Posts Tagged ‘dialek’

“Sa Pi Basket”

21 Juni 2010

Rembang petang anak lanang ‘mblandang masuk kandang’, baru pulang….
Bertanyalah ibunya: “Leee…, ko pi mana?”.
“Sa pi basket”, jawabnya.

Sirkus kah? Ada sapi main basket….

(Note – dialek Indonesia Timur: ko=kamu, pi=pergi, sa=saya).

Yogyakarta, 18 Juni 2010
Yusuf Iskandar

“Bune Haba Mbojo”

12 Februari 2009

Kemarin saya beli HP baru cap Smart, tipe Haier D1200P. Harga banderolnya 333 ribu rupiah, tapi saya dapat diskon. Harga itu sudah termasuk pulsa 10 ribu, enam bulan internetan ditambah bonus 2000 SMS tiap bulan. Lumayan sebagai alternatif IM2 yang saya pakai selama ini. Lumayan juga kecepatannya. Cukup stabil (stabil pelan, maksud saya). Kira-kira stabil seperti orang nggenjot sepeda di pematang sawah, gitulah…..

Baru hari ini piranti yang sengaja saya beli untuk menunjang kegiatan online itu dapat bekerja lancar, meski kemarin sempat rada uring-uringan karena beberapa kali dicoba kok enggak konek-konek. Pas tadi sore berhasil konek, tiba-tiba muncul YM (Yahoo Messenger) dari seseorang yang kalau melihat namanya, saya belum familiar. Sebut saja namanya Sri (bukan nama sebenarnya, selanjutnya nama aslinya saya ganti dengan Sri).

Bunyi pesan YM-nya begini : “aba iskandar lagi ngapain? bune haba mbojo”.

Agak lama saya pelototin pesan itu. Kalimat sapaannya kok susah saya pahami. Jelas bukan bahasa Jawa. Dialek preman Jogja, rasanya juga bukan. Plesetan gaya Jogja, apalagi…. Sambil mikir-mikir, ini Sri siapa ya?  Berharap kalau tahu orangnya, maka saya akan bisa menebak apa maksudnya. Tapi kok ya tidak nyambung juga.

Kemudian saya membalasnya sambil iseng saja: “lagi mbalas YM. maaf ini Sri mana?”

Selama ini saya sering menambah teman YM begitu saja. Maksudnya, setiap kali ada permintaan pertemanan, tanpa pikir panjang langsung saya iyakan dan klik “Finish”. Saya berasumsi baik saja, bahwa kalau ada yang minta ditambahkan namanya ke daftar kontak YM, berarti orang tersebut tahu saya. Entah kenal langsung atau lewat tulisan.

Sri lalu membalas pertanyaan saya: “nae………..adek sendiri lupa.skrg sri lagi di padang….msh dibima. kapan nikah???”.

Waduh, tambah bingung aku….. Lha, anak saya sudah dua gede-gede je….. Saat itu juga saya langsung menduga bahwa Sri ini pasti salah menyasar orang. Yang membuat saya tertarik bukan Sri-nya, melainkan Sri ini orang mana sih kok bahasa yang digunakannya kedengaran asing di telinga saya. Tapi toh saya penasaran juga, jangan-jangan saya yang lupa sama Sri ini. Untuk memancingnya saya asal balas saja: “sebentar… saya ingat-ingat….. ini Sri Bandung?”.

Jawaban Sri malah membuat saya tersenyum sendiri, karena semakin meyakinkan dugaan saya bahwa jelas Sri ini sedang berkomunikasi dengan orang yang salah. Masih dengan logat bahasanya, Sri menjawab : “ini sri anak om jahar itu, blkg rumahnya eti anaknya ibu madu………… ih bonae…………..”.

Agar dialog tidak semakin kebablasan, sementara saya bukanlah orang yang dimaksud oleh Sri, maka baiknya segera saya akhiri saja. Dan saya jawab: “Oooo, kalau gitu saya yakin Sri pasti salah orang. Coba Sri pastikan lagi, kelihatannya bukan saya (Yusuf Iskandar) yang Sri maksudkan…….”.

Tanpa sedikitpun menunjukkan rasa bersalah setelah menyadari kekeliruannya, Sri lalu mengakhiri pembicaraan dengan enteng saja: “ya udah dech kalo gitu……………………….” (titik-titik di belakangnya poanjang banget).  Saya pun membalas: “OK”.

Tapi beberapa menit kemudian gantian Sri yang rupanya penasaran, lalu begini katanya: “yusuf mana sih kamu? org mana?”. Dan tidak lama kemudian muncul tulisan : Sri has signed out.

***

Ngabuburit menjelang maghrib di Yogya pun usai. Tinggal menyisakan rasa penasaran saya, yaitu tentang bahasa apa atau dialek mana sih yang digunakan oleh Sri? Sepertinya saya kurang familiar dan nyaris belum pernah saya dengar. Terpaksa saya cari tahu juga lewat internet.

Legalah saya akhirnya, setelah tahu bahwa rupanya mbak Sri ini orang Bima (Sumbawa, Nusa Tenggara Barat), dan bahasa yang digunakannya adalah bahasa Bima. Kalimat sapaan “bune haba mbojo”, dalam bahasa Bima berarti : “Apa kabar Bima” (mudah-mudahan tebakan saya benar, wong namanya juga mencoba mengotak-atik bahasa orang lain). Mbojo adalah nama lain untuk Bima. Tiwas (telanjur) saya berprasangka buruk, karena mbojo dalam dialek Jawa bisa berkonotasi negatif.

Terima kasih, Sri. Kini saya jadi kenal dan suka mbojo, eh nggahi mbojo (bahasa Bima, maksudnya), sebagai salah satu kekayaan negeri tercinta. Kapan-kapan ke sana, ah….

Yogyakarta, 11 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar