Posts Tagged ‘cirebon’

Dari Jakarta Ke Jogja Melalui Pantura

5 Juni 2011

Pengantar:

Catatan berikut ini adalah penggalan catatan perjalanan dari Jakarta menuju Yogyakarta melalui jalur darat pantura pada tanggal 20-21 Mei 2011. Catatan ini saya tulis sebagai cersta (cerita status) di Facebook. Sekedar ingin berbagi cerita.

——-

Meninggalkan Jakarta Menyusuri Pantura

Makan siang di restoran Sukamie, Gedung Sakti Plaza, Jl. MT Haryono, Jakarta. Pilih, pilih, menu sederhana, mie ayam jamur. Taste standar (standar enak maksudnya) harga wajar. Katanya: “Cobain aja se-sukamu…”, asal tetap mbayar

Restoran ini sebenarnya asal pilih saja yang dekat dengan jalan tol sebab perjalanan darat menuju Jogja via pantura segera dimulai, setelah tadi pagi datang ke Jakarta via udara.

***

Senja di pantura… (Mandalawangi, Subang, Jabar)

Perjalanan sore dari Cikampek menuju Cirebon, mau sholat ashar cari masjid yang ada cafe-nya biar bisa sambil istirahat ngupi. Karena tidak ketemu, ya akhirnya sholat dulu di masjid Al-Barokah, Mandala Wangi, Sukasari, Subang. Setelah itu baru mampir ngupi di sebuah SPBU yang ada cafe-nya.

Alhamdulillah, lega… Tunai sudah dua keinginan terpenuhi. Tapi perjalanan muaaceet puanjaaaang… Ada penyempitan pembuluh jalur pantura…

***

Menjalani jalur patura lintas Subang-Indramayu-Cirebon harus agak mengendurkan otot sabar. Banyak penyempitan pembuluh jalan utama dari dua lajur menjadi satu lajur. Lebih-lebih menjelang jalan layang Pamanukan, petang tadi perlu waktu hampir dua jam untuk lolos dari kawasan itu. Kondisi jalannya sebenarnya rata tapi tidak halus (atau, halus tapi tidak rata?). Perlu agak menahan nafas saat melaju agak kencang.

——-

Mangga Gincu Indramayu

Bahkan di Indramayu, buah mangga pun bergincu (bagian pangkal buahnya lebih kemerahan), disebut mangga gedong gincu yang ketika tampil di etalase supermarket harganya lumayan mahal.

Maka kalau ingin yang bergincu dan murah, datanglah langsung ke daerah asalnya di Indramayu, mangga gincu maksudnya. Jangan diragukan nikmatnya. Selain karena tampilan warnanya yang menggairahkan walau profilnya kecil, tapi rasanya memang ehmmm…

***

Mangga gedong gincu — mangga khas Indramayu yang rasanya manis dan legit. “Seperti permen”, kata teman saya. Di kios-kios buah pinggir jalan raya Indramayu-Cirebon, ditawarkan dengan harga Rp 18.000,-/kg. Selain ada juga mangga indramayu yang taste-nya mirip mangga sengir.

***

Melintasi penggal jalan tol Cirebon-Pejagan saat jam 10 malam, terasa benar sepinya. Melaju dengan kecepatan 80 km/jam terkadang serasa lenggut-lenggut seperti sapi tapi lebih sering loncat-loncat seperti kuda.

Kali ini bukannya menahan nafas tapi seakan-akan malah turut ngos-ngosan… Perlu lebih berhati-hati, sebab kondisi jalan yang ini memang halus tapi tidak rata…

——-

Nasi Jamblang “Ibu Nur” Cirebon

Sega (nasi) Jamblang khas Cirebon yang aslinya dibungkus daun jati itu kini disajikan di atas piring yang beralas daun jati. Salah satunya yang cukup terkenal adalah nasi jamblang Ibu Nur di Jl. Tentara Pelajar, Cirebon.

***

Kekhasan nasi jamblang itu sebenarnya ada pada rasa nasinya yang dibungkus daun jati. Di warung Ibu Nur, Cirebon, daun jatinya untuk lambaran (alas) nasi di piring. Tinggal minta berapa sendok nasinya karena tiap sendok ada harganya. Begitu pun dengan sambalnya. Lauknya tinggal pilih dan ambil sendiri. Ada lebih 20 pilihan lauk tersedia di panci.

Saat hitung-hitungan dengan kasir sebelum pulang, jangan menjadi ‘darmaji’ (dahar lima ngaku hiji), kecuali lupa.

***

Warung Ibu Nur ini sangat sederhana, cukup disediakan bangku panjang berjajar di depannya seperti arena nonton film ‘misbar’. Taste-nya sebenarnya biasa, standar saja. Tapi lebih pada nuansa swalayan, makan sambil duduk di bangku di emperan pinggir jalan, beratap langit, dijamin waktu gerimis pasti bubar, apalagi hujan.

Puas makan nasi jamblang, belum lama melanjutkan perjalanan meninggalkan Cirebon, mata segera terasa berat, nguwantuuk…

——-

Tiba Di Jogja

Menjelang jam 6 pagi akhirnya saya tiba di rumah. Perjalanan 15 jam Jakarta-Cirebon-Semarang-Jogja diselesaikan dengan nunggang sejenis kijang. Sempat lompat-lompat di jalur pantura yang kondisinya beraspal halus tapi tidak rata.

Lidah sudah kebelet, tidak sabar ingin segera duduk manis melahap mangga gincu Indramayu. Tidak lama gantian perut yang kebelet, tidak sabar ingin segera duduk manis juga, membuang hajatnya. Alhamduliah untuk kedua kebelet itu…

***

Mangga gincu dari Indramayu yang manisnya…hmmhhh..! Kucoba-coba menanam mangga, mangga kutanam gincu kudapat… Maksudnya menanam sendiri dari pelok-nya (pelok: isi/biji buah mangga)

Yogyakarta, 20-21 Mei 2011
Yusuf Iskandar

Catatan Harian Untuk Merapi (5)

28 Desember 2010

(35). Hujan Batu Di Cirebon

Hujan batu di Cirebon… Dari gunung Ciremai? Wooo bukan rupanya, tapi dari tawuran antar warga! Huuuuhhh…, mau jadi apa orang-orang ini. Jangan sampai Tuhan memutuskan untuk meletuskan gunung Ciremai agar mereka kompak bersatu bahu-membahu saling membantu…!

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(36). Depe Dan Jupe Jadi Relawan

Depe dan Jupe berkelahi… Aha..! Saya suka berita ini. Bukan karena Depe wal-Jupe-nya, melainkan daripada infotainment ngublek-ublek rumah tangga orang. Jadi, pembandingnya adalah hal yang lebih mudharat. Kalau saya disuruh memilih, Depe, Jupe dan wartawannya saya pilih untuk dikirim ke Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, untuk menjadi relawan…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(37). Ketika Ibu-Ibu PKK Kewalahan

Barusan dihubungi Posko pengungsian desa Madurejo, Prambanan, Sleman, minta dibantu nasi bungkus untuk jadwal besok. Agaknya ibu-ibu PKK sudah kewalahan melayani konsumsi pengungsi yang jumlahnya lebih 1200 orang, dimana dapur umum belum bisa disiapkan. Kebetulan saya sudah menerima transfer dari seorang teman di Jakarta, segera akan saya alokasikan 100 bungkus nasi padang untuk makan siang besok. (Trims untuk mas Tonank).

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(38). Waspada Terhadap Kemungkinan Terburuk

Hingga siang ini Jogja redup, mendung, abu tipis bergentayangan. Gemuruh Merapi dapat dinikmati sampai radius >25 km, terdengar keras saat meletus beberapa jam yll. Seorang teman yang tinggal di Jl. Kaliurang Km-7,8 mengabarkan: Jl. Kaliurang Km-13 ke atas (Pamungkas, Besi, Griya Perwita Wisata) mulai ditinggal penghuninya, menjauh dari radius 20 km.

Untuk warga Jogja, jangan ada kepanikan, melainkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terburuk.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(39). Tetap Waspada

Kawasan Rawan Bencana (KRB) saat ini berada di radius 20 km dari puncak Merapi. Jika dalam perkembangannya diperluas menjadi 25 km, berarti ada di dekat-dekat seputaran Jl. Ring Road Utara, atau dapat diterjemahkan bahwa kota Jogja berada dalam kewaspadaan tinggi terhadap kemungkinan evakuasi.

Bukan menakut-nakuti, melainkan JANGAN LENGAH dan TETAP WASPADA, tapi TIDAK PERLU PANIK, teriring doa semoga tidak sampai terjadi situasi yang lebih buruk…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(40). Bantuan Nyaris Tak Terkelola

Semangat membantu masyarakat kita memang ruarrr biasa… Stadion Maguwoharjo, Sleman yang saat ini menampung lebih 24 ribu pengungsi telah mengubah wajah stadion menjadi menyerupai pasar malam. Roooamainya minta ampyun… (apalagi hari ini SBY berkunjung). Bahkan bantuan yang masuk sangat berlebih, sehingga nyaris tak terkelola dengan baik. Dapat dimaklumi karena lokasinya “strategis”, termasuk full peliputan televisi…

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(41). Mengalihkan Bantuan

Semula mau mengirim bantuan ke stadion Maguwoharjo, Sleman. Menimbang lokasi ini sudah “overload” dengan bantuan yang bertubi-tubi, maka lalu dicoba dialihkan ke kampus UPNVY. Ternyata di pengungsian UPNVY pun juga sudah “overload”. Akhirnya dialihkan ke lokasi yang “kurang populer”, yaitu Desa Bokoharjo dan Madurejo, Prambanan, Sleman. Ke sanalah bantuan karyawan Freeport melalui program “Freeport Peduli” kemudian di antaranya disalurkan.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(42). Masalahnya Adalah Pemerataan Bantuan

Menyalurkan bantuan ke lokasi-lokasi yang “kurang populer” terasa lebih puas karena langsung bertemu dengan “end user”. Sedang kalau ke posko-posko di lokasi “strategis”, bantuan akan tertimbun begitu saja karena saking buanyaknya…

Seperti petang tadi ke desa Bokoharjo (lebih 3300 orang) dan Madurejo (lebih 2000 orang), keduanya di kecamatan Prambanan, Sleman, langsung dapat dilihat apa saja dan seberapa kebutuhan utama mereka. Semoga koordinasi semakin baik bagi pemerataan bantuan.

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(43). Masih Ada Nasi Bungkus Yang Akan Lewat

Dapur umum adalah salah satu kelengkapan pokok tempat pengungsian. Namun justru sering membuat kewalahan terutama bagi perangkat desa yang kedatangan pengungsi. Maka pasokan nasi bungkus bagi lokasi-lokasi “kurang populer” yang jauh dari jangkauan itu masih diperlukan.

Sore tadi mendrop 650 nasi bungkus ke desa Madurejo, Prambanan. Insya Allah, masih ada nasi bungkus yang akan lewat, eh dikirim… (Trims untuk mas Rachmat UPN).

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(44)Mampir Ke RM “Sabar Menanti”

Pulang dari Madurejo. Uuuh, mulai terasa lapar… Lalu mampir ke RM “Sabar Menanti” di Jl. Solo Km-11, yang menyediakan menu-menu tradisional seperti sayur santan, lodeh, oseng-oseng, mangut, dsb, ala prasmanan. Terkenal dengan oseng cabe hijaunya, tapi sayang malam ini sudah habis. Sambal terasinya terasa benar tapi pedas, sehingga membuat kepala berkeringat. Menunya sama seperti menu nasi bungkus, hanya bedanya tersaji di piring dan dimasak oleh ahlinya..

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-

(45)Ada Gempa Lemah

Beberapa waktu yll terasa ada gempa lemah. Saya pikir gempa vulkanik dari Merapi, tapi ternyata gempa tektonik (Info Gempa BMKG — Mag: 3.8 SR, 07-Nov-10, 23:08:31 WIB, di darat 12 km baratdaya WONOSARI-DIY, kedalaman:10 km)

(Yogyakarta, 7 Nopember 2010)

——-