Posts Tagged ‘counter’

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(5).   Jika Harus Menilpun Tapi Entah Kepada Siapa

Senin sore, 14 Pebruari 2000, sekitar jam 15:45 saya sudah berada di ruang kedatangan bandar udara Narita, Tokyo. Dari sinilah, rupanya serangkaian upaya yang sangat melelahkan di sepanjang perjalanan saya dari New Orleans ke Kendal akan saya mulai.

Menurut tiketnya, saya akan bermalam di Tokyo menunggu perjalanan sambungan menuju Jakarta esok harinya dengan Japan Airlines (JL), karena rute inilah yang akhirnya saya dapatkan saat pesan tiket di New Orleans. Oleh karena itu bagasi saya harus diambil di Tokyo. Untuk mengambil bagasi, saya harus keluar dari bandara melewati imigrasi, dan untuk melewati imigrasi saya ditanya tentang visa kunjungan ke Jepang.

Karena saya hanya akan overnight menunggu penerbangan sambungan esok harinya, maka diperlukan shore pass. Sedangkan untuk memperoleh shore pass saya mesti menghubungi dan meminta kepada petugas American Airlines (AA), yaitu perusahaan penerbangan yang mengatur perjalanan saya dari Amerika.

Petugas imigrasi bandara Narita lalu menunjukkan agar saya menuju counter AA. Saya pun segera mundur dari gerbang imigrasi, dan menuju counter AA yang dimaksud. Ternyata di sana tidak ada siapa-siapa, bahkan nyaris tidak ada tanda-tanda bahwa di situ tempat meminta shore pass. Saya pun celingukan, berjalan kesana-kemari, kesal, sambil jelalatan barangkali ada petunjuk arah. Karena tidak menemukan apa-apa dan siapa-siapa di counter yang ditunjukkan tadi., saya lalu berhenti dan bersandar di sebuah meja setinggi dada (dalam hati saya mereka-reka, orang Jepang ini umumnya pendek tapi meja counter-nya kok tidak lazim tingginya).

Eh, lha kok ternyata di atas meja itu ada tempelan kertas bertuliskan kira-kira bunyinya adalah : jika Anda perlu bantuan untuk mendapatkan shore pass, silahkan hubungi nomor-nomor di bawah ini….. Lalu tertulis berderet nama perusahaan penerbangan beserta nomor-nomor tilpun.

Saya temukan nomor tilpun untuk pesawat AA, ternyata nomor tilpun yang aslinya dicetak dengan komputer sudah dicoret dan diganti dengan tulisan tangan. Dan itupun sudah juga dicoret lagi, diganti dengan tulisan tangan yang lebih jelek, dan nulisnya miring lagi. Di balik meja tinggi itu ada sebuah pesawat tilpun dan komputer “kuno” yang sepertinya tidak pernah dipakai. Tampak kusam dan sudah tidak cerah lagi warnanya.

Sejenak saya tolah-toleh, sekedar untuk meyakinkan bahwa di situ memang tidak ada siapa-siapa, selain ada seorang ibu muda yang juga penumpang pesawat yang sedang sama bingungnya dengan saya. Lalu saya beranikan diri mengangkat gagang tilpun, ambil nafas sejenak, lalu menekan sebuah nomor yang tertulis jelek itu. Entah mau nyambung kemana atau siapa, yang penting tilpun. Dalam hati saya berharap, mudah-mudahan nomornya tidak salah, tidak salah sambung dan tidak dijawab oleh mesin otomatis. Berhasil…..!

Ternyata memang langsung nyambung ke kantor perwakilan AA, entah kantornya ada di mana. Belum sempat saya mengutarakan maksud saya menilpun, dengan cepat ditimpali oleh pembicara di seberang sana dan saya diminta menunggu sebentar, karena petugas AA akan segera datang (dalam hati saya berharap mudah-mudahan yang menjawab tadi bukan jin Tomang yang suka menterjemahkan kata-kata “sebentar” berarti bisa sampai satu jam).

Seperti tahu kekhawatiran saya, dua orang petugas AA yang nampak jelas mereka orang Jepang, memang membuktikan pesannya tadi. Belum lima menit…., sudah sampai ke meja tempat saya menilpun tadi. Lho, kok tahu kalau saya menilpun dari situ?

Agaknya mereka lari, nafasnya masih ngos-ngosan, karena itu saya tidak tega untuk langsung mencecar dengan pertanyaan. Tapi sepertinya mereka sudah paham apa yang saya butuhkan, barangkali memang itu tugas rutinnya, sehingga malah mereka yang mendahului mengajukan pertanyaan beruntun, antara lain saya datang dengan pesawat nomor berapa, penerbangan lanjutannya dengan pesawat apa, nomor berapa, kapan, dsb. Tiba-tiba saya merasa menjadi tidak sendirian di Narita, tidak sebagaimana saat kebingungan tadi.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(6).   Jika Harus Mencari Penerbangan Tercepat Dari Tokyo

Saat di depan petugas AA itulah, tiba-tiba muncul ide di pikiran saya, untuk minta tolong kepada kedua orang Jepang itu agar bersedia membantu mencarikan alternatif penerbangan tercepat menuju Jakarta, dengan tanpa harus menginap semalam di Tokyo. Kalau saja saat itu bukan dalam perjalanan emergency, rasanya kesempatan menginap semalam di Tokyo akan menjadi pilihan yang cukup mengasyikkan.

Melihat betapa pedulinya mereka terhadap persoalan saya sebagai pengguna jasa penerbangan AA, pasti mereka mau membantu, pikir saya. Apalagi saya punya alasan kuat bahwa saya sedang dalam perjalanan emergency karena ibu saya meninggal dunia. Tentu saja untuk yang terakhir ini saya sambil berakting macak melas (berlaku seolah perlu dikasihani, dan rasanya memang begitu…..) sedramatis mungkin.

Benar juga, dengan cara yang sangat simpatik mereka mau membantu saya, dan lalu meminta saya untuk menunggu sebentar. Saya begitu yakin dengan kata-kata “sebentar”-nya. Salah seorang dari mereka, seorang gadis Jepang berperawakan gemuk, segera berjalan cepat meninggalkan saya. Benar-benar sebentar, gadis Jepang yang saya lupa membaca label nama di dadanya itu segera kembali, lalu menghidupkan komputer “kuno”-nya yang ternyata masih berfungsi baik, pencet-pencet keyboard, lalu keluar secarik kertas berisi alternatif penerbangan menuju Jakarta. Ini dia yang memang saya harapkan.

Sambil menunggu petugas AA memainkan komputernya, pandangan saya tertuju kepada seorang ibu muda yang tadi sama bingungnya dengan saya. Saya perhatikan si ibu tampak asyik bercakap-cakap dengan petugas penerbangan lain.

Rupanya bukan asyik mengobrol, melainkan karena si ibu muda itu tidak paham bahasa Inggris, hanya bisa bahasa Spanyol. Sedangkan dua orang petugas penerbangan yang juga orang Jepang tidak ngerti bahasa Spanyol. Jadi tampak seru. Yang mengherankan saya, tidak tampak sedikitpun ekspresi panik pada wajah si ibu, malah cengengesan karena setiap kata yang mereka saling ucapkan tidak pernah sambung.

Petugas AA telah selesai dengan komputer “kuno”-nya. Lalu dikatakannya bahwa sudah tidak ada penerbangan langsung ke Jakarta hari itu juga. Wah! Tapi menurutnya ada alternatif, untuk malam itu juga saya bisa terbang ke Singapura dengan Singapore Airlines (SQ) dan akan tiba di sana jam 1:30 dini hari Selasa. Lalu esoknya jam 7:00 pagi saya bisa terbang ke Jakarta. Saran yang bagus, saya pikir lebih baik menghabiskan waktu di Singapura karena penerbangan menuju Jakarta dari Singapura akan lebih banyak pilihan.

Sebagai konsumen pengguna jasa penerbangan AA, saya diperlakukan dengan sangat baik. Padahal setelah itu saya sudah tidak lagi menggunakan jasa mereka, melainkan ganti dengan SQ atau Garuda. Rasanya saya harus mengakuinya, bahwa itulah kelebihan mereka dalam me-manage pelanggannya. Dalam hati saya berprasangka, kok yang demikian itu jarang ada perusahaan jasa di Indonesia yang mau meniru.

Salah seorang petugas yang laki-laki kemudian membawa saya ke counter AA di bagian keberangkatan (saya tidak jadi meminta shore pass untuk keluar bandara melewati imigrasi), dan lalu mempertemukan saya dengan petugas lain di bagian tiket AA. Di bagian ini saya menunggu agak lama.

Rupanya sang petugas sedang bingung, padahal mestinya saya yang bingung. Rupanya dia juga merasa berkepentingan untuk ikut bingung, membantu saya. Rasa turut berkepentingan atas kesulitan yang sedang dihadapi orang lain ini rasanya dijaman kini terasa sangat mahal harganya, di jaman reformasi sekalipun.

Dia bingung karena alternatif pertama penerbangan lanjutan ke Jakarta esok hari dari Singapura adalah dengan Garuda Indonesia (GA), sedangkan tiket GA ternyata tidak bisa dikeluarkan oleh pihak AA di Tokyo, padahal tempat duduknya bisa confirm. Alternatifnya, ada 3 penerbangan SQ pada jam-jam sesudah jadwal GA yang tiketnya bisa dikeluarkan saat itu juga, tapi tempat duduk berstatus stand by. Lalu agak sore ada lagi Thai Airways (TG), yang tempat duduknya OK dan tiket juga bisa langsung dikeluarkan.

Yang membuat dia bingung adalah kenapa tiket GA tidak bisa dikeluarkan di Tokyo saat itu (sebenarnya kalau mau dia tidak perlu bingung, bisa saja dia berlaku cuek dan bilang bahwa hanya tiket SQ yang bisa dikeluarkan, dan toh pasti saya akan percaya juga). Untuk meyakinkan saya, sang petugas tiket AA itu pun meminta saya untuk melongok ke layar komputernya. Dan memang di situ saya lihat ada tulisan “non ticketable“. Sang petugas AA akhirnya menyerahkan keputusan kepada saya, mau ambil tiket yang mana, karena pihak AA hanya bisa melakukan endorsement guna pengalihan tiket dengan harus menyebutkan nama penerbangannya.

Ini membuat saya harus berpikir keras, mengatur strategi agar terhindar dari kesulitan esok harinya di Singapura. Pilihan dengan penerbangan lanjutan apa sebaiknya tiket dikeluarkan. Dalam waktu yang singkat, pikiran saya menguji beberapa kemungkinan yang bisa terjadi atas beberapa alternatif penerbangan lanjutan yang diberikan. Akhirnya saya pilih penerbangan dengan TG.

Pertimbangan saya waktu itu adalah meskipun jadwal TG agak sore tapi tempat duduk OK dan tiket bisa langsung dikeluarkan saat itu juga, sambil berasumsi bahwa di Singapura saya akan melakukan jurus macak melas yang sama seperti tadi untuk mencari peluang berangkat dengan penerbangan lebih awal. Toh sesial-sialnya, saya sudah pegang tiket TG untuk penerbangan sore (belakangan ketika di Singapura saya baru menyadari bahwa pilihan dan strategi saya ini ternyata salah).

Setelah semua tiket sudah dikeluarkan oleh pihak AA, saya langsung check-in untuk penerbangan SQ ke Singapura. Tiba-tiba saya baru ingat, lha bagasi saya bagaimana?. Wong menurut labelnya bagasi tersebut harus saya ambil dulu di Tokyo. Dengan sangat meyakinkan, petugas AA itupun ngayem-ayemi (menenangkan pikiran) saya bahwa soal bagasi saya tidak perlu khawatir. AA akan mengaturnya, dan saya tinggal mengambilnya di Singapura nanti.

Ada perasaan ragu-ragu. Lha bagaimana tidak, wong di labelnya sejak di New Orleans sudah jelas-jelas tertulis bahwa tujuan akhir bagasi itu adalah Tokyo. Sementara lalu lintas penerbangan di Narita sangat sibuk, hari sudah malam lagi. “Wis embuh“, pikir saya. Pokoknya segera berangkat ke Singapura malam itu juga, yang artinya saya berhasil mengurangi waktu tempuh perjalanan dibanding dengan rencana sebelumnya yang harus nginap di Tokyo.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(10).   Jika Harus Kembali Memainkan Lakon Emergency

Tiba-tiba serasa dapat durian Bangkok runtuh yang tanpa kulit, ketika sekitar jam 06:45 saya lihat ada petugas di dalam kantor TG menuju pintu depan. Sebenarnya dia bukan mau buka kantor, melainkan mengambil koran pagi yang diselipkan sama lopernya di bawah pintu. Melihat ada peluang, sengaja saya lalu berdiri mendekat pintu agar terlihat dari dalam. Benar juga, saya lalu dibukakan pintu dan ditanya keperluannya apa oleh petugas kantor yang saya taksir usianya sudah menjelang pensiun, yang agaknya orang Thailand.

Mulailah saya berakting sedramatis mungkin, bahwa saya perlu bantuannya agar tiket TG saya bisa dibuatkan endorsement untuk pesawat yang lebih awal menuju Jakarta. Tentu dengan alasan emergency. Alhamdulillah, tanpa banyak kesulitan dan tanya macam-macam, endorsement bisa dibuatkan. Tiket TG saya distempel, ditandatangani, lalu saya ditanya mau pakai pesawat apa.

Mempertimbangkan saat itu sudah menjelang pukul 7:00 pagi, pasti pesawat GA sudah kabur, tidak terkejar. Langsung saya mintakan dengan pesawat SQ. Tentu ucapan “thank you” tidak saya lupakan (Ada keinginan untuk mengucapkan “kap kun kah“, seingat saya itu bahasa Thai-nya terima kasih, biar sok akrab, tapi saya takut salah, nanti malah “dadi gawe”. Saatnya tidak tepat, pikir saya) bahkan tidak cukup sekali saya ucapkan kata “thank you“.

Seperti dikejar setan, saya langsung terbirit-birit menuju bagian check-in SQ, agar bisa mengejar pesawat pertama menuju Jakarta yang dijadwalkan berangkat pukul 7:00 pagi.

Sampai di sana ternyata saya mesti antri. Melihat kenyataan itu, dalam hati saya berpikir berarti pesawatnya belum berangkat, barangkali agak molor. Hal yang tidak saya sukai, tapi kali itu justru menguntungkan. Ketika tiba giliran mau check-in, saya ingat bahwa status kursi saya sewaktu di Tokyo masih belum OK. Maka terpaksa saya mainkan lagi pentas lakon emergency.

Di depan petugas counter yang tampangnya seperti pemuda Cina berkacamata, saya dahului nerocos bahwa saya sedang dalam perjalanan emergency, bla…bla…bla…, dan seterusnya. Ujung-ujungnya minta tolong agar bisa berangkat ke Jakarta dengan pesawat pertama SQ.

Agaknya berhasil, terbukti sang petugas cukup lama mencermati tiket kelas bisnis dan paspor saya sambil pencet-pencet tombol komputer di depannya. Saya perhatikan sampai dua kali dia bolak-balik berkonsultasi dengan supervisor-nya yang berada tidak jauh di belakangnya.

Di menit-menit terakhir menjelang pesawat berangkat, seat saya di-OK-kan, meskipun disertai permintaan maaf karena saya hanya bisa terbang di kelas ekonomi karena kelas bisnis sudah habis. Hati saya berbunga-bunga, lha wong saya yang memaksa terbang, kok dia yang minta maaf. Barangkali itulah bahasa bisnis.

Lalu bagaimana dengan barang bawaan saya? Apakah tas saya masih cukup waktu untuk dibagasikan? Dengan sangat meyakinkan petugas itupun menjawab silahkan saja. Saya masih ragu, saya tanya lagi apa tidak terlambat? Dengan sopan dijawabnya tidak. Nanti akan ada petugas SQ yang mengurusnya, dan saya dipersilahkan tinggal ambil di Jakarta. Saya hanya berharap mudah-mudahan ucapannya benar.

Entah saya dapat energi dari mana, yang jelas setelah dapat kartu boarding, cepat sekali saya bergerak menuju gate yang telah ditentukan, dan puluhan orang telah saya salip sambil sesekali mengucap “excuse me“. Sambil agak malu saya masuk pesawat, karena di sana ternyata saya sudah ditunggu orang sepesawat termasuk pilot dan pramugarinya yang berseragam khas.

Lha kok ternyata benar, saya tiba di Jakarta bersama-sama dengan bagasi saya. Luar biasa, saya benar-benar gumun. Bagaimana mereka mengurusi sebuah tas yang cukup berat di menit-menit terakhir sebelum pintu pesawat ditutup, sementara kegiatan di bandara Changi pagi itu sudah sangat sibuk. (Bersambung).

Yusuf Iskandar