Posts Tagged ‘denpasar’

Teman Seperjalanan Yang Baik Hati

31 Juli 2008

Akhirnya datang juga…., kesempatan memperoleh tiket burung Garuda dengan harga wajar untuk perjalanan Jayapura – Timika – Denpasar – Jakarta. Padahal sebelumnya hanya bisa naik maskapai murah-meriah karena harga tiket Garuda sudah melambung ke puncak tangga. Sudah terbayang bahwa perjalanan panjang kali ini bakal lebih bisa saya nikmati dibandingkan kalau saya naik burung-burung yang lain.

Malam sebelumnya masih di Jayapura, adalah malam yang panjang dan melelahkan, sementara esok paginya harus menuju bandara Sentani yang berjarak sekitar satu jam dari kota Jayapura. Saya sudah menyusun skenario bahwa selama perjalanan ke Jakarta, pilot Garudanya mau saya tinggal tidur saja. Sisa rasa kantuk semalam sebelumnya mau saya lampiaskan sepanjang perjalanan udara Jayapura – Jakarta.

Rupanya skenario perjalanan saya tidak berlangsung sesuai plot. Itu karena di samping atau sebelah kanan saya duduk dua orang penumpang yang asli orang Papua yang sedang menempuh perjalanan menuju Denpasar. Perjalanan mereka kali ini adalah perjalanan pertamanya dengan pesawat besar keluar dari tanah Papua. Selama ini hanya midar-mider naik pesawat di seputaran kota-kota kecil di Papua saja. Salah seorang tetangga saya, penumpang di sebelah kanan saya itu ternyata adalah teman seperjalanan yang sungguh baik hati.

Dalam perjalanan Jayapura – Timika, segera saya terlelap bahkan sejak sebelum pesawat tinggal landas dengan sempurna. Ketika ada pembagian makanan kecil dan minum oleh mbak pramugari, tetangga saya ini membangunkan saya sambil menyodorkan sekotak makanan yang diestafet dari mbak pramugari, tanpa sepatah kata pun.

Setelah itu saya tidak bisa tidur lagi karena cuaca yang sedang cerah memperlihatkan pemandangan indah pegunungan tengah daratan Papua di bawah sana. Sedangkan penumpang di sebelah kanan saya itu turut melongok mendekat ke jendela yang ada di sebelah kiri saya. Bukan cuma itu, melainkan sambil bercerita tentang kawasan di bawah sana yang dia sangat mengenalnya.

Dalam perjalanan Timika – Denpasar, saya tertidur lagi. Ketika tiba pembagian makan siang, penumpang di sebelah saya njawil (menyolek) tangan saya. Rupanya meja lipat di depan saya sudah dibukakan dan sekotak makan siang juga sudah tersaji. Kenyang makan, saya pun melanjutkan tidur.

Rupanya masih ada pembagian ransum makanan ringan. Sewaktu mbak pramugari berkeliling membagikannya lagi, penumpang di sebelah saya itu kembali membangunkan saya.

Barangkali tetangga di sebelah saya itu beranggapan bahwa tidak baik menolak pemberian suguhan makanan, sehingga saya perlu dibangunkan. Atau, dia sekedar berbuat baik agar saya tidak terlewat diberi suguhan. Tapi, njuk ora sido turu aku…… (saya jadi tidak bisa tidur….)

“Untungnya”, teman seperjalanan saya yang baik hati itu turun di Denpasar. Begitu baiknya sehingga mereka merasa perlu berpamitan kepada saya sebelum turun. Di Bali mereka hendak mengikuti pelatihan tentang radio, katanya. Saya membalas dengan menyampaikan ucapan selamat bertugas dan terima kasih. Ucapan terima kasih saya yang tulus atas kebaikannya, tapi tidak atas semangat pembangunannya (maksudnya, membangunkan orang yang sedang tidur ngleker di pesawat….).

Tidak disuguhi minuman, kehausan. Disuguhi kue thok tanpa minum, keseredan. Tapi terlalu banyak suguhan di dalam pesawat, ternyata juga bisa menjengkelkan……

Akhirnya, perjalanan lanjutan Denpasar – Jakarta dapat berlangsung dengan tenang, aman dan terkendali. Skenario untuk meninggal tidur pilot pun berjalan sesuai plotnya. Ya, karena tidak ada lagi aktifitas pembangunan oleh penumpang di sebelah saya.

Yogyakarta, 31 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(1).   Kacang Bawang Pun Harus Dilaporkan

Hari masih pagi ketika pesawat Garuda yang membawa kami sekeluarga dari Denpasar mendarat di bandara Adelaide. Hari itu, Selasa, 16 Desember 2003, sekitar jam 06:45 pagi waktu setempat dan matahari belum menampakkan cahayanya.

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan mengambil bagasi, lalu tiba di bagian karantina yang akan memeriksa barang bawaan para penumpang. Seorang petugas dari The Australian Quarantine and Inspection Services (AQIS), seorang perempuan muda cantik yang kalau menilik wajahnya saya duga seorang keturunan Cina, menanyai saya : “Apakah semua formulir isian sudah diisi dengan benar?”. Saya mengiyakan. Lalu dia tanya lagi : “Ada yang kurang jelas?”. Saya diam sejenak, lalu saya jawab : “Tidak”.

Eh, masih ditanya lagi : “Are you sure?”, sambil membawa lembar isian yang sudah lengkapi. Saya jadi agak ragu. Lalu saya coba mengingat-ingat saat mengisi formulir Incoming Passanger Card tadi di dalam pesawat. Seingat saya semuanya sudah cukup jelas dan saya yakin juga mengisinya dengan benar. Maka lalu saya yes-kan saja.

Si mbak petugas karantina meminta saya membuka tas yang saya bawa. Tas pertama OK. Tiba tas kedua, dia melihat sebungkus plastik makanan kecil yang berisi kacang bawang. Dia tanya, kenapa saya tidak melaporkan dalam formulir isian bahwa saya membawa makanan kacang-kacangan. Saya agak terkejut, lalu saya jelaskan bahwa itu adalah makanan kecil seperti yang banyak dijual di toko-toko.

Rupanya sang mbak petugas tidak terima. Bagaimanapun juga barang itu adalah produk tumbuh-tumbuhan atau buah-buahan yang seharusnya dilaporkan. Agar urusannya tidak pajang, serta-merta saya minta maaf atas ketidaktahuan saya. Sekali lagi, sang mbak petugas merasa tidak cukup hanya diselesaikan dengan permintaan maaf saja.

Pokok persoalannya menjadi, saya telah memberikan statement yang tidak benar tentang barang-barang yang saya bawa masuk ke Australia. Spontan terbayang, denda paling tidak A$220 harus saya bayar. Iya kalau hanya itu saja, lha kalau ternyata lebih dari itu…….? Sekali lagi, saya menyampaikan permohonan maaf atas keteledoran ini.

Maka, keputusan pun dijatuhkan. Saya dinyatakan telah melanggar peraturan AQIS, dan Alhamdulillah….., saya hanya diberi peringatan keras karena ini kejadian yang pertama. Lalu selembar kertas berisi peringatan yang ditandatangani oleh si embak petugas diberikan kepada saya, disertai ancaman bahwa kalau hal serupa terulang lagi maka saya harus membayar denda atau berurusan dengan pengadilan. Akhirnya kemudian saya dipersilakan meninggalkan meja pemeriksaan. Dalam hati saya nggerundel, “masak kacang bawang saja harus dilaporkan…”. Australia memang termasuk ketat dalam hal pengontrolan barang-barang yang masuk ke negaranya.

Kacang bawang memang salah satu makanan kletikan kegemaran keluarga kami, terutama menjadi favoritnya ibunya anak-anak. Jadi sewaktu mau berangkat dari Tembagapura dan di rumah masih ada setoples kacang bawang, tanpa banyak pertimbangan lalu dibungkus dan dibawa untuk ngemil di perjalanan. Eh, ternyata malah nambahin urusan. Bukannya tidak boleh dibawa masuk Australia, melainkan harus dilaporkan.

Harus saya akui bahwa saya telah salah menafsirkan (atau lebih tepatnya menyepelekan) pernyataan dalam formulir Incoming Passanger Card yang kira-kira intinya adalah bahwa semua produk tanaman atau buah-buahan harus dilaporkan. Dan, kacang bawang ternyata dianggap termasuk produk turunan atau hasil tanaman yang harus dilaporkan. Lha, saya pikir ini makanan kecil biasa seperti yang banyak dijual di mana-mana, yang terkadang juga disajikan di dalam pesawat. Inginnya biar cepat dan tidak banyak urusan, eee….malah lama jadinya…….

Yusuf Iskandar

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(2).   Jemputan Yang Tak Kunjung Datang

Di lobby kedatangan bandara Adelaide kami duduk-duduk menunggu jemputan, setelah selesai berurusan dengan petugas imigrasi dan karantina di pagi tanggal16 Desember 2003. Sesekali melongok keluar bandara barangkali ada orang yang berdiri membawa tulisan nama saya. Menurut pegawai biro travel di Denpasar tempat saya mengatur rencana perjalanan, akan ada orang yang menjemput di bandara Adelaide. Selanjutnya saya harus menyelesaikan segala sesuatu yang berkaitan dengan sewa-menyewa kendaraan dengan si penjemput itu.

Hampir setengah jam berlalu, tidak ada tanda-tanda adanya orang yang akan menjemput. Saya coba mencari-cari counter Budget, perusahaan yang akan saya sewa mobilnya. Ternyata masih tutup. Sementara di lobby kedatangan tidak juga muncul si penjemput yang dijanjikan.

Saya kemudian ingat, pegawai biro travel di Denpasar pernah menuliskan nomor tilpun yang harus saya hubungi jika ada masalah di Adelaide. Lalu saya cari tilpun umum. Untuk menilpun perlu koin Australia. Cara termudah untuk memperoleh koin di bandara adalah dengan menukarkan uang dollar Amerika dengan uang Australia, disertai permintaan khusus bahwa saya perlu uang koin untuk menilpun.

Saya kembali menuju ke kotak tilpun umum. Sejenak mempelajari aturan mainnya, lalu pencet-pencet tombol tilpun. Usaha pertama gagal, usaha kedua masih tulalit juga. Rupanya saya dibingungkan dengan penggunaan kode area. Usaha ketiga kali berhasil nyambung, tapi terdengar nada sibuk di seberang sana. Saya jadi kurang yakin, jangan-jangan ada yang salah. Saya coba tanya kepada petugas Satpam bandara yang kebetulan sedang lewat, tentang urut-urutan nomor yang harus dipencet sambil saya tunjukkan nomor yang akan saya hubungi. Ternyata yang tadi saya lakukan sudah benar. Hanya belum berhasil nyambung saja.

Usaha keempat barulah berhasil. Setelah berhalo-halo dan basa-basi sebentar, saya perhatikan suara wanita di seberang sana sepertinya tidak berdialek bahasa Inggris-Australi, melainkan Inggris-Indonesia. Maka, langsung saja saya lanjutkan dengan ngomong Indonesia, dan ternyata nyambung. Kebetulan, pikir saya. Jadi lebih enak suasana sebangsa dan setanah airnya. Lalu saya jelaskan duduknya persoalan. Si ibu di seberang sana, yang saya duga adalah dari partnernya perusahaan travel yang di Denpasar, meminta saya menutup tilpun dulu karena dia akan melakukan pengecekan. Saya diminta menilpun lagi beberapa menit kemudian. OK, permintaan saya turuti. Wong saya memang dalam posisi butuh bantuannya.

Sempat juga agak ragu, jangan-jangan dia hanya berkilah, yang kalau kemudian saya tilpun lagi pesawatnya sibuk terus. Ya maklum kalau ada prasangka seperti ini, soalnya sudah trauma dengan banyak pengalaman di dalam negeri yang mengajarkan hal yang demikian. Untungnya kekhawatiran saya tidak benar. Saat saya tilpun ulang, jawabannya sungguh melegakan. Saya diminta menunggu di luar bandara karena seseorang akan menjemput saya.

Lega rasanya, ketika si penjemput yang ramah muncul tidak lama kemudian. Lalu diibawanya kami memutar bandara dan diantarkan ke counter Budget di terminal kedatangan dalam negeri yang berada di seberang agak ke ujung dari terminal internasional, guna menyelesaikan urusan administrasi lebih dahulu. Wow, lha mestinya kan saya tidak perlu repot-repot tilpun dan menunggu cukup lama, seandainya sebelumnya saya diberitahu. Saya bisa langsung cari tumpangan untuk menuju ke terminal yang satunya. 

Urusan administrasi yang mesti diselesaikan antara lain meliputi pembayaran tambahan biaya sewa kendaraan, pendataan paspor dan SIM Internasional, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan perjanjian sewa-menyewa. Setelah urusan beres, lalu kunci kontak diberikan plus sedikit penjelasan rute yang harus saya lalui untuk menuju hotel. Barang bawaan rupanya sudah dipindahkan oleh si penjemput yang ramah tadi.

Meskipun biaya sewa kendaraan sebenarnya sudah saya bayar di Denpasar, tetapi perlu ada biaya tambahan yang harus saya urus sendiri. Ini karena saya mengambil kendaraannya di bandara Adelaide dan akan mengembalikannya di bandara Darwin. Jarak antara kedua kota itu lebih dari 3.500 km. Wajar kalau untuk itu dikenai biaya tambahan.

Sebelum men-start kendaraan, saya pergunakan beberapa menit pertama untuk mempelajari sejenak situasi kendaraan, termasuk tombol lampu depan, lampu belok, pengatur kaca spion, pengatur wiper, pengatur tempat duduk, pembuka bagasi, lokasi tanki BBM, serta indikator-indikator lainnya yang ada di dashboard mobil sedan Mitsubishi putih bergigi otomatis. Paling penting tentunya mempelajari peta dan rute untuk mencapai hotel. Maklum, dalam beberapa hari ke depan saya akan bertugas rangkap, ya sebagai driver, ya sebagai navigator. Bandara kemudian kami tinggalkan, memasuki kota Adelaide menuju ke hotel yang sudah kami pesan. Lokasi bandara sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 6 km di sisi barat kota Adelaide.

Pagi itu, kota Adelaide sudah mulai sibuk. Sebelum mencapai hotel, saya sempat salah mengambil lajur jalan. Semestinya saya berada di lajur paling kiri dari tiga lajur jalan yang ada, agar mudah untuk membelok ke arah kiri. Karena saya terlanjur berada di lajur tengah, maka kalau saya paksakan juga untuk belok ke kiri pasti akan dimaki oleh pengemudi lain. Daripada baru di hari pertama sudah memperoleh pengalaman buruk dimaki orang, lebih baik saya teruskan saja dulu untuk kemudian memutar lagi mengambil lajur yang benar sehingga mudah untuk berbelok masuk ke hotel. Untungnya, saya cukup berpengalaman untuk urusan salah jalan, sehingga tidak terlalu bingung kecuali memerlukan waktu tambahan untuk mempelajari ulang rute jalan yang benar, dan tentunya juga kehilangan waktu untuk menemukannya.

Saya memperoleh pelajaran berharga pada hari pertama di Adelaide. Pertama, perlunya memahami lebih dahulu situasi bandara yang belum dikenal, jika hendak menempuh perjalanan dengan menyewa kendaraan. Urusannya tidak terlalu repot jika perjalanan akan ditempuh dengan taksi atau ikut rombongan wisata. Kedua, mengantongi nomor-nomor tilpun penting yang terkait dengan rencana perjalanan. Ketiga, memiliki koin uang recehan akan sangat bermanfaat, karena terkadang kotak tilpun umum hanya menerima uang koin saja. Keempat, jika bepergian dengan mengemudi kendaraan sendiri, perlu memastikan terlebih dahulu lokasi tempat tujuan berada di sebelah mananya persimpangan jalan apa.

Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(12).  Makan Nasi Padang Sebelum Meninggalkan Sydney

Hari ini, Sabtu, 11 Agustus 2001, saya meninggalkan kota Parkes dengan menggunakan pesawat Hazelton jurusan Sydney. Sebelum ke bandara saya menyempatkan untuk jalan-jalan sebentar di Jalan Clarinda, Parkes. Keluar-masuk toko melihat dan mencari kalau-kalau ada yang menarik untuk dibeli.

Di toko buku “Bookcase” saya menemukan sebuah buku kecil yang berisi kumpulan humor untuk anak-anak. Judulnya “What A Laugh”, harganya A$12.95 (sekitar Rp 60.000,-). Saya pikir ini pasti cocok buat oleh-oleh anak perempuan saya yang berumur 9,5 tahun. Keluar dari toko buku saya segera meluncur ke bandara yang berjarak sekitar 5 km di luar kota Parkes.

Bandara kecil ini rupanya tidak menerapkan prosedur pengamanan yang rumit. Tidak ada security check dan juga tidak ada pemeriksaan sinar-X. Cukup dengan menukar karcis pesawat dengan boarding pass, lalu tinggal menunggu panggilan untuk naik pesawat. Sederhana, seperti naik bis atau kereta api saja. Di ruang tunggu bandara disediakan minuman kopi, teh atau air putih. Tinggal membuatnya sendiri kalau menginginkannya.

Sekitar jam 10:45, bersama 10 orang penumpang lainnya, pesawat kecil tipe Metro 23 berkapasitas 19 orang segera terbang. Pesawat ini sempat mampir berhenti 15 menit di kota Bathurst untuk narik penumpang tambahan. Akhirnya sekitar jam 12:15 siang tengah hari saya sudah berada di terminal domestik bandar udara Sydney. Untuk menuju ke terminal internasional ternyata mesti naik shuttle bus dengan biaya A$3.00. Tidak sebagaimana waktu datang dua minggu yll, di terminal internasional terdapat counter untuk penerbangan domestik sehingga mereka menyediakan angkutan gratis antar terminal.

***

Di Sydney saya harus menunggu cukup lama pesawat lanjutan untuk menyeberang ke Denpasar. Saya punya waktu hampir enam jam. Lalu mau ngapain?

Semula saya merencanakan untuk jalan-jalan ke pusat kota Sydney. Buku panduan wisata Sydney sudah saya buka-buka. Mau ke jembatan Harbour Bridge, gedung Opera House atau pelabuhan Darling Harbour, saya sudah pernah ke sana tahun lalu. Waktu itu saya ditemani oleh Mas Yusram Rantesalu, seorang alumni Jurusan Tambang yang sedang mengambil S2 di University of New South Wales (kini saya kehilangan jejaknya, beliau ada di mana). Tentang perjalanan saya ke Sydney ini malah saya belum sempat menuliskan catatan perjalanannya keburu catatan kecil saya ketlingsut (terselip).

Mau jalan-jalan ke pantai Bondi yang terkenal itu, atau ke Kings Cross tempat ngumpulnya kaum gay dan lesbian serta jenis-jenis entertainment yang sewarna dengan itu, pasti cuacanya sedang panas sekali. Dan lagi, kalau siang tengah hari begini terus apanya yang bisa dinikmati, selain keramaian berseliwerannya orang dan keluar-masuk toko saja.

Sempat saya putuskan untuk jalan-jalan ke Royal Botanic Garden yang terletak di seberang gedung Opera House, dengan harapan akan menikmati udara segar di sebuah taman di saat siang yang cukup panas. Padahal Sydney sedang musim dingin, suhu udara sekitar 22 derajat Celcius, tapi panasnya cukup menyengat di kulit.

Saya lalu menuju ke stasiun kereta api bawah tanah yang ada di bandara. Ternyata stasiunnya tutup. Tidak ada kereta yang akan lewat untuk hari itu. Entah rusak, libur, dalam perbaikan, atau entah kenapa saya tidak tahu. Lalu saya pindah ke terminal bis yang akan menuju ke kota. Eh, lha ditunggu-tunggu bis yang jurusan kota kok tidak datang-datang. Tiba-tiba saya ingat, bahwa saya belum makan siang. Lalu semakin ingat lagi bahwa di Sydney ada rumah makan Padang.

Ini dia! Saya lalu pindah menuju ke pangkalan taksi dan segera minta diantarkan ke bilangan Kensington menuju ke rumah makan “Pondok Buyung”. Serta-merta nasi putih, gulai otak, gulai nangka muda dan ikan asin segera terhidang, dan segera pula terlahap habis.

Di Sydney memang ada cukup banyak restoran Indonesia. Tapi bagi saya, yang satu ini lebih bersuasana Indoensia, mengingat untuk pesan makanan saya tinggal langsung menuju ke deretan menu yang berjajar di meja yang diatapi kaca (seperti rumah makan Padang di Indonesia), lalu tinggal tunjuk mau makan apa. “Paket standard” ala mahasiswa kost, nasi putih plus tiga macam lauk harganya A$6,50.

Rumah makan “Pondok Buyung” yang beralamat di 124 Anzac Parade, Kensington, ini saya kenal setahun yll. ketika saya sempat berkunjung ke Sydney. Pemiliknya seorang haji bernama H. Peter Syarief yang sudah belasan tahun merantau. Waktu itu sewaktu saya makan malah ditemani oleh Wak Haji Syarief yang kemudian “menuduh” saya sebagai wartawan karena sambil makan saya terus ngajak omong dan tanya ini-itu. Sayangnya siang tadi Wak haji sedang pulang istirahat di rumahnya.

Dengan makan siang di “Pondok Buyung” ini saya jadi merasa diuntungkan. Pasalnya saya sekalian bisa numpang sholat di sebuah ruangan yang berada di bagian belakang warungnya yang memang disediakan untuk itu. Hal yang sama juga saya lakukan ketika saya makan di situ tahun lalu.

***

Menjelang jam 4:00 sore saya sudah kembali berada di bandara Sydney. Bandara ini rupanya dilengkapi dengan fasilitas gratis untuk mengakses internet. Lumayan, saya lalu menyempatkan diri untuk membuka-buka email. Setelah itu saya baru check-in.

Sebentar lagi saya akan meninggalkan negeri kanguru, Australia. Ini adalah negara yang saya merasa “tidak perlu” untuk mengingat nama kalau ketemu Aussie (sebutan untuk orang Australia).

Lho? Ya, karena semua orang Australia mempunyai nama panggilan sama, yaitu “Mike”. Di manapun jangan kaget kalau Anda dipanggil “Mike”, meskipun nama Anda Bejo atau Muhammad atau Vincent atau Bonar. Atau sebaliknya, tanpa perlu tahu namanya, panggil saja dia dengan “Mike”, pasti tidak keliru. Tentu saja ini berlaku untuk suasana yang tidak formal.

Jam 06:00 sore pesawat akan tinggal landas dari bandara Sydney dan menyeberang ke Denpasar. Tiba di Denpasar menjelang tengah malam, nginap semalam, lalu selanjutnya Insya Allah hari Minggu pagi sudah tiba di Yogya berkumpul kembali dengan anak-anak dan ibunya di sana.

Akhirnya, terima kasih dan wassalam.

Sydney, 11 Agustus 2001
Yusuf Iskandar