau Sumatra, kura-kura Galapagos, gibbon tangan putih, elang ekor baji, dsb.

Ada juga binatang-binatang yang jarang dijumpai atau namanya kedengaran aneh seperti unta, biri-biri Barbary, zebra Grants, eland, wapiti, rusa fallow dan rusa chital, antelope, bison, kuda Przewalski, dingo, koala, emu, kanguru merah dan abu-abu, wallaby, tapir, lemur, dsb. Di antara badak yang ada di situ salah satunya rupanya berasal dari Ragunan. Dari hasil penangkaran binatang-binatang itu kemudian di sebarkan ke kebun-kebun binatang di seluruh dunia.

Pendeknya, saya jadi lupa waktu berada di tempat itu. Sehingga hari sudah sore ketika akhirnya keluar dari kebun binatang dan menuju ke kota Dubbo. Tingkat kepadatan dan keramaian kota Dubbo sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Parkes. Suhu udara harian juga relatif sama. Saya memutuskan untuk tidak berhenti di kota ini.

Dari Dubbo saya berbelok arah ke selatan menuju kota Orange melalui jalan National Route 32 atau yang disebut dengan Mitchell Highway. Jarak yang harus saya tempuh menuju Orange adalah sekitar 150 km, melewati beberapa kota kecil di antaranya Wellington dan Molong. Pemandangan alam di sepanjang jalur ini cukup indah dinikmati karena melewati jalan-jalan di daerah dataran agak tinggi meskipun bukan kawasan pegunungan.

Hari sudah larut sore ketika memasuki kota Orange. Rencana untuk menjelajah kota ini saya batalkan karena hari sudah beranjak remang-remang dan suasana kota pun sudah sepi. Orange adalah kota di pegunungan yang populasinya lebih dari 36.000 jiwa, karena itu lebih besar dan lebih padat dibandingkan Parkes. Suhu udara kota ini di saat musim dingin dapat mencapai di bawah nol derajat Celcius. Oleh karena itu salju sering dijumpai di saat musim dingin seperti sekarang ini. Masyarakat Orange bangga dengan menyebut kotanya sebagai kota seratus taman karena banyaknya kawasan-kawasan hijau pepohonan melingkupi kota ini.

Dari Orange, saya berbelok ke barat untuk kembali menuju Parkes. Jalan yang saya lewati adalah jalan tembus menuju Parkes sejauh 100 km melalui beberapa kota kecil antara lain Boree dan Manildra. Akhirnya saya tiba kembali di Parkes sudah lewat jam 7:00 malam. Puas rasanya telah menjelajah kawasan kota-kota kecil di seputaran Parkes melalui jalur segitiga Parkes – Dubbo – Orange sepanjang 370 km di hari Minggu kemarin.   

Parkes, 6 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Iklan