Posts Tagged ‘dst’

Memperpanjang Waktu Siang

12 November 2008

Layaknya ritual tahunan orang Amerika, maka mulai hari Minggu, 2 April 2000 ini hampir di seluruh wilayah Amerika memajukan putaran jamnya sebanyak satu jam. Tepatnya pada  jam 2:00 dini hari orang-orang Amerika memutar jamnya menjadi jam 3:00. Ini yang disebut dengan “Daylight Saving Time” (DST) guna menambah atau memperpanjang waktu siang hari, mengawali datangnya musim panas. Sebagai ilustrasi, kalau menurut Waktu Standard untuk periode Oktober – April beda waktu antara Jakarta dan New Orleans adalah 13 jam lebih awal, maka setelah DST untuk periode April – Oktober waktu di Jakarta menjadi 12 jam lebih awal dibandingkan dengan di  New Orleans.

DST dimulai setiap hari Minggu pertama bulan April dan akan diakhiri pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, saat mana orang-orang Amerika akan kembali memundurkan jamnya satu jam, kembali ke Waktu Standard. Untuk tahun ini, akhir DST jatuh pada tanggal 29 Oktober 2000, sehingga tepat pada jam 2:00 dini hari, orang-orang Amerika akan memutar jamnya kembali dengan memundurkannya menjadi jam 1:00.

(Yang agak membingungkan bagi kita adalah istilah dimajukan dan dimundurkan. Kita terbiasa mengatakan kalau suatu acara dimajukan satu jam, artinya yang semula jam 8:00 dirubah menjadi jam 7:00. Sedangkan dalam pengertian DST, dimajukan artinya semula jam 8:00 bergerak maju menjadi jam 9:00. Demikian pula untuk dimundurkan).

Meskipun Kongress Amerika telah menyetujui tentang tata cara DST pada tahun 1966 melalui “Uniform Time Act”, ternyata tidak semua wilayah Amerika menerapkannya. Negara bagian Hawaii dan wilayah teritorial Amerika seperti Puerto Rico, Kepulauan Virgin, American Samoa dan Guam adalah wilayah-wilayah yang memilih untuk tidak ikut ritual tahunan DST. Kalau itu saja barangkali masih masuk akal, karena letak geografisnya memang terpisah dari daratan benua Amerika. Yang mengherankan ternyata negara bagian Arizona, dan lebih “aneh” lagi hanya sebagian dari wilayah negara bagian Indiana yang mengikuti aturan DST sedang sisanya tidak mau memutar-mutar jarum jamnya dua kali setahun (Apakah ini cermin “demokratisnya” Amerika, atau hanya sekedar “ingin tampil beda”, saya tidak tahu).

Terakhir aturan tentang awal dan akhir DST di Amerika ini dituangkan dalam amandemen tahun 1986, yang ditandatangani oleh Presiden Ronald Reagen, atas “Uniform Time Act” 1966 yang semula menetapkan awal DST adalah hari Minggu terakhir bulan April dan berakhir pada hari Minggu terakhir bulan Oktober. Namun sebelum itu, aturan tentang DST ini ternyata telah melalui sejarah yang panjang.

***

Tidak hanya di Amerika, ada sekitar 70 negara di dunia yang hingga saat ini menerapkan pola memperpanjang waktu siang hari di musim panas, tentunya dengan ketentuan waktu awal dan akhir yang berbeda-beda. Di Eropa tata cara ini dikenal dengan sebutan “Summer Time”. Negara-negara di dunia yang menerapkan DST antara lain adalah : Mesir dan Namibia (di Afrika); Israel, Irak, Iran, Libanon, Palestina, Syria, Mongolia dan negara-negara Eropa serta bekas Rusia (di Asia); Australia, Selandia Baru, Fiji dan Tonga (di Australasia); Rusia, negara-negara Uni-Eropa dan Greenland (di Eropa); USA, Canada, Mexico, Cuba, Brasil, Chili, Paraguay dan Antarctica (di Amerika).

Referensi tentang DST ini dimulai sejak Benjamin Franklin pertama kali melemparkan idenya dengan gaya humor lewat essainya yang berjudul “Turkey vs. Eagle. Cauley is my Beagle” di tahun 1784. Namun lebih satu abad kemudian baru disarankan kembali oleh seorang berkebangsaan Inggris, William Willett, di tahun 1907. Dari hasil pengamatannya, ia menulis sebuah pamflet yang berjudul “The Waste of Daylight”. Tahun 1916, sebuah Undang-undang Parlemen di Inggris mengangkat ide Willet ke dalam pengantar “British Summer Time”. Negara Inggris menegaskan bahwa bangsanya dapat menghemat energi dan merubah jamnya selama Perang Dunia I.

Tahun 1918 pada Perang Dunia II, Kongres Amerika mengetengahkan tentang DST, ternyata tidak populer. Ketika Amerika terlibat perang lagi di tahun 1942, kembali Kongres memberlakukan DST guna menghemat energi dengan memperpanjang waktu siangnya (mengurangi waktu gelapnya), hingga tahun 1945. Tahun 1945 hingga 1966, tidak ada peraturan di Amerika tentang DST, sehingga setiap negara bagian dan daerah bebas untuk menerapkan DST atau tidak, dengan tata cara masing-masing kapan mulai dan kapan berakhir.

Bisa dibayangkan apa yang kemudian terjadi. Terjadilah “kebingungan nasional”, terutama mereka yang bergerak di bidang industri siaran dan transportasi. Bukan saja karena pimpinan nasional mereka yang tidak mau repot-repot mengatur tentang waktu di pelosok wilayahnya, tetapi lebih-lebih masyarakatnya yang jadi sangat repot akibat setiap tempat menerapkan aturan yang berbeda-beda. Stasiun radio dan TV setiap saat mesti mengumumkan saat awal dan akhir DST dari setiap kota dan wilayah. Penumpang dan sopir bis antar kota antar negara bagian dalam sepanjang jalur perjalanannya harus sekian kali mengubah-ubah jam tangannya tergantung tempat dan aturan waktu yang berlaku. Para petani pun dibuat repot sehubungan dengan adanya penambahan waktu siang hari. Hingga akhirnya Kongres memutuskan untuk mengakhiri masa “kebingungan nasional” mereka, setelah terlanjur berjalan lebih 20 tahun. Presiden Lyndon Johnson menandatangani “The Uniform Time Act” pada tanggal 13 April 1966.

***

Di balik semua itu, keuntungan apa sebenarnya yang bisa diperoleh dengan perpanjangan waktu siang hari. Departemen Transportasi Amerika (yang mengurusi tata cara DST) melakukan studi dan menyimpulkan bahwa DST ternyata membawa keuntungan, antara lain : Pertama, menghemat energi. Dalam periode 1974-1975 (setelah perang Arab – Israel dan embargo minyak Arab tahun 1973), DST mampu menghemat kebutuhan minyak hingga 600.000 barrel per tahun. Kedua, menyelamatkan jiwa dan mencegah cedera akibat kecelakaan lalulintas. Akibat DST memungkinkan para pekerja dan pelajar pulang ke rumah di hari yang masih terang (jam belajar di Amerika hampir sama dengan jam kerja, berbeda dengan di Indonesia). Perjalanan di hari yang masih terang dipandang lebih aman dibanding jika hari sudah gelap. Ketiga, mencegah tindak kejahatan. Juga karena siang hari lebih panjang maka mengurangi kemungkinan orang terkena tindak kejahatan yang umumnya terjadi saat hari gelap.

Datangnya DST oleh Bagian Keselamatan dimanfaatkan untuk menganjurkan agar pada saat menggeser jarum jam sekaligus mengganti batu baterei “smoke detector” yang ada di rumah atau bangunan. Nyatanya di Amerika ini 90% perumahan dilengkapi dengan alat pendeteksi asap kebakaran, tetapi diperkirakan sepertiganya tidak berfungsi karena lalai mengganti batereinya.

Yang menarik, kalau sekarang Anda tanya kepada orang Amerika kenapa ada DST ? Umumnya mereka akan kesulitan menjawab, paling-paling akan terdengar jawaban : “karena Perang Dunia”, atau “agar orang-orang punya waktu lebih banyak berkegiatan di luar akibat waktu siang lebih panjang”, atau “untuk membantu petani”. Padahal, umumnya petani justru menolak DST. Petani biasanya bangun tidur mengikuti irama matahari, tidak perduli jam berapa. Dengan adanya DST, para petani jadi repot harus menyesuaikan jadwal hidupnya untuk menjual hasil pertaniannya kepada orang-orang yang mengikuti DST. Agaknya inilah yang terjadi di sebagian negara bagian Indiana yang para petaninya enggan untuk ikut-ikutan dengan aturan DST.

New Orleans, 2 April 2000
Yusuf Iskandar

(Disarikan dari berbagai sumber).-

Iklan