Posts Tagged ‘columbia’

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(4).     Jalan Merayap Di Cherokee

Minggu pagi, 2 Juli 2000, menjelang jam 10:00 kami baru meninggalkan kota Atlanta menuju ke arah timur laut mengikuti jalan Interstate 85. Sekitar satu setengah jam kemudian kami melintas danau Richard B. Russell yang merupakan perbatasan antara negara bagian Georgia dan South Carolina. Melanjutkan setengah jam kemudian kami tiba di kota Greenville. Di kota ini kami keluar dari Interstate 85, lalu pindah ke Highway 25 yang menuju ke arah utara.

Tidak ada obyek menarik yang kami rencanakan untuk dikunjungi di jalur utara South Carolina yang mempunyai nama julukan “Palmetto State” dan ibukotanya ada di Columbia. Kami terus saja melanjutkan perjalanan ke utara hingga memasuki wilayah negara bagian North Carolina. Beberapa kilometer di utara daerah perbataasan ini kami bertemu dengan jalan Interstate 26 yang menuju kota Asheville.

Di kota Asheville kami berpindah ke jalan Interstate 40 menuju ke arah barat lalu keluar di kota kecil Waynesville untuk istirahat makan siang. Seperti dijumpai di banyak lokasi di sepanjang perjalanan, makan siang yang paling praktis adalah model makan cepat saji. McDonald adalah satu di antaranya. Anak-anak pun menyukainya karena di sana ada happy meals atau kid meals yang biasanya disertai iming-iming mainan anak-anak. Makananpun bisa dimakan sambil jalan, tanpa perlu berhenti terlalu lama.

Dari Waynesville perjalanan kami lanjutkan menuju ke rute yang akan melintasi pegunungan Great Smoky. Rute yang membelah Taman Nasional Great Smoky Mountain ini memang salah satu tujuan kami. Taman Nasional Great Smoky Mountain berada tepat di perbatasan wilayah antara negara bagian North Carolina dan Tennessee, membentang seluas lebih 210.000 ha pada ketinggian hingga lebih 2.000 m di atas permukaan laut.

Pegunungan di Taman Nasional ini mempunyai enam belas puncaknya yang berketinggian di atas 1.800 m. Seperti tersirat di balik namanya, Great Smoky Mountain, barangkali karena di rute puncak pegunungan ini seringkali terlihat adanya awan yang menyerupai asap seakan-akan menggantung di langit biru di atas puncak-puncak pegunungan.

Taman Nasional yang resminya berdiri tahun 1934 guna melindungi sisa-sisa hutan di bagian selatan Appalachian Trail ini merupakan Taman Nasional yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Amerika. Rata-rata dikunjungi oleh sekitar 10 juta wisatawan setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 1999 yll. telah tercatat dikunjungi lebih dari 21 juta wisatawan. Sebuah angka kunjungan yang luar biasa, untuk ukuran Amerika sekalipun. Bulan paling padat adalah selama musim liburan antara Juni hingga Agustus, dan di bulan Oktober dimana daun-daun mulai berubah warna di musim gugur.

Jalur Appalacian Trail adalah jalan setapak yang membentang di gigir pegunungan dan memotong lembah sepanjang 3.480 km dari ujung timur laut daratan Amerika di negara bagian Maine hingga ke selatan di daerah Georgia.

Jalur ini dikelola oleh sekitar 32 kelompok pecinta alam setempat di bawah organisasi yang disebut Appalachian Trail Conference guna pemeliharaan dan perlindungannya, bekerjasama dengan lembaga pemerintah National Park Service (NPS). Penggal-penggal jalur jalan setapak ini banyak menjadi pilihan para penggemar olah raga lintas alam (hiking), bahkan termasuk para tuna netra dan penderita cacat kaki yang melintas menggunakan kruk (tongkat berjalan).

*** 

Jalan utama yang melintas di pegunungan ini disebut Newfound Gap Road (jalan US 441) membentang antara kota Cherokee di sisi tenggara dan Gatlinburg di sisi barat laut sepanjang sekitar 53 km. Di kota kecil Cherokee yang berada di kaki sebelah tenggara pegunungan ini ada areal konservasi suku Indian Cherokee. Karena itu kota kecil ini menjadi salah satu obyek kunjungan para wisatawan.

Rupanya rute jalan yang melalui wilayah ini luput dari perhitungan saya sebelumnya, yaitu bahwa di saat hari libur ternyata rute ini sangat ramai dan arus lalulintasnya padat. Akibatnya kendaraan hanya dapat berjalan merayap ketika tiba di Cherokee. Kami jadi kehilangan cukup banyak waktu untuk melewati kota terakhir sebelum saya meninggalkan negara bagian North Carolina yang mempunyai nama julukan sebagai “Tar Heel State” dengan ibukotanya Raleigh.

Daripada sekedar mengikuti arus lalulintas yang merayap perlahan, kami lalu memutuskan untuk berhenti di kota ini. Turut mengambil bagian di tengah keramaian. Sampai di pertigaan jalan yang akan membelok menuju pegunungan Great Smoky, di sisi utaranya ada sungai yang tidak terlalu lebar tapi jernih airnya.

Di tengah suhu udara siang musim panas yang cukup menyengat, sungai ini dimanfaatkan oleh banyak wisatawan untuk ciblon (mandi dan berendam di sungai) beramai-ramai. Karena lokasinya yang tepat di pinggir jalan, maka tentunya ini menjadi bagian tontonan tersendiri. Kejadian yang sebenarnya biasa saja, tapi menjadi tidak biasa karena adanya di tengah keramaian.

Salah satu tempat yang terkenal di area Reservasi Indian Cherokee seluas lebih 22.000 ha ini adalah Museum Indian Cherokee dan Perkampungan Indian Oconaluftee. Di perkampungan Indian ini direkonstruksi kehidupan masyarakat Cherokee tahun 1750-an. Selama berabad-abad, wilayah reservasi ini ternyata telah menjadi wilayah hunian suku Indian Cherokee yang saat ini paling tidak masih ada sekitar 11.000 warganya.

Kini umumnya mereka hidup dari hasil industri pariwisata. Tampak sekali kalau kita menyusuri di sepanjang jalan dan pertokoan, mereka suku Indian yang berkulit kemerah-merahan ini berseliweran, berdagang cendera mata, beraksi dengan pakaian tradisionalnya dan aktifitas-aktifitas seni lainnya. 

***

Layaknya rute jalan di daerah pegunungan, tentu banyak berupa kelokan, tanjakan dan turunan di tengah areal hutan. Namun yang menjadikan rute jalan ini enak dilewati adalah karena pepohonan yang tumbuh di kiri-kanan di beberapa penggal jalan, batang dan ranting di bagian atasnya menyatu. Membuat penggal jalan ini seperti sebuah lorong yang ditutup oleh atap warna hijau. Cahaya matahari pun menerobos di antara celah-celah batang dan dedaunan.

Saat kami tiba di bagian puncak pegunungan, cuaca berubah menjadi mendung dan hujan kecil mengguyur hingga saat kami menuruni pegunungan. Rute jalan dua lajur dua arah ini tampaknya memang menjadi pilihan para wisatawan yang ingin menikmati alam pegunungan. Terlihat dari cukup ramainya kendaraan yang datang dari kedua arah. Bukan saja karena di kaki pegunungan sebelah tenggara ada kota Cherokee, tetapi juga di kaki sebelah barat laut ada beberapa kota wisata seperti Gatlinburg, McCookville, Pigeon Forge, Dollywood dan Pine Grove.

Kota-kota di sisi barat laut pegunungan Great Smoky ini berada di wilayah negara bagian Tennessee yang mempunyai nama julukan “Volunteer State” dengan ibukotanya di Nashville. Tennessee, siang itu menjadi negara bagian ketujuh yang saya lintasi setelah pagi harinya melintasi South Carolina dan North Carolina.

Melewati kota-kota ini membuat kami semakin ketinggalan jarak dan waktu tempuh, karena di beberapa kota kecil yang sangat ramai wisatawan ini lagi-lagi kami mesti berjalan merayap. Tak terhindarkan, selain karena melewati rute ini memang sudah kami rencanakan sebelumnya, tetapi juga karena saya tidak melihat ada rute alternatif di sekitarnya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(36).    Tengah Hari Musim Panas Di Columbia

Hari Kamis, 13 Juli 2000, sekitar jam 10:00 pagi kami sudah meninggalkan kamar hotel di Oskaloosa. Dalam cuaca pagi yang cerah segera saya melaju ke arah selatan, masuk ke dalam kota dan lalu meninggalkan kota Oskaloosa. Rencana perjalanan hari itu memang agak santai untuk menuju kota Columbia di wilayah negara bagian Missouri. Jarak yang mesti saya tempuh hanya sekitar 200 mil (320 km). Dengan tetap mengikuti jalan Hwy 63, saya perkirakan dalam 3 jam lebih sedikit saya akan sudah memasuki kota Columbia.

Sekitar satu jam lepas dari kota Oskaloosa saya memasuki wilayah negara bagian Missouri yang mempunyai nama julukan sebagai “Show Me State” dengan ibukotanya di Jefferson City. Kota terbesar di Missouri adalah Kansas City yang berada tepat diperbatasan dengan negara bagian Kansas di sebelah barat Missouri. Missouri adalah negara bagian ke-29 yang kami kunjungi hingga perjalanan di hari ketigabelas ini.

Akhirnya pada sekitar jam 1:30 siang saya tiba kota Columbia. Kota Columbia ini terletak di perlintasan antara jalan Hwy 63 yang membujur utara-selatan dengan jalan bebas hambatan I-70 yang melintang timur-barat kira-kira di pertengahan antara kota Kansas City di sebelah barat dan St. Louis di sebelah timur.

Tujuan saya setiba di Columbia ini adalah mengunjungi rumah seorang rekan yang tinggal di Columbia, Mas Janggam Adityawarma yang saat ini sedang menyelesaikan studinya di University of Missouri – Columbia bersama keluarganya. Namun karena saya tidak memiliki peta lengkap kota Columbia, saya memutuskan untuk berhenti di tempat strategis di tengah kota yang mudah saya ketahui posisinya. Selanjutnya saya menilpun rekan saya itu agar dipandu untuk menuju ke alamat rumahnya. 

Cuaca siang hari di kota Columbia di musim panas kali ini terasa sangat panas. Saya lupa mencatat berapa temperatur udara siang itu, namun saya yakin pasti lebih panas daripada siang-siang sebelumnya sebelum saya tiba di Columbia. Terik matahari sepertinya terbagi rata ke seluruh permukaan bumi, sehingga saya agak kesulitan mencari tempat pemberhentian yang enak dan teduh di tengah kota Columbia. Bukan karena tidak ada pepohonan rindang, melainkan sebagai pendatang baru saya belum familiar dengan kota ini.

Maka tempat yang saya anggap paling tepat adalah di sudut perempatan jalan besar di mana terdapat warung Burger King, sebuah jaringan waralaba yang cukup terkenal. Meskipun toh tidak juga saya menemukan tempat teduh di situ.

Setelah berhasil menghubungi rekan saya, selanjutnya saya diberi petunjuk untuk berjalan ke arah mana dan belok di persimpangan ke berapa. Dalam 15 menit akhirnya saya sampai ke alamat yang dimaksud. Maka jadilah siang hari itu kami bersilaturrahmi sambil beristirahat di rumah rekan saya di Columbia. Anak-anak pun suka karena di sana ketemu dengan teman barunya.

***

Agak berbeda dengan julukan negara-negara bagian lain di Amerika, julukan sebagai “Show Me State” bagi Missouri kedengaran agak tidak biasa. Tak seorangpun dapat menunjukkan secara persisnya asal-usul pemberian nama julukan ini. Salah satu dari kisah yang menjadi latar belakang nama julukan ini adalah berkaitan dengan penggalan kata dari ungkapan seorang anggota Congress bernama Willard Duncan Vandiver yang kemudian menjadi populer.

Penggalan ungkapan yang diucapkan oleh Vandiver itu adalah : “I’m from Missouri and you’ve got to show me“. Rupanya penggal kata “show me” ini cepat menarik perhatian masyarakat pada waktu itu yang dipandang menggambarkan kekerasan hati seorang Missourian (sebutan untuk orang Missouri).

Konteks kejadian semacam ini barangkali hampir sama dengan apa yang juga pernah akrab di telinga orang Indonesia. Untuk sekedar mengambil contoh : Adam Malik yang selalu yakin mengatakan : “Itu dapat diatur”, atau Harmoko yang gemar berlindung di balik kata-kata : “Menurut petunjuk Bapak Presiden”,  atau Gus Dur yang selalu ingin mengurusi setiap perkara tapi suka bilang : “Begitu saja kok repot”, atau pelawak Gepeng yang dengan enteng mengatakan : “Untung ada saya”. Maka begitulah kira-kira kemudian ungkapan Vandiver memberi ilham bagi pemberian nama julukan negara bagian Missouri.  

Kota Columbia termasuk satu diantara kota-kota di Amerika yang layak disebut sebagai kota pelajar. Di kota yang berpopulasi sekitar 70.000 jiwa dan terletak pada elevasi 225 m di atas permukaan laut ini terdapat perguruan tinggi tertua di wilayah sebelah barat sungai Mississippi, yaitu University of Missouri-Columbia yang berdiri tahun 1839. Sekolah jurnalistiknya yang berdiri tahun 1908 termasuk yang pertama di dunia. Selain itu juga ada Columbia College dan Stephens College.

Saat hari menjelang sore, kami bersama keluarga Mas Janggam menuju ke pusat kota. Sekedar ingin jalan-jalan menikmati downtown kota Columbia. Namun waktu yang sudah menunjukkan jam 4:00 sore, ternyata di luar cuaca masih cukup terik menyengat. Matahari masih menebar cahaya panasnya. Belum lama jalan-jalan kesana-kemari, anak-anak sudah mengajak untuk masuk ke restoran yang jualan es.

Ya, maklum. Udara siang menjelang sore yang memang sangat panas menyebabkan tenggorokan cepat terasa haus. Kami semua akhirnya ya hanya duduk-duduk santai cukup lama di warung es. Setelah itu dilanjutkan lagi dengan jalan-jalan di dekat-dekat situ saja. Di seputaran jalan di salah satu sudut tua pusat kota Columbia.

Saat malam hari di Columbia, kami memilih untuk tidak ngeluyur kemana-mana. Kami pergunakan waktu untuk bercengkerama di rumah keluarga Mas Janggam, seorang teman yang kami kenal selagi kami tinggal di Amerika dan baru sekali itu pula kami sempat ketemu. Hitung-hitung malam itu untuk memberi waktu istirahat yang cukup bagi kami semua sebelum esok harinya melanjutkan perjalanan panjang menuju ke New Orleans.    

***

Hari Jum’at, 14 Juli 2000, saya merencanakan untuk meninggalkan kota Columbia siang hari seusai sholat Jum’at. Oleh karena itu, waktu pagi harinya kami manfaatkan untuk mengunjungi obyek wisata yang ada di sekitar kota Columbia. Tempat yang kami pilih pagi itu adalah Rock Bridge Memorial State Park yang berlokasi tidak jauh di pinggir selatan kota Columbia. Suasana taman yang berada di daerah perbukitan memang memberi suasana teduh dan segar di tengah cuaca siang yang terik.

Di Taman Negara yang luas seluruhnya mencapai 906 ha ini terdapat banyak jalan setapak yang dapat dijelajahi terutama oleh mereka yang berhobi melakukan perjalanan lintas alam. Ada lebih 15 mil (24 km) jalan setapak yang memang disediakan untuk olah raga lintas alam melalui jalan mendaki dan menuruni pegunungan.

Di lokasi ini pula terdapat gua Devils’ Icebox yang sebagiannya terbuka untuk dijelajahi dan kondisinya cukup aman, tentu perlu perlengkapan khusus untuk melakukan penjelajahan gua ini. Lorong-lorong bawah tanah hasil proses geologi ini sudah pernah dieksplorasi dan dipetakan oleh para speleolog (ahli tentang gua), meskipun masih banyak bagian-bagian yang belum terjamah.

Untuk sekedar santai bersama keluarga, pilihan paling baik adalah menyusuri rute jalan setapak yang disebut Devil’s Icebox. Rute jalan yang panjang seluruhnya hanya sekitar 0,5 mil (0,8 km) ini melalui jalan kayu yang memang dibangun untuk memberi kemudahan bagi para pengunjung termasuk anak-anak. Jalan ini menuju ke mulut gua Devil’s Icebox. Untuk sekedar masuk beberapa meter dari mulut gua juga cukup aman meskipun hanya berbekal lampu senter biasa. Itulah yang kami lakukan bersama anak-anak. Kondisi di dalam gua yang lembab dan sejuk terasa seperti memberi kesegaran bagi cuaca panas menyengat udara di luarnya.

Untuk sampai ke mulut gua ini, rute jalannya akan melewati terowongan pendek dan pada saat kembali dapat mengambil rute berbeda melalui bagian atas terowongan. Bagian atas terowongan ini merupakan lapisan batuan di atap terowongan yang membentuk semacam jembatan. Karena itu jalan di atas terowongan ini yang disebut dengan Jembatan Batu (Rock Bridge). Di dalam terowongannya sendiri merupakan aliran sungai kecil yang di sebelahnya terdapat jalan setapak.

Secara umum sebenarnya tidak ada yang istimewa dari profil alam Rock Bridge Park ini. Kalau pun tempat ini menarik untuk dikunjungi, itu karena tempat yang sederhana ini dikelola dengan sangat baik, lengkap dengan fasilitas yang memberi banyak kemudahan dan kenyamanan bagi para pengunjung termasuk segi keamanan, kebersihan dan ketersediaan informasi yang menjelaskan tentang apa dan bagaimana tempat ini. Untuk mengunjungi tempat ini juga tidak dipungut biaya.

Yang paling pokok bagi kami sebenarnya karena di tempat ini akan ditemukan suasana alam dan kesegaran berbeda setelah berada di bawah panasnya musim panas kota Columbia yang berlokasi di utaranya.

***

Akhirnya sekitar jam 2:30 siang, seusai sholat Jum’at di masjid Islamic Center of Central Missouri di Columbia, kami berpamitan dengan keluarga Mas Janggam untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju New Orleans. Ucapan terima kasih setulus-tulusnya kami sampaikan atas penerimaannya yang sangat baik, termasuk memberi tumpangan bagi kami sekeluarga untuk menginap semalam di apartemennya. Di bawah cuaca panas siang itu yang biasanya mencapai puncaknya pada sekitar pukul 1:00 hingga pukul 3:00, kami meninggalkan kota Columbia.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(37).    Sejenak Di Tepi Danau Ozark

Memulai perjalanan meninggalkan Columbia di hari Jum’at siang, 14 Juli 2000, sekitar jam 2:30, saya langsung menuju ke jalan Hwy 63 dan melaju ke arah selatan. Rencana semula, dari kota Columbia saya akan menuju ke kota Oklahoma City di negara bagian Oklahoma. Namun mengingat bahwa sudah menjelang sore hari saya baru memulai perjalanan, maka jarak yang dapat saya tempuh hari itu tentu tidak akan terlalu jauh. Setelah saya hitung-hitung, saya merencanakan untuk mencapai kota Tulsa juga di negara bagian Oklahoma. Jarak yang harus saya tempuh sekitar 372 mil (595 km).

Sekitar setengah jam mengikuti jalan Hwy 63, saya tiba di kota Jefferson City yang adalah ibukota negara bagian Missouri. Ibukota yang berpenduduk sekitar 35,500 jiwa dan berada di elevasi 169 m di atas permukaan laut ini saya lewati saja.

Dari Jefferson City saya berpindah ke jalan Hwy 54 yang menuju ke arah barat daya yang selanjutnya akan menuju ke kota Lake Ozark dan Osage Beach yang letaknya saling berdekatan. Sekitar setengah jam kemudian, mengikuti petunjuk arah yang keluar dari Hwy 54 menuju ke Bagnell Dam, akhirnya saya tiba di Lake Ozark.

***

Kota Lake Ozark yang terletak di tepi danau Ozark adalah salah satu kota tujuan wisata yang cukup terkenal di Missouri. Oleh karena itu kota kecil yang hanya berpopulasi sekitar 700 jiwa ini tampak selalu ramai oleh para wisatawan. Selain mereka yang datang untuk sekedar berenang atau memancing, juga tersedia sarana untuk berperahu atau berski air, juga Mall serta sarana perbelanjaan lainnya.

Danau Ozark adalah sebuah danau yang terbentuk sebagai akibat dari pembangunan bendungan Bagnell. Danau buatan yang berbentuk tidak beraturan, berjari-jemari dan menyerupai liong (ular naga Cina) ini juga dijuluki dengan “Big Dragon”. Panjang total jari-jemari danaunya mencapai lebih 200 km dengan total garis pantainya mencapai 1,840 km, membentuk permukaan danau seluas lebih dari 24,500 ha.

Bendungan Bagnell sendiri dibangun dengan membendung sungai Osage, karena itu pada salah satu sisi danau di bagian tenggara dari Danau Ozark ini juga terkenal dengan pantainya yang bernama Osage Beach. Pantai dan bagian tenggara danau ini termasuk ke dalam kawasan taman negara yang disebut dengan Lake of the Ozark State Park yang luas seluruhnya mencapai 6,880 ha yang mencakup juga kawasan hutan di wilayah perbukitan di sekitarnya. 

Danau Bagnell yang konstruksinya mempunyai tinggi sekitar 52 m dan panjangnya sekitar 460 m, pembangunannya memerlukan waktu cukup lama. Pertama kali dibangun tahun 1924 yang konsep awalnya sudah dimulai sejak tahun 1912 oleh seorang bernama Ralph W. Street. Namun kemudian mengalami kesulitan pembiayaan sehingga terhenti pada tahun 1926. Baru akhirnya pada tahun 1931 pembangunan bendungan ini berhasil diselesaikan. 

Di Danau Ozark inilah kami tidak melewatkan kesempatan untuk sejenak berhenti dan duduk-duduk beristirahat di pinggir jalan di tepian danau. Menikmati pemandangan alam danau dan perbukitan hijau dengan hembusan angin yang memberi kesegaran di tengah udara siang yang masih panas. Tidak lupa kami juga memanfaatkan kesempatan untuk berjalan-jalan keluar-masuk pertokoan. Beberapa toko tradisional yang sempat kami masuki yang ada di deretan pinggir jalan ternyata dimiliki oleh orang-orang berdarah Indian. Sedangkan kompleks perbelanjaan lainnya yang lebih modern berada di bangunan Mall.

Danau, sungai, bendungan, hutan dan perbukitan, adalah paduan tempat tujuan wisata yang mudah dan banyak dijumpai dimana-mana. Namun meskipun Danau Ozark adalah tempat tujuan wisata yang sebenarnya biasa-biasa saja, ternyata dapat menarik banyak pengunjung.

Keindahan alam yang kurang-lebihnya sama pernah saya jumpai di Indonesia, antara lain di lokasi Waduk Karangkates dan Selorejo (Jatim), Waduk Sempor (Jateng) dan Waduk Jatiluhur (Jabar). Hanya saja, meskipun salah satu manfaat dibangunnya waduk adalah sebagai tempat rekreasi, namun sebenarnya masih miskin dengan kandungan rekreatifnya. Hanya mereka yang kreatif saja yang akan dapat merasakan unsur rekreatifnya.

Terasa tidak mudah, di lokasi waduk-waduk itu untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan waduk, bendungan, areal sekitarnya, sejarahnya, dsb. kecuali bagi mereka yang berkunjung dalam rangka study tour yang tentunya sudah ada korespondensi sebelumnya. Namun bagi pengunjung umum, ya paling-paling hanya sekedar datang, menikmati pemandangan alam yang berbeda sambil kepanasan, lalu pulang. Masih untung kalau sempat berfoto-foto.

Padahal para pengunjung itu biasanya sudah siap untuk membelanjakan uangnya. Minimal untuk membeli makan, minum, sekedar oleh-oleh atau cendera mata yang khas. Kalaupun ditarik bayaran untuk menikmati sekedar fasilitas rekreasi yang disediakan, rasanya juga wajar.

Dari beberapa bendungan besar di Jawa yang pernah saya kunjungi, hanya Waduk Selorejo di Jatim yang masih dapat saya ingat dengan lebih baik. Sedangkan waduk-waduk lainnya kurang meninggalkan kesan di ingatan saya, barangkali memang “kurang” (eufemisme untuk “tidak”) menarik. Tapi itu pengalaman sekian tahun yang lalu. Kini, Waduk Kedungombo barangkali malah lebih menarik, bukan waduknya melainkan karena tak kunjung usai dirundung masalah.

Sangat saya pahami bahwa memang tidak mudah “menjual” obyek wisata waduk dengan memberi sedikit sentuhan ber-nilai tambah. Bagi kita masyarakat negara berkembang, hal-hal semacam ini seringkali dilematis. Di satu pihak, investor mikir-mikir apa kira-kira uangnya akan kembali kalau ditanamkan di sana. Di lain pihak, masyarakat mengatakan : “Lha wong enggak ada apa-apanya kok disuruh rekreasi ke sana”.

Barangkali pemerintah perlu menjembatani, minimal memberi kemudahan yang layak untuk melakukan studi kelayakan bagi calon penanam modal. Tapi, lagi-lagi….. (menirukan celetukan coro Londo yang sedang digandrungi anak-anak saya, yang saking seringnya diucapkan jadi suka membikin kesal orang tuanya) : “Who cares …..?”.

***

Sebagai negara bagian yang hampir semua wilayahnya dapat dikatakan berupa dataran rendah yang rata nyaris tidak bergunung-gunung, maka kawasan Lake Ozark, Osage Beach dan Bagnell Dam menjadi kawasan yang menarik untuk menjadi pilihan kunjungan wisata di Missouri. Selebihnya, negara bagian Missouri ini ternyata juga menyimpan nama-nama tenar yang menjadi kebanggaan masyarakat Missourian. Nama-nama seperti Mark Twain, Daniel Boone, Laura Ingalls, adalah sebagian di antaranya yang pernah juga populer hingga ke Indonesia.

Mark Twain adalah nama samaran yang disandang oleh penulis ceritera yang bernafas filosofis dan berbau humor, bernama Samuel Clemens. Mark Twain alias Samuel Clemens tinggal di kota Hannibal yang terletak di ujung timur laut negara bagian Missouri.

Kota Hannibal banyak digunakan sebagai latar belakang bagi kejadian-kejadian yang diabadikan dalam karangannya yang sangat populer, yaitu “The Adventure of Huckleberry Finn” dan “The Adventures of Tom Sawyer”. Dari kedua ceritera itulah lalu muncul tokoh fiktif terkenal, Tom Sayer dan Huck Finn yang kini patungnya dapat dijumpai di kota Hannibal, termasuk rumah dimana Mark Twain pernah menuliskan karyanya.

Nama Mark Twain, kini juga diabadikan menjadi nama taman hutan nasional di Missouri, yaitu Mark Twain National Forest. Hutan Mark Twain yang luas keseluruhannya mencapai lebih 596,000 ha terletak menyebar di beberapa lokasi di bagian selatan Missouri. Paling tidak, mencakup sembilan kawasan taman hutan nasional yang lokasinya saling terpisah, pada elevasi bervariasi antara 70 m hingga 540 m di atas permukaan laut.

Nama lainnya yang pernah akrab di telinga orang Indonesia adalah Daniel Boone yang filmnya pernah diputar di layar hitam-putihnya TVRI pada sekitar sebelum tahun 70-an. Atau mungkin juga terpaksa dikenal karena waktu itu memang belum ada pilihan film India, atau serial silat Mandarin, atau Maria Marcedes, atau drama nasional yang sering “menggemaskan” di saluran-saluran swasta.

Kisah Daniel Boone adalah sebuah legenda tentang seorang petualang dan penjelajah yang lahir pada tanggal 2 Nopember 1734 di kota Reading, Pennsylvania. Di masa kecil dan masa mudanya Daniel bersama keluarganya hidup berpindah-pindah tempat. Sebagai penjelajah, ia juga seorang pemburu yang handal. Wilayah-wilayah yang pernah ditinggalinya bersama keluarganya dan dijelajahinya antara lain North Carolina, Kentucky, Ohio, West Virginia, hingga akhirnya ke Missouri pada tahun 1799 karena terjerat hutang yang dibawanya dari Kentucky.

Di kota Defiance, Missouri, ia menerima hibah tanah dan menjadi pelayan masyarakat sebagai hakim. Daniel, sang petualang dan penjelajah ini akhirnya meninggal pada tahun 1820 di kota Defiance dalam usia 85 tahun, beberapa tahun setelah ia dipaksa menjual tanahnya guna menyelesaikan hutangnya di Kentucky. Rumah Daniel Boone kini masih terurus dengan baik dan dapat dijumpai di kota Defiance.

***

Kami memang tidak sempat mengunjungi rumah Mark Twain di Hannibal atau Daniel Boone di Defiance karena letaknya terlalu jauh menyimpang ke ujung timur dari rute yang kami lalui. Namun Selagi melintasi wilayah Missouri, saya ingin mengenang kembali nama-nama yang dulu pernah saya kenal di Indonesia dan ternyata kini saya temukan ada di Missouri.

Ketika hendak meninggalkan Danau Ozark dan akan kembali masuk ke jalan Hwy 54, saya melihat di sebelah selatan danau ada obyek wisata gua Ozarks. Tetapi karena sore itu kami tidak ingin kehilangan waktu terlalu banyak, maka niat mengunjungi gua Ozark terpaksa dibatalkan. Sekitar satu jam kami beristirahat di tepi Danau Ozark, setelah itu perjalanan pun kami lanjutkan dengan mengikuti jalan Hwy 54 yang menuju ke arah barat daya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar