Posts Tagged ‘demam berdarah’

Sumilar Sebagai Pengganti Abate

15 November 2009

Sumilar5 Sumilar7

Pagi tadi rumah saya kedatangan petugas pengasapan (fogging) dari Kelurahan. Asap putih pun segera memenuhi sekeliling rumah. Pengasapan akan membantu untuk membasmi nyamuk dewasa, sedangkan jentik dan telurnya tak terusik. Cara yang efektif untuk mengatasi jentik nyamuk dan telurnya adalah dengan rumus 3M (menguras, menutup, mengubur), ikanisasi (menaruh ikan di bak atau tandon air) dan pemberian abate.

Dua hari yang lalu rumah saya juga didatangi dua orang petugas penyuluh kesehatan dari Kelurahan. Kunjungannya ini memang terkait dengan wabah penyakit demam berdarah yang akhir-akhir ini menyemarak di kampung kami (seperti yang saya ceritakan sebelumnya).

Selain memberi penyuluhan tentang 3M, lalu melakukan pengamatan secara sekilas kalau-kalau ada tempat-tempat yang disukai nyamuk untuk bersarang dan bertelur. Ada satu lagi yang baru, yaitu membagi bubuk pembasmi nyamuk yang disebut sumilar.

Sumilar ini ternyata adalah bahan pengganti abate yang selama ini digunakan dan dikenal masyarakat. Cara penggunaannya hampir sama dengan abate, yaitu dicelupkan atau dimasukkan ke dalam bak atau tandon air. Menurut penjelasannya, bahan pembasmi nyamuk yang disebut sebagai hormon sumilar ini lebih baik dibanding abate.

Setelah melacak di internet, saya menemukan penjelasan dari Sugeng Juwono Mardihusodo, seorang Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM yang juga menjabat sebagai presiden nyamuk, Asosiasi Pengendalian Nyamuk Indonesia (Kompas, Selasa 04-03-2008). Menurut beliau, sumilar sanggup menghambat pertumbuhan dan perkembangan larva nyamuk untuk menjadi dewasa dan mematikannya. Selain itu, sumilar juga mempunyai daya bunuh lebih lama dibanding abate. Kalau abate hanya efektif untuk 2-3 bulan pemakaian, sedangkan sumilar bisa mencapai 4-5 bulan.

Masih menurut Pak Sugeng : “Nyamuk-nyamuk sekarang sudah semakin sulit diberantas. Mereka sudah kebal abate dan disinfektan. Kekebalan pada nyamuk tersebut muncul karena memiliki gen resisten terhadap obat-obatan itu”.

***

Rupanya sekarang ini sumilar sedang diujicoba untuk dimasyarakatkan di kota Yogyakarta. Mudah-mudahan bukan uji coba tentang daya gunanya, melainkan hanya pemasyarakatannnya saja. Pelaksanaan uji coba ini adalah hasil kerjasama antara pemerintah kota dengan sebuah yayasan non-profit di Yogyakarta.

Sumilar kini mulai dibagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat kota (masyarakat luar kota belum). Nampaknya Yogyakarta menjadi kota pertama yang menggunakan produk sumilar yang konon buatan Malaysia (begitu menurut informasi petugas penyuluh). Dari namanya saja sudah dapat ditebak, produk ini adalah buatan perusahaan Sumitomo.

Sumilar ini berupa butir-butir berukuran kecil (lebih kecil dari butiran batupasir), berwarna coklat muda bercampur dengan satu-dua butiran yang berwarna kehitaman. Bahan butiran halus ini dibagikan sudah dalam bentuk kemasan sangat sederhana, yaitu berupa bungkusan kantong plastik kecil yang diikat tali (jelas ini bukan kemasan dari pabriknya melainkan dikemas ulang agar masyarakat tinggal memakainya dengan mudah).

Plastiknya sendiri sudah ditusuk-tusuk dengan jarum sehingga berlubang-lubang kecil yang memungkinkan ditembus air. Di dalam bungkusan plasik ditambahi beberapa butir kerikil yang berfungsi sebagai pemberat. Maka, bungkusan sumilar tinggal dicelupkan atau ditenggelamkan ke dalam bak air dengan menggunakan talinya sebagai penggantung.

Seberapa efektifnya penggunaan sumilar sebagai pengganti abate? Kota Yogyakarta sedang membuktikannya. Kiranya yang akan menjadi kendala nampaknya justru ketelatenan masyarakat untuk memasang atau menggantung kantong plastik berisi sumilar ke dalam bak atau tandon, mengingat jika menggunakan abate biasanya tinggal menumpahkannya saja ke dalam air.

Umbulharjo – Yogyakarta, 26 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Waspadalah, Justru Ketika Demam Mulai Turun (Bag. 1)

15 November 2009

Suatu ketika anak, adik, keponakan, saudara atau tetangga kita terserang demam tinggi. Kejadian ini seringkali membuat kita, apalagi orang tuanya, kalang kabut dibuatnya. Berbagai obat penurun panas diberikan dan berbagai cara dilakukan untuk meredakan demamnya. Sehari, dua hari, tiga hari, hingga hari keempat akhirnya panas badannya menurun. Kita pun merasa lega.

Namun, sungguh. Pada musim penghujan seperti sekarang ini, dimana wabah demam berdarah (DB) sedang melanda hampir ke seantero belahan Indonesia, sebaiknya mulai memberi perhatian lebih jika mengalami kejadian seperti ilustrasi di atas. Siapa tahu, turunnya suhu badan itu justru pertanda masuknya si penderita demam ke tahap kritis DB.

Akhir-akhir ini berita tentang wabah DB hampir setiap hari mewarnai media kita. Slogan 3M pun bak kafilah yang terus berlalu. Saking seringnya penayangan berita itu sehingga sepertinya menjadi kabar yang “biasa-biasa saja”. Persis seperti dulu ketika kita mendengar berita bencana banjir, longsor, angin ribut atau kecelakaan, ada seorang saja yang meninggal, kita sudah prihatin setengah mati. Namun belakangan ini, saking seringnya kabar tentang bencana muncul di media, kok sepertinya menjadi kabar yang biasa saja. Akhirnya kita kurang tertarik untuk mencermatinya. Demikian halnya dengan kabar tentang demam berdarah.

Namun ketika anak, adik, keponakan atau saudara kita terserang DB, barulah kita kelabakan, bahwa ternyata tidak banyak yang kita ketahui tentang wabah penyakit ini.

***

Minggu-minggu belakangan ini ada empat orang tetangga saya di kampung Kalangan, Umbulharjo, terserang DB. Tiga orang anak-anak dan satu orang dewasa. Dua dari tiga anak ini adalah kakak beradik. Syukurlah, kini semua sudah mulai pulih kondisinya, meski dua dari ketiga anak itu sempat mengalami periode masa kritis.

Dua hari yang lalu saya sempat bezoek ke Rumah Sakit. Dari cerita-cerita dengan orang tua penderita, akhirnya sedikit banyaknya saya dapat belajar tentang seluk dan beluknya penyakit yang akhir-akhir ini cukup menjadi momok bayang-bayang kematian.

Saya mulai bisa merasakan bagaimana kalutnya sebagai orang tua ketika tiba-tiba anaknya terserang demam tinggi, kemudian diikuti muntah-muntah, lalu ngomyang (bahas Jawa, artinya mengigau atau bicara sendiri tidak karuan), dan terjadinya di tengah malam (kalau mau lebih dramatis lagi, saat sedang hujan lebat dan pas listrik mati).

Barulah saya ngeh, betapa pengetahuan praktis yang kedengarannya remeh-temeh ini menjadi sangat penting di kala kita sendiri yang mengalami menjadi orang tua itu.

Tetangga saya itu lalu menyodorkan sebuah buku tipis tentang perdemamberdarahan. Sepintas saya buka-buka buku itu ternyata memuat banyak tips praktis yang disajikan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Buku tipis terbitan Medika Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada itu berjudul “Mengenal Demam Berdarah”, ditulis oleh Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp A(K), seorang dokter spesialis anak yang juga staf pengajar Fakultas Kedokteran UGM.

Berikut ini sedikit tips yang saya kutip dari buku itu, sekedar untuk jaga-jaga siapa tahu di musim wabah DB seperti sekarang ini tiba-tiba pengetahuan praktis itu dibutuhkan.

Tentang gejala DB :

Gejala umum DB (seperti umumnya penyakit lain) dimulai dengan demam tinggi yang terjadi pada masa akut hari ke-1, ke-2 dan ke-3, diikuti gejala-gejala yang dalam buku itu dirumuskan dengan : Demam + KLMNO(P), yaitu :

  1. Demam
  2. Kepala nyeri, pusing.
  3. Lemah.
  4. Mual (nek), muntah.
  5. Nyeri Otot dan sendi.
  6. Perdarahan spontan jarang terjadi pada masa akut. Kalaupun ada, misalnya mimisan, bintik merah di kulit.

Setelah masa akut pada tiga hari pertama, maka waspadalah ketika kemudian demam mulai menurun.

Demam turun akan berarti baik, kalau pasien semakin segar, mau makan dan minum, dan gejala KLMNO(P) menghilang.

Demam turun akan berarti semakin kritis, kalau gejala KLMNO(P) semakin parah :

  • Kepala semakin pusing
  • Lemah sampai kesadaran menurun bahkan shock,
  • Mual, muntah, perut sangat-sangat nyeri
  • Nyeri Otot
  • Perdarahan spontan (seperti mimisan, muntah darah, berak darah, batuk darah, biru-biru pada bekas tusukan jarum).

Tentang demam dan masa kritis :

Demam pada DB berkisar selama 2 – 7 hari (suhu badan mencapai lebih 38,5 derajat Celcius). Hari ke-1 hingga ke-3 adalah masa akut. Sedangkan masa kritis terjadi pada hari ke-4 hingga ke-6 (ketika suhu badan mulai menurun). Disebut masa kritis karena 80% penderita yang tergolong berat akan mengalami shock dan hilang kesadaran pada hari-hari ini.

Tentang perawatan di rumah :

Ketika masih menjalani perawatan di rumah (biasanya kita atau orang tua belum tahu dan belum menyadari akan kemungkinan terkena DB), maka yang paling utama penderita harus diupayakan tetap mau makan dan minum (apa saja) sebanyak-banyaknnya, juga perlu diperhatikan kekerapan kencingnya.

Jika kira-kira sudah masuk hari ke-4, ke-5, ke-6 sejak pertama kali demam, lalu muncul gejala salah satu saja dari 6K, maka segeralah dilarikan ke Rumah Sakit terdekat.

6K itu adalah :

  1. K – Kesadaran menurun, anak gelisah
  2. K – Kulit, kaki, tangan terasa anyes (sejuk), lembab dan dingin.
  3. K – Kencing berkurang, atau malahan tidak kencing selama 6 jam.
  4. K – Kejang
  5. K – Kurang sekali makan dan minum, muntah terus-menerus, sehngga tubuh menjadi lemas
  6. K – Keluar perdarahan (hidung, kulit, mulut, dubur).

Tentang nyamuk pembawa virus dengue :

Mahluk pembawa virus dengue penyebab DB, yaitu nyamuk aedes aegyptie (ini jenis nyamuk rumahan) mempunyai daya jelajah per harinya mencapai 30-50 meter. Sedangkan kawannya aedes albopictus (ini jenis nyamuk kebun atau outdoor) mempunyai kemampuan jelajah per harinya hingga 400-600 meter.

Nyamuk ini suka di tempat yang gelap dan lembab. Sekali beroperasi, dia senang menggigit beberapa orang sekaligus. Waktu operasinya biasanya pagi dan sore. Meski nyamuk ini tergolong pendek umurnya, hanya sekitar dua mingguan, tapi telurnya mencapai sejumlah 400 dan jika tidak ada genangan air mampu bertahan di dinding tandon air hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Maka, kita semua sesungguhnya mempunyai peluang yang sama untuk digigit nyamuk, karena nyamuk-nyamuk nakal ini lincah menyusup baik di kolong-kolong jalan tol maupun hingga naik lift ke lantai 30 apartemen.

Akhirnya, ada baiknya kita tingkatkan kewaspadaan melakukan deteksi dini seperti hendak menyongsong banjir kiriman, tsunami atau gunung mbledos, terhadap tanda-tanda serangan demam berdarah.

Jadi, waspadalah, justru ketika demam mulai turun. Jangan-jangan serangan DB sedang mengintai anak, adik, keponakan, saudara, tetangga atau malah diri kita sendiri.

Umbulharjo – Yogyakarta, 20 Maret 2008 (di Alun-alun Utara sedang ada perayaan Grebeg Sekaten)
Yusuf Iskandar

NB :
Meski “Madurejo Swalayan” menjual aneka obat anti nyamuk, tapi pasti itu tidak akan mampu membasmi gerombolan nyamuk dan telur-telurnya, melainkan hanya sebagai pengantar tidur saja.

Waspadalah, Justru Ketika Demam Mulai Turun (Bag. 2)

15 November 2009

Cover DBKeprihatinan saya masih berlanjut perihal wabah penyakit demam berdarah (DB). Usai sholat jumatan siang tadi saya ketemu salah seorang tetangga yang baru saja sembuh dari serangan DB dan orang tua dari dua anak yang terserang DB yang salah satunya sempat mengalami masa kritis beberapa hari yll. Kesempatan ini saya pergunakan sebaik-baiknya untuk menggali informasi dan pengalaman.

Pasalnya beberapa hari yll anak kedua saya (13,5 tahun) mendadak pulang lebih awal dari sekolahnya dan mengeluh kepala pusing, badan panas disertai muntah-muntah. Serta-merta pikiran saya melayang jauh mengarah kepada kemungkinan serangan DB. Terapi pertama yang saya lakukan adalah memberinya obat turun panas dan “memaksanya” agar tetap makan dan banyak minum (minum apa saja).

Ternyata tetangga saya yang terserang DB tidak hanya empat orang, melainkan lebih dari enam orang. Tentu saja peristiwa ini membuat Pak RW menjadi sibuk. Upaya untuk melakukan pengasapan (fogging) pun diajukan kepada instansi terkait agar segera dapat dilakukan di wilayah kampung kami.

Hal yang perlu diketahui adalah bahwa pengasapan itu sebenarnya hanya akan membunuh nyamuk, sedangkan jentik-jentik dan telurnya tetap sehat wal afiat dan siap-siap menjadi kader agen penyebar virus dengue. Oleh karena itu, pengasapan bisa tidak berarti apa-apa jika tidak dibarengi dengan pemberantasan sarang nyamuk. Untuk itu, ingat rumus 3M (Menutup, Menguras, Mengubur) adalah langkah yang tepat dan bukan sekedar slogan.

***

Kenapa orang dewasa yang terkena DB jarang yang sampai mengalami ke tahap masa kritis? Salah satu alasan yang bagi saya masuk akal adalah karena orang dewasa lebih nalar bahwa meski sakit, tubuh tetap perlu makan dan banyak minum. Sedangkan anak kecil, kalau sudah emoh makan dan minum, sekali emoh ya tetap emoh. Tidak perduli apa urusannya.

Padahal, tetap makan dan banyak minum adalah satu-satunya cara agar terhindar dari masa kritis penderita DB. Begitulah kesimpulan kami orang awam ini. Setidak-tidaknya kesimpulan itu dibenarkan oleh pengalaman tetangga saya yang sudah dua kali terserang DB dan orang tua dari kedua anak yang terserang DB. Kesimpulan yang sangat masuk akal setelah merujuk kepada penjelasan dokter dan apa yang diterangkan dalam buku praktis “Mengenal Demam Berdarah”, tulisan Prof. Dr. dr. Sutaryo, Sp. A(K).

Penyakit DB yang disebabkan oleh virus dengue itu hingga kini belum ada obatnya. Satu-satunya tindakan yang dapat dilakukan adalah memperbaiki kodisi dan daya tahan tubuh penderita atau calon penderita. Kondisi tubuh yang fit perlu dipertahankan, baik dalam rangka pencegahan maupun perawatan.

Benar-benar kita perlu waspada ketika mulai menderita demam, lalu perhatikan pada hari keempat ketika demam mulai turun. Apakah kondisi tubuh menjadi lebih enakan, segar dan mau makan juga minum. Atau sebaliknya, tubuh menjadi lemah, kepala pusing, mual-mual dan tidak enak makan atau minum, otot-otot dan persendian nyeri, atau malah ada tanda-tanda perdarahan. Ada baiknya mengingat-ingat rumus KLMNO(P) seperti ditunjukkan dalam buku di atas.

Jika hal terakhir itu yang terjadi, perhatikan penuturan dari tetangga saya berikut ini :

Menurut dokter, itulah saatnya mulai terjadi pembengkakan lever (hati), sehingga terasa seperti ada yang mendorong (menyodok-nyodok) ke atas, di dalam perut. Peristiwa ini menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Apalagi bila peristiwa ini dialami oleh anak-anak kita, jangan maido (menyalahkan) kalau mereka akan mengerang dan merintih kesakitan.

Bagi anak-anak yang umurnya masih di bawah 3 tahun, barangkali mereka hanya bisa menangis dan merintih menahan sakit. Tetapi bagi mereka yang usianya lebih tua, seringkali sampai mengeluarkan kata-kata yang siapapun orang tua yang mendengarnya pasti akan menangis. “Saya tidak tahan lagi, Ma…”, “Saya tidak kuat lagi, Bu…”, “Lebih baik mati saja……”. Begitulah rintihan anak-anak, saking menahan rasa sakit luar biasa yang ditimbulkan. Ini bukan kalimat yang saya dramatisir, melainkan sungguh-sungguh terjadi dan banyak terjadi. Pada tahap ini pula penderita adakalanya mengalami shock atau juga kehilangan kesadaran seperti orang linglung.

Dengan rasa sakit seperti itu, sudah barang tentu tidak akan mampu untuk makan atau minum. Apapun yang dimasukkan ke mulutnya segera akan muntah keluar lagi. Itulah sebabnya kenapa harus segera dibawa ke rumah sakit, karena harus diberi infus untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum tubuhnya yang semakin lemah. Memang hanya itulah terapi yang akan diberikan dokter. Obat-obatan selebihnya hanya bersifat “asesori” yang tidak ada hubungan langsung dengan serangan virus dangue.

Dan satu lagi upaya terakhir, berserah diri kepada Yang Maha Kuasa dengan kekuatan doa. Masa kritis itu akan terjadi pada hari keempat hingga keenam sejak hari pertama penderita mengalami demam. Jika penderita berhasil melewati masa kritis ini, maka kebanyakan penderita segera akan memasuki masa pemulihan mulai hari ketujuh dan selanjutnya, hingga diijinkan meninggalkan rumah sakit oleh dokter. Jadi kalau dihitung-hitung sejak hari pertama terserang demam, maka siklusnya hanya sekitar tujuh hari dan (mudah-mudahan) penderita akan segera pulih.

***

Apa yang saya ceritakan di atas adalah ringkasan pengalaman dari seorang tetangga saya yang belum lama pulih dari DB dan seorang tetangga yang anaknya sempat mengalami masa kritis akibat DB. Pengalaman itu lalu saya rujuk kepada buku “Mengenal Demam Berdarah”.

Meskipun demam yang dialami anak saya sudah turun dan sekarang malah sudah pecicilan minta ijin mau bersepeda keliling ring-road Jogja, tapi keprihatinan saya akan serangan wabah DB belum reda. Apalagi melihat siaran berita di televisi yang masih saja menayangkan wabah penyakit DB di mana-mana. Penyakit ini pernah membunuh adik sepupu saya lebih 35 tahun yll, ketika itu DB masih menjadi new comer di Indonesia.

Maka sekali lagi waspadalah, justru ketika demam mulai turun.

Umbulharjo – Yogyakarta, 21 Maret 2008 (Jumat Agung dan hujan nyaris seharian mengguyur kota Yogyakarta)
Yusuf Iskandar