Posts Tagged ‘check-in’

Garuda Mengembalikan Kelebihan Uangku

4 Mei 2008

Kebetulan urusan di Jakarta selesai lebih cepat dari rencana, maka saya langsung menuju bandara Soekarno-Hatta untuk kembali ke Jogja. Harapan saya, e-tiket yang sudah dipesan via tilpun untuk penerbangan GA216 tujuan Yogyakarta jam 19:25 WIB, siapa tahu dapat saya majukan jadwalnya ikut penerbangan yang lebih awal.

Tiba di counter Garuda terminal F, saya langsung lapor dengan menyebutkan kode booking. Setelah itu saya tanyakan apakah bisa ikut penerbangan lebih awal. Oleh petugas dijawab bisa, tapi tinggal yang penerbangan GA214 jam 18:30. Sedangkan penerbangan yang lebih awal yaitu GA212 jam 16:30 sudah penuh. Saya setuju untuk diubah ke GA214. Lumayan, lebih awal satu jam. Meski untuk itu dikenakan biaya rebooking sebesar Rp 50.000,-

Sampai di counter check-in di dalam, saya tergoda untuk iseng menanyakan apakah bisa maju ikut penerbangan GA212 jam 16:30. Pasti akan sangat menghemat waktu, dibandingkan kalau mesti menunggu di bandara sampai jam penerbangan terakhir. Oleh petugasnya dijawab sudah penuh, tapi bisa dicoba sebagai cadangan. Saya pun mengiyakan tanda setuju. Maka tiket yang sudah terdaftar untuk penumpang GA214 lalu didaftar sebagai penumpang cadangan GA212.

Tiba waktunya, nama saya dipanggil tanda status cadangan saya lolos untuk ikut terbang bersama GA212. Tapi…. (ada tapinya), tiket saya harus di-upgrade berubah dari kelas dari B ke M. Embuh, apa artinya….., yang saya tahu adalah saya dipersilakan pergi ke kasir dan membayar biaya tambahan. Setelah tanya kasir, ternyata biaya tambahannya Rp 285.000,- Sejenak saya berpikir, diambil atau tidak? Apakah ini biaya tambahan yang layak dibayar untuk memperoleh tempat di GA212?

Pilihannya : tidak diambil berarti tidak perlu menambah biaya dan tetap terbang jam 18:30, atau diambil dengan menambah biaya tetapi bisa tiba di rumah lebih awal sebelum waktu maghrib. Akhirnya saya putuskan untuk diambil dan saya bayar biaya tambahan. Setelah lunas, lalu check-in, kemudian menuju ruang tunggu. Tiba di ruang tunggu untuk lewat saja karena langsung dipersilakan masuk pesawat yang akan segera mengangkasa menuju Yogyakarta.   

Pintu pesawat sudah siap ditutup ketika tiba-tiba ada seorang petugas Garuda perempuan berwajah cukup ayu (lha wong perempuan…..) tergopoh-gopoh mencari-cari saya. Waduh……! Salah opo aku……. Jangan-jangan ada kekeliruan sehingga saya harus balik kanan batal naik pesawat itu, atau biaya tambahannya kurang? Pasalnya, di depan penumpang lainnya yang sudah “sit biyuti” (bahasa Thukul, maksudnya duduk manis) di dalam pesawat menunggu berangkat, mbak petugas Garuda itu menanyakan kertas bersampul biru, bukti pembayaran biaya tambahan tadi.

Setelah saya tunjukkan kertas bersampul warna biru tua berlambang Garuda yang diminta, mbak petugas Garuda mengatakan bahwa kertas birunya diminta lagi karena tadi ada kekeliruan…. Sampai di sini…mak deg atiku…… Lalu disambung, bahwa tadi ada kelebihan pembayaran, maka tiket birunya diganti dan kelebihan pembayaran dikembalikan. Sampai di sini… baru mak plong atiku……

Rupanya jumlah biaya tambahan untuk naik kelas sebagai penumpang pesawat GA212, yang seharusnya saya bayar adalah Rp 171.000,- dan bukan Rp 285.000,- (saya benar-benar tidak tahu bagaimana rumus hitungannya). Pokoknya ya saya iyakan saja.

Saya sempat bertanya : “Kok bisa ketahuan kalau kelebihan, mbak?”.

Mbak petugas Garuda hanya menjawab cepat : “Iya, pak”, sambil tersenyum, sambil memberikan bukti pembayaran pengganti dan kelebihan uangnya (saya maklum, pertanyaan saya pasti susah dijawab cepat, karena saya tidak memberi pilihan jawaban seperti soal test pilihan ganda).

Mbak petugas Garuda segera meninggalkan saya menuju keluar pesawat. Saya pun duduk kembali. Pintu pesawat lalu ditutup dan pesawat segera mundur lalu bersiap terbang. Beberapa saat kemudian, baru iseng-iseng saya hitung uang kelebihannya, dan jumlahnya ternyata Rp 114.000,- pas.

Saya berpikir dalam hati (mestinya kalau berpikir ya dalam otak, tapi kok kedengaran aneh kalau saya katakan “saya berpikir dalam otak”). Sudahlah, pokoknya saya cuma mbatin. Pertama (mbatin saja kok ya ada urut-urutannya…..), kok sempat-sempatnya petugas Garuda memeriksa kembali bahwa saya telah membayar lebih. Kedua, kok sempat-sempatnya menyusul saya ke dalam pesawat yang siap berangkat (padahal jaraknya lumayan jauh dari counter kasir), dengan membawa uang kelebihan yang pas jumlahnya. Ketiga, seandainya kelebihan itu tidak dikembalikan pun sebenarnya saya tidak tahu dan tidak perduli.

Maka untuk kejadian yang simpatik ini, saya menaruh apresiasi setinggi-tingginya kepada Garuda. Untuk hal yang baik ini saya berharap mudah-mudahan bukan karena oknum, melainkan memang perbaikan kinerja. Kalau karena oknum, maka ganti petugas, ya embuh…… kejadiannya. Tapi kalau karena perbaikan kinerja……., jayalah burung besi pembawa benderaku Indonesiaku…..

Saya mengapresiasi, bukan karena Garuda telah mengembalikan kelebihan uangku (Rp 114.000,- mungkin dapat dibelikan 228 potong tempe kedelai goreng tepung, irisan tipis, ukuran 6 cm x 8 cm, cukup dibagikan tetangga se-RT sama anak-anak dan kucingnya), tapi lebih karena perwujudan professionalisme kerja. Terima kasih Garuda!

Yogyakarta, 22 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(9).   Jika Pilihan Saya Ternyata Salah

Jam 05:30, Selasa pagi, saya sudah terbangun karena Terminal 2 mulai ramai. Kucek-kucek mata sebentar, menggeliat, menyusun barang bawaan, lalu mendorong kereta ke arah stasiun sky-train karena harus ke counter Thai Airways (TG) di Terminal 1. Ya jelas sky-train-nya belum beroperasi, wong belum jam 6:00. Lalu saya berhenti sebentar di prayer room yang letaknya agak tersembunyi untuk sholat Subuh, meskipun sebenarnya saya ragu apakah saat itu di Singapura sudah masuk waktu sholat Subuh atau belum.

Sky-train ternyata beroperasi 5 menit lebih awal, jadi bisa segera meluncur ke Terminal 1, seusai sholat Subuh. Setelah keluar melewati imigrasi, langsung menuju bagian check-in TG di lantai 1. Pikiran pertama saya, saya akan minta TG untuk memberikan endorsement atas tiket saya ke Garuda Indonesia (GA). Karena meskipun petugas American Airlines (AA) di Tokyo tidak berhasil mengeluarkan tiket GA, tapi bisa membuat status seat saya OK. Lagipula GA adalah penerbangan pertama pagi itu dari Singapura menuju Jakarta, berangkat jam 06:50. Artinya saya harus mengejar waktu sekitar 50 menit.

Bagian check-in TG rupanya tidak bisa memberi endorsement. Kata petugasnya, pengalihan tiket ke penerbangan lain harus dilakukan oleh kantor TG yang ada di lantai 2. Katanya lagi, biasanya kantor baru buka jam 08:00. Wah…, modar aku!, batin saya. Artinya saya mesti menunggu 2 jam lagi. Tetapi sang petugas juga ngayem-ayemi (menenangkan pikiran) saya, disuruhnya saya langsung saja ke kantor : “Siapa tahu sudah ada orang”, katanya.

Dengan berharap banyak di balik kata “siapa tahu”, saya langsung mencari kantor yang dimaksud di lantai 2. Ngos-ngosan juga, karena barang bawaan saya cukup berat. Ternyata kantor TG memang belum buka, dan tidak tampak ada orang di dalamnya. Saya tunggui saja persis di depan pintu kantor yang masih sepi itu. Sudah 10 menit berlalu, 20 menit berlalu, masih juga belum ada tanda-tanda ada orang. Saya mulai gelisah, karena GA akan terbang jam 06:50.

Setelah jalan kesana-kemari di seputaran kantor, kemudian saya putuskan untuk turun lagi ke bagian check-in di lantai 1 menemui petugas berbeda, sambil berharap barangkali petugas lain bisa membantu. Ternyata tidak juga, tetap disuruhnya saya datang ke kantor. Yaaa ….., balik lagi ke lantai 2, tetap dengan menggotong-gotong barang bawaan karena kereta dorong tidak diperbolehkan masuk dan naik tangga berjalan. Tetap juga kantornya masih tutup.

Kalau gelisah begini biasanya paling enak menyalakan rokok, tapi tentu tidak bolah. Akhirnya ya hanya bisa anguk-anguk (berdiri di lantai atas sambil melongok-longokkan kepala memandang ke lantai bawah) di depan pintu kantor, sambil tetap berdoa mudah-mudahan kata “biasanya buka jam 8:00” tidak berlaku untuk hari itu.

Saat itulah saya baru menyadari bahwa keputusan saya untuk memilih tiket TG sewaktu di Tokyo ternyata adalah strategi yang salah. Seharusnya saya memilih untuk dikeluarkan tiket Singapore Airlines (SQ). Sekalipun status kursi saya waktu itu tidak confirm, tapi SQ punya kelebihan lain.

Pertama : ada banyak counter SQ di Changi, sehingga tidak perlu kesana-kemari untuk mengurus ini-itu. Kedua : perwakilan SQ di Changi buka 24 jam. Ketiga : ada 3 penerbangan SQ pagi hingga siang itu menuju Jakarta, sehingga kalaupun penerbangan pertama tidak bisa, masih ada peluang bernegosiasi untuk penerbangan kedua atau ketiga yang semuanya masih relatif lebih awal tiba di Jakarta. Keempat : saya punya jurus pamungkas, bahwa saya saat itu sedang dalam perjalanan emergency.

Salah strategi. Ya, sudah. Wong pilihan salah sudah telanjur dibuat. (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(10).   Jika Harus Kembali Memainkan Lakon Emergency

Tiba-tiba serasa dapat durian Bangkok runtuh yang tanpa kulit, ketika sekitar jam 06:45 saya lihat ada petugas di dalam kantor TG menuju pintu depan. Sebenarnya dia bukan mau buka kantor, melainkan mengambil koran pagi yang diselipkan sama lopernya di bawah pintu. Melihat ada peluang, sengaja saya lalu berdiri mendekat pintu agar terlihat dari dalam. Benar juga, saya lalu dibukakan pintu dan ditanya keperluannya apa oleh petugas kantor yang saya taksir usianya sudah menjelang pensiun, yang agaknya orang Thailand.

Mulailah saya berakting sedramatis mungkin, bahwa saya perlu bantuannya agar tiket TG saya bisa dibuatkan endorsement untuk pesawat yang lebih awal menuju Jakarta. Tentu dengan alasan emergency. Alhamdulillah, tanpa banyak kesulitan dan tanya macam-macam, endorsement bisa dibuatkan. Tiket TG saya distempel, ditandatangani, lalu saya ditanya mau pakai pesawat apa.

Mempertimbangkan saat itu sudah menjelang pukul 7:00 pagi, pasti pesawat GA sudah kabur, tidak terkejar. Langsung saya mintakan dengan pesawat SQ. Tentu ucapan “thank you” tidak saya lupakan (Ada keinginan untuk mengucapkan “kap kun kah“, seingat saya itu bahasa Thai-nya terima kasih, biar sok akrab, tapi saya takut salah, nanti malah “dadi gawe”. Saatnya tidak tepat, pikir saya) bahkan tidak cukup sekali saya ucapkan kata “thank you“.

Seperti dikejar setan, saya langsung terbirit-birit menuju bagian check-in SQ, agar bisa mengejar pesawat pertama menuju Jakarta yang dijadwalkan berangkat pukul 7:00 pagi.

Sampai di sana ternyata saya mesti antri. Melihat kenyataan itu, dalam hati saya berpikir berarti pesawatnya belum berangkat, barangkali agak molor. Hal yang tidak saya sukai, tapi kali itu justru menguntungkan. Ketika tiba giliran mau check-in, saya ingat bahwa status kursi saya sewaktu di Tokyo masih belum OK. Maka terpaksa saya mainkan lagi pentas lakon emergency.

Di depan petugas counter yang tampangnya seperti pemuda Cina berkacamata, saya dahului nerocos bahwa saya sedang dalam perjalanan emergency, bla…bla…bla…, dan seterusnya. Ujung-ujungnya minta tolong agar bisa berangkat ke Jakarta dengan pesawat pertama SQ.

Agaknya berhasil, terbukti sang petugas cukup lama mencermati tiket kelas bisnis dan paspor saya sambil pencet-pencet tombol komputer di depannya. Saya perhatikan sampai dua kali dia bolak-balik berkonsultasi dengan supervisor-nya yang berada tidak jauh di belakangnya.

Di menit-menit terakhir menjelang pesawat berangkat, seat saya di-OK-kan, meskipun disertai permintaan maaf karena saya hanya bisa terbang di kelas ekonomi karena kelas bisnis sudah habis. Hati saya berbunga-bunga, lha wong saya yang memaksa terbang, kok dia yang minta maaf. Barangkali itulah bahasa bisnis.

Lalu bagaimana dengan barang bawaan saya? Apakah tas saya masih cukup waktu untuk dibagasikan? Dengan sangat meyakinkan petugas itupun menjawab silahkan saja. Saya masih ragu, saya tanya lagi apa tidak terlambat? Dengan sopan dijawabnya tidak. Nanti akan ada petugas SQ yang mengurusnya, dan saya dipersilahkan tinggal ambil di Jakarta. Saya hanya berharap mudah-mudahan ucapannya benar.

Entah saya dapat energi dari mana, yang jelas setelah dapat kartu boarding, cepat sekali saya bergerak menuju gate yang telah ditentukan, dan puluhan orang telah saya salip sambil sesekali mengucap “excuse me“. Sambil agak malu saya masuk pesawat, karena di sana ternyata saya sudah ditunggu orang sepesawat termasuk pilot dan pramugarinya yang berseragam khas.

Lha kok ternyata benar, saya tiba di Jakarta bersama-sama dengan bagasi saya. Luar biasa, saya benar-benar gumun. Bagaimana mereka mengurusi sebuah tas yang cukup berat di menit-menit terakhir sebelum pintu pesawat ditutup, sementara kegiatan di bandara Changi pagi itu sudah sangat sibuk. (Bersambung).

Yusuf Iskandar