Posts Tagged ‘colorado’

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (27)

2 November 2008

Golden, 3 Desember 2000 – 20:30 MST (4 Desember 2000 – 10:30 WIB)

Sekitar jam 05:15 tadi sore saya tiba di kota Golden, Colorado, setelah menempuh perjalanan udara lebih 3,5 jam tidak termasuk transit di Houston, Texas, dan naik shuttle bus dari Denver ke Golden. Seperti biasa, begitu masuk kamar langsung nggeblak (merebahkan diri) di tempat tidur. Bukan capek, melainkan lapar. Untungnya waktu puasa di Golden ini lebih “menguntungkan” lagi dibanding di New Orleans, karena jam 4:30 sore tadi sudah masuk buka puasa.

Langsung buka saluran CNN, ingin tahu apa yang terjadi di akhir pekan ini dengan proses peradilan pemilu. Hingga malam ini, CNN maupun saluran-saluran lain seperti Fox News Channel dan MSNBC ternyata masih menyiarkan siaran langsung dari persidangan di Florida. Melalui persidangan maraton bahkan di akhir pekan, kedua belah pihak Bush dan Gore, saling menyampaikan argumen akhir berkaitan dengan penghitungan ulang kartu suara di Florida.

***

Rangkaian agenda pemilihan presiden Amerika bagi saya sudah kurang menarik lagi, sudah kehilangan greget dan kadar emosionalnya. Ibarat pementasan drama, maka ini adalah antiklimaks. Tinggal menunggu bagaimana keputusan akhirnya saja setelah melewati periode bunga-bunga pentas drama pemilu yang berlarut-larut. Di atas kertas, sudah disahkan oleh pemerintah Florida bahwa Bush adalah pemenangnya dan berhak mengantongi 25 jatah suara (elektoral vote) Florida. Oleh karena itu secara nasional maka Bush telah mengumpulkan jumlah jatah suara melebihi angka 270 untuk memenangi pacuan pemilihan presiden Amerika.

Akibat proses yang berlarut-larut melalui persidangan demi persidangan, maka kalaupun akhirnya nanti Gore dinyatakan menang atas Bush, paling-paling akan membuat kubunya Bush kecewa. Sebaliknya kalau ternyata Bush tetap yang menang, ya sudah memang begitulah kejadiannya.

Meskipun sudah kurang menarik untuk dinikmati, saya masih akan mencoba untuk meng-update apa yang akan terjadi dengan pemilihan presiden Amerika ini dalam beberapa hari ke depan.

(Tapi, wadhuh……., ada masalah dengan dial-up connection laptop saya. Ya…, terpaksa tidak dapat di-posting tepat waktu. Mohon maaf).-

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

5 Februari 2008

Pengantar :

Tanggal 21 – 30 April 2000 yll, saya bersama keluarga melakukan perjalanan liburan dengan travelling ke daerah Colorado dan sekitarnya. Selama sembilan hari, lebih 3.000 mil (sekitar 4.800 km) kami jalani, 8 negara bagian (states) kami lewati : Utah, Nevada, California, Arizona, New Mexico, Colorado, Nebraska dan Wyoming. Catatan perjalanan ini saya maksudkan hanya sekedar untuk berbagi cerita ringan, siapa tahu bisa menjadi selingan yang menghibur.-

(1).     Mengawali Perjalanan Dari Salt Lake City
(2).     Salah Jalan Di Salt Lake City
(3).     Menyusuri Lembah Api
(4).     Semalam Di Las Vegas
(5).     Mampir Makan Nasi Di Ujung Timur California
(6).     Di Pinggir Selatan Grand Canyon
(7).     Melihat Batu Gosong
(8).     Bermalam Di Durango
(9).     Melewati Empat Puncak Bersalju
(10).   Di Breckenridge Kami Berski
(11).   Ketemu Penggemar Nagasasra Di Golden
(12).   Sepanjang Jalan 16 Denver
(13).   Numpang Lewat Di Nebraska
(14).   Marga Satwa Saurus Itu Memang Pernah Ada

Sehari Di Selatannya Denver

5 Februari 2008

Pengantar :

Sekedar memanfaatkan waktu luang sehari seusai mengikuti kursus “Mine Evaluation” di Golden, saya melakukan perjalanan singkat ke kawasan di sebelah selatannya kota Denver, Colorado, sebelum kembali ke New Orleans. Hari itu, tanggal 9 Desember 2000 yang bertepatan dengan bulan puasa Ramadhan 1421 H dan pertengahan musim dingin. Sekedar berbagi cerita.-

(1).   Menuju Ke Jembatan Gantung Royal Gorge
(2).   Turun Ke Dasar Ngarai
(3).   Purnama Di Taman Dewata 

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(1).   Mengawali Perjalanan Dari Salt Lake City

Mengawali perjalanan dari kota Salt Lake City (Utah) sebenarnya bukan rencana awal saya. Sejak sebulan sebelumnya saya merencanakan untuk memilih kota Denver (Colorado) untuk mengawali perjalanan travelling dengan kendaraan darat bersama keluarga. Karena tujuan utama liburan kali ini adalah mengajak anak-anak melihat salju dan bermain ski, serta mengunjungi Grand Canyon of Colorado. Sambil lalu kami akan mampir-mampir di berbagai obyek wisata yang dilewati.

Namun setelah mencari-cari dan memilih-milih penerbangan dari New Orleans ke Denver, ternyata harga tiketnya termasuk mahal jika dibandingkan dengan ke kota-kota lain untuk jarak terbang yang relatif sama. Semakin mendekati waktu keberangkatan, harga tiket ke Denver pergi-pulang yang paling murah (meskipun tetap tergolong mahal) semakin habis.

Nampaknya kota Denver termasuk jalur basah bagi dunia penerbangan. Pelacakan tiket ini saya lakukan melalui jasa layanan reservasi on-line melalui internet. Di sana saya bisa mengatur rencana perjalanan lewat kota mana, kapan, pesawat apa, mau harga yang berapa dan duduk di sebelah mana. Setelah itu tinggal klik, tiket akan dikirim dan tagihan masuk ke kartu kredit.

Akhirnya saya mengalihkan pencarian tiket murah dengan melihat ke beberapa kota tujuan di sekitaran Denver, diantaranya Fort Collins dan Colorado Spring (Colorado), Las Vegas (Nevada), Albuquerque dan Santa Fe (New Mexico), Cheyenne (Wyoming) dan Salt Lake City (Utah). Ternyata juga tidak mudah, karena saya menentukan kriteria dalam pencarian tiket ini, yaitu tanggal berangkat dan kembali tidak bisa berubah (karena terkait dengan hari libur sekolah dan cuti kantor), harga tiket harus yang paling murah, dan tempat duduk di pesawat berderet untuk kami sekeluarga berempat (di Amerika adalah biasa memesan tiket pesawat sekalian nomor tempat duduknya).

Setelah dipilih-pilih dan dibanding-bandingkan harganya serta disesuai-sesuaikan dengan rencana perjalanannya, akhirnya saya peroleh tiket penerbangan ke Salt Lake City, menggunakan pesawat Delta Airlines. Tiket murah ini membawa resiko pada jadwal penerbangan yang kurang enak, yaitu tiba di Salt Lake City jam 21:30 malam untuk berangkatnya dan akan tiba kembali di New Orleans jam 1:15 dini hari untuk pulangnya sepuluh hari kemudian. Apa boleh buat, itulah yang terbaik buat liburan yang berbanding lurus dengan isi saku.

Setelah reservasi penerbangan OK, selanjutnya saya melacak hotel-hotel yang umumnya menawarkan harga khusus via internet. Untuk itu, tentunya saya harus punya rencana perjalanan yang pasti dan di kota mana saja akan menginap. Memang akhirnya saya berhasil memperoleh hotel-hotel dengan harga yang relatif murah, setelah membanding-bandingkan antara lokasi, harga dan fasilitasnya. Namun rupanya saya kelewat percaya dengan iklan penawaran hotel yang ada di internet.

Belakangan saya baru tahu bahwa sebenarnya saya masih bisa memperoleh harga yang lebih baik (lebih murah). Seharusnya setelah mengecek tarif dan ketersediaan kamar hotel via internet, saya mestinya melakukan pengecekan ulang dengan menghubungi langsung pihak hotel melalui tilpun. Seringkali ada perbedaan harga, bahkan harga bisa berubah-ubah antara pengecekan via tilpun pada saat yang berbeda-beda. Dengan pengecekan ulang, akan bisa diketahui pula apakah pada saat itu (masih) ada penawaran harga yang lebih khusus, yang biasanya tidak muncul di internet. Yang lebih penting lagi, masih ada peluang untuk negosiasi atau bargaining (tawar-menawar).

Rupanya ada kebiasaan yang sama seperti di Indonesia soal tawar-menawar ini. Pertama kali kalau kita tilpun hotel dan menanyakan harga, maka akan dijawab dengan menyebutkan tarif harga standard. Baru setelah kita menawar dan menanyakan tentang harga khusus yang lebih murah, maka seringkali akan diberikan. Kesannya menjadi seolah-olah pihak hotel telah berbaik hati memberikan harga murah. Ya, sama persis dengan traditional marketing ala kampung di desa saya, di Jawa sana. Sebenarnya tidak dinaikkan, tapi juga tidak memberikan harga murah.

Sayangnya, tips dan trik pemesanan hotel gaya Amerika ini baru saya pahami setelah membaca majalah “Reader’s Digest”, ketika saya sudah kembali dari perjalanan liburan. Rugi sih tidak, cuma mestinya bisa lebih untung. Meskipun kejujuran (keluguan) saya kali ini belum membawa keberuntungan, tapi yang pasti saya menikmati imbalan jasa yang layak atas apa yang telah saya bayarkan. – (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(8).   Bermalam Di Durango

Selasa, 25 April 2000, jam 8:30 pagi saya check out dari hotel dan langsung melaju ke arah timur melalui jalan bebas hambatan Interstate-40. Sekitar satu jam perjalanan saya keluar dari Interstate-40 dan membelok ke selatan sejauh 10 km. Di sana ada Meteor Crater, yaitu sebuah lokasi di tengah dataran luas berbatu dan bersemak di mana pernah jatuh batu meteor yang lalu meninggalkan sebentuk kawah.  

Menurut para ahli astrogeologi, diperkirakan sekitar 50.000 tahun yang lalu ada sebuah meteorit yang beratnya ratusan ribu ton jatuh ke dataran itu. Jatuhnya meteorit ini meninggalkan kawah sedalam 213 m. Saat ini kedalaman kawah ini tinggal sekitar 168 m dengan garis tengah hampir 1,6 km dan keliling lingkarannya sekitar 3,8 km. Perubahan ini tentu akibat proses alam.

Di gedung utama, selain disajikan berbagai informasi tentang peristiwa alam berkaitan dengan benda-benda ruang angkasa, alat peraga termasuk simulasi komputer, pemutaran film, museum astrogeologi, dsb. juga bisa dijumpai seonggok contoh batu meteor seberat lebih 660 kg yang setelah penemuannya lalu diberi nama diablo irons

Melihat permukaan kawah yang diperkirakan mirip dengan permukaan yang ada di bulan, NASA pernah mengadakan pelatihan untuk astronot Apollo di tempat ini. Bekas-bekas perlengkapan training itu masih ada hingga kini, termasuk kapsul ruang angkasa Apollo. Berbagai hal berkaitan dengan misi Apollo juga dipamerkan dengan sangat lengkap.

***

Dari Meteor Crater saya melanjutkan perjalanan menuju timur. Satu jam kemudian, saya keluar lagi dari Interstate-40 menuju ke arah Petrified Forest National Park. Ini adalah hutan taman nasional yang tidak satupun dijumpai ada pepohonan di situ. Ya, karena yang dimaksud dengan hutan di situ adalah hutan batu atau lebih tepatnya bekas hutan yang pepohonannya sudah membatu (petrified).

Tahun 1962 daerah ini dinyatakan sebagai daerah yang dilindungi, karena di kawasan yang membentang sepanjang lebih 75 km ini terdapat reruntuhan pepohonan yang sudah membatu yang beraneka warna dan gurun pasir yang disebut Painted Desert, serta lukisan batu peninggalan suku-suku Indian. Antara pepohonan batu dan gurun pada dasarnya adalah berasal dari proses yang sama, yang menurut studi paleontologi keduanya terbentuk pada jaman Triassic sekitar 225 juta tahun yang lalu.

Menyusuri rute petrified forest ini sepintas nampak seperti banyak berserakan batang-batang pohon. Baru setelah didekati akan tampak jelas bahwa sebenarnya itu adalah batang-batang pohon yang telah membatu yang mengandung mineral yang beraneka warna (tergantung dari warna mineral yang membentuknya).

Jangan coba-coba ngantongin sepotong batu dari sini. Jika tertangkap, minimal kena denda US$ 300. Itu sebabnya secuil batu petrified yang dijual di toko cendera mata bisa berharga US$ 25 hingga ratusan dollar tergantung dari warna mineral yang dikandungnya. Indah dan artistik memang, tentu bagi mereka yang sedikit paham tentang latar belakang ilmu geologi.

***

Dari dua tempat yang saya kunjungi itu, lagi-lagi saya merasakan bahwa bukan sekedar kawah dan batu yang saya lihat, melainkan banyak sekali informasi baru dan ilmu pengetahuan yang saya peroleh. Sarana yang disediakan memungkinkan bagi siapa saja (termasuk anak-anak) untuk menjadi dipermudah memahami berbagai peristiwa geologis yang sayapun dulu untuk memahaminya susah setengah mati.

Rasanya tidak sayang menyisihkan waktu dan uang untuk “membeli” obyek kunjungan yang sudah diberi nilai tambah ini. Padahal di Indonesia saya juga pernah menjumpai kawah dan saya juga pernah menjumpai tanaman membatu yang saya baru tahu kalau istilahnya petrified. Tapi ya seperti saya kemukakan sebelumnya, setelah mengunjungi dan melihat, ya sudah itu saja.

***

Sekitar jam 1:30 siang, saya sudah berada kembali di Interstate-40 dan melanjutkan perjalanan menuju ke perbatasan negara bagian New Mexico. Menurut rencana semula, saya akan terus menuju ke kota Albuquerque dan kemudian bermalam di kota Santa Fe (ibukota New Mexico).

Tapi tadi malam ketika membuka-buka peta perjalanan, saya berubah pikiran. Jika langsung menuju Santa Fe melalui Interstate-40 untuk kemudian esoknya melanjutkan melalui Interstate-25 menuju ke Denver (ibukota Colorado), maka pemandangan di sepanjang perjalanan akan sangat monoton dan membosankan meskipun saya bisa melaju dengan kecepatan 80 mil/jam (sekitar 130 km/jam).  

Akhirnya lalu kami putuskan setiba di kota Gallup (New Mexico) akan membelok ke utara menuju arah Denver tetapi melalui rute tengah yang bergunung-gunung dan akan melalui beberapa kota kecil, dengan akibat saya hanya bisa melaju dengan kecepatan maksimum 55-65 mil/jam (sekitar 90-100km/jam). Perjalanan melalui kota-kota kecil ini kata seorang teman di Colorado, Mas Bob Adibrata, lebih bersuasana Amerika ketimbang lewat jalan mulus bebas hambatan yang hanya akan menjumpai mobil dan tuck-truck raksasa saja.

Maka siang itu, perjalanan dilanjutkan melalui kota-kota kecil di New Mexico yang pada umumnya mempunyai pemandangan alam yang kering mirip Arizona dengan di sana-sini dataran luas bebatuan dengan bukit-bukit menonjol berprofil “aneh” akibat proses erosi. Tonjolan-tonjolan bukit batupasir yang membentuk profil “aneh” ini cukup menarik dan banyak menghiasi sepanjang perjalanan di bagian utara negara bagian New Mexico. Menjelang sore saya sudah melintasi perbatasan dengan negara bagian Colorado. Tujuan saya adalah menuju kota Durango yang berada di sisi barat daya Colorado, sebelum naik ke punggungan barat pegunungan Rocky Mountain.

Sebenarnya sebelum sampai ke Durango saya ingin mampir ke Taman Nasional Mesa Verde, namun sayang waktunya sudah tidak mencukupi karena saya perkirakan perlu waktu sekitar 2 jam untuk mengunjungi tempat itu sedangkan hari sudah sore. Khawatir terlalu malam tiba di Durango, maka perjalanan saya lanjutkan saja, hingga sekitar jam 6:00 sore saya memasuki kota Durango. Tidak terlalu sulit untuk mendadak mencari hotel murah di kota kecil ini. 

Bagi saya Durango adalah sebuah kota kecil yang asri. Berada di ketinggian sekitar 1.981 m di atas permukaan air laut dan berpenduduk kurang dari 12.500 jiwa. Tidak terlalu padat untuk ukuran sebuah kota kecil di Amerika.

Udara sore itu cukup dingin dan menyegarkan setelah 4 hari perjalanan dalam cuaca yang panas. Di jalan utama Durango masih bisa dijumpai bangunan-bangunan lama yang sekarang dipakai untuk pertokoan, bekas masa kejayaan industri pertambangan ketika di Amerika sedang mengalami booming emas dan perak, di akhir abad 19. Di kota Durango inilah kami bermalam.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sehari Di Selatannya Denver

2 Februari 2008

(1).   Menuju Ke Jembatan Gantung Royal Gorge

Hari Sabtu, 9 Desember 2000, setelah tidur-tidur ayam sehabis makan sahur dan subuhan, sekitar jam 08:00 pagi saya baru menyat (bangkit) dari kasur empuknya sebuah hotel di kota Golden, Colorado. Kebetulan hari itu adalah hari ke-13 bulan Ramadhan 1421 H.

Kebiasaan seperti itu saya lakukan sejak enam hari sebelumnya. Cuma biasanya sebelum jam 08:00 saya sudah berangkat meninggalkann hotel menuju ke tempat kursus di kampus Colorado School of Mines (CSM) yang berjarak hanya 250 m dari hotel, atau kurang dari 10 menit jalan kaki. Saat itu adalah pertengahan musim dingin yang hawa udara paginya seringkali menyebabkan sulit menahan keinginan untuk menarik selimut lebih tinggi.

Kursus “Mine Evaluation” bersama Pak Frank dan John Stermole sudah selesai hari Jum’at kemarinnya, dan hari Sabtu adalah hari bebas saya sebelum hari Minggu besoknya kembali ke New Orleans yang berjarak sekitar empat jam penerbangan. Dalam mengisi hari bebas itu saya merencanakan untuk berjalan-jalan ke tempat-tempat di seputaran kota Denver dan Golden yang belum pernah saya kunjungi. Untuk itu saya telah merencanakan untuk memanfaatkan fasilitas perusahaan dengan memperpanjang sehari menginap di hotel dan menyewa mobil, atas biaya perusahaan.

KKN? Tidak juga. Melainkan sekedar mengambil keuntungan dari win-win situation. Lho, kok bisa?

Sejak sekitar tiga minggu sebelum saya berangkat dari New Orleans, saya sudah mengatur pemesanan pesawat dan hotel melalui agen perjalanan yang ada di kantor. Karena kursus dimulai hari Senin dan selesai Jum’at, maka jadwal yang saya buat, biar tidak membuang waktu, adalah berangkat hari Minggu dan kembali hari Sabtu. Rupanya oleh pihak agen perjalanan, saya dihadapkan dengan pilihan itinerary (rencana perjalanan) yang benar-benar tidak mudah untuk saya pahami, tetapi tidak dapat saya hindari.

Pilihannya adalah : kalau saya berangkat menuju Denver hari Minggu dan kembali ke New Orleans hari Sabtu, maka harga tiket pesawat pulang pergi sekitar US$1,600. Tetapi kalau saya mau berangkat hari Minggu dan kembalinya diperpanjang sehari menjadi hari Minggu depannya, maka harga tiket pesawat pulang-pergi hanya sekitar US$560. Ada perbedaan harga sekitar US$1,040, padahal dengan pesawat yang sama. Dihadapkan dengan pilihan rencana perjalanan yang membuat saya tidak mudeng (paham) ini, saya tidak dapat langsung memutuskan.

Saya inginnya pulang hari Sabtu agar tidak kehilangan kesempatan untuk berpuasa di rumah bersama keluarga dalam dua kali hari Minggu. Pilihan ini sebenarnya bisa saja saya ambil tanpa pusing-pusing soal ongkos pesawat. Namun akhirnya dengan iktikad agar perjalanan dinas saya ini tidak terlalu membebani pengeluaran perusahaan, saya memilih mengorbankan dua kali kesempatan berhari Minggu bersama keluarga.

Akan tetapi, agar hari Sabtunya saya tidak bengong atau krukupan (berkerudung) selimut di kamar hotel saja, dan agar hari bebas saya ini lebih “produktif”, saya akan mengisinya dengan jalan-jalan ke luar kota. Untuk itu saya perlu menyewa kendaraan sehari dan menginap semalam lagi di hotel plus biaya makan dengan total tambahan biaya sekitar US$200. Tambahan makan sebenarnya tidak seberapa, wong saya juga puasa. Kalau dihitung-hitung, pilihan saya ini masih tetap akan menguntungkan perusahaan sekitar US$840. Malah “untungnya” perusahaan masih lebih banyak. Tapi ya, saya anggap saja ini keputusan yang saling menguntungkan.

***

Menjelang jam 09:00 pagi saya tilpun ke perusahaan penyewaan kendaraan. Menyadari bahwa pemesanan saya mendadak, saya sudah membayangkan akan tidak mudah memperoleh kendaraan sewaan. Pertama kali dijawab oleh petugasnya bahwa kendaraan yang saya pesan sudah habis, tinggal ada sebuah truck. Dalam hati saya tertawa sendiri, lha wong mau wisata kok disuruh nyopir truck.

Sebenarnya yang dimaksud dengan truck di sini adalah kendaraan sejenis pick up bak terbuka. Tapi saya sudah terlanjur membayangkan sebutan truck dengan truk yang biasa digunakan untuk ngangkut pasir, sapi, rombongan pengantar haji atau jama’ah NU yang mau menghadiri pengajian kampanye di kampung saya.

Lima belas menit kemudian saya tilpun lagi, dengan harapan akan diterima oleh orang berbeda sehingga ada kemungkinan untuk dilakukan pengecekan ulang. Ternyata benar juga, petugas berbeda yang kedua ini menjawab tinggal ada sebuah truck dan sebuah sedan kelas mid size. Tanpa pikir panjang saya menyetujui untuk menyewa yang jenis sedan. Sekitar sepuluh menit kemudian saya sudah dijemput oleh petugas car rental di hotel untuk mengurus ini-itu soal sewa-menyewa. Baru sekitar jam 10:00 saya berangkat meninggalkan kota Golden.

Tujuan saya adalah menuju ke arah sebelah selatannya kota Denver. Pertimbangannya, kalau ke arah utara dan barat saya akan banyak ketemu dengan kawasan bersalju, padahal seminggu ini sudah kedinginan terus. Sedangkan ke arah timur kurang ada obyek menarik. Maka saya putuskan ke arah selatan saja, meskipun masih juga berhawa dingin (lha wong musim dingin), namun daerahnya relatif lebih rendah dan bukan kawasan yang sering bersalju dibandingkan daerah utara atau barat Denver.

Atas saran mBak Dinu, istrinya rekan Mas Bob Adibrata yang tinggal di Golden, salah satu tempat yang dapat dipertimbangkan untuk dikunjungi adalah Royal Gorge Bridge yang berjarak sekitar 150 mil (240 km) dari Golden dan kira-kira dapat ditempuh dalam 3 jam perjalanan. Setelah saya lihat di peta, kelihatannya rutenya tidak sulit dan di sepanjang rute itu ada banyak obyek menarik lainnya yang dapat saya kunjungi, jika waktunya memungkinkan.

Dari Golden saya mengikuti jalan Highway 6 (Hwy 6) ke arah timur, lalu setiba di kota Denver pindah ke jalan bebas hambatan Interstate 25 (I-25) ke arah selatan menuju kota Colorado Springs. Jarak dari Denver ke Colorado Springs sekitar 110 km. Rute perjalanannya cukup enak, cuaca sangat cerah dan di sebelah-menyebelah beberapa ruas jalan masih tampak sisa hamparan salju yang turun beberapa hari sebelumnya dan menutupi kawasan perbukitan yang terbuka.

Hanya saja lalu lintas cukup padat, maka saya memilih untuk berjalan dengan kecepatan normal saja. Saya memang menghindari mencuri kecepatan, apalagi di bulan puasa, karena saya menyadari bahwa kemampuan saya untuk berkonsentrasi dalam keadaan puasa tentu berbeda dengan ketika sedang tidak puasa.

Selepas kota Colorado Springs saya pindah ke jalan Hwy 115 ke arah barat daya menuju kota kecil Penrose yang berjarak sekitar 60 km. Setiba di Penrose, pindah lagi ke jalan Hwy 50 ke arah barat menuju kota Canon City yang berjarak sekitar 18 km. Canon City adalah sebuah kota yang terletak di dataran tinggi pada elevasi 1.630 m di atas permukaan laut. Kota yang letaknya di keliling kawasan perbukitan ini jumlah penduduknya sekitar 12.700 jiwa. Cukup ramai.

Keluar dari Canon City, sekitar 13 km kemudian saya belok ke selatan masuk ke jalan State Road (SR) 3A. Akhirnya saya tiba di lokasi Royal Gorge Bridge yang berada sekitar 6 km di ujung jalan SR 3A. 

***

Royal Gorge Bridge adalah nama sebuah jembatan gantung yang cukup terkenal karena dianggap yang paling tinggi di dunia. Ukuran tingginya diukur dari bentang jembatannya ke permukaan air sungai Arkansas di bawahnya, yaitu setinggi 321 m. Sebagai pembanding, jembatan gantung Brooklyn di New York dan The Golden Gate di San Fransisco memang lebih besar dan panjang, tapi tidak setinggi Royal Gorge.

Jembatan gantung Royal Gorge sendiri membentang sepanjang 384 m dengan lebar 5,5 m menghubungkan kedua sisi ngarai atau jurang yang dindingnya hampir tegak lurus. Berkonstruksi baja dan kayu pada permukaan jembatannya yang dapat dilalui kendaraan. Adanya profil alam yang demikian, menjadikan bentang jembatan ini tampak menarik dan unik ketika dilihat dari samping agak jauh.

Secara geologis, aliran sungai Arkansas yang kini berada tepat di dasar ngarai telah memotong di puncak perbukitan Freemont yang berupa batuan granite sejak tiga juta tahun yang lalu. Proses erosi sungai Arkansas yang alirannya cukup deras ini memotong membentuk celah yang sangat dalam dan menyisakan ngarai yang curam di kedua dindingnya. Diperkirakan proses pengikisan sungai Arkansas ini berlangsung rata-rata 30 cm setiap 2.500 tahun.

“Turis” pertama yang mengunjungi tempat ini adalah suku Indian pegunungan, Utes, yang kemudian disusul dengan suku-suku Indian lainnya dari dataran rendah, antara lain Sioux, Cheyenne, Kiowas, Blackfeet dan Comanche. Rombongan missionaris Spanyol pertama kali datang ke daerah ini pada tahun 1642. Sejarah mulai mencatat ketika pada bulan Desember 1806 Letnan Zebulon Montgomery Pike mencapai sisi timur ngarai. Pada mulanya orang mengenal lokasi ini dengan sebutan Grand Canyon of Arkansas, tapi sejak tahun 1872 masyarakat kota Canon City menyebutnya dengan Royal Gorge.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sehari Di Selatannya Denver

2 Februari 2008

(2).   Turun Ke Dasar Ngarai

Sekitar jam 1:00 siang saya masuk pintu gerbang Royal Gorge Bridge setelah membayar karcis seharga US$10. Tempat ini tampak sepi pengunjung. Maklum kalau saat itu memang bukan musim liburan, pas musim dingin lagi. Tapi ya malah menguntungkan karena pada musim liburan harga karcisnya akan lebih mahal. Selain itu saya juga tidak perlu membuang waktu untuk antri beli tiket masuk, naik kereta gantung (aerial tram) menyeberang ngarai, naik kereta miring (incline railway) turun ke dasar ngarai atau nonton film sejarah kawasan Royal Gorge di Plaza Theater, dsb. Harga karcisnya sudah termasuk ongkos untuk menikmati fasilitas-fasilitas tambahan itu.

Setelah masuk pintu gerbang, saya menuju ke terminal kereta gantung (aerial tram). Tidak terlalu lama menunggu, kereta langsung berangkat. Hanya ada beberapa orang saja yang siang itu bersama saya menaiki kereta gantung yang berkapasitas 35 orang. Bagi sebagian orang naik kereta gantung menyeberang ngarai yang terlihat sangat dalam, bisa jadi singunen (merasa takut berada di ketinggian). Untungnya saya sudah terbiasa naik tram setiap kali berangkat dan pulang kerja di tambang Freeport di Irianjaya (Papua).

Gerbong kereta gantung ini terkait pada tali baja (wire rope) yang membentang horizontal sepanjang 670 m menghubungkan sisi timur dan barat ngarai. Bentangan tali bajanya berada pada ketinggian kurang lebih 360 m di atas sungai Arkansas. Fasilitas kereta gantung Royal Gorge ini baru dibangun pada bulan Nopember 1968 dan selesai bulan Juni 1969.

Melihat ke arah utara dari dalam kereta gantung yang bergerak dengan kecepatan rata-rata 18 km/jam ini terlihat jembatan gantung Royal Gorge pada jarak sekitar 200-300 m. Demi melihat profil alam dan jembatan yang tidak biasa ini, serta-merta para turis pun segera jeprat-jepret memainkan kameranya. Kalau pandangan dialihkan ke bawah, tampak dasar ngarai dimana mengalir sungai Arkansas yang berkelok-kelok dan di sisi timurnya terdapat satu lintasan rel kereta api.

Turun dari kereta gantung di sisi barat ngarai, saya berada di kawasan nature trail yaitu kawasan alam terbuka yang diurus dan dikelola dengan baik dan di sana terdapat jalan setapak yang enak untuk dimanfaatkan sebagai sarana berolahraga lintas alam. Di kawasan ini sesekali masih dapat dijumpai hewan jenis-jenis rusa. Saya lalu menyusuri jalan setapak yang sebagian beraspal dan sebagian lagi jalan tanah berbatu, menyusuri pinggir barat ngarai menuju arah utara, hingga kemudian tiba di kawasan Plaza Theater.

Di sekitar Plaza Center terdapat beberapa bangunan tempat peristirahatan, gardu pemandangan, arena piknik dan restoran. Saya sempatkan untuk masuk ke Plaza Theater menyaksikan pemutaran film tentang sejarah pengembangan kawasan Royal Gorge. Meskipun hari itu sedang sepi pengunjung dan hanya tiga orang yang masuk ke Plaza Theater, namun agenda pemutaran film tetap berlangsung seperti yang telah dijadwalkan.

Tidak jauh berjalan dari Plaza Theater, saya tiba di ujung barat jembatan gantung Royal Gorge. Dari sini saya akan menyeberang jembatan dengan berjalan kaki kembali menuju ke ujung timur. Bagi yang malas menjalankan kakinya sepanjang hampir 400 m, ada tersedia kendaraan wisata yang berjalan dari ujung ke ujung. Jembatan itu memang dapat dilalui kendaraan kecil, tapi hanya satu lajur sehingga mesti jalan bergantian kalau berpapasan.

Dengan berjalan kaki rasanya lebih puas menikmati pemandangan, meskipun untuk itu saya harus melawan dinginnya angin musim dingin yang berhembus melintas ngarai. Saya tolah-toleh, waktu itu hanya ada saya dan beberapa orang lain di kejauhan yang berjalan kaki menyeberang jembatan.

Berjalan kaki menyeberang jembatan berlantai kayu yang terkadang agak bergoyang kalau bersamaan ada kendaraan yang juga menyeberang, memang bisa membuat tidak nyaman bagi orang yang takut dengan ketinggian. Pemandangan ke dasar ngarai ke arah kiri dan kanan yang terlihat sangat dalam bagaikan selokan raksasa dengan dinding-dinding ngarainya yang sangat terjal.

Pembangunan jembatan gantung Royal Gorge ini pekerjaan awal konstruksinya dimulai tanggal 5 Juni 1929 dan berhasil diselesaikan pada bulan Nopember tahun yang sama. Sedangkan peresmiannya dilakukan pada tanggal 6 Desember 1929. Pada akhir tahun 1984 jembatan ini selesai direnovasi dan dibangun kembali setelah pada tahun 1980 diketahui adanya korosi di beberapa bagian tali baja (wire rope). Kini setiap tahun rata-rata 500.000 orang wisatawan mengunjungi Royal Gorge Bridge.

Setiba di ujung timur jembatan, saya menuju ke stasiun kereta miring (incline railway), yaitu kereta yang berjalan di atas rel yang dipasang pada lereng dengan kemiringan 45 derajad. Panjang jalur miringnya 472 m, menghubungkan sisi atas tebing dengan dasar ngarai. Kereta ini bergerak naik dan turun dengan sistem kerekan (hoisting system) menggunakan tali baja (wire rope). Persis seperti sistem kerekan yang digunakan dalam sistem pengangkutan tambang bawah tanah. Bedanya hanya kereta miring Royal Gorge ini berada di lereng terbuka, sedangkan kalau di tambang bawah tanah biasanya berada dalam sumuran miring (incline shaft) yang gelap.

Bagi kebanyakan orang, kemungkinan akan ada perasaan takut untuk menuruni ngarai dengan kereta miring ini, karena serasa seperti sedang berada dalam sebuah kerangkeng (cage) yang diulur dari atas. Kebetulan dari beberapa orang yang akan naik kereta miring ini saya berada di antrian paling belakang. Ternyata kesemua penumpang yang antri di depan saya tidak ada yang memilih tempat di kerangkeng paling ujung depan.

Ya, barangkali berpikir kalau keretanya meluncur jatuh maka akan duluan sampai tanah. Tapi bagi saya malah hal ini yang saya harapkan. Bukan berharap meluncur duluan, tapi dengan berada di posisi paling depan saya memperoleh bidang pemandangan yang terbuka untuk memainkan kamera saya.

Meluncur dengan kecepatan 4 km/jam melalui celah dinding ngarai, tampak bagian bawah ngarai yang semakin dekat hingga akhirnya berhenti di stasiun di dasar ngarai. Sekitar 5,5 menit diperlukan untuk menempuh satu trip perjalanan turun maupun naik dengan kereta miring yang gerbongnya berupa tujuh buah kerangkeng kecil yang digabung bertrap sesuai kemiringan relnya, dengan kapasitas tiap kerangkengnya 3-5 orang. Kereta miring ini diresmikan penggunaannya pada tanggal 14 Juni 1931. Pembangunan kembali fasilitas ini diselesaikan tahun 1973.

Ada satu hal yang mengherankan saya, dan membuat saya was-was, yaitu bahwa mesin ini dijalankan oleh seorang operator yang sudah lanjut usia. Saya beranggapan bahwa ini adalah jenis mesin yang sama dengan yang digunakan dalam industri pertambangan, maka mestinya operator mesin seperti ini adalah mereka yang masih berusia kerja. Untuk menjalankan mesin semacam ini tentu diperlukan seorang operator yang kondisi fisik dan mentalnya benar-benar tidak diragukan.

Saya memang banyak melihat bahwa di tempat-tempat wisata di Amerika banyak di antara petugasnya adalah mereka yang sudah usia pensiun atau malah para remaja. Agaknya menjadi petugas di obyek-obyek wisata memang menjadi lapangan kerja sampingan bagi kebanyakan para orang tua yang sudah usia pensiun atau para remaja yang mengisi waktu liburnya dengan mencari pengalaman baru dan pengasilan tambahan. Dalam banyak hal memang ini sesuatu yang sangat positif. Namun saya tidak habis mengerti kalau itu menyangkut jenis pekerjaan yang beresiko tinggi. Mungkin memang ada kebijaksanaan dan peraturan yang berbeda.

***

Ketika berada di dasar ngarai lalu menengadahkan kepala ke atas maka bentang jembatan gantung terlihat seperti sebuah garis tebal hitam membentang di langit di antara celah tinggi dinding ngarai. Saya berdiri di antara sungai Arkansas dan jalur kereta api di dasar ngarai. Sungai Arkansas yang tidak terlalu lebar dan berarus cukup deras merupakan bagian ekor dari sungai yang panjangnya lebih dari 2.240 km.

Sungai Arkansas ini bermata air di negara bagian Colorado dan bermuara di sungai Mississippi, melintasi negara bagian Kansas, Oklahoma dan Arkansas. Menyusur di tepi timur sungai terdapat jalan kereta api yang panjang seluruhnya 38 km dan kini difungsikan sebagai sarana wisata kereta api mengelilingi perbukitan di seputar Royal Gorge.

Jalan kereta api di dasar ngarai ini lebih dahulu telah dibangun sebelum dibangunnya jembatan gantung. Kebutuhan akan perlunya sarana jalan kereta api ini mulai muncul ketika tambang perak diketemukan di hulu sungai Arkansas pada tahun 1877. Bidang yang tersisa di sisi sungai hanya cukup untuk dibangun satu lintasan jalan kereta api, sementara pada saat itu ada dua raksasa perusahaan kereta api yang berminat membangun jalan kereta api.

Persaingan bisnis antar dua perusahaan angkutan kereta api, Denver & Rio Grande dan Santa Fe, akhirnya tak terhindarkan lagi. Ketegangan sempat terjadi, bahkan perang dalam arti sesungguhnya antara kedua kubu dan kelompoknya pun tak terhindarkan. Kesepakatan baru tercapai pada tahun 1879 setelah korban terlanjur berjatuhan, dengan pemberian hak untuk melanjutkan pembangunan sarana kereta api bagi Denver & Rio Grande. Maka tahun 1880 kemudian menjadi tonggak sejarah perkeretaapian di kawasan yang kaya hasil tambang itu.

***

Akhirnya sekitar jam 03:30 sore saya baru meninggalkan lokasi Royal Gorge Bridge dan langsung saja melaju untuk kembali menuju kota Canon City dan Colorado Springs. Saya berharap akan tiba di kota Colorado Springs saat hari belum terlalu gelap, sehingga ada kesempatan untuk mengunjungi satu obyek wisata lagi, yaitu Garden of the Gods.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar