Posts Tagged ‘denver’

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (27)

2 November 2008

Golden, 3 Desember 2000 – 20:30 MST (4 Desember 2000 – 10:30 WIB)

Sekitar jam 05:15 tadi sore saya tiba di kota Golden, Colorado, setelah menempuh perjalanan udara lebih 3,5 jam tidak termasuk transit di Houston, Texas, dan naik shuttle bus dari Denver ke Golden. Seperti biasa, begitu masuk kamar langsung nggeblak (merebahkan diri) di tempat tidur. Bukan capek, melainkan lapar. Untungnya waktu puasa di Golden ini lebih “menguntungkan” lagi dibanding di New Orleans, karena jam 4:30 sore tadi sudah masuk buka puasa.

Langsung buka saluran CNN, ingin tahu apa yang terjadi di akhir pekan ini dengan proses peradilan pemilu. Hingga malam ini, CNN maupun saluran-saluran lain seperti Fox News Channel dan MSNBC ternyata masih menyiarkan siaran langsung dari persidangan di Florida. Melalui persidangan maraton bahkan di akhir pekan, kedua belah pihak Bush dan Gore, saling menyampaikan argumen akhir berkaitan dengan penghitungan ulang kartu suara di Florida.

***

Rangkaian agenda pemilihan presiden Amerika bagi saya sudah kurang menarik lagi, sudah kehilangan greget dan kadar emosionalnya. Ibarat pementasan drama, maka ini adalah antiklimaks. Tinggal menunggu bagaimana keputusan akhirnya saja setelah melewati periode bunga-bunga pentas drama pemilu yang berlarut-larut. Di atas kertas, sudah disahkan oleh pemerintah Florida bahwa Bush adalah pemenangnya dan berhak mengantongi 25 jatah suara (elektoral vote) Florida. Oleh karena itu secara nasional maka Bush telah mengumpulkan jumlah jatah suara melebihi angka 270 untuk memenangi pacuan pemilihan presiden Amerika.

Akibat proses yang berlarut-larut melalui persidangan demi persidangan, maka kalaupun akhirnya nanti Gore dinyatakan menang atas Bush, paling-paling akan membuat kubunya Bush kecewa. Sebaliknya kalau ternyata Bush tetap yang menang, ya sudah memang begitulah kejadiannya.

Meskipun sudah kurang menarik untuk dinikmati, saya masih akan mencoba untuk meng-update apa yang akan terjadi dengan pemilihan presiden Amerika ini dalam beberapa hari ke depan.

(Tapi, wadhuh……., ada masalah dengan dial-up connection laptop saya. Ya…, terpaksa tidak dapat di-posting tepat waktu. Mohon maaf).-

Yusuf Iskandar

Sehari Di Selatannya Denver

5 Februari 2008

Pengantar :

Sekedar memanfaatkan waktu luang sehari seusai mengikuti kursus “Mine Evaluation” di Golden, saya melakukan perjalanan singkat ke kawasan di sebelah selatannya kota Denver, Colorado, sebelum kembali ke New Orleans. Hari itu, tanggal 9 Desember 2000 yang bertepatan dengan bulan puasa Ramadhan 1421 H dan pertengahan musim dingin. Sekedar berbagi cerita.-

(1).   Menuju Ke Jembatan Gantung Royal Gorge
(2).   Turun Ke Dasar Ngarai
(3).   Purnama Di Taman Dewata 

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(11).   Ketemu Penggemar Nagasasra Di Golden

Sore hari setelah sejenak melepas lelah sehabis berski, tiba-tiba saya ingat rencana saya untuk menilpun seorang teman di Golden, sebuah kota kecil di sisi barat Denver. Ya, disana ada Mas Bob Adibrata dan Mas Ricky Wibowo (keduanya alumni Geologi) yang sedang menyelesaikan program S3 di Colorado School of Mines. Tanpa pikir panjang, langsung saya hubungi Mas Bob dan lalu janjian bahwa malam itu saya bersama keluarga akan berkunjung ke rumahnya di kompleks perumahan kampus.

Jarak dari Breckenridge menuju Golden 65 mil (sekitar 104 km) saya tempuh sekitar satu setengah jam. Tidak terlalu jauh untuk sebuah perjalanan silaturrahmi di malam hari. Akhirnya, saya pun ketemu dengan Mas Bob yang penggemar berat serial “Naga Sasra dan Sabuk Inten” karya SH Mintardja ini. Rupanya bukan hanya Mas Bob, juga istrinya, Mbak Dinuk (alumnus Geologi juga) ketularan suka uring-uringan kalau mas Bob-nya terlambat nge-print serial monumental-nya SH Mintardja itu. Bagi saya malam itu adalah untuk kedua kalinya mengunjungi “keluarga Naga Sasra” di Golden, kunjungan pertama saya adalah pada bulan Agustus tahun lalu.

Malam itu juga kami sempat ketemu Mas Ricky Wibowo yang tinggal di kompleks perumahan kampus yang sama. Agak larut malam kami baru kembali ke Breckenridge, setelah membuat rencana untuk rekreasi bersama esok harinya.

***

Jum’at, 28 April 2000, menjelang jam 11:00 siang kami baru berangkat lagi menuju Golden. Bangun tidur pagi itu badan terasa sakit semua, masih mlanjer (Embuh… apa bahasa Indonesianya yang pas, kira-kira berarti terasa kaku dan pegal, akibat kemarin energi terkuras untuk belajar bermain ski). Jam 12:00 siang lebih sedikit kami tiba di Golden. Saya sempat sholat Jum’at di sebuah masjid kecil (yang sebenarnya dari luar tidak tampak sebagai bangunan masjid), saat waktu Dhuhur sudah tiba.

Keluarga Mas Bob siang itu menjadi guide bagi kami. Ada tiga obyek kunjungan di sekitar kota Golden yang menjadi tujuan kami siang itu. Pertama, menuju Buffalo Bill Memorial Museum and Grave. Bukan kuburan dan museum yang menarik untuk mendatangi tempat ini (meskipun di baliknya ada kisah perjuangan yang menarik dari William F. Cody, sang Buffalo Bill), melainkan karena tempat ini berada di puncak taman Lookout Mountain. Dari taman di puncak bukit ini bisa melihat jelas kota Golden yang membentang tepat di bawahnya, juga di kejauhan tampak kota metropolitan Denver.

Kedua, menuju ke Dinosaur Ridge. Di dinding bukit di tepian jalan dijumpai temuan geologi yang dikenal sebagai bekas jejak dan tulang dinosaurus, berbagai fosil tanaman dan binatang, formasi-formasi batuan dari jaman Jurassic dan Cretasius. Tentu telah melalui proses yang sangat panjang hingga akhirnya ditemukan di dinding batuan di tempat yang berelevasi lebih 1.757 m di atas permukaan laut. Mas Bob sangat fasih untuk menjelaskan peristiwa alam ini (nanti ketika saya tiba di dekat kota Jensen, Utah, saya menjumpai tulang-tulang dinosaurus dari hasil temuan paleontologi).

Ketiga, menuju ke Red Rocks Park. Ini adalah tempat dijumpainya formasi batupasir yang membentuk bukit-bukit, yang terjadi lebih satu juta tahun yang lalu. Warnanya yang kemerah-merahan berasal dari variasi kandungan besi oksida. Di salah satu bentuk dari gunungan batupasir itu kini telah dibangun menjadi sebuah amphitheater alam, yaitu sebuah panggung pertunjukan yang dikelilingi dinding batuan ala Yunani kuno, yang mampu menampung 10.000 penonton. Tempat ini sering digunakan untuk pementasan konser-konser musik.

Baik Red Rock Park maupun Dinosaur Ridge sebenarnya berlokasi di daerah Morrison, di luar Golden. Morrison adalah sebuah kota kecil yang hanya berpenghuni 500 orang. Tipikal kota-kota kecil di Amerika yang umumnya tidak padat penduduk dan itupun saling menyebar di lokasi perumahan yang saling terpisah.

***

Siang hingga sore itu keluarga Mas Bob telah menjalankan dengan sangat baik tugasnya sebagai guide bagi kami sekeluarga. Tentu kami sangat berterima kasih, dan beruntung bisa ketemu “keluarga Naga Sasra” di Golden, yang kemudian mengantarkan kami melihat berbagai tempat menarik di Golden dan sekitarnya.

Kota Golden sendiri sebenarnya hanya sebuah kota kecil berpenduduk sekitar 13.000 jiwa dan terletak sekitar 1.735 m di atas permukaan laut. Menjadi terkenal karena di sana ada sekolah tambang bergengsi Colorado School of Mines. Kota ini dulu memang merupakan kota tambang. Di pertengahan abad 19, sempat menjadi ibukota wilayah teritorial Colorado, dan bersaing dengan kota Denver untuk menjadi kota terpenting di wilayah itu.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(12).   Sepanjang Jalan 16 Denver

Sabtu, 29 April 2000, sekitar jam 10:00 pagi kami meninggalkan Breckenridge menuju Denver, dan saya rencanakan sore itu akan mencapai kota Rock Springs di sisi barat daya negara bagian Wyoming. Jarak yang akan saya tempuh hari itu 456 mil (sekitar 730 km), saya berharap sebelum malam sudah tiba di Rock Springs.

Tiba di Denver, sebuah kota metropolitan yang berpenduduk kurang dari 500.000 jiwa, saya menyempatkan untuk singgah sebentar di sebuah jalan yang terkenal dengan nama 16th Street Mall. Ini adalah sebuah jalan di pusat kota Denver yang kini dirancang hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki (pedestrian) dan tertutup bagi lalu lintas umum. Di sepanjang Jalan 16 ini memang bisa dijumpai pertokoan dan mal yang menawarkan bermacam-macam barang dan kebutuhan, termasuk restoran, butik dan galeri seni.

Guna memanjakan para pengunjung pejalan kaki yang datang ke Jalan 16 ini, Pemda Denver menyediakan sarana shuttle bus bagi mereka yang ingin wira-wiri (mondar-mandir) dari ujung jalan satu ke ujung jalan lainnya, setiap saat dengan tanpa dipungut bayaran. Saya tidak tahu dari jam berapa hingga jam berapa bis ini beroperasi, yang jelas pernah suatu ketika jam 11 malam saya melihat bis tersebut masih jalan, dan masih ada saja penumpang yang wira-wiri.

Di bagian tengah jalan ini tersedia tempat duduk bagi mereka yang ingin sekedar istirahat atau bersantai. Saya melihat ada banyak muda-mudi dan juga kakek-nenek yang sedang duduk-duduk di sana. Agaknya memang menjadi tempat yang pas untuk mereka atau siapa saja menghabiskan waktu, atau barangkali kecapekan setelah keluar-masuk pertokoan sepanjang 1,5 km itu.

Beberapa restoran atau café membuka fasilitas tempat duduknya di luar bangunan utamanya, atau di emperan. Layaknya pedagang kaki lima, tetapi tetap terkesan tertib, santun dan enak dipandang serta tidak mengganggu pejalan kaki lainnya.

Yang membuat siapapun merasa tenang dan aman berada di tempat ini adalah karena selalu ada Pak Polisi yang berpatroli di sepanjang jalan, baik dengan mobil maupun sepeda seperti di film “Pacific Blue” (cuma saya lihat kok enggak ada polisi cantiknya?).-

***

Ini adalah kali ketiga bagi saya menyusuri sepanjang Jalan 16 Denver. Sebelumnya pada bulan Mei dan Agustus 1999 yang lalu saya sempat ke jalan ini. Saat itu malam hari, dan udara sedang sangat-sangat dingin.

Mengajak keluarga menyusuri jalan ini memang rasanya tidak ada tujuan lain, selain sekedar ingin jalan-jalan dan melihat-lihat atau membeli cenderamata. Dan itulah yang saya lakukan siang itu, sebelum melanjutkan perjalanan sejam kemudian.

Kembali saya teringat Jalan Malioboro Yogya, saya berkhayal seandainya Pemda Yogyakarta sempat melihat Jalan 16 ini, rasanya akan ada yang bisa ditiru, paling tidak dipelajari tentang konsep management tata kotanya. Eh, siapa tahu ada yang bisa diterapkan untuk menata Jalan Malioboro agar lebih bernilai ekonomis dalam sektor pariwisata, dan mewujudkan bagi siapa-saja yang datang ke sana merasa “berhati nyaman” (sebagaimana semboyan kotanya) berada di Jalan Malioboro.

Tidak seperti sekarang, malah terkadang merasa kemrungsung (berasa tidak karuan dan tidak nyaman). Tentunya tidak perlu meniru sama persis, wong kendala sosial-budaya, struktur ekonomi dan infrastrukturnya jelas berbeda.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sehari Di Selatannya Denver

2 Februari 2008

(1).   Menuju Ke Jembatan Gantung Royal Gorge

Hari Sabtu, 9 Desember 2000, setelah tidur-tidur ayam sehabis makan sahur dan subuhan, sekitar jam 08:00 pagi saya baru menyat (bangkit) dari kasur empuknya sebuah hotel di kota Golden, Colorado. Kebetulan hari itu adalah hari ke-13 bulan Ramadhan 1421 H.

Kebiasaan seperti itu saya lakukan sejak enam hari sebelumnya. Cuma biasanya sebelum jam 08:00 saya sudah berangkat meninggalkann hotel menuju ke tempat kursus di kampus Colorado School of Mines (CSM) yang berjarak hanya 250 m dari hotel, atau kurang dari 10 menit jalan kaki. Saat itu adalah pertengahan musim dingin yang hawa udara paginya seringkali menyebabkan sulit menahan keinginan untuk menarik selimut lebih tinggi.

Kursus “Mine Evaluation” bersama Pak Frank dan John Stermole sudah selesai hari Jum’at kemarinnya, dan hari Sabtu adalah hari bebas saya sebelum hari Minggu besoknya kembali ke New Orleans yang berjarak sekitar empat jam penerbangan. Dalam mengisi hari bebas itu saya merencanakan untuk berjalan-jalan ke tempat-tempat di seputaran kota Denver dan Golden yang belum pernah saya kunjungi. Untuk itu saya telah merencanakan untuk memanfaatkan fasilitas perusahaan dengan memperpanjang sehari menginap di hotel dan menyewa mobil, atas biaya perusahaan.

KKN? Tidak juga. Melainkan sekedar mengambil keuntungan dari win-win situation. Lho, kok bisa?

Sejak sekitar tiga minggu sebelum saya berangkat dari New Orleans, saya sudah mengatur pemesanan pesawat dan hotel melalui agen perjalanan yang ada di kantor. Karena kursus dimulai hari Senin dan selesai Jum’at, maka jadwal yang saya buat, biar tidak membuang waktu, adalah berangkat hari Minggu dan kembali hari Sabtu. Rupanya oleh pihak agen perjalanan, saya dihadapkan dengan pilihan itinerary (rencana perjalanan) yang benar-benar tidak mudah untuk saya pahami, tetapi tidak dapat saya hindari.

Pilihannya adalah : kalau saya berangkat menuju Denver hari Minggu dan kembali ke New Orleans hari Sabtu, maka harga tiket pesawat pulang pergi sekitar US$1,600. Tetapi kalau saya mau berangkat hari Minggu dan kembalinya diperpanjang sehari menjadi hari Minggu depannya, maka harga tiket pesawat pulang-pergi hanya sekitar US$560. Ada perbedaan harga sekitar US$1,040, padahal dengan pesawat yang sama. Dihadapkan dengan pilihan rencana perjalanan yang membuat saya tidak mudeng (paham) ini, saya tidak dapat langsung memutuskan.

Saya inginnya pulang hari Sabtu agar tidak kehilangan kesempatan untuk berpuasa di rumah bersama keluarga dalam dua kali hari Minggu. Pilihan ini sebenarnya bisa saja saya ambil tanpa pusing-pusing soal ongkos pesawat. Namun akhirnya dengan iktikad agar perjalanan dinas saya ini tidak terlalu membebani pengeluaran perusahaan, saya memilih mengorbankan dua kali kesempatan berhari Minggu bersama keluarga.

Akan tetapi, agar hari Sabtunya saya tidak bengong atau krukupan (berkerudung) selimut di kamar hotel saja, dan agar hari bebas saya ini lebih “produktif”, saya akan mengisinya dengan jalan-jalan ke luar kota. Untuk itu saya perlu menyewa kendaraan sehari dan menginap semalam lagi di hotel plus biaya makan dengan total tambahan biaya sekitar US$200. Tambahan makan sebenarnya tidak seberapa, wong saya juga puasa. Kalau dihitung-hitung, pilihan saya ini masih tetap akan menguntungkan perusahaan sekitar US$840. Malah “untungnya” perusahaan masih lebih banyak. Tapi ya, saya anggap saja ini keputusan yang saling menguntungkan.

***

Menjelang jam 09:00 pagi saya tilpun ke perusahaan penyewaan kendaraan. Menyadari bahwa pemesanan saya mendadak, saya sudah membayangkan akan tidak mudah memperoleh kendaraan sewaan. Pertama kali dijawab oleh petugasnya bahwa kendaraan yang saya pesan sudah habis, tinggal ada sebuah truck. Dalam hati saya tertawa sendiri, lha wong mau wisata kok disuruh nyopir truck.

Sebenarnya yang dimaksud dengan truck di sini adalah kendaraan sejenis pick up bak terbuka. Tapi saya sudah terlanjur membayangkan sebutan truck dengan truk yang biasa digunakan untuk ngangkut pasir, sapi, rombongan pengantar haji atau jama’ah NU yang mau menghadiri pengajian kampanye di kampung saya.

Lima belas menit kemudian saya tilpun lagi, dengan harapan akan diterima oleh orang berbeda sehingga ada kemungkinan untuk dilakukan pengecekan ulang. Ternyata benar juga, petugas berbeda yang kedua ini menjawab tinggal ada sebuah truck dan sebuah sedan kelas mid size. Tanpa pikir panjang saya menyetujui untuk menyewa yang jenis sedan. Sekitar sepuluh menit kemudian saya sudah dijemput oleh petugas car rental di hotel untuk mengurus ini-itu soal sewa-menyewa. Baru sekitar jam 10:00 saya berangkat meninggalkan kota Golden.

Tujuan saya adalah menuju ke arah sebelah selatannya kota Denver. Pertimbangannya, kalau ke arah utara dan barat saya akan banyak ketemu dengan kawasan bersalju, padahal seminggu ini sudah kedinginan terus. Sedangkan ke arah timur kurang ada obyek menarik. Maka saya putuskan ke arah selatan saja, meskipun masih juga berhawa dingin (lha wong musim dingin), namun daerahnya relatif lebih rendah dan bukan kawasan yang sering bersalju dibandingkan daerah utara atau barat Denver.

Atas saran mBak Dinu, istrinya rekan Mas Bob Adibrata yang tinggal di Golden, salah satu tempat yang dapat dipertimbangkan untuk dikunjungi adalah Royal Gorge Bridge yang berjarak sekitar 150 mil (240 km) dari Golden dan kira-kira dapat ditempuh dalam 3 jam perjalanan. Setelah saya lihat di peta, kelihatannya rutenya tidak sulit dan di sepanjang rute itu ada banyak obyek menarik lainnya yang dapat saya kunjungi, jika waktunya memungkinkan.

Dari Golden saya mengikuti jalan Highway 6 (Hwy 6) ke arah timur, lalu setiba di kota Denver pindah ke jalan bebas hambatan Interstate 25 (I-25) ke arah selatan menuju kota Colorado Springs. Jarak dari Denver ke Colorado Springs sekitar 110 km. Rute perjalanannya cukup enak, cuaca sangat cerah dan di sebelah-menyebelah beberapa ruas jalan masih tampak sisa hamparan salju yang turun beberapa hari sebelumnya dan menutupi kawasan perbukitan yang terbuka.

Hanya saja lalu lintas cukup padat, maka saya memilih untuk berjalan dengan kecepatan normal saja. Saya memang menghindari mencuri kecepatan, apalagi di bulan puasa, karena saya menyadari bahwa kemampuan saya untuk berkonsentrasi dalam keadaan puasa tentu berbeda dengan ketika sedang tidak puasa.

Selepas kota Colorado Springs saya pindah ke jalan Hwy 115 ke arah barat daya menuju kota kecil Penrose yang berjarak sekitar 60 km. Setiba di Penrose, pindah lagi ke jalan Hwy 50 ke arah barat menuju kota Canon City yang berjarak sekitar 18 km. Canon City adalah sebuah kota yang terletak di dataran tinggi pada elevasi 1.630 m di atas permukaan laut. Kota yang letaknya di keliling kawasan perbukitan ini jumlah penduduknya sekitar 12.700 jiwa. Cukup ramai.

Keluar dari Canon City, sekitar 13 km kemudian saya belok ke selatan masuk ke jalan State Road (SR) 3A. Akhirnya saya tiba di lokasi Royal Gorge Bridge yang berada sekitar 6 km di ujung jalan SR 3A. 

***

Royal Gorge Bridge adalah nama sebuah jembatan gantung yang cukup terkenal karena dianggap yang paling tinggi di dunia. Ukuran tingginya diukur dari bentang jembatannya ke permukaan air sungai Arkansas di bawahnya, yaitu setinggi 321 m. Sebagai pembanding, jembatan gantung Brooklyn di New York dan The Golden Gate di San Fransisco memang lebih besar dan panjang, tapi tidak setinggi Royal Gorge.

Jembatan gantung Royal Gorge sendiri membentang sepanjang 384 m dengan lebar 5,5 m menghubungkan kedua sisi ngarai atau jurang yang dindingnya hampir tegak lurus. Berkonstruksi baja dan kayu pada permukaan jembatannya yang dapat dilalui kendaraan. Adanya profil alam yang demikian, menjadikan bentang jembatan ini tampak menarik dan unik ketika dilihat dari samping agak jauh.

Secara geologis, aliran sungai Arkansas yang kini berada tepat di dasar ngarai telah memotong di puncak perbukitan Freemont yang berupa batuan granite sejak tiga juta tahun yang lalu. Proses erosi sungai Arkansas yang alirannya cukup deras ini memotong membentuk celah yang sangat dalam dan menyisakan ngarai yang curam di kedua dindingnya. Diperkirakan proses pengikisan sungai Arkansas ini berlangsung rata-rata 30 cm setiap 2.500 tahun.

“Turis” pertama yang mengunjungi tempat ini adalah suku Indian pegunungan, Utes, yang kemudian disusul dengan suku-suku Indian lainnya dari dataran rendah, antara lain Sioux, Cheyenne, Kiowas, Blackfeet dan Comanche. Rombongan missionaris Spanyol pertama kali datang ke daerah ini pada tahun 1642. Sejarah mulai mencatat ketika pada bulan Desember 1806 Letnan Zebulon Montgomery Pike mencapai sisi timur ngarai. Pada mulanya orang mengenal lokasi ini dengan sebutan Grand Canyon of Arkansas, tapi sejak tahun 1872 masyarakat kota Canon City menyebutnya dengan Royal Gorge.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sehari Di Selatannya Denver

2 Februari 2008

(3).   Purnama Di Taman Dewata

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam kembali dari Royal Gorge Bridge, saya memasuki kota Colorado Springs, mengikuti rute yang sama seperti saat berangkatnya. Setiba di kota ini saya lalu keluar dari jalan I-25 dan masuk ke jalan yang bernama Garden of the Gods Road yang menuju ke arah barat. Dalam perjalanan kembali ke Golden sore itu, saya akan mampir dulu ke sebuah obyek wisata yang bernama Garden of the Gods.

Lokasi taman ini masih berada di kawasan kota Colorado Springs di sisi sebelah barat dan karena itu mudah dijangkau. Lalulintas kota itu cukup ramai, sehingga saya mesti berjalan agak pelan, selain sambil memperhatikan rambu-rambu petunjuk jalan di saat hari mulai remang-remang. Hari memang sudah di ambang senja meskipun belum terlalu gelap. Di musim dingin waktu siangnya lebih pendek. Matahari sudah terbenam pada sebelum pukul 5:30 sore.

Menjelang jam 05:00 sore saya sudah tiba di depan taman Garden of the Gods. Saya tidak langsung masuk ke taman, melainkan mampir dulu ke ruang pusat pengunjung (visitor center). Pertama, untuk memastikan bahwa taman masih buka. Petugas di sana mengatakan bahwa taman akan tutup jam 9:00 malam. Tentu ini suatu kebetulan bagi saya yang datangnya terlambat.

Rupanya taman ini memang buka sampai malam. Di luar musim dingin, taman ini bahkan buka hingga jam 11:00 malam. Kedua, untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan taman ini termasuk peta lokasi, mengingat belum banyak yang saya ketahui tentang taman ini. Ketiga, untuk membeli sekedar bekal buat berbuka puasa karena sebentar lagi waktu maghrib tiba.

***

Garden of the Gods yang terletak di kaki sebelah timur pegunungan Rocky Mountain adalah sebuah kawasan yang profil alamnya didominasi oleh adanya formasi batuan berupa batupasir merah yang muncul ke permukaan. Secara geologis kawasan ini terbentuk pada 300 juta tahun yang lalu. Adanya proses erosi terhadap formasi batupasir ini telah menyebabkan dihasilkannya berbagai bentuk batuan seperti yang terlihat sekarang ini.

Suatu bentuk tampilan batuan berwarna kemerahan yang seakan-akan menyembul keluar dari permukaan bumi dengan bentuk ujung-ujungnya yang meruncing, di tengah kawasan perbukitan yang hijau oleh tumbuhan sejenis pinus ponderosa, juniper dan tumbuhan serta bunga-bunga liar.

Pada bulan Agustus 1859, dua orang peneliti melakukan penjelajahan ke wilayah di luar kota Denver dan sampailah mereka ke wilayah baru yang kini disebut sebagai kota Colorado Springs. Ketika mereka tiba di daerah di sekitar wilayah baru itu, mereka menemukan sebuah kawasan yang berpemandangan indah yang dipenuhi dengan tampilan formasi batupasir merah. M.S. Beach, salah seorang peneliti itu, kemudian menamai daerah ini dengan “Beer Garden” ketika kawasan baru ini mulai berkembang. Namun teman yang satunya, bernama Rufus Cable, mengatakan inilah tempat dimana para dewa berkumpul. Karena itu lalu selanjutnya disebutlah tempat itu dengan “Garden of the Gods”, atau saya sebut saja Taman Dewata.

Berbekal peta lokasi, segera saja saya masuk ke Taman Dewata. Taman yang luas seluruhnya mencapai 542 ha ini dapat dijelajahi dengan menggunakan kendaraan dan memang tersedia rute jalan beraspal yang menuju ke tempat-tempat menarik di kawasan taman. Selain jalan beraspal juga tersedia jalan setapak yang memungkinkan wisatawan pejalan kaki untuk menjelajah dengan aman menyusuri kawasan ini. Di saat hari mejelang malam, di dalam taman rupanya masih cukup banyak pengunjung. Kelihatannya memang para wisatawan yang sengaja mengambil waktu kunjungan di malam hari.

Hari mulai gelap saat saya tiba di lokasi yang bernama Kissing Camels, yaitu lokasi dimana terdapat sebentuk batuan yang (katanya) menyerupai dua ekor unta yang sedang berciuman. Waktu sudah menunjukkan jam 05:30 sore, berarti sudah masuk waktu berbuka puasa. Sambil menikmati sebotol air mineral yang baru saya beli, saya berhenti agak lama di ujung barat laut jalur lingkar wisata di dalam taman yang disebut Juniper Way Loop.

Dalam keremangan senja hari, saya tidak dapat menggunakan kamera saya secara maksimal. Saya mencoba mengabadikan pemandangan saat senja hari di Taman Dewata ini dengan menggunakan kecepatan paparan (exposure) rendah. Sebenarnya saya agak diuntungkan dengan munculnya bulan purnama di ujung timur. Namun karena saya tidak membawa kaki tiga (tripod) guna meredam goyangan kamera maka saya mencoba mengakalinya dengan meletakkan kamera saya di atas kayu tiang pagar. Akibatnya tentu sudut pengambilan gambar menjadi terbatas, dan ternyata hasilnya memang tidak maksimal.

Bulan purnama yang masih berada pada sudut rendah di atas cakrawala timur yang seakan-akan baru keluar dari persembunyiannya, dari balik tonjolan-tonjolan batuan dan di pucuk dahan pohon pinus, memang memberi kesan yang romantis. Barangkali ilusi semacam ini yang mengilhami Rufus Cable berkhayal bahwa di sinilah taman bermain para dewa dan dewi dari kayangan.

Dinginnya angin malam musim dingin yang seperti menusuk tulang membuat saya yang sudah mengenakan jaket saja rasanya seperti menggigil ketika mencoba berjalan kaki mendekat ke lokasi formasi batuan. Saya pun jadi berkhayal : apa ya para dewa dan dewi itu “dulu” juga mengenakan jaket ketika musim dingin tiba.

Ada banyak sebutan nama batuan yang masing-masing dinamai antara lain sesuai dengan kemiripan bentuknya atau tampilannya, seperti misalnya Giant Footprints, Pulpit Rock, Cathedral Rock, Tower of Babel, dsb. Di antara bentuk-bentuk batuan yang tampak khas, ada yang disebut dengan nama Balanced Rock yaitu sebongkah besar batuan yang nangkring miring di atas bidang batuan lain. Posisi kesetimbangannya dengan bidang sentuh yang relatif sempit dibanding bongkah batuannya, telah menyebabkan bongkah batuan ini seperti tak tergoyahkan.

Semakin malam, saya semakin tidak mampu bertahan terlalu lama berada di luar kendaraan karena tiupan angin dingin. Barangkali karena saya belum terbiasa, karena saya lihat ada juga beberapa orang lain yang malam-malam begitu malah berwisata jalan kaki.

Sudah lewat jam 06:00 sore ketika akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan Taman Dewata. Saya masih melihat ada beberapa kendaraan lain datang menuju ke lokasi Taman Dewata ketika saya hendak keluar dari jalan di pintu masuk utama. Saya langsung saja melaju menuju ke jalan bebas hambatan I-25 dan mengambil arah utara yang akan kembali menuju Denver. Kota Colorado Spring yang berpopulasi sekitar 281.000 jiwa dan terletak pada elevasi sekitar 1.823 m dia atas permukaan laut, segera saya tinggalkan.

Sekitar dua jam perjalanan saya tempuh dari Colorado Springs melewati sisi barat daya Denver, hingga akhirnya saya tiba di kota Golden. Usai sudah perjalanan sehari menuju ke selatannya Denver. Esoknya pagi-pagi, saat kota Golden dan Denver masih diselimuti kabut tebal musim dingin, dengan kendaraan taksi saya menuju ke Denver International Airport dan selanjutnya terbang kembali ke New Orleans.-

New Orleans, 6 Pebruari 2001.
Yusuf Iskandar