Posts Tagged ‘doa’

Doa Dan Keyakinan

24 Juli 2010

Doa sepertinya tak pernah usai dipanjatkan
dzikir tak jeda diwiridkan
ayat-ayat pun tak henti diagungkan
sampailah pada satu keyakinan
bahwa, tiada yang mudah kecuali yang Engkau mudahkan… (laa sahla illa maa ja’altahu sahlan).

Tapi hati harus tetap tulus
pikiran harus tetap segar
agar tidak kehilangan nalar
agar tetap berada di lajur yang benar

(Ke Taman Budaya Jogja malam tadi menjadi selingan, menikmati alunan musik gamelan…)

Yogyakarta, 19 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Saat Doa Diijabah

10 Juli 2010

Siang di Madurejo, Sleman, Jogja… Sambil ML di belakang toko (melamun & leyeh-leyeh), memandang hamparan padi yang menguning, berlatar perbukitan di kejauhan. Tapi siang ini langit gelap, mendung menghampar rata di angkasa, hujan turun deras sekali, angin berhembus kencang menderu, geluduk sayup-sayup bersahutan, padi yang siap panen pun tak mampu menahan tegak batangnya. Kata temanku, itulah orkestra alam yang menyertai saat diijabahnya doa….

Madurejo – Sleman, 8 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Cara Keluar Yang Berbeda

14 Juni 2010

Doa yang selalu kumohonkan nyaris setiap hari: “Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar…” (QS.17:80).

Dan jika kemudian yang terjadi ternyata tidak seperti yang kudoakan, maka itu pasti karena Tuhan telah menyiapkan cara keluar yang berbeda, dan (itu) pasti lebih baik…

Yogyakarta, 11 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Indahnya Sedekah Doa

11 Maret 2010

Sedih rasanya mendengar kabar dua teman SMA (berarti umurnya +/- sebaya saya) terkulai menderita stroke. Padahal belum sebulan seorang teman SMA lainnya berpulang juga karena sakit yang masih ada hubungannya dengan stroke…

Puji Tuhan wal-hamdulillah… Bukan karena sakit itu, melainkan saya masih punya kesadaran untuk menambah daftar doa tulus kepada Tuhan. Begitu saya berharap orang lain melakukan hal yang sama bagi sesama… “Indahnya sedekah doa”, ketika tangan tak mampu meraih…

Yogyakarta, 9 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Bandung, I’m Coming…

10 Februari 2010

“Robbi anjilni munjalan mubarrokan wa anta khoiru munjilin…”. Pagi ini aku seperti merasa asing tiba di kota ini. Padahal 20 tahun yll. jalan-jalan kota ini sangat kuhafal hingga celah-celahnya. Bandung, I’m coming…

(Kata yang ngajari saya, itu doa ketika tiba di suatu tempat. Artinya: ‘Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau sebaik-baik pemberi tempat’. Mungkin maksudnya agar tidak ditempatkan di tempatnya setan, kecuali kalau memang inginnya begitu…)

(Kedatangan saya ke Bandung kali ini sebenarnya dalam rangka menghadiri agenda Kolokium Hasil Kegiatan Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral, 3-4 Pebruari 2010)

Bandung, 3 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Sepenggal Doa Di Bawah Truk

22 Juni 2009

IMG_2777_r

Dalam perjalanan dari kota Jambi menuju Muara Bulian, di depan kijang yang saya tumpangi terdapat sebuah truk yang melaju ke arah yang sama. Ternyata di bagian bawah belakang truk itu terdapat tulisan yang merupakan sepenggal doa, yang bunyinya sbb.:

“Ya… Allah.Ampunilah dosa-dosaku.
Selama ini aku mengambil kesenangan
di atas penderitaan orang lain”

Entah siapa yang pantas memanjatkan doa ini…

Jambi, 19 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Sepenggal Doa Di Hari Fitri

27 September 2008

Catatan Pengantar :

Dua buah tulisan di bawah ini adalah tulisan lama saya yang saya tulis dua tahun yll. Karena saya pikir isinya masih pas, dan (yang lebih penting) saya ingin merenungkannya kembali. Maka semoga ada setitik hikmah yang bisa dipetik. Disertai ucapan tulus :

“Selamat Idul Fitri 1429H – Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Wassalam.

Yogyakarta, 27 Setember 2008 (27 Ramadhan 1429H)
Yusuf Iskandar

——-

Sekian lama sekian tahun, saya sempat midar-mider numpang lewat, hingga akhirnya suatu kali berkesempatan singgah dan menjelajah negeri jiran yang bernama Singapura. Saya pernah nyinyir nggrundel sendiri, Singapura itu sebuah pulau yang jelas-jelas tidak punya apa-apa tapi sepertinya apa-apa punya. Pengurus pulau sak uplik itu telah berhasil mengamalkan sebuah titah agar mendayagunakan ilmu pengetahuan semaksimal-maksimalnya demi kesejahteraan umat manusia penghuninya. Dari sudut pandang (sempit) ini, saya merasa bahwa pengelola pulau itu ternyata kok ya lebih islami daripada saya (sebut saja “saya”) yang seprana-seprene cuma piya-piye saja…..

Kita ini (maksudnya, saya bersama segenap tetangga saya dan Sampeyan semua), baru kecopetan dompet plus kartu-kartu utang saja sudah lenger-lenger. Baru terkena cobaan hidup kecil saja sepertinya merasa dunia sudah tidak berpihak kepada kita. Apalagi ketimpa musibah besar, kontan nelangsa seperti dunia tiba-tiba kiamat, merasa paling kasihan sedunia, paling tidak berdaya, paling miskin dan tidak punya apa-apa lagi.

Padahal yang terakhir itu amat dekat dengan kekufuran (begitu agama saya mengajarkan). Sedangkan kalau sudah telanjur kufur (lawan dari syukur), maka itu adalah tanda-tanda awal dari cilakak duabelas dunia wal-akhirat.

Ketika sedang jatuh lalu tertimpa tangga, padahal sedang sakit gigi dan ingat cicilan rumah sudah ditogah-tagih saja sama bank, pas mau bangkit ndilalah tangannya mencekal telek lencung……. Uh! Dunia seperti gelap bin gulita….., tidak punya apa-apa lagi, tidak berdaya-upaya, boro-boro sisa tabungan buat modal. Mau bayar zakat pitrah saja berat rasanya, kepala berbintang-bintang. Padahal tahun lalu masih bisa menyisihkan sedikit zakat maal (bukan mall), meskipun hitungannya diminim-minimkan agar tidak kebanyakan.

Mak deg…! Mungkin benar, tampaknya tidak punya apa-apa lagi. Padahal mestinya kita masih punya hati dan ilmu. Sebuah kekayaan, sebuah “apa-apa” yang menurut Sang Maha Pemberi Apa-apa adalah bekal untuk bangkit, berpikir dan bekerja, terus dan terus tiada henti.

Mak deg…! Kenapa tidak mencoba untuk berperilaku islami seperti pengelola pulau Singapura dalam mendayagunakan ilmunya. Merubah dari yang tidak punya apa-apa menjadi apa-apa punya. Paling tidak, ruh dan semangat untuk apa-apa punya tetap tumbuh, sehingga yakin bahwa dunia tetap berpihak kepada kita. Hanya ilmunya yang perlu dipelajari dan dipikiri, dan itu adalah titah Sang Khalik. Tidak diperlukan sertifikat S1, S2 atau S3 untuk bisa mempelajari dan memikiri hal semacam itu.

***

Sebulan ini kita sudah menceburkan diri ke dalam kawah candradimuka (karena candra Ramadhan ada sebelum candra Syawal, kalau Ramadhan sesudah Syawal namanya candradibelakang). Ada yang sebulan penuh dan ada yang sebulan kurang sehari tapi tetap saja dibilang sebulan penuh, kita menempuh beraneka ria mata ujian ulangan setiap tahun, siang dan malam, pendeknya duapuluh empat jam non-stop, berlapar-lapar, berhaus-dahaga, berngantuk-ngantuk, ngempet semburan nafsu liar, mengkaji ayat-ayat kauliyah dan kauniyah, dan ber-mu’amalah dalam kesalehan. Dalam lapar dan “pura-pura” miskin, dalam kebodohan dan “pura-pura” tidak punya apa-apa dan tidak berdaya apa-apa. Itupun kita bisa (bagi yang berniat untuk bisa, sebab ada yang memang tidak berniat untuk bisa). Padahal sendiri saja, tidak bersama, karena ini memang urusan pribadi antara kita dan Sang Pencipta.

Maka faktanya adalah, ketika kita sedang “apa-apa punya”, ternyata kita sanggup untuk “tidak punya apa-apa”. Jadi betapa kita ini sebenarnya bisa menjadi lebih singapura ketimbang Singapura. Wong kita punya hati dan ilmu. Sementara hati dan ilmunya persis sama plek.

***

Duh, Gusti Allah….., tolong Panjenengan berkati para pemimpin dan pengurus tanah kami. Bantu kami menyingkap hijab (tabir) yang menghalangi pandangan kami, agar kami semua ngeh, bahwa tanah kami ini sesungguhnya apa-apa punya. Terangi hati dan pikiran kami, agar kami mampu membedakan mana minyak dan mana emas, mana lumpur panas dan mana telek lencung hangat, mana asap dan mana parsel, mana menolong dan mana menyolong, mana sapaan mesraMu dan mana teguran kerasMu….. 

Duh, Gusti Allah….., di hari yang fitri ini (maap Gusti, bukannya saya mau ikut-ikutan kalau hari fitri saya adalah Senin 23 Oktober 2006, tapi itu juga menurut ilmu yang Panjenengan ajarkan…..). Semoga Engkau mengelompokkan kami ke dalam gerombolannya orang-orang yang mudik rame-rame menuju ke ranah kesucian dan kemenangan.

Agar kami tidak menjadi buta, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah buta, yang dibutakan oleh silau-gemerlapnya dunia.

Agar kami tidak menjadi bodoh, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah bodoh, yang dibodohkan oleh kesombongan seakan-akan kami tidak butuh siapa-siapa.

Agar kami tidak lemah, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah lemah, yang dilemahkan oleh ketidak-mau-tahuan kami bahwa sesungguhnya negeri kami ini negeri yang apa-apa punya.

Duh, Gusti Allah….., kabulkanlah doa kami. Engkau kabulkan sedikiiiiit saja dulu, kami sudah bersyukur kok, sisanya tolong disusulkan…… Amin.

PS :
Selamat Idul Fitri 1427H
Mohon Maaf Lahir & Batin

Yogyakarta – 23 Oktober 2006 (1 Syawal 1427H)
Yusuf Iskandar